Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 9 ~ MAKSUDNYA ?!


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Najib rela menunggu seseorang walau kedongkolannya sudah mencapai ubun-ubun dan siap meledak namun ia tetap berusaha bersabar demi sebuah kebenaran. Najib tak akan melewatkan kesempatan ini.


Aleya sengaja mengukur waktu agar Najib bosan dan meninggalkannya. Aleya sangat mengenal Najib yang sangat tak menyukai yang dinamakan menunggu karena akan sangat membosankan dan menghabiskan waktu dengan percuma.


"Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Aleya !!" Najib menatap tajam Aleya yang bergerak dengan amat sangat lamban.


"Maaf, putriku sudah mulai mengantuk," Beruntung Celya memang terlihat sangat mengantuk setelah kenyang. Jam segini memang biasanya gadis kecil itu sudah terlelap bersama Aleya.


Najib kembali menarik napas panjang, rasa kesalnya semakin menumpuk dan tanpa aba-aba ia menggendong gadis kecil itu menuju parkiran. Walaupun terkejut namun Aleya memperlihatkan wajahnya semata mungkin seolah tak terganggu dengan tindakan pria itu . Padahal hatinya kebat kebit gelisah jika naluri Najib bekerja dengan baik dan mengambil Celya darinya.


Perlahan Najib meletakkan tubuh Aleya di jok belakang dengan posisi terlentang agar Celya nyaman dan tak terusik sepanjang perjalanan. Setelah itu ia pun duduk dibelakang setir dan Aleya disamping kirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 saat mereka telah berada di jalan raya. Baik Najib maupun Aleya tak mengeluarkan suara sedikitpun. Keduanya seolah tenggelam dengan pikiran masing-masing. Meskipun terlihat Najib berkali-kali menarik napas panjang namun mulutnya tetap terkunci. Pun sama halnya dengan Aleya yang memilih menikmati gelapnya malam. Namun kondisi hati keduanya tak ada yang tahu.


"Lho, kok jalannya kayak gini pak ?" Aleya baru menyadari jika jalanan yang mereka lewati bukan menuju rumahnya.


"Jalanan ya memang kayak gini ! Mana ada jalan bentuknya berbeda !" Najib menjawab seenaknya tanpa memperdulikan kekhawatiran dan ketakutan Aleya. Ia harus busa memaksa Aleya berkata jujur. Selama ini Najib tumbuh menjadi pria dewasa dengan pikiran dan dugaannya sendiri tentang Aleya.


"Pak, tolong jangan membuatku takut. Aku tak pernah melakukan kesalahan pada bapak." Suara Aleya terdengar memelas dan menahan tangis. Walau Najib merasa iba namun rasa itu ia abaikan. Malam ini semua harus jelas.


"Menghilang bagaikan di telan bumi. apa itu bukan sebuah kesalahan ? Membiarkan aku membujqng hingga saat ini qpa itu bukan sebuah kesalahan ?!" Najib setengah berteriak sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Aleya memilih diam dan meneteskan airmata.

__ADS_1


Untuk ketiga kalinya ia meneteskan airmata setelah yang pertama orang tuanya meninggal akibat kecelakaan dan kedua kalinya saat melihat foto Najib tidur dengan seorang wanita setelah mahkotanya direnggut olehnya. Merasa sendiri menanggung beban hidup, kuliah dalam kondisi hamil hingga melahirkan Celya memaksa dirinya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama bayi mungilnya. Beruntung ia memiliki ibu kos yang baik hati sehingga busa menitipkan bayinya saat bekerja ataupun kuliah. Kerasnya kehidupan yang dijalani Aleya membuatnya kuat dan tegar serta tak lagi memiliki airmata untuk hal-hal yang tak penting menurutnya.


Najib membelokkan mobilnya memasuki sebuah area perumahan elite yang hanya beberapa rumah. Seorang security segera membuka gerbang sebuah rumah mewah dan Najib kembali menginjak gas memasuki gerbang tersebut. Perlahan Najib kembali mengangkat tubuh mungil Celya dan langsung memasuki rumah yang pintunya terbuka lebar.


