
Perjalanan selama 7 jam 30 menit berakhir kala pesawat mendarat dengan sempurna pada bandara internasional Haneda. Andika dan Najib berjalan beriringan turun dari pesawat.
Masih dengan enggan Najib menghirup udara Tokyo sambil menatap sekelilingnya. Tak jauh dari mereka tampak pria paruh baya menghampiri mereka dengan senyum bahagia.
"Selamat datang, semoga penerbangan kalian menyenangkan," Kakek Emir tersenyum menatap cucu dan asistennya.
"Kalau aku sih senang pake banget pak, tapi entahlah dengan cucu anda, sejak 10 jam yang lalu wajahnya tak enak di pandang bin keruh," Andika sengaja meledek pria muda yang selalu saja ketus jika berbicara. Kesempatan bagi Andika sedikit mengeluhkan sifat bosnya itu.
"Aku berencana menjodohkanmu dengan anak sahabatku, Dika. Jika kamu terus-terusan mengikuti bosmu ini bisa-bisa kamu kehilangan kebahagiaan," Kakek Emir menatap prihatin pada mantan asistennya yang kini telah menjadi asisten cucunya. Tugas kakek Emir belum selesai jika belum melihat Andika memiliki kehidupan berumah tangga.
Andika pemuda yang baik dan jujur. Untuk itulah Kakek Emir tak bisa melepaskan Andika dan menganggap pria yang seumuran dengan Najib itu sebagai cucunya sendiri. Andika yang selalu tulus dan tak pernah mengeluh meskipun pekerjaannya setiap hari menumpuk menjadikan sebuah nilai plus di mata kakek Emir.
"Bener pak ? Wah, alhamdulillah banget kalau ada gadis yang mau menikah denganku." Mata Andika berbinar dan berkaca-kaca karena terharu. Ternyata kakek Emir sedemikian peduli padanya.
"Gilla !! Kamu mau menikah tanpa mengenal lebih dulu calon istrimu ? Apalagi melihatnya, " Najib tak habis pikir dengan jalan pikiran Andika.
"Aku percaya dengan keputusan bapak, beliau pasti memilihkan yangterbaik untukku," Sejak dulu Andika memang selalu menurut pada kakek Emir. Berbeda dengan Najib yang selalu menjadi oposisi bagi sang kakek.
" Dasar gak laku," Najib melanjutkan langkahnya menumu mobil yang sejak tadi menunggu mereka. Pria muda itu benar-benar merasa aneh dengan kelakuan asistennya.
Bisa-bisanya Andika menerima perjodohan dirinya begitu saja. Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Kita akan hidup dengan pasangan seumur hidup. Bagaimana bisa menjalani bidik rumah tangga tanpa adanya cinta.
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu bos, yang penting ada kemauan untuk berbagi dan sepakat saling membuka hati untuk pasangan kita. Sangat sederhana dan simple jika kita ikhlas membina sebuah hubungan." Andika kembali melanjutkan pembicaraan setelah mobil melaju sesuai perintah kakek Emir.
__ADS_1
"Terserah kamu sajalah. Yang penting setelah menikah kamu tetap harus fokus bekerja, jangan lalai atau kamu akan aku pecat." Dengan tegas Najib mengingatkan Andika akan kewajibannya. Ia tak ingin kewalahan bekerja jika Andika lebih mengutamakan istrinya.
"Ck, belum juga menikah sudah diancam dengan pemecatan," Keluhan Andika justru membuat kakek Emir tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah ia menyatakan Najib dan Andika. Sifat keduanya memang bertolak belakang namun perbedaan itulah yang membuat keduanya kompak.
Tak ada lagi pembicaraan diantara ketiganya hingga berakhir di sebuah rumah yang merupakan rumah kakek Emir. Najib tak henti-hentinya menatap kagum rumah kakek Emir, sangat berbeda saat ia berkunjung. Kala itu Najib masih sangat kecil dan orang tuanya pun masih hidup.
"Pilih kamar yang kalian suka dan istitahatlah. Setelah rasa lelah kalian hilang kita akan mengunjungi rumah calon istri Andika," Titah kakek Emir sembari melangkah menuju kamarnya. Usianya tak lagi muda sehingga ganteng sekali merasa lelah.
