Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 37 ~ JANGAN MODUS


__ADS_3

Entah sejak kapan mata Aleya ikut terpejam mengikuti jejak Najib mengarungi dunia mimpi. Meskipun dapat dipastikan jika mereka tak akan bertemu karena untuk saat ini Aleya memiliki mimpi yang berbeda.


Mentari pagi perlahan memunculkan diri meskipun sedikit malu-malu kucing namun perlahan tapi pasti akhirnya sang mentari memantapkan diri dengan memperlihatkan cahayanya yang kuning keemsan. Perlahan Aleya membuka mata sementara Najib masih setia dengan mimpinya.


Aleya mendelik tajam sambil menyentakkan tangan besar Najib yang memeluk perutnya. Entah sejak kapan hal ini terjadi.


"Ck, jangan modus !!" Aleya mengomeli Najib yang masih terlelap. Bukannya tangan Najib terlepas justru kembali ke posisi awal dan bahkan semakin memeluk erat perut Aleya sehingga tubuh Aleya menempel pada Najib.


Aleya berusaha mendorong tubuh Najib agar bisa bergerak namun usahanya tak berhasil. Alih-alih peluakn Najib sedikit longgar, bergerak saja tidak.


"Biarkan seperti ini sejenak, Yang. Masih pagi-pagi juga. Gak usah buru-buru siapkan sarapan, cukup kamu selalu ada disisi," Najib berbicara dengan lancar namun matanya masih tertutup rapat. Aleya hanya busa melengos mendengar ucapan pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Siapa juga yang mau siapkan sarapan, aku mau ke kamar mandi. Kamu mau tanggung jawab kalau aku ngompol disini ?" Aleya benar-benar kebelet sehingga saat pelukan Najib sedikit longgar, ia langsung bangun dan berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya.


Najib membuka matanya seraya terkekeh melihat tingkah Aleya. Rindunya akan omelan Aleya sedikit terobati. Dulu saat mereka sedang bersama entah itu di kantin sekolah atau di mall, ada-ada saja yang menjadi bahan omelan Aleya padanya. Mungkin menurut orang lain Aleya adalah tipe gadis cerewet namun bagi Najib itu merupakan sebuah bentuk perhatian dan sayangnya Aleya padanya.


"Ngapain pagi-pagi melamun, bangun shalat gak malu sama matahari," Nada sarkas Aleya membuyarkan lamunan Najib. Pria itu segera berangkat dari tempat tidur dan melakukan perintah wanita tercintanya.

__ADS_1


Aleya memilih melaksanakan kewajibannya sebagai muslim tanpa menunggu Najib. Gara-gara pria itu makanya ia sedikit terlambat shalat subuh. Saat Aleya selesai shalat barulah Najib keluar dari kamar mandi dan langsung melaksanakan shalat subuh.


Kini keduanya sudah selesai dengan kewajiban mereka. Najib tak lagi berbaring dan malah meminta Aleya duduk di sampingnya. Ada banyak hal yang harus ia bicarakan dengan Aleya sebelum putri mereka kembali ke tanah air.


"Yang, duduk sini dong kita bicara sebagai pasangan suami istri," Najib menatap lembut Aleya yang bersiap keluar kamar.


"Kamu pasti ingin bicara soal kewajiban seorang istri kan ? Please,,, aku gak mau jadi pengangguran dan diam di rumah sepanjang waktu," Aleya mengurungkan niatnya keluar kamar dan duduk sedikit memberi jarak antara dirinya dengan Najib.


"Ck, kamu terlalu berprasangka, Yang. Justru sebaliknya, aku ingin kamu setiap saat menemaniku di kantor kecuali saat kamu lahiran nantinya." Najib menatap Aleya dengan wajah serius menandakan pria itu tak main-main dengan ucapannya.


"Gak masalah tapi aku digaji juga kan ?" Aleya membalas tatapan Najib. Ia tak ingin membuang-buang waktu menemani pria itu secara gratis. Di dunia ini tak ada yang gratis sodara.


"Semua ini buat kamu dan anak-anak kita kelak. Karena ke depannya kita akan selalu bersama maka aku gak butuh kartu-kartu itu. Kamu aja yang pegang semua," Najib menyodorkan semua kartu yang ia miliki dengan santai.


"Aku bukan gadis matre yang akan memanfaatkan semua fasilitas," Aleya sedikit tersinggung, ia tak terima dengan perlakuan Najib yang memberikan semu kartunya.


"Aku tahu kok, tapi semua wajar-wajar saja jika semua kartu dan keuangan rumah tangga kita, kamu yang pegang. Lagipula aku mengenal sejak dulu, ingat kan tujuan akhir jalinan asmara kita ?" Najib kembali mengingatkan semua rencana mereka kala itu.

__ADS_1


"Tapi keadaan sudah berubah dan mungkin aku juga sudah berubah. Bukan lagi gadis yang naik akan cinta. Saat ini aku adalah wanita yang realistis," Aleya berkata jujur. Sejak kehamilan dan perjuangannya melahirkan serta membesarkan Celya, semua pandangannya tentang hidup ini berubah.


Tak ada lagi gadis yang penuh dengan hayalan indah tentang hidup dan masa depannya. Apa yang terjadi dalam hidupnya tak sesuai dengan ekspektasinya.


"Untuk itu aku meminta maaf dan kita mulai dari awal lagi," Najib menatap Aleya penuh harap.


"Hm," Aleya tak tahu harus berkata apa. Semua sudah terjadi dan saat ini status mereka pun telah berubah.


Waktu yang lalu tak mungkin diputar kembali, tak ada salahnya ia mencoba untuk kembali membuka hatinya pada Najib, pria yang kini telah menikahinya. Takdir kembali mempertemukan mereka. Padahal Aleya sudah tak lagi memikirkan pria ini namun ternyata mereka harus kembali mengukir kisah yang pernah terputus.


Takdir memang merupakan rahasia Sang Khalil. Inilah yang dinamakan jodoh, masa lalu mereka ternyata tak pernah usai.


🌷🌷🌷🌷


Selamat malam readers,


Selamat membaca.

__ADS_1


Bentar lagi lebaran " MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN "


__ADS_2