
Hingga acara makan malam selesai dan Celya sudah berkali-kali menguap tanda mengantuk. Aleya segera memanfaatkan kesempatan untuk pergi dari situasi yang membuatnya tidak nyaman.
"Maaf, aku tidurkan putriku," Aleya pamit undur diri dengan tersenyum manis membuat Najib semakin menatapnya tajam.
Tanpa menunggu persetujuan mereka, Aleya segera mengajak Celya masuk ke dalam kamar.
'Kamu memang anak yang baik nak, sangat mengerti keadaan mamanya,' Aleya membatin dan mengusap lembut kepala putrinya sambil terus berjalan.
Kedua ke keluarga kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Setelah kenyang tentu saja semua berjalan dengan lancar. Najib tak dapat menahan diri lagi. Ia harus berbicara dengan Aleya.
"Sebelum kalian melanjutkan pembicaraan, saya mohon ijin untuk berbicara dengan Aleya," Najib sudah memutuskan untuk tak lagi menunda sehingga memberi peluang bagi Aleya untuk menghindarinya.
"Lho, bukannya dia calon suamiu ma ? Kok kenal dengan kak Aleya ?" Keiko ternyata salah paham, sejak tadi ia mengira Najib adalah pria yang dijodohkan dengannya.
Andika hanya menatap datar gadis cantik dihadapannya. Bagaimana bisa gadis itu tak melihatnya sama sekali padahal jelas-jelas iapun tak kalah tampan dari Najib.
"Bukan sayang, pria itu tak cocok denganmu lagipula dia milik kakakmu." Kakek Emir terkekeh melihat kepolosan calon menantunya.
"Bener nak, Najib adalah calon kakak iparmu," Akihiro menimpali sambil tersenyum lembut.
"Kok bisa ? Padahal sejak tadi kakak kelihatannya tak mengenal pria itu." Keiko masih penasaran. Gadis muda ini memang memiliki sifat keingintahuan yang sangat tinggi. Sifatnya ini menunjukkan jika dia memiliki darah Indonesia.
Konon katanya rakyat Indonesia merupakan urutan kedua tertinggi didunia tingkat kekepoannya pada suatu masalah. Urutan pertama author juga gak tahu sih 🤣🤣
__ADS_1
"Bisa sayang, mereka memiliki hubungan yang sangat kompleks dan rumit. Dan mama tidak ingin kamu menambah kerumitan itu dengan berada diantara mereka berdua," Mama Erin berusaha menyembunyikan keberadaan Celya di luar nikah.
Harga diri dan kehormatan Aleya sangat penting. Mama Erin tak ingin Keiko menganggap remeh saudara angkatnya. Walau bagaimanapun hal itu adalah sebuah aib dalam masyarakat Indonesia. Apalagi selama ini Keiko dididik sebagai seorang wanita Indonesia yang memiliki berbagai macam aturan dan norma dalam masyarakat.
Keiko tak lagi menimpali perkataan sang mama. Cukup ia mengetahui saja. Entah mengapa kali ini gadis itu tak bertanya hingga mendatail seperti biasanya. Kini tatapan wanita muda itu beralih ke seorang pria muda yang juga sangat tampan dengan senyuman yang tak pernah lekang dari wajahnya.
Ternyata dugaan Andika salah besar. Dengan mata jelinya, Keiko tetap memperhatikannya hanya saja fokusnya pada Najib yang terlihat sangat menyukai Celya.
"Yang ini yang akan kami jodohku dengamu. Dia masih single dan aku jamin dia ini tak memiliki hubungan rumit dengan siapapun," Andika melongo tak percaya pria paruh baya itu mempromosikan dirinya bak sebuah barang jualan.
"Kalian boleh saling mengenal dulu sebelum menikah atau sebaliknya. Semuanya kami serahkan pada kalian berdua," Akihiro dengan bijak memberikan pilihan pada calon mempelai. Keiko gadis modern dan besar dilingkungan berbeda dengan Andika. Meskipun ia dan sang istri mendidik putri mereka layaknya gadis Indonesia namun tetap saja pengaruh lingkungan akan melekat pada diri Keiko.
