Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 14 》》 BICARA DISINI SAJA


__ADS_3

Aleya menarik napas lega saat kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. Mbak Lia melambaikan tangan dengan airmata berderai. Tak rela berpisah dengan gadis kecil yang telah ia asuh sejak dua tahun terakhir membuatnya merasa sesak. Sebuah perpisahan memang selalu berakhir dengan tangisan.


Kereta api terus bergerak melaju dan melewati beberapa stasiun hingga akhirnya mereka tiba ditujuan. Sebenarnya perjalanan dengan kereta api hanyalah sebuah pengalihan karena bisa dipastikan jika Aleya langsung melakukan penerbangan maka pasti Najib akan segera menemukannya.


Senyuman manis Aleya membingkai wajah cantiknya manakala untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di stasiun pasar turi. Meninggalkan Stasiun gambir kurang lebih 10,5 jam yang lalu bagaikan sedang berwisata. Tangannya terus menggenggam tangan Celya untuk mencari hotel agar bisa melepas penat dan berpikir.


Sementara di ibukota Najib sedang membuka perlahan amplop yang diberikan oleh Andika. Berbagai rasa yang berkecamuk dalam da**nya saat menatap nanar hasil pemeriksaan DNA mereka. Andika hanya sempat mencabut rambut Celya dan bersyukurnya karena hanya sekali cabut rambut dan akar rambut gadis kecil itu terikut sempurna sehingga tak diketahui oleh Aleya.


Andika sedikit mengetahui tentang sampel yang seharusnya diambil untuk melakukan tes DNA. Dan yang paling aman dan cepat hanyalah rambut. Darah dan air libur Celya sangat tidak mungkin. Selain sampel rambut gampang diambil, akar rambut juga memiliki DNA paling banyak (sumber om google).


"Panggilkan Aleya !!" Wajah Najib merah padam dengan suara menggelegar membuat siapa saja yang mendengarnya merinding termasuk Andika.


"Tapi Aleya belum masuk bos," Andika memang belum melihat Aleya sejak pagi padahal biasanya wanita itu selalu datang lebih awal darinya.


"Cepat cari tahu bukankah teman-temanmu sudah mengawasinya 1 x 24 jam ? Bahkan semalam Aleya lembur kan ?!"


Baru saja Andika akan menghubungi orang-orang yang ia tugaskan mengawasi Aleya namun seketika tangannya berhenti saat sebuah pesan masuk mempertanyakan keberadaan Aleya di kantor. Andika langsung memanggil salah satu pria yang berjaga semalam.


"Pak Beni, ke ruanganku sekarang !!" Andika tak sadar berteriak panik membaca pesan tersebut.


Melihat Andika panik, Najib pun merasa sesuatu yang luar biasa terjadi pada Aleya karena Andika memanggil salah satu anggotanya yang ia ketahui bertugas semalam.


"Kalian bicara disini aja !" Najib tak ingin melewatkan sesuatu yang ia yakini pasti tentang Aleya.

__ADS_1


"Baik." Andika keluar ruangan menunggu pak Beni yang tak lama lagi pasti sudah berada di depan ruangannya.


Tak sampai dua menit Andika keluar kini ia kembali bersama dua orang pria berbadan kekar. Melihat kedua pria tersebut khawatir, Najib merasa sesuatu yang buruk emang terjadi. Mata tajam Najib memindai mereka satu per satu.


"Duduklah dan ceritakan apa yang terjadi." Datar, dingin namun terselip rasa penasaran terdengar dari suara Najib.


Pak Beni dan seorang temannya saling bertukar pandang lalu kompak menatap Andika yang juga sama penasarannya dengan sang bos. Ceo dan asisten perusahaan PT. Antar Mega menunggu salah satu dari mereka bercerita.


"Jangan ragu-ragu, ceritakan saja kejadiannya agar kita tidak membuang-buang waktu percuma !" Ucapan Andika membuat Najib menduga sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Semalam kami berjaga menunggu ibu Aleya keluar namun hingga pagi beliau belum tampak keluar dari perusahaan. Dan kami mencoba bertanya pada rekan kami yang bertugas mengawasi rumahnya namun mereka juga sama sekali tak melihat ibu Aleya dan putrinya kembali ke rumah tersebut." Cerita singkat dan jelas pak Beni membuat Najib pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa mereka kecolongan dengan seorang wanita seperti Aleya.