"Selamat malam dan selamat datang pak, bu," Sapa seorang wanita paruh baya sambil tersenyum pada Aleya.


"Bi, tolong buka pintu kamar." Najib menatap wanita paruh baya yang langsung melaksanakan perintah majikannya.


Dengan sangat hati-hati, Najib meletakkan tubuh kecil Celya agar tak terusik dan mengganggu pembicaraannya dengan Aleya. Malam ini semua harus tuntas dan jelas. Setelah yakin Celya terlelap, Najib kembali ke ruang tamu dimana Aleya duduk.


"Apa yang membuatmu menghilang bak ditelan bumi ?" Najib tak lagi berbasa basi. Ia langsung oalah inti persoalan yang menjadi beban pikirannya selama ini.


"Kamu mengambil mahkotaku secara paksa karena pengaruh minuman, setelah itu kamu tidur dengan wanita lain." Kali ini luka Aleya kembali menganga dan perih tak terlukiskan.


"Maksudnya ?! Bicara yang jelas. Aku tak ingat apapun yang terjadi saat itu." Najib terlihat frustasi karena memang tak ada sedikitpun yang terekam dalam memorinya. Bertahun-tahun ia berusaha mengingatnya namun hasilnya tetap nihil.


"Aku tak ingin mengingatnya lagi pak, please,,, semua sudah terjadi, kita tak bisa memutar waktu ke masa lalu." Nada suara Arditha terdengar lirih. Satu hal yang tak mungkin ia katakan adalah keberadaan Celya adalah karena perbuatannya.


"Dan kamu menikah dengan papanya Celya ?" Najib masih penasaran dengan nama Celya yang merupakan nama anak mereka kelak.


Ingin rasanya Aleya berteriak di telinga Najib bahwa gadis kecil itu adalah darah dagingnya namun pikiran warasnya masih bekerja. Bagaimana jika Celya dijadikan senjata oleh pria itu untuk menyiksa batinnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tak bicara, Aleya ? Apa sesulit itu menjawabnya ?" Najib menatap tajam penuh intimidasi pada wanita yang masih bertahta dihatinya.


"Iya karena hanya papa Celya yang mau menerima keadaanku yang sudah suci," Sekuat tenaga Aleya menahan emosinya. Ia khawatir Najib akan membaca perubahan emosinya.


"Dan karena kamu sangat mencintaiku sehingga memberikan nama putrimu singkatan nama kita berdua ? Bukankah nama itu untuk anak kita kelak ?" Najib memberondong pertanyaan pada Aleya yang diam-diam merasa semakin tersudut.


"Sejak malam itu aku tak lagi memiliki cinta untukmu pak, hanya saja saat itu aku tak bisa lagi berpikir dengan jernih karena papa Celya dan kedua orang tuaku kecelakaan dan meninggal tepat dihari kelahiran Celya," Kebohongan terbesar yang oernah dilakukan oleh Aleya selama hidupnya. Entah kekuatan darimana yang ia dapatkan tiba-tiba dengan lancarnya merangkai kata. Walaupun tidak semuanya bohong karena memang kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan.


Najib kembali melayangkan tatapan tajam penuh intimidasi pada Aleya. Ia tak ingin percaya sepenuhnya namun selama mengenal Aleya, wanita itu selalu berkata jujur dan apa adanya. Akhirnya Najib hanya bisa menarik napas panjang tak tahu harus bagaimana lagi. Kejadian masa lalu semakin membuatnya penasaran.


"Untuk saat ini aku percaya padamu. Sekarang tidurlah, besok kita kembali ke kota," Najib meninggalkan A.eya dan masuk ke sebuah kamar yang terlihat pintunya lebih mewah dibandingkan kamar lainnya.


Dalam hati Aleya tak henti-hentinya mengucap syukur. Ia bisa meyakinkan Najib tentang keberadaan Celya. Tak kesyukuran yang melebihi rasa syukurnyq malam ini. Kedepannya Aleya akan lebih berhati-hati dan tak akan memunculkan Celya di depan pria itu.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi readers ,,,,


Selamat beraktivitas semoga semua urusan dilancarkan ,,,


Terima kasih atas dukungannya

__ADS_1


__ADS_2