
Akhirnya Najib kembali ke ibukota setelah berhasil mengumpulkan bukti penting. Andika pun menemuinya dan melaporkan hasil pencariannya dan beberapa hal lainnya yang ditugaskan oleh Najib.
"Bagaimana hasilnya, " Naiib duduk di kursi kebesarannya menunggu sang asisten memberi laporannya.
"Yang mana dulu bos, tentang keberadaan nyonya atau tentang kedua perusahaan kecil yang sedang berusaha bekerjasama dengan kita ?!" Sejak Najib menceritakan hubungannya dengan Aleya, asisten tampan itu langsung mengubah panggilannya pada Aleya. Ia tak ingin mendapatkan amarah sang bos jika hanya menyebut nama saja.
"Keberadaan Aleya lebih penting dari segalanya, soal kedua cecunguk itu gak penting dan gak ada guna juga, tapi jangan biarkan mereka bebas menikmati hidup. Aku ingin keduanya membayar perbuatan mereka dimasa lalu." Najib menatap tajam pada Andika. Sorort mata tajamnya tak seperti biasanya. Kali ini mata elang milik sang bos membiaskan sorot mata penuh dendam dan amarah membuat Andika bergidik ngeri.
Andika yang sudah terbiasa berhubungan dengan pelaku dunia hitam bahkan sahabatnya adalah salah satu bos mafia yang ditakuti namun ia tak pernah bergidik ngeri seperti saat ini.
Tak ingin bosnya bertanya kedua kalinya, Andika segera menyerahkan amplop besar berwarna coklat sedangkan amplop yang lainnya tetap ditangannya. Dengan sigap Najib membuka amplop tersebut dan mengamati isinya.
"Jepang, ternyata ibu anakku sangat cerdas. " Najib bergumam membaca rute perjalanan Aleya.
"Tapi maaf bos, kami butuh waktu untuk mengetahui lokasi nyonya di sana. Keamanan mereka sangat tinggi dan Roy tak ingin diketahui identitasnya." Andika menjelaskan posisi sahabatnya. Ia tak ingin sahabatnya itu mendapatkan kesulitan karena membantunya.
"Gak masalah, kakek punya sahabat di Jepang. Mungkin saja beliau mau membantuku." Najib tersenyum lebar. Pria nomor satu di perusahaan itu memang tak pernah meremehkan asistennya. Ia selalu optimis jika Andika akan berhasil menemukan jejak wanita yang telah berjuang melahirkan dan memelihara anaknya dengan sangat baik.
"Jadi kita apakan kedua perusahaan itu bos ?!" Andika tak ingin bertindak tanpa arahan dari Najib. Bisa saja ia menghancurkan keduanya hanya dengan sekali angkat telepon namun Andika tak ingin gegabah.
"Ulur waktu hingga aku berhasil menemukan dan membawa pulang Aleya. Kita membutuhkan mereka untuk meyakinkan Aleya." Najib memiliki rencana tersendiri untuk kedua mantan teman sekolahnya itu.
Kakek Emir yang tak tahu jika cucunya telah kembali pun langsung masuk ke dalam ruangan CEO yang beberapa waktu kembali menjadi ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kenapa gak pulang ke rumah dulu, kalau tahu kamu sudah kembali kan kakek gak perlu repot-repot ke kantor," Pria paruh baya itu bukannya menanyakan kabar cucunya malah mengomeli pria muda yang mendelik kasar mendengar omelan sang kakek.
Andika berusaha keras agar tawanya tidak membahana memenuhi ruangan tersebut. Ekspresi Najib sangat lucu dan mengundang tawa hanya saja Andia masih menyayangi pekerjaannya.
"Maaf kek, keadaan darurat. Aku butuh informasi Andika, liat saja aku belum mandi bajupun belum sempat ganti tapi masih wangi sih," Najib memperbaiki kerah bajunya dengan sedikit narsis diakhir kalimat membuat kakek Emir mencibirkan bibirnya.
"Dika, kembali ke ruanganmu dengan lakukan tugasmu. Aku dan kakek inΔ£in membalas sesuatu," Najib mengusir Andika secara halus. Ia tak ingin membuang kesempatan, hanya kakek Emir yang busa menolongnya saat ini.
