Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 8 ~ UPS, SORRY MA


__ADS_3

Dengan berat hati Aleya membawa serta putrinya. Sebenarnya Aleya bisa saja meminta pengasuh Celya agar menginap di rumahnya namun ia sengaja agar Najib merasa terganggu dengan kehadiran gadis kecil itu. Aleya bisa memastikan jika putrinya akan sangat rewel jika tidur malamnya terganggu.


"Hai om, ketemu lagi, " Celya menyapa Najib dengan ramah saat menjemput Aleya. Gadis kecil itu memang sangat senang jika bertemu dengan pria dewasa. Mungkin selama ini ia merindukan sosok ayah yang tak pernah dilihatnya.


"Wah, cantiknya. " Mata Najib berbinar melihat penampilan gadis kecil itu. Entah mengapa ia merasa senang kala melihat putri wanita masa lalunya.


"Iya dong. Kata mama aku mirip papa," Celya terdengar sangat antusias ketika berbicara tentang papanya pada Najib. Mendengar Celya sedang berbicara dengan seseorang yang ia oastikan adalah Najib membuat Aleya buru-buru mengambil tasnya lalu keluar. Celya tak boleh terlalu banyak bicara dengan pria itu.


"Sayang, lupa ya kata-kata mama," Aleya dengan halus menegur gadis kecilnya dengan mengingatkan yang selalu ia ajarkan agar jangan berbicara dengan orang asing.


" Ups sorry ma," Celya membalikkan badannya cengar cengir menyadari kesalahannya.


Najib mengangkat wajahnya menatap Aleya yang kini telah berdiri didepan mereka. Tatapan Najib berubah tajam saat melihat Aleya menatap lembut pada putrinya. Ia mendadak kesal membayangkan papa gadis kecil itu. Najib langsung berbalik dan berjalan kearah mobilnya, melihat hal itu Aleyapun mengunci pintu rumahnya dan menyusul Najib sembari menggandeng tangan mungil putrinya.


Masih dengan rasa kesalnya Najib melarikan mobilnya sedikit diatas rata-rata. Aleya hanya terdiam sambil memberikan ponsel pada Celya agar gadis kecil itu tenang dan diam. Celya paling suka bercerita tentang apa saja dan Aleya tak ingin hal itu terjadi. Aleya tak dapat membayangkan masalah yang akan menghampirinya.


Perjalanan yang terasa bagaikan di neraka akhirnya berakhir saat Najib perlahan membelokkan mobilnya memasuki sebuah restoran mewah. Setelah mobil terparkir dengan rapi, Najib dan Aleya keluar begitupula dengan Celya. Mereka bertiga awalnya berjalan berdampingan dengan Celya ditengah bagaikan sebuah keluarga. Menyadari hal itu Aleya memelankan langkahnya sehingga Najib berjalan di depan mereka.


"Waow ma, Celya suka disini, " Aleya seketika menutup mulut Celya dan berharap Najib tak mendengarnya.


"Sayang, jangan berisik." Aleya menegur putrinya dengan lembut dan gadis kecil itu hanya mengangguk karena tangan sang mama masih menutup mulutnya.


Sambil berjalan Najib memasang telinganya dengan baik, sekilas ia mendengar gadis kecil menyebutkan sebuah nama yang mengingatkannya kembali ke masa lalu. Mungkin saja pendengarannya salah. Najib menelengkan kepalanya tak percaya.


Najib berbicara dengan seorang pria berserakan khas pelayan restoran. Kemudian pria tersebut mengantarkan mereka ke sebuah ruangan dimana sudah menunggu seorang pria paruh baya dengan sekretaris dan asistennya.

__ADS_1


"Selamat datang pak Najib, wah ternyata anda membawa serta keluarga." Sambutan pria paruh baya itu membuat Aleya merasa tak enak hati berbanding terbalik dengan Najib yang seolah membenarkan ucapan rekan bisnisnya.


"Pak Tomo bisa aja, kenalkan sekretarisku, Aleya dan putrinya, " Najib memperkenalkan Aleya dengan santai tak terganggu sama sekali dengan ucapan pak Tomo.


"Halo om, namaku Celya," Dengan ceria Celya memperkenalkan diri membuat Aleya seketika memucat. Semua pria ia panggil om tak peduli tua ataupun muda. Najib yang mendengarkan gadis kecil itu menyebutkan namanya seketika menatap Aleya. Namun Aleya berusaha menghilangkan kegugupannya.


