Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 13 ~ SEMANGAT ALEYA


__ADS_3

Tak terasa dua bulan waktu berlalu Aleya menjadi sekretaris Najib. Kesulitan yang sengaja ditimbulkan oleh Najib untuk membuat dirinya susah tak pernah Aleya keluhkan, bahkan ia selalu menghadapinya dengan sabar.


Aleya busa menahan dan bersabar jika hanya menghadapi segala bentuk penindasan mental yang dilakukan Najib akan tetapi beberapa kali Aleya memergoki seseorang sengaja mangamati rumah dan kegiatannya bersama putri kecilnya dan itu sangat mengganggunya. Aleya tak ingin berburu sangka pada Najib namun hari ini 8a memergoki orang yang sama yang selalu mengamatinya bertemu dengan asisten Adam.


'Sepertinya keadaan mulai tak aman bagi kami," Batin Aleya pura-pura tak melihat asisten Adam.


Aleya terus melangkah dengan tenang melewati asisten Andika dan seorang pria berbadan kekar. Walaupun suasana hatinya gelisah dan khawatir namun ia mencoba tetap bersikap tenang.


"Kamu yang bos atau aku ?! Setiap hari yang datang lebih dulu adalah aku !!" Najib menaikkan nada suara beberapa oktaf membentuk Aleya yang baru saja keluar dari lift.


"Karena bapak semata-mata hanya memiliki tanggung jawab pada perusahaan, berbeda dengan aku yang notabenenya adalah seorang ibu yang harus mengurus keperluan anak sebelum ke kantor." Cara bicara Aleya yang tenang dan tak terprovokasi dengan kemarahan Najib semakin membuat pria itu kesal.


Najib tak dapat membohongi diri sendiri, ia sangat kesal dan marah setiap kali Aleya menyebut dirinya seorang ibu. Pada dasarnya Najib ingin membalas dendam pada Aleya karena perbuatannya di masa lalu namun tak urung ia sendiri yang kesal dan uring-uringan laksana senjata makan tuan.


"Selesaikan semua rekapan berkas yang aku minta ! Catatannya ada diatas mejamu ! Dan ingat jangan pulang sebelum semuanya selesai !" Najib tak tanggung-tanggung memberikan pekerjaan pada Aleya.


Aleya tetaplah Aleya yang sudah ditempat oleh kehidupan keras untuk bertahan hidup demi buah hatinya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang wanita seperti Aleya. Pekerjaan yang diberikan oleh Najib bukanlah sesuatu yang pantas untuk dikeluhkan. Tak ingin berdebat, Aleya segera beranjak dari hadapan pria arogan itu.


Sejenak Aleya menarik napas panjang sebelum memulai pekerjaannya. Meskipun ia tahu pekerjaan yang diberikan padanya adalah untuk menyiksanya namun Aleya tetap tersenyum seolah tak tahu menahu. Dalamnya laut dapat diukur namun dalamnya hati dan isi kepala Aleya tak ada yang tahu.


'Semangat Aleya, kerjakan dengan penuh senyuman dan jangan lupa pamerkan senyuman terakhirmu untuknya, ' Batin Aleya penuh keyakinan.

__ADS_1


Dengan penuh semangat Aleya memulai pekerjaannya, ia bertekad akan menyelesaikan semua pekerjaan yang dibebankan padanya meskipun harus lembur.


Sementara di ruang kerjanya, Najib senewen melihat ekspresi Aleya yang tak sesuai dengan ekspektasinya, padahal wanita itu tahu pekerjaan yang ia berikan tak masuk diakal namun tetap diterimanya dengan senang hati. Sungguh Najib menginginkan Aleya menolak dan berdebat dengannya.


"Apa yang membuatmu sedemikian kuatnya, Aleya ?!" Najib bergumam menatap pintu ruangannya seolah disana Aleya sedang berdiri padahal pintunya tertutup rapat.


Waktu terus bergulir, sang penunjuk waktu pun tak dapat dihentikan. Aleya masih saja menekuni pekerjaannya tanpa keluhan padahal jam pulang kantor telah berlalu selama tiga puluh menit. Najib pun keluar dari ruangannya dan tersenyum puas melihat Aleya terus bekerja.