Mengerti dengan keinginan Najib, sang asisten pun langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan kedua pria beda generasi itu.
"Apa lagi yang kamu inginkan ?! Kakek yakin kamu tidak menemukan Aleya dan putrinya," Kakek Emir tersenyum mengejek pada Najib yang menatap kearahnya dengan datar.
"Bukan gitu kek, kami sudah menemukan negara persembunyiannya hanya saja aku gak memiliki akses di Jepang." Nada suara Najib terdengar lemah dan kakek Emir tak akan pernah tega melihat cucunya seperti itu. Pria paruh baya itu sangat menyayangi cucu satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
"Kamu gak usah ikut, perusahaan membutuhkanmu. Berikan saja data Aleya dan kapan tiba di Jepang." Kakek Emir seolah tahu isi kepala sang cucu.
Meskipun tak terima dengan ucapan sang kakek namun tak urung Najib menyerahkan kertas yang sejak tadi masih berada di tangannya. Daripada menentang kakek Emir dan berujung tak menemukan Aleya maka Najib memilih opsi aman yaitu menuruti kakek tersayangnya.
"Baiklah terserah kakek saja. Yang penting temukan Aleya untukku." Najib menatap lembut penuh kasih sayang pada pria paruh baya yang telah melimpahkan kasih sayangnya.
"Untuk berjaga-jaga jika saja Aleya menolakmu maka sebaiknya pilih salah satu gadis sebagai penggantinya." Wajah xerius kakek Emir membuat Najib tersentak kaget. Pria muda itu tak menyangka sang kakek memiliki pemikiran seperti itu.
"Kenapa kakek ngomong kayak gitu ? Bukankah kakek menyukai Aleya ?!" Najib menatap serius wajah kakek Emir yang juga sedang menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
"Bukannya gak suka, sejak pertama kali melihat Aleya, kakek sudah jatuh hati dengan sikapnya yang manis, seandainya saja kakek masih muda maka tentu saja Aleya akan menjadi nenekmu" Kakek Emir terkikik geli dengan ucapannya sendiri apalagi melihat reaksi Najib. Cekikikannya kini berubah jadi tawa.
"Aku serius bertanya kek, "
"Seandainya saja Aleya memang mencintaimu, maka pasti dia akan mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan putri kalian. Tapi apa yang terjadi, kini Aleya malah memilih menjauh darimu."Ucapan kakek Emir masuk akal akan tetapi bukan Najib namanya jika harus menyerah begitu saja. Apalagi ternyata putri Aleya adalah darah dagingnya sendiri.
"Aleya pasti akan menjadi milikku, kek." Najib terlihat sangat yakin akan usahanya. Semua bukti kesalahpahaman yang terjadi sudah dimilikinya.
"Seharusnya masa lalu hanya untuk dikenang akan tetapi justru sebaliknya. Masa lalu masih membayangi kehidupan kalian." Kakek Emir kembali menatap cucu kesayangannya dengan perasaan iba.
Sekian lama kakek Emir mendesak Najib agar menikah dan memiliki keturunan namun cucunya itu sengaja menulikan telinganya dan tak pernah menanggapinya. Ternyata ada sesuatu yang terjadi dimasa lalu. Semoga saja mereka berjodoh.
"Masa lalu kami tak pernah usai kek. Kami memiliki seorang gadis kecil yang tentu saja membutuhkan papanya. Dan aku harus memberikan kehidupan yang layak pada Aleya dan Celya." Wajah bersalah kembali terlihat begitupula sorot mata Najib. Ia benar-benar tak mengetahui peristiwa itu sebelumnya.
Kakek Emir tersenyum bangga mendengar ucapan Najib. Ternyata cucunya sangat bertanggung jawab. Pendidikan karakter yang sejak kecil ia tanamkan ternyata tak sia-sia.
"Urus keberangkatanku besok, kakek akan membantumu." Kakek Emir menepuk-nepuk pundak cucu kesayangannya.
π·π·π·π·
Selamat sore para readers,,,
Sehat selalu bersama keluarga, ya ,,,
__ADS_1