Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 27 ~ KAMU SANGAT KETERLALUAN !!


__ADS_3

Tak ada penyelesaian masalah antara Najib dan Aleya. Karena malas mendengar penuturan Najib yang mengganggunya, akhirnya Aleya memilih keluar kamar dan bergabung dengan yang lainnya. Apalagi Celya sudah tertidur pulas, Aleya tak ingin tidur putrimya terganggu dengan suara berisik pria itu.


"Urusan kalian sudah selesai ?!" Kakek Emir bertanya tanpa basa basi saat melihat pasangan di masa lalu berjalan beriringan.


"Belum kek," Najib menjawab dengan suara datar menahan amarah.


"Maaf pak, saya dan beliau tidak ada masalah," Jawaban Aleya mengundang tatapan tajam dari mata elang Najib.


Kakek Emir dan Akihiro serta mama Erin terkekeh mendengar jawaban yang berbeda dari keduanya. Mereka memaklumi sikap Aleya namun juga memaklumi Najib yang sejak awal tidak tahu menahu tentang Aleya dan putrinya.


"Kalian perlu waktu untuk berpikir. Jangan mengedepankan emosi dan amarah karena keduanya akan menghancurkan kalian. Ingat ada gadis kecil yang harus kalian jaga. Jangan sampai karena keegoisan kalian sehingga anak itu yang akan jadi korban," Akihiro menasihati kedua sejoli dimasa lalu, tanpa menghakimi salah satunya.


"Jangan khawatir pa, semua akan baik-baik saja," Ekspresi wajah Aleya yang terlihat biasa saja membuat Najib mendengus kasar. Ingin rasanya pria itu meneriaki Aleya yang tanpa perasaan. Gadis itu sudah berubah menjadi batu.


"Tapi aku memiliki hak yang sama denganmu pada Celya, jangan keras kepala Aleya, kasihan putriku." Aleya mendelik tajam mendengar kalimat terakhir pria yang sudah menorehkan luka dan merusak kepercayaannya.


Aleya diam membatu, tak ada tanggapan atau apapun yang bisa membuat Najib merasa diberi harapan. Pintu hati Aleya benar-benar sudah tertutup.


Diam-diam kakek Emir bergidik ngeri melihat bagaimana kerasnya pendirian Aleya. Pria oaruh baya itu menatap iba cucu kesayangannya. Entah ia harus berbuat apa agar keduanya bisa kembali bersama.


Demikian pula halnya dengan Akihiro dan mama Erin, meskipun keduanya adalah orang tua angkat Aleya namun baru kali ini mereka melihat kerasnya wanita muda itu. Sangat sulit diberi pengertian.


"Baiklah kami pamit pulang, mengenai pernikahan Andika dan Keiko tak ada lagi perubahan." Akhirnya kakek Emir memilih untuk segera pulang karena melihat tak ada celah yang diberikan oleh Aleya pada Najib.

__ADS_1


"Maaf atas ketidaknyamanan ini," Akihiro merasa tak enak pada sahabatnya atas kekeras kepalanya Aleya. Bagaimanapun saatnini Aleya adalah anaknya juga sama seperti Keiko dan itu merupakan tanggung jawabnya.


"Gak masalah, semua pasti ada jalannya," Kakek Emir terkekeh sambil mengedipkan matanya dan langsung diangguki dengan samar oleh Akihiro. Bahasa isyarat keduanya tak akan dipahami oleh orang lain meskipun mama Erin dan Andika melihatnya.


Andika menyalami kedua calon mertuanya seraya mencium punggung tangannya, hal yang sama dilakukan Keiko pada kakek Emir sebelum mereka beranjak keluar rumah. Aleya pun mencium punggung tangan kakek Emir dan sebaliknya kakek Emir mengusap sayang punggung Aleya.


'Semoga pintu hatimu terbuka untuk cucuku nak,' Kakek Emir membatin dengan tulus. Mata tuanya berkaca-kaca.


Usapan lembut kakek Emir memberi rasa nyaman pada Aleya. Hatinya menghangat, Ia teringat pada papanya yang juga selalu mengusap lembut punggungnya kala ia merajuk ataupun bersedih.


