
Sejuta harapan Najib gantungkan pada sang kakek yang baru saja dibawa terbang tinggi oleh pesawat yang membawanya ke Jepang. Saking bersemangatnya hingga Najib sampai lupa menanyakan alamat yang akan di tuju oleh kakek Emir di negeri sakura tersebut.
Sementara itu di waktu yang sama nun jauh di seberang lautan, seorang wanita muda tengah duduk menikmati hasil kerjanya. Yah, wanita muda itu adalah Aleya. Tak ingin kembali ke tanah air akhirnya wanita muda itu memutuskan umtuk membuka usaha rumah makan kecil dengan menyajikan makanan khas Indonesia. Meskipun baru namun pengunjung sudah lumayan dan ia sudah memiliki beberapa pelayan. Hanya saja untuk urusan meracik bumbu tetap Aleya yang turun tangan.
Aleya wanita pekerja keras dan tak ingin merepotkan keluarga orang tua angkatnya yang masih memiliki seorang anak gadis yang bernama Keiko. Meskipun kedua orang tua angkatnya adalah keturunan Indonesia namun menetap di Jepang dalam kurun waktu yang lama bahkan putrinya pun lahir dinegeri sakura.
"Kak, mama merindukan Celya. Kapan kakak pulang ke rumah," Meskipun lahir di Jepang namun kedua orang tua Keiko tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam lingkup keluarga mereka.
Mama Erin tak ingin anaknya melupakan Indonesia sebagai tanah kelahirannya. Bagaimanapun darah yang mengalir dalam tubuh Keiko sebagian adalah darah Indonesia tercinta.
"Kan seminggu yang lalu kami nginap di rumah mama. Jangan manjakqn Celya, dia harus belajar mandiri sejak dini." Aleya mulai sibuk dan iapun tak bisa berpisah dengan gadis kecilnya.
Walau bagaimanapun sayangnya pasangan mama Erin dan papa Akihiro padanya dan putrinya namun Aleya tak ingin menyusahkan keluarga itu. Sudah cukup bagi Aleya diberikan tempat tinggal tujuh tahun yang lalu.
"Ayolah kak, rumah sunyi tanpa kisaran Celya," Kini Keiko mulai memainkan dramanya berharap Aleya akan tergugah hatinya.
"Makanya cepat menikah dan punya anak, percuma wajah cantik tapi gak laku," Bukannya tergugah, Aleya justru mengejek gadis itu sambil terkekeh. Sungguh mereka seperti layaknya saudara kandung.
Keiko benar-benar menempatkan dirinya sebagai adik pun halnya dengan Aleya yang selalu menganggap Keiko adik kandungnya sendiri. Kehidupan Aleya yang keras dan seorang diri membuatnya sangat bersyukur bertemu dengan keluarga baru yang baik hati.
__ADS_1
"Ck, aku belum siap kak. Lagipula mengurus diri sendiri saja susah," Keiko tak ingin mengalah. Setiap kali di desak untuk menikah selalu saja alasannya belum siap padahal usianya sudah cukup untuk menikah.
Keiko masih ingin menikmati masa mudanya dan tak ingin direpotkan dengan kehadiran seorang pria dalam hidupnya. Terkadang Aleya merasa iri pada adik angkatnya yang bisa kesana kemari dengan bebasnya bersama teman-temannya. Sedangkan dirinya harus berjuang diusia mudanya.
Perbuatan Najib dibawah pengaruh entah minuman apa namanya membuat hidup Aleya berantakan. Beruntung ia bisa menyelesaikan kuliahnya meskipun harus mengurus seorang anak. Kehadiran Celya yang masih bayi membuatnya harus menghadapi kerasnya kehidupan. Ia harus membagi waktu bekerja, kuliah dan mengurus Celya. Beruntung bertemu dengan keluarga mama Erin.
"Astagafirullah," Aleya bergumam mengusap wajahnya. Menyadari kesalahannya telah menyesali masa lalu yang telah terjadi.
"Ada apa kak ?!" Keiko menatap wajah cantik Aleya, sekilas gadis itu melihat bias sendu menghiasi wajah kakaknya.
"Gak apa-apa. Oh ya Keiko mau makan apa?! Kamu kan belum pernah ke Indonesia jadi gimana kalau makan makanannya aja, ya hitung-hitung untuk membiaskan lidahmu dengan makanan Indonesia." Aleya mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin mengingat kembali masa lalunya.
"Mama biasa kok masak makanan Indonesia," Keiko gengsi mengakui jika sebenarnya ia belum terbiasa dengan masakan Indonesia. Namun begitu tak urung ia mulai membaca satu per satu menu yang tertera dan melihat gambar makannya.
"Kakak kenapa sih, tadi sendu sekarang tersenyum. Kakak sehat kan ?!"
Plaaakkkk
"Enak aja, kakak sehat wal afiat dan berencana menikah dengan pria Jepang," Aleya memukul pundak adiknya dan melontarkan gurauannya.
__ADS_1
"Kakak serius ingin menikah dengan orang Jepang ?!" Tak disangka Keiko justru menanggapinya dengan serius.
Keiko sangat bersemangat mendengar kata-kata Aleya tentang pernikahan untuk pertama kalinya. Jika Aleya menikah dengan orang Jepang maka kakaknya itu pasti akan menetap di Jepang dan ia tak akan kesepian.
"Tentu saja jika pria tersebut mau menerima dan menyayangi Celya." Aleya menatap wajah cantik Keiko dengan serius. Wajah khas Jepang yang diwariskan oleh papa Akihiro.
"Kakak teman aku pernah menanyakan soal kak Aleya. Sepertinya dia tertarik dengan kakak." Keiko begitu antusias. Ia tak tahu jika sebenarnya Aleya tak berniat untuk menikah.
Memiliki Celya sudah cukup baginya. Aleya tak ingin mengambil resiko jika menikah akan membuat Celya bahagia. Pria manapun di dunia ini tak akan mungkin menerima anak tirinya dengan tulus.
"Keiko jadinya mau makan apa, biar kakak yang masak sekalian buat Celya. Perut kakak juga sudah meminta haknya." Aleya tak ingin membahas lebih lanjut soal pernikahan.
Baginya semua itu hanyalah sebatas kata-kata saja. Aleya tak ingin serius memikirkan soal pernikahan. Baginya membesarkan Celya dengan limpahan kasih sayang sudah sangat membahagiakannya. Meskipun kehadiran Celya di dunia ini tanpa ikatan pernikahan namun tak mengurangi rasa syukur Aleya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Keiko menunjuk beberapa menu yang terlihat menggiurkan. Rendang, opor dan ayam goreng untuk Celya.
Dengan sabar Keiko menunggu Aleya yang sibuk di dapur dengan peralatan masaknya sementara koki untuk rumah makannya pun sibuk memasak pesanan para pengunjung rumah makannya.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Selamat siang readers kesayangannya othor,
Jangan lupa selalu bahagia bersama keluarga.