
Melihat notifikasi pesan dari sang kakek, Najib tersenyum lebar. Ia yakin kakek Emir telah menemukan Aleya. Namun senyuman Najib berubah seketika saat membaca pesan sang kakek. Andika yang melihatnya mengerutkan dahinya.
"Bos kenapa ?!" Andika menatap Najib penasaran. Asistennya ini memang sangat mudah penasaran alias kepo tingkat dewa.
"Gak ada jadwal penting, kan selama beberapa hari ini ?" Najib mengabaikan pertanyaan sang asisten dan balik bertanya. Tentu saja itu semakin membuat Andika penasaran.
"Bukan hanya beberapa hari bos tapi aku bisa cancel beberapa jadwal hingga satu minggu. Hanya beberapa perusahaan kecil yang ingin bekerjasama termasuk perusahaan wanita licik itu," Andika memang pantas menjadi andalan Najib dan kakek Emir. Ia busa memilah-milah mana yang penting dan harus segera dihandle dan mana yang bisa menunggu.
"Bagus, Bersiaplah kita berangkat ke Jepang."
"Sekarang bos ?!" Andika kaget dan tak menyangka akan diikutkan pada perjalanan kali ini. Biasanya ia ikut jika perjalanan dinas ke belahan dunia barat.
"Bukan, tahun gajah !! Ya sekarang !!" Suara Najib naik satu oktaf. Moodnya sedang dalam mode on senggol bacok. Pasalnya sang kakek menyuruhnya ke Jepang secepatnya dan bukan berkaitan dengan keberadaan Aleya.
Tak ingin mengaduk-aduk emosi Najib, secepat kilat Andika keluar ruangan dan memesan tiket untuk mereka berdua berikut segala dokumen yang diperlukan. Soal baju, Andika memang memiliki beberapa pasang baju dalam ruangannya yang ia siapkan jika sewaktu-waktu akan melakukan perjalanan dinas.
Andika sangat memahami pria muda yang sedang galau saat ini. Pria muda yang tak sabaran dan perfect. Dalam waktu singkat Andika kembali ke ruang kerja CEO.
"Aku sudah siap bos," Andika berdiri di depan pintu dengan koper ditangannya.
"Cepat juga kamu," Najib pun berdiri dan melenggang keluar melewati Andika begitu saja.
__ADS_1
Sang asisten andalan PT. Antar Mega hanya bisa menghela napas dan menatap datar pria yang baru saja melewatinya. Ingin rasanya Najib melempar punggung tegap pria itu hanya saja ia terlalu mencintai pekerjaan dan bonus-bonusnya yang mengalir bebas di rekeningnya.
"Cepat jalan ! Jangan hanya menatapku dengan kesal !" Najib setengah berteriak tanpa menoleh. Ia tahu asistennya itu sedang kesal padanya. Najib pun sebenarnya kesal pada kakek Emir namun ia bisa apa jika sang kakek yang memerintahnya.
Bagi Najib, kata yang terucap dari bibir pria paruh baya yang sudah membesarkannya itu adalah perintah yang mutlak harus dilaksanakan saat itu juga. Kakek Emir yang telah memberinya kasih sayang tanpa batas selama ini.
Sebelum Andika menyusul langkah bosnya itu, terlebih dahulu ia kembali menarik napas panjang agar rasa kesalnya hilang bersama hembusan napasnya.
Keduanya kini berada di dalam lift tanpa ada yang bersuara. Andika memilih diam karena melihat raut wajah keruh sang bos. Entah perintah apa yang diberikan oleh kakek Emir sehingga wajah tampan itu terlihat kurang baik.
"Bertanya saja, jangan menatapku diam-diam," Meskipun Najib memejamkan mata namun ia tahu jika Andika sedang menatapnya dengan penasaran.