"Jangan katakan Celya pun tak terlihat keluar dari sekolah, " Andika menatap pak Beni dan anggukan kepala pria kekar itu mewakili jawabannya.


Ditempat lain di waktu yang sama, Aleya dan Celya nampak segar setelah istirahat beberapa saat. Kini ibu dan anak itu tengah menikmati makanannya sebelum penerbangan mereka ke Jepang. Yah, tujuan Aleya sebagai tempat persembunyiannya adalah Jepang, disanalah tanah kelahiran Celya.


"Ma, kita mau ke mana sih ? Hari ini aku gak sekolah lho, kalau dicari bu guru gimana ?!" Celya mulai merajuk. Pasalnya ia sangat menyukai sekolahnya dan teman-temannya.


"Kita akan mengunjungi oma, sayang." Aleya tersenyum manis agar Celya tak lagi banyak bertanya yang bisa membuatnya kewalahan.


"Tapi jangan lama-lama ya, ma, Aku gak mau ketinggalan pelajaran."


"Kita lihat nanti aja ya, sayang." Aleya tak ingin berjanji pada gadis kecil yang akan selalu menagih janji hingga dikabulkan.

__ADS_1


"Jalan yuk, penumpang pesawat tujuan Osaka sudah dipanggil, " Aleya lalu berdiri dan menggandeng tangan Celya. Saat pelayan mengantarkan pesanan mereka, Aleya langsung membayangkan sesuai ketentuan restoran tersebut. Bayar dulu baru makan.


Dengan langkah santai, Aleya berjalan bersama putrinya. Impiannya hidup tenang di Osaka bersama orang tua angkatnya dan saudara angkatnya terbayang indah. Tiba di pesawat Aleya segera mencari nomor seatnya dan langsung duduk bersama gadis kecilnya.


Sedangkan di ibukota, Najib sedang menatap laptopnya dengan putus asa. Lokasi terakhir ponsel Aleya aktif adalah dimeja kerja wanita itu dan itupun dua hari yang lalu.


"Ternyata wanita itu sudah mempersiapkannya dengan matang, " Gumam Najib penuh amarah.


Kini ia benar-benar harus mencari tahu mengapa kebersamaan mereka tujuh tahun yang lalu di sembunyikan oleh Aleya bahkan saat mereka bertemu pun Aleya menyembunyikan identitas Celya.


Najib bertekad akan mencari sendiri bagian perbuatannya dan membiarkan Andika bersama teman-temannya mencari keberadaan Aleya.


Tanpa berpikir panjang, Najib meninggalkan kantor dan pulang menemui sang kakek. Untuk beberapa lama sang kakek harus kembali ke perusahaan hingga ia berhasil menemukan penyebab Aleya meninggalkannya. Sejak awal Najib merasa aneh dengan kejadian yang menimpanya saat itu namun ia tak memperdulikan toh Melisa juga tak menuntut tanggung jawabnya. Meskipun tetesan noda merah pada sprey masih mengahntui pikirannya hingga saat sebelum membaca hasil DNA nya.


Sebuah kenyataan yang membuatnya merasa berbeda dan rasa bencinya pada Aleya seketika menghilang namun wanita itu tak mudah menerima begitunsaja penjelasan tanpa sebuah bukti. Dan ini adalah bagian tersulit baginya karena kejadiannya sudah sangat lama. Semoga saja nasib baik berpihak padanya.


Dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata, Najib mengendarai mobilnya dan sesekali mendahului mobil didepannya dengan tindakan sedikit ekstrim. Bagi Najib bertemu dengan sang kakek tak boleh di tunda. Meskipun ia memikirkan darah dagingnya yang kini menghilangkan namun nasib perusahaan pun harus diutamakan. Ada banyak kepala keluarga yang menafkahi anak istrinya dari perusahaan PT. Antar Mega.


🌷🌷🌷🌷


Selamat siang readers,,,


Maaf baru bisa up 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2