
Hari ini adalah hari pernikahan Keiko dan Andika namun sejak semalam mama Erin tak lagi menyinggung masalah pria yang harus Aleya kenalkan. Pun tentang keputusan mama Erin tempo hari membuat Aleya tenang. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya dan menuruti permintaan Keiko agar memakai baju yang terlihat mewah.
"Apa bajunya gak berlebihan ?" Aleya menatap pantulan dirinya di cermin di kamar yang khusus untuk make up.
"Gaklah kak, biasa aja. Lagian kalaupun mewah kan wajar, hari ini adalah hari istimewa bagiku. Masa iya kakakku memakai baju yang seadanya." Keiko ikut tersenyum menatap wajah cantik kakak angkatnya.
Apa yang dikatakan oleh Keiko memang benar adanya. Aleya tak ingin mempermalukan keluarga Akihiro yang sudah begitu baik padanya.
"Wah, anak-anak mama terlihat cantik dan mempesona. Mama sampai pangling liatnya," Mama Erin masuk kamar dan menatap takjub keduanya. Mata wanita baik sedunia menurut Aleya dan Keiko terlihat berkaca-kaca karena terharu dan bahagia.
Hari ini kedua putrinya akan segera mengakhiri mas lajangnya. Meskipun Aleya tak mengetahuinya.
"Setelah dandan jangan keluar dulu ya, tunggu mama panggil." Ucao mama Erin lembut.
"Keiko yang gak boleh keluar ma, kalau aku gak apa-apa kali," Aleya tak ingin hanya duduk di kamar. Ia ingin keluar menyambut para tamu seperti keluarga yang lainnya.
"Pamali sayang, temani Keiko aja ya," Mama Erin mengusap lembut wajah cantik Aleya agar wanita muda itu menurut.
Meskipun bingung dengan kata-kata mama Erin namun tak urung Aleya menganggukkan kepalanya setuju. Ia tak boleh memancing emosi mama Erin dihari bahagia putrinya. Hari ini Aleya tak akan membantah sedikitpun, hanya itu yang bisa ia lakukan agar tak merusak kebahagiaan keluarga yang sudah begitu baik padanya selama ini.
Yang patut Aleya syukuri karena saat ini mama Erin terlalu sibuk sehingga tak lagi mendesaknya untuk berkenalan dengan pria yang sebenarnya memang tidak pernah ada.
Terdengar suara hiruk pikuk di luar kamar menandakan mempelai pria sudah tiba. Mama Erin dan Akihiro sepakat menikahkan Keiko dengan adat Indonesia berhubung mempelai prianya juga asli Indonesia.
Tak lama kemudian terdengar suara penghulu yang sengaja di didatangkan oleh kakek Emir. Meskipun sebenarnya di Jepang juga ada namun kakek Emir menginginkan penghulu yang ia kenal dengan baik.
__ADS_1
Terdengar suara lantang Andika mengucap ijab qabul atas nama Keiko Kamila binti Akihiro disusul dengan teriakan SAH dari para tamu. Aleya tersenyum bahagia sembari memeluk Keiko.
"Selamat ya, sekarang kamu sudah resmi menjadi nyonya Andika. Bersiaplah untuk keluar menemui pangeran," Aleya tersenyum menggoda Keiko yang tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Detik berikutnya alis Aleya berkerut pasalnya suara pak penghulu kembali terdengar meminta seseorang mengucapkan ijab qabul namun ka,i ini suara pak penghulu hanya terdengar lamat-lamat. Hingga nama Nazaleya Alofa disebut.
"Lho, kok namaku disebut ? Apa aku dinikahkan juga ?" Aleya menatap Keiko tak percaya.
"Menurut kakak ?!" Bukannya menjawab, Keiko malah balik bertanya.
Kebingungan Aleya tak berlangsung lama karena mama Erin datang dan meminta keduanya keluar.
"Ayo kalian berdua keluar menemui suami kalian," Titah mama Erin membuat Aleya menganga tak percaya.
"Bukan saatnya untuk bercanda Aleya, kamu dengar sendiri kan namamu disebut seseorang dalam ijab qabulnya ?" Mama Erin mulai kesal dengan pertanyaan Aleya yang semakin lama membuat keluarga diluar kamar menunggu.