"Caramu menatapku saat ini xeperti seorang gadis yang mengharapkan belaianku, " Kini Najib membuka matanya. Sungguh ia tak akan busa berdiam diri terlalu lama jika sedang bersama Andika. Hanya pada Andika sajalah Najib bisa memiliki banyak bahan pembicaraan.
Andika tak sempat menimpali ucapan Najib karena lift sudah berhenti dibasemen dan pintu pun terbuka. Keduanya melangkah keluar dan langsung masuk ke dalam mobil. Mereka sengaja langsung ke basemen agar tak terlihat oleh karyawan.
Saat para karyawan mengetahui jika bos dan asistennya keluar kota maka mereka juga memanfaatkan kesempatan untuk sedikit bersantai. Dan itu tidak baik untuk perusahaan.
"Langsung bandara ya, pak," Andika bersuara sebelum sopir kantor bertanya. Andika memang seorang asisten yang sangat efektif bekerja.
Perlahan pria paruh baya itu menginjak gas keluar dari area parkiran. Pria tua itu sudah mengabdi sebagai sopir perusahaan sejak kakek Emir memimpin perusahaan. Untuk, itulah pria yang seumuran kakek Emir itu hanya diminta mengantar jika akan ke bandara saja. Najib sangat menghormati pengabdian pria paruh baya itu. Seandainya saja pak Udin memiliki ijazah sudah pasti Najib akan menempatkannya sebagai karyawan.
__ADS_1
Tak ada yang bersuara dalam perjalanan menuju bandara. Sejujurnya Najib masih kalut dengan pesan sang kakek. Hanya untuk menyelesaikan suatu persoalan harus melibatkannya. Dimana kekuatan kakek saat ini. Setahu Najib kakek Emir sangat mengenal setiap detik negara itu, boleh dikata Jepang adalah negara kedua kakek Emir. Tapi sekarang ?
"Jangan banyak berpikir bos, kita sudah tiba di bandara," Kini giliran Andika yang menggoda sang bos. Andika sangat mengenal Najib yang jika pria itu banyak pikiran maka matanya akan selalu terpejam seolah tertidur padahal sebenarnya pikiran pria muda itu sedang mengembara.
Dengan enggan Najib membuka matanya dan keluar dari mobil. Andika pun sama hanya saja terlebih dahulu ia mengambil kopernya dibagasi mobil. Andika memilih repot membawa koper dan segala keperluannya daripada menghambur-hamburkan uang membeli pakaian di sana. Ia bukanlah seorang anak sultan melainkan seorang perintis dan pejuang ekonomi untuk masa depannya kelak.
Andika segera melakukan tugasnya sementara Najib duduk tenang menunggu Andika menyelesaikan segala hal yang berhubungan dengan penerbangan mereka ke negeri sakura.
Hingga akhirnya terdengar suara lembut menginformasikan pada seluruh penumpang pesawat tujuan Osaka, Jepang agar segera menaiki pesawat. Najib dan Andika berjalan beriringan. Keduanya tak memperdulikan bisik-bisik para gadis yang menatap mereka dengan kagum.
"Ck, dasar gadis tak setia." Andika mencibir sambil terus berjalan. Sungguh ia tak menyukai gadis yang selalu berusaha menarik perhatian para pria tampan.
Najib mendelik tajam mendengar ucapan Andika. Sebenarnya ia pun tak suka melihat gadis seperti itu namun ia bisa apa, sudah menjadi hak para gadis untuk melakukan hal itu. Wajar saja jika seorang gadis menyukai pria tampan dan sudah menjadi naluri setiap wanita di dunia ini menyukai sesuatu yang enak di pandang. Pun sama halnya dengan pria yang juga menyukai gadis cantik.
Andika dan Najib tak perlu berdesak-desakan mencari nomor kursinya karena mereka berada di kelas bisnis. Mereka dipandu oleh pramugari dengan sejuta senyum menuju kursinya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers, gimana puasa hari kedua kalian ?
Semoga lancar ya.
__ADS_1