
Entah Aleya harus bahagia atas pengangkatannya sebagai sekretaris ataukah harus menangis. Soal bagi pasti tak diragukan lagi, ia akan bisa memberikan kehidupan yang lebih baik lagi bagi putri kecilnya. Namun basic pendidikannya bukanlah sekretaris dan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya terlebih lagi kenyataan bahwa yang menjadi bosnya adalah Najib, pria merampas segalanya lalu menendangnya keluar dari kehidupan pria itu.
"Sayang, sekarang mama akan lebih lama pulangnya, jadi Celya jangan nakal dan gak boleh merepotkan mbak." Aleya berpamitan pada putrinya saat menurunkannya di sekolah.
"Ok ma, semangat." Celya memeluk Aleya sebelum masuk area sekolah diikuti oleh pengasuhnya. Aleya menatap punggung putrinya hingga menghilang dari pandangan barulah ia kembali masuk kedalam mobilnya.
Sebelum menjalankan mobilnya, Aleya menarik napas panjang. Babak baru pekerjaannya menanti. Entah apa yang akan terjadi ke depannya hanya Tuhan yang tahu dan Aleya hanya akan mengikuti takdirnya.
Jam menunjukkan pukul 06.50 saat Aleya memarkir mobilnya ditempat biasa. Dengan langkah cepat ia menuju lobby perusahaan dan selanjutnya memasuki lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi gedung tersebut.
Ting
Lift berhenti dan Aleya pun bergegas keluar. Secepatnya ia harus mempelajari tugas dan pekerjaan seorang sekretaris. Aleya tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi sekretaris seperti saat ini.
Saat Aleya mulai membuka berkas terdengar bunyi lift berhenti dan terdengar langkah kaki menuju ke arahnya. Aleya langsung berdiri menyambut atasannya.
"Selamat pagi pak," Aleya sedikit membungkukkan badannya tanda hormat pada sang atasan.
"Bawakan jadwalku untuk hari ini !" Singkat, padat dan datar nada suara pria itu tanpa menghentikan langkahnya.
Aleya menatap Andika meminta pertolongan. Sungguh ia tak tahu dimana letak jadwal atasannya. Sekretaris yang dulu berhenti begitu saja tanpa ada komunikasi dengannya setidaknya memberitahukan sesuatu yang paling dibutuhkan oleh atasannya tersebut.
"Mac book diatas meja pojok kanan," Andika berbisik lalu mengikuti Najib memasuki ruangannya.
"Ngapain kamu disini ? Apa ruanganmu sudah pindah ?!" Entah mengapa pria tampan itu sangat ketus padahal masih pagi. Padahal masih bulan baru dan tak mungkin pula sedang masa in period.
__ADS_1
"Kali aja bos membutuhkan sesuatu, " Andika berdalih sebelum akhirnya keluar. Ia mengikuti bosnya agar tak menindas Aleya dihari pertamanya sebagai sekretaris.
Najib hanya mendengus mendengar ucapan asistennya. Ia mulai menyalakan laptop dihadapannya sambil menunggu sekretarisnya membawa jadwalnya.
Tok tok tok
"Masuk." Terdengar suara berat khas pria itu dan Aleya pun melangkah dengan perlahan terkesan ragu-ragu memasuki ruangan CEO untuk pertama kalinya.
"Permisi pak, boleh saya membacakan jadwal anda ?" Aleya tak berani menatap mata elang milik pria yang dulu ia kagumi.
"Hm," Najib tak mengalihkan tatapannya dari laptop didepannya.
Meskipun Aleya sedikit kesal mendengar jawaban pendek pria itu namun ia tetap melakukan tugasnya. Membacakan satu per satu jadwal pria itu tanpa jeda agar ia bisa keluar dari ruangan tersebut . Berbagi oksigen dengan pria itu dalam ruangan yang sama membuatnya seperti tercekik seolah persediaan oksigen dalam ruangan dimonopoli oleh atasannya itu.
"Aku tahu kamu pandai membaca, tapi pelankan sedikit agar aku bisa mengingat setiap detik jadwalku." Masih dengan suara datar bin dinginnya terdengar sempurna di telinga Aleya.
"Temani aku menjamu tamu perusahaan nanti malam." Titah Najib tak ingin dibantah.
