
Aleya dan Celya kini telah berganti baju, beruntung salah satu kenalan Adam ada yang memiliki butik dan buka lebih awal karena permintaan asisten andalan perusahaan PT. Antar Mega.
Mobil yang di supiri oleh Najib kini tengah berada ditengah ramainya jalan raya. Celya terus saja berceletoh hingga akhirnya Najb menghentikan mobilnya di depan lobby perusahaan. Kedatangan mereka sontak saja menarik perhatian beberapa karyawan yang kebetulan baru saja memasuki lobby. Apalagi Celya memegang erat tangan Najib.
Para karyawan mengetahui Celya sebagai anak dari Aleya dan yang mereka tahu adalah bahwa papa Celya sudah lama meninggalkan dunia ini. Hal itulah yang menjadi perbincangan hangat karena keakraban Celya dan Najib bak ayah dan anak.
"Kok, anak itu mirip banget dengan pak bos, ya ?!"
"Apa mungkin keluarganya pak bos adalah papa dari anak itu ?!"
Itulah salah satu perbincangan yang Aleya dengar. Dengan mempercepat langkahnya Aleya segera mencapai Lift dan menghilang dibalik pintunya. Celya yang masih saling berpegangan tangan dengan Najib tak sempat ia tarik.
"Apa pekerjaan kalian setiap pagi hanya memperhatikan orang lain dan menggibahnya ?! Apa ini kebiasaan karyawan perusahaan ini ?! Aku tak ingin lagi mendengar kalian membuat gosip murahan seperti ini !!" Suara Najib menggelegar mengisi lobby perusahaan dan menatap tajam kedua wanita yang berstatus karyawan perusahaannya. Membuat karyawan yang belum masuk ke ruang masing-masing mengurungkan langkahnya dan menatap ke arah lobby tanpa berani mendekat.
Kedua karyawan tersebut tertunduk dengan wajah pucat. Suara orang nomor satu di perusahaan saja sudah membuat mereka kicep apalagi tatapannya yang lebih tajam dari silet seolah mengiris bagian kulit terdiam mereka.
Najib lalu meninggalkan mereka dengan tangan Celya masih digenggamnya. Gadis kecil itu hanya diam melihat wajah Najib yang memerah karena marah. Selama ini Celya tak pernah mendengar suara kencang seperti yang baru saja memenuhi ruang dengarnya.
"Celya pernah melihat foto papanya ? Om penasaran dengan wajah papanya Celya ?" Najib berkata dengan sangat lembut agar gadis kecil itu tak merasa takut ataupun trauma. Setelah mendengar ucapan karyawan tadi yang berarti sudah orang keempat yang mengatakan mereka sangat mirip.
Menurut yang pernah Najib dengar bahwa jika sudah dua atau tiga orang yang mengatakan sesuatu yang sama tanpa sengaja berarti patut untuk dipertanyakan kebenarannya. Begitupula halnya dengan kemiripannya dengan Celya. Setelah Adam, pak Tomo dan barusan dua karyawannya mengatakan hal yang sama. Kali ini Najib berencana mempertemukan sang kakek dengan Celya.
"Gak pernah om, kata mama sih, papa gak suka difoto," Celya menjawab apa yang di dengarnya dari sang mama.
__ADS_1
'Rahasia apa yang kamu sembunyikan, Aleya ?' Najib menatap gadis kecil itu seraya terus membatin penasaran.
Kata-kata orang-orang yang melihat kebersamaannya dengan gadis kecil itu semakin memicu rasa penasarannya. Sementara keterangan dari Aleya hanya sedikit meskipun terlihat sangat meyakinkan namun entah mengapa Najib merasa tak puas dengan cerita Aleya dan almarhum suaminya.
Kini Celya dan Najib telah berada di lantai teratas gedung perusahaan PT. Antar Mega. Aleya spontan berdiri kala mendengar lift berhenti diikuti suara langkah kaki mendekat. Suasana paling sunyi seantero perusahaan membuat segalanya terdengar dengan sangat jelas.
"Selamat pagi pak, " Aleya memasang senyum manis menyembunyikan kekhawatirannya.