"Aku gak mau ma," Aleya duduk dengan lesu. Berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya tak terima.
"Aleya tolong jangan permalukan mama kali ini. Diluar sana keluarga papa juga datang untuk menyaksikan pernikahan kalian." Mama Erin memasang wajah memelasnya. Ia tahu Aleya tak akan bisa melihatnya seperti itu.
"Baiklah ma, tapi aku gak bisa menjamin pernikahan ini bertahan karena sesungguhnya semua ini salah," Hingga Najib sudah mengucapkan janji suci saat mengucap ijab qabul namun Aleya tetap menolaknya.
Mama Erin tak lagi menimpali ucapan Aleya. Bagi mama Erin saat ini yang terpenting adalah Najib dan putrinya sudah terikat dalam sebuah hubungan yang sakral yaitu pernikahan. Urusan bertahan atau tidaknya pernikahan mereka adalah tanggung jawab mereka berdua. Tentu saja Najib tak akan membiarkan rumah tangganya kacau dan hancur.
Diam-diam Aleya menatap kebaya yang ia kenakan. Kini ia menyadari jika kebaya yang kini melekat sempurna di tubuhnya merupakan kebaya untuk pernikahannya. Kebaya yang ia dan Keiko kenakan sama mewahnya dan hanya berbeda dibeberapa bagian saja termasuk warnanya yang ternyata senada dengan jas yang dipakai oleh Najib
__ADS_1
Dua hari sebelum hari ini, Aleya sempat mencuri dengar jika ia akan dinikahkan dengan keluarga Akihiro karena menolak menikah dengan Najib. Makanya Aleya sedikit tenang karena mama Erin tak memaksanya namun entah mengapa yang terjadi malah ia berakhir menjadi istri seorang Najib Marcell.
Sudahlah Aleya tak bisa lagi menggunakan otaknya untuk berpikir. Di depan sana putrinya sudah duduk manis di pangkuan Najib. Pemandangan itu membuat Aleya meringis. Secepat itukah putrinya menerima kehadiran pria itu ?
Langkah kedua wanita cantik itu semakin mendekati suami mereka. Penampakan wajah Keiko yang sumringah berbanding terbalik dengan wajah Aleya yang terlihat biasa saja bahkan terkesan datar. Tak ada ekspresi bahagia sedikitpun. Hal itu terlihat dengan jelas oleh mata elang milik Najib.
Kini Aleya dan Najib berhadap-hadapan. Najib memakaikan cincin dijari manis Aleya dan Aleya pun melakukan hal yang sama. Setelah itu tanpa membuang-buang waktu, Najib mencium dahi Aleya dan memeluknya dengan erat sambil berbisik.
"Maafkan kesalahanku, percayalah masa lalu kita tak akan pernah usai. Kini saatnya kita bersama hingga maut menjemput," Tak ada reaksi dari Aleya bahkan sekedar membalas pelukan Najib pun tak ia lakukan. Aleya hanya berdiri bagaikan patung bernyawa.
Hingga akhirnya mama Erin menghampirinya dan menyuruhnya meminta restu pada kakek Emir, keluarga satu-satunya Najib yang datang pada pernikahannya.
"Hilangkan amarahmu, cepat minta restu pada kakek mertuamu. Beliau orang baik." Mama Erin memberi perintah yang tak terbantahkan.
Kakek Emir memang orang baik. Saat Aleya bekerja pada perusahaan beliau yang kini dipimpin oleh Najib, kakek Emir tak oernah sekalipun berkata kasar pada karyawan rendah sekalipun. Beliau selalu memanusiakan karyawannya.
Aleya mengekori Najib mendekati kakek Emir. Setelah tiba di depan pria paruh baya itu, Aleya lalu meminta restu dan entah mengapa airmatanya menetes tanpa sebab.
"Semoga kalian bahagia dan melahirkan generasi yang banyak." Ucapan kakek Emir terdengar serius membuat Aleya sulit menelan ludahnya sendiri.
"Insya Allah, kek." Bukan Aleya yang menjawab melainkan Najib yang menatap Aleya lembut. Dibelakang mereka Celya terus mengekori papanya.
🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers,,,,
__ADS_1