
Tak lama setelah mama Erin, Najib dan Celya tiba di ruang kerja Akihiro, kakek Emir pun tiba. Mama Erin menyambutnya dengan antusias.
"Kak, sebagai orangtua kita harus menengahii permasalahan antara Aleya dan Najib, ada anak tak berdosa yang akan menanggung beban. jika keduanya tetap seperti ini," Mama Erin langsung pada inti persoalan.
"Aleya sudah menganggap Najib sebagai masa lalu, kita tak bisa memaksakan keadaan." Kakek Emir terdengar lepas tangan dan tak ingin turut campur. Najib mendengus kesal mendengar ucapan sang kakek.
"Aku gak mau tau kek, pokoknya kami harus menikah sebelum pernikahan Andika dan Keiko." Najib tak menerima bantahan.
Celya yang tengah duduk menikmati bekalnya menatap pria itu dengan tatapan kaget. Celya tak pernah mendengar suara keras selama ini tentu saja kaget mendengar suara Najib.
"Celya mau bantu papa ?" Najib tak kehabisan akal. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Tentu om, kata mama kita harus membantu orang yang membutuhkan pertolongan," Ucap Celya polos.
"Najib, jangan bertingkah seperti seorang pengecut, memanfaatkan kepolosan seorang anak kecil," Kakek Emir menatap tajam pria muda yang kini se emang tersenyum penuh arti mendengar ucapan putrinya.
"Aku tahu kek, jangan khawatir. Ini adalah persekongkolan sebuah keluarga lagipula bukankah semua halal dalam cinta ?!" Tukas Najib seenteng kapas. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Najib.
Kakek Emir hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan tetap pada rencananya semula. Najib mengajak Celya meninggalkan ruang kerja Akihiro. Tinggallah para orang tua mencari pemecahan agar Aleya dan Najib bisa bersama.
Pembicaraan seputar rencana kakek Emir berlangsung alot pasalnya pernikahan Keiko dan Andika kurang satu minggu.
"Tak ada jalan lain lagi, lanjutkan saja sesuai rencanaku. Ingat jangan sampai ada yang tahu selain kita bertiga," Kakek Emir sudah memutuskan dan Akihiro serta mama Erin pun menyetujuinya. Meskipun pasangan suami istri itu masih sedikit ragu akan keberhasilan rencana sahabatnya.
__ADS_1
Seandainya saja sahabatnya itu tak memperlihatkan hasil tes DNA Najib dan Celya maka hingga saat ini pasangan suami istri itu tak akan pernah mengetahui yang sebenarnya. Hampir saja mereka menikahkan Aleya dengan kerabat Akihiro.
"Om beneran papaku ?!" Celya mengulang kembali pertanyaannya. Gadis kecil itu belum puas dan ingin kembali memastikan.
"Tentu saja sayang, jadi mulai sekarang jangan panggil om lagi tapi papa, ok ?" Najib menatap hangat putrinya. Sungguh ia sangat bahagia mengetahui kenyataan ini. Walaupun saat pertama kali mengetahui jika gadis kecil itu adalah anak wanita yang tak bisa ia lupakan namun salahkan Aleya yang menyembunyikan identitas putrinya.
"Tapi kenapa mama gak suka sama om, eh papa," Celya menatap tak yakin pada Najib. Gadis kecil itu memang tak gampang untuk diyakinkan. Benar-benar jiplakan sifat Aleya.
"Papa pernah melakukan kesalahan makanya papa perlu bantuan dari gadis kecil papa, supaya kita bisa berkumpul kembali dan hidup bahagia."
"Tapi kenapa papa baru datang sekarang ?" Mendengar pertanyaan putrinya yang menonjolkan membuat Najib mengusap wajahnya frustasi. Gadis kecil ini benar-benar dewasa sebelum waktunya.
"Karena mama saat itu menghilang, sayang." Najib berusaha berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh anak seusia Celya. Najib tak ingin jika putrinya tahu jika ia dilahirkan diluar nikah.
