
Di dalam kamar Aleya tak langsung tidur meskipun matanya sudah meredup. Sejenak ia menyempatkan diri untuk menatap wajah cantik putri kecilnya. Kata-kata mama Erin kembali terngiang-ngiang di telinganya.
'Apa aku keterlaluan, ya ?' Aleya membatin sambil memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya menolak pikiran yang sempat menggoyahkan prinsipnya.
Semua yang dikatakan oleh mama Erin dimengerti dengan baik oleh Aleya namun sisi lain dalam dirinya menolak hal itu. Semua pria bisa saja melakukan hal itu dan kembali dengan skenario yang baru. Aleya tak lagi memiliki kepercayaan pada pria itu. Jaman sudah canggih semua bisa edit termasuk suara wanita yang direkam oleh Najib.
Akhirnya Aleya terlelap dengan memeluk putri kecilnya. Berbeda halnya dengan pria muda yang terlihat bermuram durja karena tak memiliki harapan untuk bersama anak yang baru ia ketahui keberadaannya.
"Sudahlah nak, jangan terlalu dipikirkan. Kalau memang kalian berjodoh pasti Sang Pemilik Takdir memiliki cara lain untuk menyatukan kalian."Kakek Emir menasihati cucunya dengan bijak.
Sesungguhnya ia pun sangat sedih melihat keadaan cucu kesayangannya namun pria paruh baya itu bisa apa. Seandainya saja Aleya bukan dalam perlindungan sahabatnya sudah pasti gadis itu sudah diculik dan dipaksa menikah.
"Aku hanya akan menikah dengan Aleya, kek. Jadi tolong jangan oernah memikirkan untuk menikahkanku dengan wanita lain," Najib mengemukakan keinginannya sebelum sang kakek memikirkan rencana aneh-aneh.
"Jangan ngadi-ngadi kamu. Kakek menyukai Aleya dan itu pula salah satu alasan kakek menyuruhmu pulang tapi siapa sangka ternyata kalian memiliki hubungan dimasa lalu," Kakek Emir terkekeh namun memasang wajah serius.
"Aku juga sedikit takjub pak, ternyata dibalik betahnya menjomblo ternyata ada penyebabnya. Aku harus memberikan 100 jempol pada kakak ipar yang berhasil membuat si bos tak berkutik, " Andika ikut menimpali sambil tertawa bahagia.
Kondisi hati dan perasaan Najib sedang berada pada titik dimana tak akan bisa membalas perkataan Andika dengan sadis. Asisten andalannya itu terlalu pandai memanfaatkan situasi. Kapan lagi ia bisa berbicara seenaknya pada bosnya itu.
"Jangan lagi memanggilku pak atau bapak, Dika. Panggilanmu itu harus kamu ubah, panggil aku sama seperti Najib memanggilku. Kalian berdua adalah harta yang paling berharga untukku." Kakek Emir merasa sudah cukup Andika selalu memanggilnya pak. Panggilan itu memberikan jarak diantara mereka dan kakek Emir tak menyukai hal itu.
"Baik kek, maaf." Mata Andika berkaca-kaca menahan rasa haru. Bagaimana tidak, kakek Emir sudah terlalu banyak berbuat baik padanya dan kini malah menganggapnya keluarga.
__ADS_1
"Sudah, sudah, jangan lebay. Pikirkan jalan keluar masalahku. Pokoknya aku mau menikah dengan Aleya sebelum Andika menikahi Keiko ! Enak saja kalian berdua menikmati indahnya pernikahan dan aku malah jadi penonton !!" Najib tak terima jika Andika menikah lebih dahulu dan dia tak bisa hidup bersama dengan Aleya dan putrinya.
"Dih, si bos ada-ada wae. Jangan menghalangi kebahagiaanku juga kali. Lagian mau gimana lagi kalau Aleya sudah jelas-jelas gak menginginkan dirimu." Andika pun tak terima dengan perkataan pria yang notabene adalah bosnya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, iapun berhak bahagia apalagi ternyata calon istrinya sangat cantik.
"Kalian jangan berdebat lagi. Kalian berdua tetap akan menikah pada hari dan jam yang kalian inginkan." Kakek Emir tersenyum misterius menatap kedua pria muda dihadapannya secara bergantian.
