Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 30 ~ MAAF OM


__ADS_3

Sejak meninggalkan rumah hingga tiba di restoran, kata-kata Celya masih terngiang-ngiang di telinga Aleya. Ia sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaannya. Kini Aleya dilema dengan perkataan gadis kecilnya.


"Sepertinya aku tak boleh berlama-lama sendiri. Tapi tak mungkin pula kan aku sembarangan memilih pria untuk ku jadikan suami ?!" Aleya mengusap wajahnya dengan kasar. Salahkan ia yang selama ini terlalu fokus pada Celya sehingga tak sempat memikirkan pendamping.


Aleya tak sekalipun memikirkan hidup bersama dengan Najib. Baginya lebih baik membina hubungan yang baru daripada harus mundur ke masa lalu.


Sementara di sebuah butik, karyawan butik dilanda kebingungan melihat rombongan customer yang satu ini. Seorang wanita muda membeli dua baju khusus aqad dengan dua pria sekaligus. Jangan salahkan mereka berpikir yang sedikit ekstrim karena biasanya yang datang memesan atau membeli baju untuk pernikahan selalu berpasangan.


Najib asyik sendiri memilih jas untuk ia pakai saat aqad nikah asistennya. Najib tak membawa pakaian formal karena kakek Emir tak mengatakan apapun berkaitan dengan pernikahan Andika.


Setelah Najib memilih jas sesuai dengan dresscode yang ditentukan oleh Keiko, mereka lalu membayar dan selanjutnya meninggalkan butik tersebut.


"Mama gak perhatikan kebingungan karyawan butik tadi ?!" Keiko terkikik geli membayangkan wajah gadis di butik yang tak henti-hentinya menatap kearahnya.


"Ck, kamu juga usil sih, apa salahnya kalau kamu jelaskan yang sebenarnya," Mama Erin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat otak jahil putrinya yang semakin parah.


Satu-satunya kebiasaan Keiko yang selalu membuat sang mama pusing adalah kejahatan gadis itu yang tak mengenal tempat.


" Òh ya tante, kami saja yang jemput Celya sekalian kami bawa jalan-jalan. Mumpung Aleya gak ada," Najib tak sabar ingin menghabiskan waktu bersama putrinya.


"Biar tante dan Keiko temani. Sekolah Celya sangat ketat. Pihak sekolah tak akan membiarkan nak Najib membawa Celya." Mama Erin berkata dengan sebenarnya. Aleya sengaja memasukkan Celya ke sekolah internasional dan keamanan yang sangat ketat agar ia bisa bekerja dengan tenang.


Sebagai orang tua tunggal, Aleya berusaha memenuhi segala kebutuhan Celya dan mempersiapkan biaya sekolahnya kelak saat besar nanti. Aleya benar-benar tak mengharapkan tanggung jawab dari Najib sebagai ayah biologis putrinya.

__ADS_1


"Bos, kamu ikut mobil mama Erin aja ya, biarkan aku dan Keiko satu mobil agar kami saling mengenal sebelum pernikahan," Andika menatap penuh harap pada Najib agar membolehkannya berdua dengan Keiko.


"Jangan aneh-aneh, beberapa hari lagi kalian akan menikah."


"Yaelah bos, hanya di mobil doang. Kan kita akan jemput Celya yang artinya kita tetap beriringan." Andika masih berusaha meminta kebesaran hati Najib agar mau satu mobil dengan calon mama mertuanya.


"Ok." Najib lalu berjalan ke arah mobil Mama Erin dan langsung duduk di depan tepat di samping supir.


"Nak Najib mau barengan ?!"


"Iya tante, biarkan Keiko dan Andika di mobil yang lainnya agar mereka bisa saling mengenal sebelum menikah. Manatau ada prinsip hidup mereka yang harus dibicarakan dan dicocockkan kalau memang ada perbedaan." Najib menatap mama Erin sambil tersenyum meyakinkan.


"Tapi nak ,,," Meskipun yang dikatakan oleh Najib masuk akal namun sebagai orang tua, mama Erin tetap saja khawatir membiarkan anak gadisnya bersama seorang pria.