Masih melekat dalam ingatan Najib saat mereka duduk menikmati senja menunggu sunset. Mereka saling mencintai dan sudah merencanakan masa depan setelah lulus kuliah bahkan nama anak-anak merekapun sudah terencana meskipun merek baru akan lulus Sekolah Menengah Atas.


"Kita makan dulu atau membahas kerjasama kita terlebih dahulu ?!" Pak Tomo memberikan pilihan sehingga Najib memutuskan lamunannya.


"Sebaiknya kita bicara bisnis dulu." Najib tak ingin membuang-buang waktu makan malam. Sekarang perasaannya tak karuan mendengar nama dari putri Aleya.


Aleya masih berusaha terlihat biasa saja agar Najib tak mencurigainya. Ada keresahan yang teramat sangat ketika ekor mata Aleya menangkap Najib sedang menatap Celya dalam-dalam di sela-sela pembicaraannya dengan pak Tomo. Aleya pun tak konsentrasi menyimak pembicaraan keduanya. Hingga akhirnya Najib mengakhiri pembicaraan.


"Baiklah saya akan mampir di perusahaan pak Najib," Pak Tomo pun berdiri mengantar mereka hingga di depan pintu.


Pak Tomo tak bisa menahan Najib lebih lama lagi. Pria muda itu sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Beberapa kali pak Tomo melihat Najib menghela napas panjang.


Aleya hanya mengikuti Najib dari belakang. Ia tak memiliki keberanian untuk bersuara sedikitpun. Perasaannya pun gelisah dan khawatir. Aleya dapat memastikan perubahan Najib karena nama Celya.


Najib terus mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan Aleya yang kini sedang menenangkan Celya yang terus-terusan merengek ingin makan. Karena kewalahan akhirnya Aleya menghentikan langkahnya dan memilih duduk bersama Celya dikursi yang kebetulan sudah kosong. Dan memesankan makanan untuk Celya.


"Mas, tolong pesan ini dan ini ya," Aleya memilih beberapa menu yang disukai oleh Celya.


"Sebentar ya bu," Pelayan restoran tersebut lalu meninggalkan Aleya dan Celya dengan membawa catatannya.

__ADS_1


Sementara itu Najib semakin kesal saat tiba diperkiran namun Aleya ternyata tak mengikutinya. Dengan mendengus kasar pria tampan itu kembali ke dalam restoran tersebut mencari keberadaan Aleya dan putrinya.


"Ngapain kamu enak-enakan duduk disini ?!" Najib bertolak pinggang menatap tajam Aleya.


"Maaf pak, silahkan pulang terlebih dahulu. Putriku lapar." Aleya berusaha sabar padahal hatinya sudah dongkol setengah mati.


"Om, jangan marah-marah sama mama aku !!" Tatapan mata Celya semakin meyakinkan Najib akan satu hal. Ia seolah melihat dirinya dalam diri gadis kecil itu.


"Sayang, gak boleh ngomong seperti itu sama orang yang lebih tua, gak sopan. " Secepatnya Aleya menegur putrinya agar menghentikan tatapan tajamnya pada Najib.


Hal yang paling jelas persamaan keduanya adalah mata mereka yang sama sekali tak bisa disangkal bahkan pak Tomo saja yang baru pertama kali melihat Celya langsung menebak hubungan darah mereka.


"Sepertinya ada kisah yang aku lewatkan disini. Entah apa yang kamu sembunyikan dariku dan sebaiknya jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Ingat Najib yang dulu bukan lagi Najib yang sekarang." Tatapan intimidasi Najib membuat Aleya menciut namun ia berusaha terlihat biasa saja.


Pembicaraan mereka terputus kala beberapa pelayan datang dan menata makanan diatas meja. Aleya lalu sibuk mengurus Celya agar bisa makan dengan tenang. Sedangkan Najib menatap Aleya dengan perasaan yang kacau. Marah, kesal, dan dongkol datang secara bersamaan namun sesuatu yang hangat dalam hatinya manakala melihat gadis kecil yang mirip dirinya tumbuh dengan sangat baik.


🌷🌷🌷🌷🌷


SELAMAT SIANG READERS,,,


SELAMAT MENIKMATI SEMOGA BIS MENJADI HIBURAN BUAT KALIAN


JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN YA,,,


LOVE YOU ALL 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2