Mendengar ucapan sang kakek sontak membuat kedua pemuda tersebut bertukar pandang lalu secara bersamaan menatap pria paruh baya dengan sepulang rencana.
"Maksud kakek ?!" Najib bertanya mewakili Andika yang juga memiliki pertanyaan yang sama.
"Tunggu tanggal mainnya. Kalian berdua cukup mengikuti perintahku tanpa bertanya." Kakek Emir tak ingin lagi digelar pertanyaan oleh keduanya. Sang kakek sangat mengenal rasa ingin tahu kedua anak muda tersebut yang melebihi anak yang sedang masa pertumbuhan. Bisa-bisa pria paruh baya itu kewalahan jika memberi celah bagi keduanya untuk bertanya.
"Ya, baiklah. Terserah kakek saja," Najib terpaksa mengalah dan mengunci mulutnya. Meskipun masih banyak pertanyaan yang memenuhi otaknya namun demi kelangsungan hidupnya bersama Aleya dan putri mereka. Biarlah kali ini ia mengalah.
"Ck, kami masih sehat kek, masa iya disuruh beristirahat dengan tenang dan damai," Najib menggerutu dengan kesal mendengar ucapan kakek kesayangannya.
Sesaat Andika terdiam mencerna ucapan bosnya dan saat berikutnya tertawa terpingkal-pingkal hingga guling-guling di lantai.
"Ngapain kamu kayak orang gila. Ini sudah tengah malam lho. Sana istirahat seperti kata kakek," Najib menatap kesal pada Andika yang masih tertawa.
"Bos, sebenarnya kakek beneran sayang kita atau gimana sih ? Koq kita berdua disuruh pindah alam secara halus ?!" Andika bertanya serius dan masih menyisakan tawanya.
Plaaakkkk
__ADS_1
"Jangan jadi cucu durhaka. Kakek itu menyayangi kita tanpa batas," Kekesalan Najib kini berpindah pada Andika yang suka asal ngomong.
"Hehehe, bercanda bos." Andika memperlihatkan jari telunjuk dan jari manisnya membentuk huruf V sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Najib tak memperdulikan Andika dengan kedua jarinya. Pria itu memilih meninggalkan Andika dan masuk ke dalam kamarnya. Semoga malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak. Pasalnya selama di tanah air sejak menghilangnya Aleya, ia tak pernah tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus mengembara dan gelisah jika malam kembali menyapa.
Andika pun akhirnya mengikuti langkah Najib. Senyuman manis menghiasi wajahnya sambil melangkah menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Najib. Hari bahagianya sudah ditentukan dan ia sisa duduk manis menunggu saat terindah dalam hidupnya itu akan tiba.
Setelah membuka bajunya dan menyisakan baju dalamnya, kebiasaan pria itu tidur hanya dengan menggunakan baju dalam saja. Najib merebahkan diri berusaha mencari jalan menggapai alam mimpi. Segala pikiran coba ia hilangkan. Kakek sudah berjanji akan mempersatukannya dengan Aleya membuatnya sedikit memiliki harapan.
"Apakah rencana kakek akan berhasil ?!" Najib sedikit ragu manakala mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu.
Najib memejamkan matanya berharap ia segera terlelap dan berada di alam bawa sadar. Dan ternyata usaha tak akan pernah mengkhawatirkan hasil pun terbukti. Pria muda dengan segala problem hidupnya yang cukup kompleks akhirnya tertidur dengan nyenyak.
Malam semakin gelap dengan cahaya bulan yang menghiasi langit seolah tersenyum melihat penduduk bumi yang terlelap dengan berbagai mimpi yang menghiasi tidur mereka. Benda langit yang satu ini memang sangat indah saat seperti ini, bulan purnama penuh namun hal itu hanya disadari oleh orang-orang yang sedang dimabuk asmara.
Bukan seperti seorang Najib yang sama sekali jauh dari kata tersebut pun sama haknya dengan Andika yang belum berada pada tahap dimabuk asmara.
🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi readers ,,,,
Selamat menikmati hari libur bersama keluarga, semoga selalu sehat dan jangan lupa bahagia.
__ADS_1