Akhirnya mama Erin mengijinkan putrinya ikut bersama Andika. Sementara ia dan Nqjib dimobilnya sendiri. Mama Erin akan memanfaatkan kesempatan untuk berbicara dengan pria itu terkait dengan Aleya dan Celya. Anaknya yang lain yang juga ia sayangi.


"Apa rencana nak Najib ke depannya setelah mengetahui keberadaan Celya ?" Mama Erin tak kuasa lagi menahan diri untuk tidak bertanya saat mobil sudah meluncur bebas di jalan raya.


"Tentu saja aku ingin bersama mereka, tante. Tapi yang menjadi masalah dan tantangan terbesarku adalah Aleya yang teramat sangat keras kepala. Entah bagaimana caranya agar bisa meluluskan hati Aleya," Terdengar nada frustasi dari cara bicara pria tampan itu. Hati mama Erin pun tersentuh dan iba mendengar ketulusan Najib.


Mama Erin hanya bisa menarik napas sepenuh dada. Putri angkatnya itu ternyata sangat keras kepala. Wanita muda itu tak sedikitpun tergugah walau hanya demi gadis kecil yang tak berdosa.


"Telpon kakekmu, qku ingin bertemu di kantor om Akihiro. Bawa Celya ke sana saja. Ada sebuah ruangan yang bisa kalian gunakan untuk menghabiskan waktu bersama." Sejujurnya mama Erin tak ingin melepaskan pengawasannya pada Celya. Ia tak jika Najib bertindak nekad dengan membawa lari Celya.

__ADS_1


"Untuk apa, tante ?!" Najib sedikit penasaran namun tak urung tetap melakukan permintaan mama Erin.


"Tante ingin kalian menjadi keluarga utuh. Tante takut jika Aleya malah melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri." Mama Erin sangat mengenal anak angkatnya yang terbilang nekat. Sebuah pikiran buruk yang melintas dalam benaknya sehingga ketakutan sendiri jika Aleya benar-benar melakukannya.


"Halo kek, tante Erin mengundang kakek ke kantor om Hiro," Najib langsung mengutarakan maksudnya tanpa mengcap salam terlebih dahulu. Sehingga kakek Emir berdecak kesal.


Baru beberapa hari mereka di Jepang namun cucunya itu sudah melupakan kebiasaannya. Kakek Emir tak tahu jika sebenarnya Najib dan tante Erin sudah tiba di sekolah Celya.


Dengan semangat membara bak seorang prajurit yang pulang dari medan perang dan akan segera bertemu dengan keluarganya. Najib mengikuti langkah kaki mama Erin.


Senyuman Najib merekah bagaikan bunga saat melihat Celya menghampiri mama Erin. Dengan cepat Najib mendekati gadis kecil nan cantik. Pria itu ingin memeluk putrinya namun iapun menjaga agar Celya tidak ketakutan mengingat pertemuan mereka yang terbilang akrab baru semalam.


"Hai nak, boleh papa menggendongmu ?!" Najib bertanya dengan lembut dan berharap-harap cems. Opsi penolakan dari gadis kecil itu memenuhi kepalanya.


"Apa benar om adalah papaku ? Tapi jangan deh, Celya gak ingin membuat mama kecewa dengan memanggil papa pada om," Meskipun tak ingin memanggil papa namun Celya tetap menggandeng tangan Najib menuju mobil sementara mama Erin hanya bisa merutuki Aleya dalam hati.


"Aku memang papamu, nak. Saat ini mama hanya marah sama papa makanya kami terpisah." Najib berusaha senirmal mungkin berbicara pada Celya yang masih belum mengerti apa-apa tentang persoalan hidup kedua orang tuanya.


"Maaf om, jangan sampai mama kecewa sama Celya. Saat ini mama hanya memiliki Celya," Mata Najib berkaca-kaca mendengar penuturan polos putrinya.


Pria itu merutuki dirinya dalam hati habis-habisan. Karena keteledoran dan kebodohannya hingga semua ini terjadi. Kemarahannya pada Cindy dan Peter perlahan kembali menguasai hatinya. Karena perbuatan kedua manusia itu hidupnya seperti ini.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2