
Karena pernikahan Keiko yang sisa menghitung hari, maka mau tidak mau Aleya tinggal di rumah mama Erin. Meskipun tidak ada yang harus dikerjakan karena mama Erin menyerahkan semua tanggung jawab pernikahan putrinya pada Wedding Organizwer yang ia percaya, namun ia merasa tak enak hati jika tidak menginap dirumah tersebut.
"Sayang, kamu gak kepingin gitu menikah ? Celya butuh papa lho," Mama Erin mulai memancing pembicaraan saat mereka tengah bersantai di ruang keluarga.
"Berpikir dong ma, kami sedang PDKT. Doakan kami ya biar bisa secepatnya menyusul Keiko dan Andika," Aleya tak tahu jika kata-katanya yang asal nyablak itu membuat kedua orang tua angkatnya syok.
Akihiro dan mama Erin saling bertukar pandang. Akihiro pura-pura sibuk dengan ponselnya padahal ia menyambungkannya dengan kakek Emir dan Najib. Sementara mama Erin terus memancing agar bisa mengetahui siapa pria yang sedang dekat dengannya.
"Padahal mama sudah memiliki calon papa untuk Celya, "
"Gak usah ma, karena pasti calon mama adalah pria itu. Lebih baik aku gak menikah jika harus bersamanya." Aleya kembali menegaskan keputusannya.
"Kalau begitu bawa calonmu itu dan perkenalkan dengan kami sebelum pernikahan Keiko," Mama Erin tak kalah tegasnya. Nada suaranya naik dua oktaf. Seketika emosi mama Erin terpancing. Sebaik-baiknya pria yang kelak menikahi Aleya lebih baik lagi kalau memang ayah anak itu sendiri yang menikahinya. Apalagi Najib memang menghendaki hal itu.
Sementara di ujung telepon, Najib sedang misuh-misuh mendengar perkataan Aleya. Pria itu tak terima jika Aleya menikah dan putrinya diasuh oleh pria asing. Kedua wanita itu hanya boleh bersamanya.
"Ma, gak boleh gitu dong. Masa iya aku memaksa dia untuk segera menikahiku. Setidaknya berikan kami waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu," Aleya berusaha berkelit dengan memberikan alasan yang masuk akal.
Namun bukan mama Erin namanya jika gampang menyerah begitu saja. Kali ini Aleya menemukan lawan berdebat yang sebanding. Entah siapa yang kalah pada akhirnya.
"Buka memaksa dia, sayang. Tapi biarkan kami berkenalan sebagai keluarga yang pasti akan mendukung kalian," Lembut dan terkesan setuju namun ada maksud dibalik perkataan mama Erin.
__ADS_1
"Aku gak akan membawanya sebelum yakin bahwa pria itu menyayangi Celya." Aleya tetap ngotot dengan keputusannya.
"Ok fix, berarti kamu menerima calon dari kami. Gak ada penolakan dan jangan berpikir untuk kabur. Celya akan tidur denganku atau untuk sementara tinggal dengan kakek buyut dan papanya,"
"Jangan ma ! Lebih baik Celya tidur dengan mama daripada tinggal dengan pria itu," Airmata Aleya kini meluncur bebas membasahi pipi mulusnya.
"Namanya Najib, Aleya. Sesusah itukah menyebut namanya, " Sinis mama Erin kesal.
"Aku yang anak mama tapi sepertinya mama lebih mendukung pria itu daripada aku," Suara Aleya terdengar lirih menandakan kesal dan sedih secara bersamaan.
"Mama tidak mendukung siapapun dalam hal ini, kalian berdua bersalah dimasa lalu dan kalian pula yang harus memperbaiki kesalahan itu. Jangan mengorbankan cucu mama hanya karena egomu yang terlalu tinggi. Pakai hatimu melihat penderitaan putrimu."
"Semua hanya masa lalu ma, dan selama ini Celya baik-baik saja, sampai pria itu datang dan mencuci otak putriku, " Aleya tak mau kalah. Bagi Aleya masa lalu tetaplah masa lalu bukan untuk dijadikan masa depan.
