Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 25 ~ YANG MANA CALON SUAMIKU ?


__ADS_3

Kabar perjodohan Keiko pun di persiapkan. Akihiro dan mama Erin menyiapkan makan malam sekaligus untuk acara lamaran. Aleya sangat antusias menyambut kabar bahagia tersebut. Sungguh sebuah keajaiban bagi Aleya mendengar Keiko menurut dan menerima perjodohannya.


"Kakak harus dandanin aku khas wanita Indonesia," Keiko mendengar dari sang ayah jika calonnya itu orang Indonesia.


Gadis muda itu sangat menyukai tanah air mamanya dan bercita-cita ingin tinggal di sana makanya ketika mendengar sahabatnya ayahnya menjodohkannya dengan pria Indonesia, Keiko langsung setuju. Meskipun ia belum mengenal pria tersebut.


"Kamu beneran serius akan menikah dengan pria yang sama sekali belum kamu kenal ?" Aleya menatap wajah cantik adik angkatnya dari pantulan cermin.


"Tentu saja kak ini adalah impian terbesarku selama ini. Menetap dan menghirup udara negara mama dengan suami dan anak-anakku kelak," Pendar bahagia jelas terlihat menghiasi mata sipit milik Keiko. Sejak dulu Keiko memang selalu ingin menetap di Indonesia namun tak mendapat ijin dari Akihiro. Alasannya sangat klasik, Keiko anak tunggal dan pasangan suami istri itu akan kesepian tanpa Keiko.


"Ya sudah, semoga kalian bahagia dan memiliki banyak anak." Aleya tak ingin mendebat lagi adik angkatnya itu. Sudah cukup baginya jika Keiko bisa menerima dan mencintai suaminya.


"Kakak gak berencana kembali ke tanah air ? Seru lho, nanti kita tinggal bareng. Aku yakin suamiku pasti setuju,"


"Gak ah, kakak disini saja menemani papa dan mama. Kalau aku juga pergi lalu siapa yang akan mengurus mereka, lagipula rumah makanku juga baru dirintis. Belum kembali modal lho," Hingga saat ini Aleya tak memikirkan untuk kembali ke tanah air.


Aleya sudah nyaman berada di negara yang terkenal dengan bunga sakuranya. Meskipun harus berjuang dari bawah dan sama sekali bukan disiplin ilmunya namun semua itu tidak penting lagi baginya. Yang ia butuhkan hanyalah rasa nyaman dan aman beraktifitas. Tanpa adanya intimidasi dari atasan.


Aleya sangat mencintai tanah kelahirannya namun untuk kembali belum ada dalam daftar keinginan terbesarnya saat ini.

__ADS_1


Keduanya terus berbicara ngalor ngidul, mulai dari yang serius hingga pembahasan yang tak bermanfaat. Sedangkan Celya lebih senang bersama papa Akihiro dan mama Erin. Pasangan suami istri itu selalu menuruti semua keinginan Celya sehingga gadis kecil itu betah bersama mereka.


Hingga mama Erin memasuki kamar putri tunggalnya dengan senyuman lembut yang selalu membingkai wajahnya.


"Ayo keluar, calon suami dan keluarganya sudah datang," Mama Erin menatap dalam-dalam wajah cantik putrinya.


"Celya mana ma ?" Aleya bertanya sambil berjalan keluar kamar. Ia tak ingin mengganggu momen penting keduanya.


"Bersama papa di ruang tamu." Mama Erin mengakihkan tatapannya pada Aleya dengan tatapan tak biasa. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan ibu angkatnya.


Tak ingin berpikir aneh-aneh, Aleya memilih keluar bergabung dengan papa angkatnya dan putri kecilnya. Lagipula ia sudah selesai mendandani Keiko.


Hati Aleya mencelos melihat pemandangan yang tak pernah ia harapkan. Celya tengah berada dipangkuan pria yang ia hindari selama ini. Mereka terlihat sangat akrab, padahal Celya bukan tipe anak yang gampang akrab dengan orang asing. Meskipun dulu mereka pernah bertemu namun sikap dingin Najib terutama pada Celya membuat gadis kecil itu tak tertarik untuk mengenal pria itu. Tapi kini lihatlah gadis ķecil itu malah berada dalam pangkuannya. Entah mantra apa yang dimiliki oleh pria itu.


"Kemari nak, jangan berdiri saja." Kakek Emir yang terlebih dahulu melihat keberadaan Aleya segera memanggilnya.


Sambil berjalan, Aleya menatap putri kecilnya yang juga tengah menatapnya. Mengerti dengan arti tatapan sang mama, Celya segera turun dari pengakuan Najib dan berlari ke arah Aleya. Melihat hal itu membuat Najib mendengus kasar.


Baru saja Najib akan berbicara namun kata-katanya hanya sampai di tenggorokannya karena seorang gadis cantik menyita perhatian semua orang.

__ADS_1


Aleya tersenyum manis menatap adik angkatnya yang melangkah dengan anggunnya. Lalu berhenti dan duduk tepat di samping Aleya.


"Kak, yang mana calon suamiku ?" Keiko berbisik pelan sehingga hanya Aleya yang mendengarnya.


"Entahlah, aku juga tak mengenal mereka," Aleya balas berbisik tak kalah pelannya. Aleya tak mungkin mengatakan jika sebenarnya ia mengenal mereka semua.


Aleya harus menjaga perasaan sang adik, manatau pria di masa lalunyalah yang menjadi calon suami adik angkatnya itu. Ia tak boleh merusak harapan dan kebahagiaan Keiko.


Pembicaraan santai antara kedua keluarga tak begitu menarik bagi Aleya. Hanya satu keinginannya saat ini, yaitu meninggalkan ruang tamu yang luas namun terasa menyesakkan bagi Aleya.


Hingga akhirnya acara santap malam pun tiba. Aleya sama sekali tak mendengar diantara Andika dan Najib, siapa yang menjadi calon suami Keiko.


"Makan ma,am dulu, yuk. Setelah itu kita menetapkan tanggal pernikahannya," Suara mama Erin membubarkan lamunan Aleya.


Dengan langkah malas, Aleya mengekori mama Erin dengan Celya dalam gendongannya. Gadis kecil itu mulai mengantuk.


Mata tajam Najib terus menatap Aleya dan Najib kecil versi perempuan. Ingin rasanya Najib mengeluarkan bukti-bukti yang ia miliki agar Aleya tak lagi menghindarinya. Ia juga memiliki hak atas Celya.


Kakek Emir yang juga memperhatikan Aleya, diam-diam mengagumi wanita muda itu. Wajahnya terlihat biasa saja dan seolah tak mengenal Najib. Kakek Emir memutar otak agar keduanya bis berbicara dari hati ke hati tanpa melibatkan emosi.

__ADS_1


__ADS_2