"Kenapa kamu lebih memilih melarikan diri ?!" Suara dingin Najib kembali menyapa ruang dengar Aleya.
"Bukan melarikan diri pak, lebih tepatnya menghindari perbincangan yang tak penting. Aku disini bekerja untuk memberikan kehidupan yang layak bagi putriku bukan yang lain," Nada bicara Aleya pun tak kalah dinginnya. Ia harus bisa berusaha sebaik mungkin menyembunyikan identitas Celya yang sebenarnya. Setidaknya hari ini adalah terakhir interaksi antara Celya dengan Najib.
"Kamu tidak ingin mengatakan apapun tentang Celya ? Barusan adalah orang keempat yang mengatakan kemiripan kami bahkan mengira kami adalah ayah dan anak," Najib menatap intens Aleya agar bisa mengamati gerak gerak mencurigakan wanita itu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Aleya. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan ?!" Najib menahan amarahnya yang ia pendam sejak di lobby tadi.
"Kita baru bertemu setelah sekian lama pak, jadi apa yang aku sembunyikan ?" Aleya memperlihatkan wajah bingungnya dengan sangat sempurna.
"Maksudku tentang Celya,"
"Bapak merasa pernah tidur denganku ?!" Aleya menatap sengit Najib. Sejujurnya tatapannya itu untuk menahan agar airmatanya tak menampakkan diri sehingga bisa membuat Najib curiga.
Mendengar pertanyaan Aleya, pria itu hanya bisa menggeleng ragu. Ia tak ingat sama sekali jika pernah meniduri Aleya. Saat itu mereka memang bersama sebelum mabuk berat namun ketika bangun disampingnya hanya ada Melisa dan mereka berada dalam keadaan naked. Hanya satu hal yang membuatnya bingung hingga saat ini adalah bercak darah yang hanya dimiliki oleh gadis per**an sedangkan Melisa adalah pem**s para cowok disekolahnya.
__ADS_1
"Nah, sudah jelas kan ? Jadi mulai sekarang meskipun seluruh dunia mengatakan kalian sangat mirip maka abaikan saja. Konon Allah menciptakan manusia kembar tujuh dan mungkin kalian adalah salah satunya." Aleya berkata penuh dengan keyakinan padahal dirinya sendiri tidak terlalu yakin, hanya saja ia pernah mendengar kata-kata seperti itu.
Mendengar kata-kata Aleya membuat Najib pergi begitu saja. Ia memasuki ruangannya dengan rasa gamang. Setelah duduk dikursi kebesarannya, Najib menatap nanar berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Dengan lincah tangannya mengambil ponselnya dan menghubungi sang asisten yang pasti kini sudah berada di ruangannya.
"Ke ruanganku sekarang !"
Adam menatap kesal layar ponselnya. Bos satu ini benar-benar menguras emosinya pagi ini. Mulai saat ia membuka paksa matanya karena meminta agar butik temannya buka lebih awal dan kini memerintahnya tanpa belas kasihan. Ruangan mereka hanya berjarak beberapa meter namun terasa sangat jauh karena panggilan darurat sang bos. Namun begitu tak urung Adam keluar dari ruangannya dan menuju ruangan CEO.
"Kok wajahnya kusut masai pak ?!" Aleya terkikik geli melihat penampakan wajah sang asisten.
"Mau gimana lagi, ini wajah terjaga setiap kali pak bos memanggil." Adam mendengus kesal.
"Hai cantik apa kabar ? Gak sekolah ?!" Wajah Adam kembali cerah dan menampakkan senyuman saat melihat keberadaan Celya. Meskipun gadis kecil itu tak membalas sapaan Adam bahkan menoleh pun tidak karena mendengar musik namun suasana hati Adam sedikit membaik.
"Jangan godain anakku pak, cepat tunaikan kewajibanmu," Aleya mengusir Adam sambil terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Tersadar mendengar ucapan Aleya, secepat kilat Adam menghilang dari hadapan Aleya, kini ia sudah berdiri di depan pintu ruangan CEO.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi semua,,,,
Jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1