Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 38 ~ CEMBURU, YA


__ADS_3

Sesuai dengan keinginan Najib kini Aleya ikut ke kantor pun sama haknya dengan Keiko yang tak mungkin tinggal di rumah tanpa teman. Padahal rencana Aleya hari ini adalah membawa Keiko keliling ibukota untuk mengenal kota tempatnya akan tinggal dan menetap bersama suami dan anak-anaknya kelak.


"Sebenarnya aku dan Keiko punya rencana sendiri tapi malah harus berakhir di kantormu," Aleya memang tak ingin lagi menginjakkan kakinya di perusahaan Najib. Ia tak ingin menjadi bahan perundingan semua karyawan di perusahaan tersebut.


"Yang, sepertinya kurang baik kedengaran jika memanggilku kamu. Bukan memaksa sih hanya mungkin sebaiknya panggil aku mas atau sayang atau apalah yang penting bukan kamu atau Najib." Pria itu benar-benar ingin melakoni pernikahan layaknya pasangan pada umumnya.


"Tapi kita kan seumuran," Aleya merasa aneh jika harus merubah panggilannya pada Najib.


"Gak masalah, saat ini kita adalah pasangan suami istri tak peduli kita seumuran. Sebelum putri kita datang, semua harus diselesaikan termasuk panggilanmu padaku." Najib ngotot tak terima alasan apapun.


"Baiklah, nanti aku pikirkan," Aleya tak ingin memperpanjang perdebatan yang unfaedah. Pintu gerbang perusahaan sudah terlihat dan beberapa detik lagi mobil yang mereka tumpangi akan berhenti di depan lobby.


Aleya menarik napas panjang menyiapkan mentalnya. Sudah bisa dipastikan gosip tentangnya akan segera memanas. Kehidupan Aleya yang diketahui oleh para karyawan adalah bahwa ia seorang janda muda di tinggal mati oleh suaminya dengan satu anak dan kini malah menikahi bos perusahaan.


"Sebelum kita turun, kamu harus tahu bahwa para karyawan tahunya aku seorang janda," Aleya meringis sendiri mengingat status palsunya.


"Hal itu dibahasnya nanti saja ya, sekarang waktunya kita masuk. Jangan tegang santai aja," Najib tersenyum berusaha menenangkan Aleya walaupun dalam hati ada rasa kesal karena karangan bebas wanitanya itu.

__ADS_1


Keduanya lalu keluar dari mobil sedangkan Andika dan Keiko sudah jalan terlebih dahulu dengan bergandengan tangan. Benar-benar asisten lucnut jalan mendahului bosnya. Ingatkan Najib untuk memberikan pelajaran pada asistennya yang tak ada akhlak untuk pagi ini.


Sontak saja kedatangan mereka menarik perhatian karyawan yang saat ini sedang berada di lobby perusahaan. Jam kerja baru saja di mulai dan sebagian besar karyawan sudah berada di balik mejanya. Hanya beberapa karyawan yang kebetulan sedang lewat dan melihat kedatangan mereka.


Najib memegang erat tangan Aleya yang sejak tadi berusaha melepaskan diri. Najib ingin menegaskan hubungannya dengan Aleya pada semua orang sementara Aleya belum siap dengan semua itu.


Pintu lift sudah tertutup membuat bibir Aleya berkicau dengan bebas. Najib hanya menatapnya tanpa ekspresi.


"Aku tuh belum siap menghadapi para karyawan. Mereka itu berharap kamu memilih salah satu diantara mereka untuk dijadikan istri, dan aku akan menjadi bahan hinaan yang empuk bagi mereka karena menikah denganmu. Seorang janda beranak satu menikah dengan bos perusahaan, entah mantra apa yang dipakainya." Aleya menatap kesal Najib yang seolah tak mendengar ucapannya.


Ting


"Selamat pagi pak," Sapa Dona menatap Aleya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kenalkan istriku, namanya Nazaleya Alofa Najib Marcell." Najib sengaja menyebut nama lengkap Aleya dan menyematkan namanya.


Wajah Dona berubah drastis, tadinya tersenyum manis kini senyum itu menghilang entah kemana mendengar ucapan bosnya. Dan Aleya melihat dengan jelas perubahan tersebut. Entah mengapa hati Aleya diliputi rasa kesal mengetahui hal tersebut. Sebagai sesama wanita tentu ia mengetahui maksud hati dari si sekretaris.

__ADS_1


"Sayang, masuk yuk, aku capek berdiri." Ucapan Aleya yang terdengar sangat lembut membuat Najib tersenyum bahagia dan merangkul mesra pinggang sang istri.


"Maaf Yang," Najib lalu berjalan beberapa langkah untuk sampai di ruang kerjanya dengan masih merangkul pinggang Aleya.


Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Aleya melepas paksa tangan Najib yang seolah memakai lem korea pada pinggangnya. Mendapat perlakuan Aleya seperti itu hanya bisa membuat pria itu mendengus kasar.


"Kenapa dilepas, kan aku masih pengen meluk kamu, Yang." Dengusan kasar Najib disertai suara memelas.


"Jangan modus, aku membiarkan tanganmu berlaku semuanya karena sekretaris genitmu itu," Tanpa sadar Aleya memperlihatkan wajah kesalnya sehingga suara tawa Najib berhasil lolos dengan bebas.


"Cemburu ya, gak usah khawatir Yang, mas sudah bertahun-tahun bertemu dengan wanita seperti itu namun hati ini hanya untukmu," Wajah Aleya memerah mendengar kata-kata Najib. Meskipun terdengar receh namun cukup membuat Aleya tersipu malu.


"Aku gak cemburu ya, hanya gak suka aja liat caranya menatapmu yang terlihat jelas mendambamu. Gak etis bagi seorang wanita menatap pria seperti itu," Aleya tak terima dituduh cemburu pada Dona. Sungguh membuat harga diri Aleya terhempas.


"Ok, gak masalah Yang. Mas kerja dulu, kalau kamu capek duduk atau ngantuk masuk aja ke ruangan itu, tidur atau apa aja yang ingin kamu kerjakan." Najib menunjuk sebuah pintu yang terlihat seperti sebuah rak buku.


"Aku disini aja dulu, mana tahu Keiko mencariku," Aleya lalu duduk disofa panjang sambil mengeluarkan ponselnya. Disaat tak ada pekerjaan seperti ini, ia merindukan gadis kecilnya. Entah apa yang dilakukannya disana.

__ADS_1


Aleya berusaha menyembunyikan kerinduannya pada putrinya, ia tahu pekerjaan Najib saat ini pasti sangat banyak karena cuti beberapa hari bersama dengan Andika. Aleya tak ingin mengganggu pekerjaan pria itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2