"Maaf pak, pengasuh putriku tidak bisa sampai malam." Aleya berusaha menolak secara halus perintah Najib. Ia tak mungkin menghabiskan waktu bersama pria itu apalagi diluar jam kerja.
"Saya tidak ada urusan dengan putrimu dan pengasuhnya. Bekerja harus profesional apalagi sebagai sekretaris, apapun yang diperintahkan oleh atasan tidak boleh dibantah. Boleh dikata sekretaris itu tidak memiliki jam kerja." Najib menatap tajam wajah cantik Aleya yang sedang menatapnya sendu.
Hampir saja Najib berubah pikiran saat melihat tatapan tak berdaya wanita yang dulu mewarnai harinya. Namun ingatan masa lalunya mengalahkan segalanya. Disini, dikantor ini dirinya yang berkuasa dan Aleya harus menyadari hal itu.
"Kalau begitu izinkan saya mengundurkan diri saat ini juga pak. Maaf bagi saya putriku lebih penting dari apapun di dunia ini. Hanya dia milikku di dunia ini." Tanpa berpikir panjang Aleya memilih untuk mengundurkan diri. Apalagi atasannya sangat tak bersahabat. Masih banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan agar tak melewatkan cerita malam sebelum tidur putrinya.
__ADS_1
Celya selalu menceritakan semua kegiatannya baik disekolah maupun di rumah sebelum Aleya pulang kerja. Sebagai orang tua tunggal, Aleya memang membiasakan putrinya untuk selalu bercerita apa saja agar kelak putrinya itu lebih terbuka padanya dan menganggapnya sebagai teman.
"Kamu terdengar sangat mencintai ayah putrimu," Suara Najib terdengar sangat dingin saat mengeluarkan kata-katanya. Ingin rasanya Aleya berteriak di telinga pria itu mengatakan yang sebenarnya.
Aleya hanya menatap sinis pria yang telah menorehkan luka dihatinya, hampir saja ia melakukan kesalahan dengan mengungkap fakta yang sebenarnya. Untunglah pikirannya mengalahkan keinginannya sehingga ia kembali menelan kata-katanya yang sudah siap meluncur bebas. Aleya tak ingin dituduh mengada-ada.
"Dulu iya, tentu saja aku mencintainya sepenuh hati," Aleya merasakan hatinya bagai tersayat sembilu mengingat pengkhianatan pria di depannya.
"Saya tak mengijinkanmu berhenti. Bagaimanapun caranya kamu harus menemaniku nanti malam. Bawa putrimu sekalian gak masalah buatku," Najib tak memberi celah pada Aleya. Ia ingin mengetahui kehidupan wanita beranak satu itu selama ini.
Najib sebenarnya hanya beralasan. Selama ini ia selalu didampingi oleh Andika dan itu sudah cukup baginya. Melisa sebagai sekretaris tak pernah ia ajak menghadiri meeting bersamanya. Namun mulai hari ini semua akan berubah dan Andika akan lebih banyak bekerja di kantor kecuali memang sangat dibutuhkan oleh atasannya itu.
"Terserah anda, toh bapak yang berkuasa dalam hal ini,"
"Syukurlah kamu mengerti dan ke depannya jangan pernah membantahku bahkan jika saya menyuruhmu berhenti bernapas pun kamu harus menurutiku," Najib memperlihatkan wajah sombong dan arogannya.
"Mimpi apa aku semalam sehingga harus bertemu dengannya," Aleya bergumam dengan sangat pelan namun tetap saja telinga tajam Najib mendengarnya.
"Tentu saja saya adalah mimpi burukmu !"Dingin dan terdengar layaknya sebuah ancaman besar bagi Aleya.
Seandainya saja Aleya tak mengenal Najib dengan baik maka tentu saja ia tak perlu waspada tingkat tinggi. Namun karena ia mengenal Najib beserta keburukan dan kebaikannya membuatnya merasa terancam. Nyalinya sedikit menciut namun tak ia perlihatkan.
Sejak kelahiran Celya, Aleya berubah menjadi super woman bagi putrinya itu. Ia sengaja mengasingkan diri dari lingkungannya setelah mengetahui ada sebuah kehidupan lain berada dalam dirinya.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Selamat malam readers
Selamat membaca, terima kasih atas dukungannya.