"Ingat, jangan pulang sebelum selesai. Jika harus menginap pun kamu harus lakukan." Sinis Najib tanpa menatap Aleya. Sebenarnya dibalik sifat sinisnya pria itu menyembunyikan rasa kesalnya karena Aleya sama sekali tak merasa tersiksa bahkan terlihat sangat menikmati pekerjaannya.


"Jangan khawatir pak." Senyuman Aleya semakin membuat kekesalan Najib meningkat. Tak ingin memperlihatkan perasaan sesungguhnya sehingga pria itu memilih segera pergi dari hadapan Aleya.


Tak ingin dicurigai, Aleya kembali bekerja sesuai perintah sang bos. Akhirnya setelah ia merasa cukup lama bekerja, akhirnya Aleya turun ke lantai satu namun sebelum keluar ia terlebih dahulu mengintip keluar manatau asisten Andika menempatkan orang-orangnya untuk menguntitnya.


Merasa sudah jauh dari area perusahaan, Aleya segera memesan taksi online menuju rumah pengasuh putri kecilnya. Sebelum turun dari taksi online, sejenak Aleya mengamati sekitarnya manatau sepulang sekolah tadi dikuntit oleh orang suruhan Adam. Merasa aman Aleya lalu turun setelah membayar ongkos taksinya.


Tok tok tok


Ceklek.


"Selamat datang bu, maaf rumahnya kecil," Sambut mbak Lia saat membuka pintu dan melihat Aleya.

__ADS_1


"Gak masalah mbak, oh ya Celya sudah tidur ?" Aleya berusaha menghilangkan rasa canggung pengasuh putrinya. Baginya dimanapun berada tak jadi masalah yang penting ia merasa aman dan rencananya berhasil.


Sejak mbak Lia menceritakan bagaimana asisten Andika mengambil rambut Celya saat itu membuat Aleya memutuskan untuk kembali menghilang. Dengan kelakuan asisten tersebut menandakan jika Najib mencurigai Celya sebagai darah dagingnya dan itu adalah hal yang sangat ditakuti oleh Aleya.


"Baru saja tidur bu," Mbak Lia membuka sebuah kamar dimana Celya sedang tertidur pulas.


"Sekarang mbak tidurlah, kami berangkat dengan kereta api pertama besok," Aleya lalu berjalan menuju tempat tidur, tubuhnya terasa sangat lelah dan harus diistirahatkan sebelum memulai perjalanannya.


Aleya sudah bertekad akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Najib. Sebuah kesalahan yang ia lakukan adalah kembali ke ibukota dan harus bertemu lagi dengan pria itu. Jika dulu ia bisa menghilang maka kali inipun bisa dilakukannya agar tak kehilangan putrinya.


Dalam beberapa hari terakhir Aleya sudah merencanakan semuanya dengan matang. Saat menyadari semuanya tak akan baik-baik saja dan pikiran pertama yang muncul.ia hanyalah menjauhkan diri dan menghilang selamanya dari kehidupan yang berhubungan dengan Najib.


Maksud hati Aleya ingin tidur dan beristirahat sejenak namun semua itu tak terjadi. Rasa gelisah dan khawatir ketahuan datang menghantuinya. Berbagai pikiran buruk memenuhi kepalanya namun karena sudah bertekad maka ia harus berusaha semoga saja mereka selamat sampai tujuan.


Pikiran Aleya terus mengembara membayangkan kebahagiaan dan ketenangan yang akan ia peroleh di tempat yang baru. Hingga akhirnya Aleya tertidur menyusul Celya yang telah lebih dulu menggapai dunia mimpi.


Kesadaran Aleya kembali sebelum suara adzan subuh berkumandang. Ia segera keluar kamar mencari keberadaan kamar mandi. Maklum rumah mbak Lia tak memiliki kamar mandi dalam kamar. Aleya tak perlu mengatasi rumah untuk menemukan apa yang ia cari. Aleya lalu melakukan segala macam ritual paginya dan setelah selesai ia keluar dengan wajah dan perasaan yang lebih segar.


Perlahan ia membangunkan Celya agar segera mandi dan bersiap ke stasiun kereta. Jarak yang lumayan jauh mengharuskan mereka segera bergegas dan sebelum Najib menyadari kepergiannya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Selamat siang readers kesayangan ,,,


Selamat menikmati ya, semoga terhibur


__ADS_2