Setelah rombongan kakek Emir menghilang dari pandangan, mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Kei, kamu ganti baju dulu ya, mama sama papa ingin bicara dengan kak Leya," Mama Erin tak ingin Keiko ikut campur urusan Aleya.


Aleya hanya bisa menarik napas panjang penuh penyesalan. Seandainya saja Ia tak menyusul putrinya kemari tentu saja ia tak akan bertemu dengan Najib yang membawakannya masalah. Berjuta-juta seandainya yang berseliweran dalam benak Aleya sebagai tanda penyesalannya.


"Sayang, bukannya mama sama papa menghakimimu tapi apa yang kamu lakukan tadi itu salah." Mama Erin dengan lembut berusaha menyentuh hati Aleya. Sejenak mama Erin berhenti berbicara menunggu reaksi Aleya.


Dua detik, tiga detik tak ada balasan dari Aleya. Lalu mama Erin kembali melanjutkan.


"Mama bukannya membenarkan perbuatan Najib dimasa lalu sayang, akan tetapi disini ada seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Apalagi menurut Najib semua kejadian itu adalah perbuatan seseorang," Mama Erin menatap Akihiro agar turut mendukung setiap kata-katanya. Namun pria itu hanya mengedikkan bahu tanda ia tak punya ide.


"Sudahlah ma, semua sudah terjadi dan menjadi masa lalu. Bagi Leya, masa lalu itu cukup jadi pelajaran saja bukan untuk dijadikan masa depan. Dan lagi Celya tahunya kalau papanya sudah meninggal," Tandas Aleya enteng. Sebelum Celya bertanya soal papanya, Aleya sudah mengantisipasinya. Karena memang ia tak pernah berharap bertemu kembali dengan Najib.

__ADS_1


"Aleya !!! Kamu sangat keterlaluan. Teganya kamu berbohong pada anak sepolos Celya !!!" Suara mama Erin meninggi memenuhi ruang tamu rumahnya. Ia tak kuasa membendung amarahnya. Pantas saja Celya tak pernah keluar dari mulutnya kata papa.


Bukan hanya Aleya yang terjingkat kaget, Akihiro pun tak kalah kagetnya. Sejak Aleya masuk ke dalam keluarga Akihiro, ia tak oernah mendengar suara keras dari mama Erin. Wanita itu selalu berbicara dengan lembut. Tapi kali ini hanya karena kedatangan Najib membuat Aleya dibentak oleh sang mama.


"Sudahlah ma, berikan waktu pada Aleya untuk berpikir. Jika api bertemu api maka semuanya akan memanas dan akhirnya terbakar hingga menyisakan debu." Akihiro mencoba menenangkan sang istri.


"Maaf ma jika Leya salah. Akan tetapi keputusan Leya tetap sama. Kalaupun Celya membutuhkan kasih sayang seorang papa maka Aleya akan menikah tapi bukan dengan pria itu," Aleya masih tetap dengan pendiriannya.


Mendengar ucapan Aleya, mama Erin menyandarkan kepalanya dan memijat pelipisnya. Baru kali ini ia menemukan wanita keras kepala seperti Aleya. Namun ia akan tetap berusaha menyatukan mereka apapun caranya demi kebahagiaan cucu cantiknya.


Mungkin malam ini belum berhasil. Masih ada hari esok dan esoknya lagi hingga sang pemilik takdir tersentuh melihat perjuangannya dan mengubah hati Aleya. Mama Erin optimis berhasil karena selalu melibatkan sang pemilik kehidupan di setiap usaha yang ia lakukan.


"Leya tidur dulu pa, ma," Lima belas menit ketiganya terdiam hingga akhirnya Aleya pamit undur diri untuk tidur dan diangguki oleh Akihiro sedangkan mama Erin terlalu malas Untuk sekedar menganggukkan kepalanya.


Berdebat dengan Aleya yang mengaduk-aduk emosinya membuat tenaga mama Erin seolah terkuras habis. Hingga berdiri pun harus dibantu oleh Akihiro.


🌷🌷🌷🌷


Hai readers, maaf ya othor menghilang beberapa hari.


Othornya lagi teparrr di bulan Ramadhan.


Jangan lupa dukungannya ya,

__ADS_1


__ADS_2