"Menurut saya menikah dulu lebih baik om, kami akan memiliki waktu yang sangat banyak untuk saling mengenal setelah akad," Andika tak ingin membuang-buang waktu. Pekerjaannya di tanah air sudah bisa dipastikan saat ini menumpuk setinggi gunung himalaya.
"Bagaimana denganmu nak Keiko ? Apa kamu setuju dengan Andika ?!" Kakek Emir menatap wajah Keiko yang kini merona mendengar ucapan calon suaminya.
"Urusan pernikahan Keiko dan Andika selesai, sekarang kita harus memikirkan cara agar Najib dan Aleya bersama." Kakek Emir menatap semua orang satu per satu seolah meminta saran.
"Kami boleh kan menikah bersamaan tanpa sepengetahuan Aleya," Dengan yakin Andika mengemukakan idenya.
"Gimana caranya ?! Aleya bisa saja menghilang lagi. Yang ada Najib akan mengamuk jika hal itu terjadi," Kakek Emir mengusap wajahnya frustasi. Ia tak terlalu mengenal pribadi Aleya namun dari apa yang dilihatnya tadi cukup memberikan kesan jika wanita beranak satu itu sangat keras.
"Percayakan segalanya padaku," Entah apa yang direncanakan oleh Andika. Yang pasti raut wajahnya mampu meyakinkan kakek Emir dan Akihiro serta mama Erin.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, Aleya dan Najib sedang berdebat dengan hebat. Najib yang ngotot ingin bersama Aleya dan putrinya sementara sang wanita tak lagi menginginkannya.
"Mama macam apa kamu yang tega memisahkan anak dan papanya. Bahkan kamu rela membohongi gadis kecil tanpa dosa dengan mengatakan jika papanya sudah di surga," Mata Najib menatap tajam pada Aleya yang tak terpengaruh sedikitpun.
"Lalu apa yang harus aku katakan ? Mengatakan jika dia lahir diluar nikah dan papanya tidur dengan wanita lain setelah meniduri mamanya ?!" Aleya terlihat santai namun nada suaranya menyiratkan sebuah rasa sakit dan dendam yang membara.
"Semua itu adalah perbuatan seseorang yang ingin memisahkan kita, Leya. Percayalah, aku sudah mencari bukti dan bertemu dengan Melisa." Najib berusaha menekan amarahnya walaupun tatapan matanya masih setajam silet.
"Sayang sekali kepercayaan itu sudah tak ada lagi dalam hidupku dan aku tak peduli dengan semua buktimu. Sudahlah, jangan buang-buang waktu. Mari kita melanjutkan hidup masing-masing." Aleya tak ingin memperpanjang perdebatan yang tak akan pernah ada habisnya. Saat ini keinginannya sangat sederhana, ia hanya ingin hidup tenang bersama putri kecilnya.
"Aku hanya akan melanjutkan hidupku bersama putriku dan itu tak bisa kamu pungkiri bahwa dalam tubuh Celya mengalir darahku." Najib kembali menekan Aleya dengan menggunakan Celya.
"Karena kamu sudah mengetahuinya maka akupun tak akan membantah kenyataannya. Silahkan saja kamu menemui Celya kapan saja dan aku tidak akan menghalangi." Cara bicara Aleya yang terdengar santai saat mengatakan hal itu membuat Najib semakin frustasi.
"Jangan egois Aleya, kasihan Celya jika tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya yang lengkap,"
"Jangan khawatir, Celya akan mendapatkannya kelak jika aku sudah menikah. Jadi sebaiknya pikirkan hidupmu sendiri." Tajam dan meyakinkan ucapan Aleya membuat Najib menatapnya dengan tatapan horor.
"Aku tak akan membiarkan putriku dibesarkan oleh ayah tirinya," Desis Najib tak terima. Aleya hanya mengangkat bahunya tak peduli.
Bagi Aleya Najib hanyalah masa lalunya dan tak akan mungkin menjadi masa depannya. Terlalu banyak derita yang ia lewati karena perbuatan pria itu. Entah itu disebabkan seseorang ataukah itu hanya kebohongan Najib belaka. Namun yang pasti bagi Aleya, kini semuanya telah berakhir. Ada banyak rencana hidupnya dimasa depan bersama putrinya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Maaf ya readers baru up lagi. Dua hari ini othor teparrr
Selamat membaca semoga menghibur.