"Ini karena memang jam tidurnya Celya, ma. Sudahlah hal gak penting begini gak usah dibahas," Aleya enggan melanjutkan perdebatan mereka yang tak ada habisnya.
"Keputusanku tak dapat diubah, Aleya ! Bawa pria itu kemari dan kenalkan pada kami. Mama beri batas waktu sampai malam pernikahan Keiko. Jika kamu tak membawanya maka terima keputusan mama yang akan menikahkanmu,"
Aleya tak menjawab, ia lalu berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya. Seharian beraktifitas membuatnya kelelahan ditambah berdebat dengan mama Erin benar-benar menguras tenaganya.
Perlahan Aleya menutup pintu kamarnya dan menghempaskan tubuh lelahnya diatas kasur empuk. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya. Bahkan untuk sekedar membersihkan diripun ia tak sanggup lagi. Berdebat dengan mama Erin sungguh membuat tenaganya terkuras habis.
__ADS_1
Helaan napas sepenuh dada dan hempasan kasar napas Aleya terdengar seperti berusaha melepaskan beban yang menumpuk dalam dada. Berharap udara dalam paru-parunya sedikit memiliki ruang sehingga napasnya tak lagi sesak.
Maksud hati ingin segera mengarungi dunia mimpi namun setiap kata yang diucapkan oleh mama Erin memenuhi indera pendengarannya.
'Kenapa takdir seolah tak ingin membuatku hidup tenang ?' Aleya menatap langit-langit kamar dengan tajam seolah diatas sana ia akan menemukan sebuah jawaban.
Hingga pada akhirnya pikiran tentang kehidupan Celah dimasa akan datang membuatnya semakin merasakan dilema yang sangat luar biasa. Tak terasa airmata Aleya kini membasahi bantal. Bagaimana tidak, hatinya tak lagi memiliki tempat untuk seorang Najib Marcel namun disisi lain mama Erin benar, putrinya membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Haruskah ia mendahulukan dan mementingkan kebahagiaan putrinya ? Mampukah ia bertahan seumur hidup bersama dengan pria yang telah melukai dan menghancurkannya dimasa lalu ? Tapi ia juga berhak bahagia, apa yang harus ia lakukan untuk bahagia sementara kebahagiaannya bukan bersama pria itu.
'Ya Tuhan, mengapa masa lalu ini tak pernah usai ?' Lagi-lagi Aleya membatin frustasi.
Entah berapa lama Aleya membolak balikkan badannya gelisah dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya hingga akhirnya iapun tak kuasa menahan lelah batinnya. Perlahan mata Aleya meredup dan berhasil menggapai dunia mimpi. Berharap setelah keesokan harinya kala terbangun semua yang terjadi hanya mimpi belaka dan hidupnya kembali normal.
Sementara di tempat lain, Najib sedang mendapatkan ceramah tengah malam dari sang kakek akibat rencana gilanya.
Awalnya pria paruh baya itu akan ke kamarnya dan tak sengaja mendengar Najib mengatakan rencananya pada Andika. Rencana untuk menculik Aleya dan Celya lalu menikahinya dengan paksa. Sungguh Najib sudah kehilangan akal mendengar kata-kata penolakan Aleya.
"Kamu jangan seperti seorang pecundang yang menyelesaikan segala persoalan dengan cara kotor. Sebaliknya kamu harus berjuang memenangkan kembali hati Aleya. Bukankah dulu kalian saling mencintai, dan rasa itu kalian pasti masih memilikinya. Lakukan sesuatu yang bisa membangkitkan kembali rasa cinta Aleya. Kakek yakin gadis itu masih memiliki rasa cinta hanya saja ia sudah menutupnya rapat-rapat sehingga gadis itu melupakannya dan menganggapnya tak ada." Kakek Emir berbicara panjang lebar dengan kesal.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Selamat pagi readers setiaku,
Jangan lupa beri dukungan ya 🤗🤗🤗