Untuk sesaat Najib kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada gadis kecilnya. Otak Najib membutuhkan kerja keras kala berbicara dengan Celya untuk menghindari kesalahpahaman dari anak kecil itu.
"Papa sudah berusaha mencarinya, sayang. Papa gak pernah menyangka jika mamamu ternyata tinggal disini. Dan saat itu kakek menyuruh papa agar sekolah diluar negeri." Najib tak sepenuhnya berbohong.
"Baiklah sepertinya papa bicara jujur makanya Celya akan bantu papa supaya mama gak marah lagi," Celya membingkai wajah Najib dengan kedua tangannya sambil tersenyum manis. Mata Najib berkaca-kaca mendengar penuturan putrinya. Terharu dan bahagia karena akhirnya Celya menerima dirinya.
Najib lalu menggandeng tangan mungil Celya menuju ruang kerja Akihiro dimana kakek Emir berada. Langkahnya terasa sangat ringan karena kini Celya berada di pihaknya. Satu beban sudah terselesaikan dengan baik.
"Om, tante, boleh malam ini Celya bersamaku ?" Nqjib ingin lebih dekat lagi dengan putrinya.
__ADS_1
"Sebaiknya ngomong sama Aleya, nak. Untuk saat ini jangan memancing emosinya demi kebaikan kalian. Kamu tentu paham sifat keras kepalanya Aleya," Mama Erin tak ingin perselisihan kedua anak manusia itu semakin dalam. Ada seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang keduanya.
"Bener kata tante Erin, boy. Jangan bertindak gegabah. Kakek paham perasaanmu saat ini akan tetapi untuk mencapai tujuan yang lebih besar hendaknya kamu belajar bersabar. Ingatlah bahwa Aleya bukan seperti gadis-gadis yang memujamu," Kakek Emir ikut menimpali dan membenarkan ucapan mama Erin.
"Hanya bersama putriku semalam saja kok susah banget," Najib mengeluh tak terima.
"Jangan banyakan ngeluh, gak baik." Kakek Emir menatap datar pada cucu kesayangannya yang cukup membuatnya kerepotan dengan masalahnya akhir-akhir ini.
"Bukan ngeluh kek, hanya saja semua terasa berat. Setelah mengetahui kenyataan yang seharusnya membuat bahagia tapi yang terjadi malah sebaliknya," Sorot mata Najib terlihat sendu menatap sang kakek. Hati pria paruh baya itu berdenyut sakit tak tega melihat penderitaan cucu satu-satunya.
"Sabar nak, buah dari kesabaran adalah bahagia. Semoga secepatnya kalian dipersatukan," Akihiro ikut menimpali namun ia tak berani memberikan harapan yang lebih besar mengingat Aleya sangat berbeda dengan Keiko yang penurut.
Meskipun Aleya sudah mereka anggap layaknya anak kandung namun pasangan Akihiro dan mama Erin tak bisa serta merta memaksakan keinginannya pada Aleya.
"Amiin Ya Rabbal Alamiin," Kompak Najib dan kakek Emir sepenuh hati dan khusyu'.
Saat para orang dewasa berbicara, gadis kecil yang merupakan inti persoalan ternyata sedang tertidur di sofa dengan paha Najib sebagai bantalnya. Sebuah pemandangan yang menyentuh hati. Celya terlihat nyaman dengan berantakan paha sang ayah. Mama Erin langsung mengabadikan momen tersebut dan menyimpannya pada galeri ponselnya.
'Manatau nanti berguna,' Batin mama Erin menatap sejenak hasil jepretannya.
Najib tersenyum melihat putrinya dan ikut mengabadikannya. Jika mama Erin menyimpannya pada galeri ponselnya maka Najib menjadikannya sebagai wallpaper agar setiap saat ia bisa menatap wajah damai putrinya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1