"Tunggu kek, katanya aku disuruh kesini untuk menyelesaikan urusan kakek tapi kenapa justru yang dibahas sejak tadi hanya soal pernikahan Andika ?" Najib tak ingin istirahat jika kakek Emir belum mengatakan yang sesungguhnya.
Najib tak percaya jika urusan yang dimaksud sang kakek adalah masalah pernikahan Andika.
"Istirahat saja dulu, kakek juga lelah menunggu kedatangan kalian. Soal itu nanti kita bahas bersama." Kakek Emir kini menutup pintu kamarnya dan menguncinyq dari dalam. Ia sangat mengenal cucu kesayangannya itu yang akan terus mengganggunya hingga rasa penasarannya terpuaskan.
"Kenapa kakek menyiksaku seperti ini ?!" Najib bergumam dengan posisi terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang didominasi dengan cat berwarna putih bersih.
Berbeda halnya dengan Andika yang merasa bahagia dengan kabar pernikahannya. Pria itu langsung tertidur saat kepalanya menyentuh bantal. Untuk pertama kalinya ia menikmati istirahat tanpa beban sejak menjadi asisten Najib.
Pergantian bos perusahaan membuatnya sedikit kewalahan. Cara kerja Najib dan Kakek Emir sangat berbeda. Mungkin karena perbedaan umur sehingga kinerja mereka pun berbeda. Kakek Emir yang lebih menyukai mempertahankan kinerja perusahaan agar tidak merosot dan para karyawan tetap bisa bertahan sedangkan Najib lebih agresif untuk mengembangkan perusahaan agar semakin pesat.
Jam terus berputar hingga akhirnya ketukan yang sangat keras di pintu membangunkan Andika.
"Bangun !!! Jangan kelamaan molor !!!" Suara teriakan Najib segera mengembalikan kesadaran Andika. Perlahan pria tampan itupun bangun dan berjalan kearah pintu sementara suara ketukan di pintu semakin keras yang lebih menyerupai gedoran.
__ADS_1
"Astaga bos, gak usah sekencang itu gedorannya," Andika dengan malas membuka pintu kamarnya.
"Sejak lima menit yang lalu aku ketuk pintu dengan pelan tapi kamu gak bangun juga makanya aku gedor," Najib menerobos masuk kedalam kamar Andika. Sejak tadi ia belum tidur, perasaannya gelisah tak menentu.
"Ngapain di kamarku bos ? Nanti para maid mengira kita ada kelainan berdua-duaan dalam kamar,"
Bugggghhhh
Sebuah bantal melayang bebas dan mendarat tepat di wajah Andika, sehingga membuat pria itu sedikit terhuyung.
"Jangan menganiaya calon suami orang seperti ini bos, kan kasihan calo istriku jika tiba-tiba hidungku pesek gara-gara dilempar bantal," Andika mulai memainkan drama yang tak pernah disukai oleh Najib.
"Emang kamu sudah siap dijodohkan sama kakek ?" Najib berubah serius. Ia tak ingin Andika menyesal suatu saat nanti.
"Siap gak siap tapi harus siap bos, aku gak harus susah payah mencari pasangan dan yang paling penting biaya pernikahan ditanggung pak Emir jadinya rekeningku tidak terkuras habis. Untung berkali-kali lipat kan," Andika memang manusia paling realistis sejagad raya. Semua bisa ia pikirkan dan perhitungkan untung ruginya dalam sekejap.
"Astaga, hanya karena tak ingin uangmu berkurang sehingga kamu menerima tawaran kakek ?!" Mata Najib membulat sempurna. Asistennya ini benar-benar luar biasa perhitungannya.
"Lagipula gadis Jepang cantik-cantik bos, putih mulus bak mutiara. Kapan lagi bisa seberuntung sekarang ? Kesempatan tidak datang dua kali bos." Andika duduk di sofa menghadap Najib yang sedang duduk di bibir tempat tidur.
Benar yang dikatakan oleh Andika. Kesempatan tidak datang dua kali. Diam-diam Najib menyesali perlakuannya pada Aleya saat itu. Hanya karena amarah yang takut jelas sehingga membuatnya menyiksa wanita yang hingga saat ini masih bertahta dalam hatinya. Penyesalan memang selalu terlambat. Di Jepang bagian mana Aleya saat ini belum ada yang tahu.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Selamat siang, Selamat menjalankan ibadah puasa