
Pagi kembali menyapa seluruh penduduk bumi . Perlahan Aleya membuka netranya dan tersenyum melihat putri kecilnya yang masih terlena dengan mimpinya. Namun detik berikutnya senyum Aleya berubah menjadi sebuah ringisan, ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Maafkan mama," Aleya bergumam sambil mengusap lembut pada surai hitam legam Celya.
Aleya bergegas bangun dan masuk ke dalam kamar mandi memenuhi panggilan alam. Kali ini ia tak melakukan kewajibannya sebagai muslim karena sedang lampu merah. Ia membersihkan diri secepat yang ia bisa. Celya kadang rewel jika bangun pagi sang mama tidak berada di dekatnya.
Saat Aleya selesai dan keluar dari kamar mandi, Celya pun menggelar tanda akan segera bangun. Mata bening tanpa dosa itu perlahan terbuka sempurna dan menatap Aleya lalu tersenyum.
"Selamat pagi ma," Bibir mungil gadis kecil itu bergerak menyapa sang mama.
"Selamat pagi juga sayang, nyenyak banget tidurnya," Aleya perlahan mendekati Celya dan memberikan pelukan hangat di pagi hari. Ritual pagi yang selalu di lakukan oleh keduanya saat bangun tidur. Pelukan kehangatan yang menjadi mood booster bagi Aleya untuk melewati hari-harinya.
"Iya dong, kan semalam main sama papa," Ucapan polos Celya sukses membuat Aleya syok. Ia tak menyangkal gadis kecilnya mengatakan sesuatu yang selama ini tak pernah keluar dari mulut gadis kecilnya.
'Dasar Najib breng**k, aku akan membuat perhitungan dengannya,' Batin Aleya murka.
"Maaf ma, jangan bilang sama om itu ya, Celya hanya menyukai om Najib karena semalam main sama Celya. Om Najib baik kan, ma ?" Mendengar ucapan putrinya, Aleya melerai pelukannya dan berusaha mengendalikan perasaannya seraya menatap gadis kecil yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Gak apa-apa sayang, tapi jangan memanggilnya papa ya. Nanti anak dan istrinya marah lho. Siapa yang mau bertanggung jawab ?" Aleya berusaha memberi pengertian pada Celya. Gadis kecil itu sangat cerdas dan memiliki pemikiran yang sedikit lebih dewasa dari umurnya sehingga dapat dengan muda mencerna kata-kata Aleya.
Kepala kecil Celya bergoyang-goyang keatas dan kebawah sebagai anggukan mengerti apa yang disampaikan oleh sang mama. Celya sudah memahami arti sebuah keluarga.
__ADS_1
"Maaf ma,"
"Gak apa-apa sayang, sekarang waktunya mandi dan sekolah biar pintar." Aleya tersenyum membantu putri tunggalnya untuk bersiap mandi.
Sambil menunggu Celya mandi karena gadis kecil itu tak ingin lagi di mandi olehnya, Aleya menyiapkan baju ganti putrinya dengan perasaan yang kacau. Walaupun ia memberikan senyum termanisnya setiap berbicara dengan gadis kecil itu namun perasaannya yang kacau akibat panggilan papa yang keluar dari mulut Celya.
'Kenapa panggilan papa harus pada Najib ?' Lagi-lagi Aleya membatin frustasi.
Senyum Aleya kembali merekah manakala Celya Δ·eluar dari kamar mandi. Ia segera membantu gadis kecil itu memakai baju dan menyisir rapi surai lembut gadis kecilnya. Aleya memilih tak bersuara untuk menghindari pembahasan tentang Najib. Hingga akhirnya aktifitas mereka selesai lalu keluar kamar.
"Wah, cucu oma sudah cantik dan rapi," Seru mama Erin menyambut gadis kecil yang selalu membuatnya terhibur.
Aleya menarik napas panjang melihat senyuman putrinya. Sejak kelahiran Celya, Aleya tak bisa memungkiri kenyataan jika semakin besar putrinya itu semakin banyak memiliki kesamaan dengan pria itu.
"Sarapan dulu yuk," Mama Erin menggandeng tangan mungil cucunya menuju meja makan. Dimana Keiko dan papa Akihiro menunggu mereka.
Mengingat bagaimana murkanya mama Erin semalam maka Aleya memilih diam sambil menikmati sarapannya. Bukan karena Aleya marah atau tersinggung dengan kemarahan mama Erin akan tetapi ia tak ingin menambah kekesalan orang tua angkatnya. Aleya sangat menghormati mereka.
"Ma, Celya mau ikut sama opa."
"Lho sayang, gak boleh. Sekolah Celya dan kantor opa gak searah." Aleya tak ingin membiasakan putrinya bermanja-manja pada keluarga angkatnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Leya. Papa gak keberatan kok, lagian masih pagi-pagi juga kan,"
"Bener tuh, kami semua akan keluar mengurus pernikahan Keiko. Dan Celya akan bersama kami hingga pernikahan adikmu selesai. Mama gak terima penolakan." Mama Erin sepertinya masih menyisakan kekesalannya pada Aleya sehingga nada suaranya terdengar sangat tegas.
"Terserah mama saja," Aleya hanya bisa pasrah. Meskipun ia tak kuasa berpisah terlalu lama dengan putrinya namun ia bisa apa jika mama Erin sudah memutuskan.
"Jangan khawatir kak, Celya akan baik-baik saja bersama kami. Lagian malam juga kalian bersama lagi," Keiko menyentuh dengan lembut tangan Aleya, seolah ingin meyakinkan jika ponakannya itu aman bersamanya.
Aleya hanya tersenyum menanggapi adiknya itu. Wanita muda itu memang sangat menyukai anak kecil. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak tunggal.
Akhirnya aktifitas di meja makan berakhir. Masing-masing bersiap berangkat menuju tempat dimana mereka akan berkeliaran seharian. Aleya menuju restorannya sementara papa Akihiro bersama mama Erin, Keiko dan Celya berada dalam satu mobil dengan Keiko sebagai supirnya.
Hari ini mama Erin dan Keiko akan mulai mengurus tempat akan diadakannya pesta. Lalu gaun pernikahan di butik. Baju untuk akad nikah dan pesta, untuk itu mereka janjian dengan Andika dan keluarganya di sebuah butik terkenal dan terserah di Jepang.
Keiko terlebih dahulu mengantar Celya ke sekolah lalu mengantar sang papa selanjutnya ia dan mama Erin menuju sebuah hotel yang rencananya akan mereka gunakan sebagai tempat untuk resepsi. Sedangkan untuk acara akad nikah tetap di laksana di kediaman mama Erin.
Mengawali sebuah prosesi membina rumah tangga memang sebaiknya di adakan di rumah mempelai perempuan. Berbagai makna yang terlihat di dalamnya sehingga para orang tua menginginkan putri putrinya menikah di rumah sendiri.
Selesai dengan urusan tempat resepsi berikut menu-menu yang akan disajikan, kini Keiko dan mama Erin kembali berada dalam mobil. Keiko mengarahkan mobilnya menuju butik langganan mereka dengan kecepatan sedang. Dimana Andika dan keluarganya menunggu.
π·π·π·π·π·
__ADS_1