Masa Lalu Yang Tak Usai

Masa Lalu Yang Tak Usai
PART 34 ~ NAJIB TETAPLAH NAJIB


__ADS_3

Selesai ijab qabul dan segala ritualnya, Najib membawa Aleya dan Celya ke rumah sang kakek Emir , sedangkan Andika dan Keiko tetap tinggal di rumah Akihiro dan mama Erin. Rencananya dua hari kemudian barulah keduanya ke rumah kakek Emir untuk selanjutnya terbang ke Indonesia.


Kakek Emir bersama Celya sengaja menggunakan mobil yang berbeda dengan Najib dan Aleya. Beliau sengaja memberikan ruang untuk mereka berdua. Membiarkan keduanya menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka di masa lalu.


"Sekarang kita suami istri jadi mari kita mulai dari awal. Kesalahanku di masa lalu biarlah waktu yang membuktikan jika Kesalahan itu bukan murni dari aku," Najib menatap Aleya dengan lembut. Bukan bermaksud menyalahkan orang lain akan tetapi memang itulah kenyataannya.


"Salah tetap salah ! Sudahlah aku malas membahasnya. Yang penting sekarang kamu harus pikirkan bagaimana caranya menceraikanku !" Aleya menyarkas Najib dengan tatapan datar bin dingin.


"No Aleya ! Jangan pernah memikirkan hal gila itu !" Meskipun awalnya Najib berusaha lembut namun kata-kata Aleya berhasil memancing emosinya.


"Terserah tapi aku akan berusaha bercerai darimu !" Aleya tetap pada pendiriannya, ia tak tahu apa yang akan dilakukan Najib setelah mendengar ucapannya.


Dikuasai rasa amarah mendengar kata-kata Aleya, pria itu langsung melu**t bibir tipis Aleya tanpa ampun. Najib tak melepaskan lum**annya hingga Aleya mendorong tubuhnya karena kehabisan napas.


"Kau !!" Aleya menatap tajam Najib yang dengan entengnya memberikan tontonan gratis tak bermoral pada sopirnya. Jantung Aleya berdetak kencang


"Itu adalah hukuman karena selalu mengucapkan kata cerai. Lain kali aku akan melakukan yang lebih dari ini dan akan kubuktikan," Wajah Najib bersungguh-sungguh saat mengucapkannya. Ia menatap tajam ke dalam manik mata Aleya.

__ADS_1


Meskipun rasa kesal Aleya sudah sampai ke ubun-ubun namun ia tak ingin mengambil resiko dengan bertindak gegabah. Najib masih seperti dulu, keras kepala dan selalu melakukan apa yang pernah ia ucapkan.


Aleya membelakangi Najib dengan memilih menikmati pemandangan diluar jendela. Melihat gedung-gedung tinggi lebih aman untuknya. Hingga akhirnya perjalanan mereka berakhir saat memasuki halaman sebuah rumah mewah disusul mobil yang kakek Emir bersama Celya.


Mereka berempat lalu berjalan beriringan memasuki rumah dimana para maid sudah berdiri menyambut majikannya.


"Selamat datang," Sapa para maid kompak.


"Terima kasih," Aleya tersenyum ramah pada mereka. Aleya mendelik tajam kala merasa tangan Najib melingar indah pada pinggangnya namun pria itu terlihat santai dan tak memperdulikan delikan tajam sang istri.


"Kenalkan menantuku dan putrinya yang baru datang dari Indonesia," Kakek Emir menatap satu per satu maid yang masih berbaris dengan rapi. Kakek Emir tak mungkin mengatakan jika mereka baru menikah mengingat Celya yang sudah besar. Pria paruh baya itu tak ingin menantunya dipandang rendah oleh para maidnya.


"Liat kan ? bagaimana bahagianya putri kita, jadi hilangkan dari otak kecilmu keinginan untuk bercerai," Najib berbisik ditelinga Aleya dan sedikit menggigitnya membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Aleya berusaha menjauhkan diri dari Najib namun ternyata pelukan pria itu terlalu kencang sehingga Aleya tak bisa bergerak.


"Kalian istitahatlah, kakek dan Celya ada urusan." Kakek Emir tak ingin mengganggu keduanya. Pria paruh baya itu sengaja membawa Celya menjauh dari kedua orang tuanya agar pasangan baru halal itu bisa kembali membangun hubungan yang bertahun-tahun dalam masalah.


Setelah kakek Emir dan Celya menghilang entah kemana saking besarnya rumah tersebut, Aleya perlahan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi empuk yang ia duduki. Jiwa raganya lelah menghadapi hidupnya yang tiba-tiba berubah tanpa rencana.

__ADS_1


Awalnya ia mengira akan menikah dengan salah satu kerabat papa angkatnya namun ternyata malah berakhir menikah dengan Najib. Sejak kehamilannya, Aleya merasa masanya dengan Najib sudah usai namun ternyata takdir berkata lain. Masa lalunya bersama Najib ternyata tak pernah usai.


'Masa lalu yang tak pernah usai,' Batinnya menerawang.


"Masa lalu kita tak akan pernah usai, karena Celya hadir diantara kita. Seandainya pun tak ada Celya, aku tetap akan melanjutkan masa lalu kita," Najib menatap Aleya seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh wanitanya.


Aleya tak menanggapi, ia memiliki pemikiran sendiri. Pertemuan dan interaksi serta sikap Najib saat itu sangat bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Huffftt,,, lidah memang tak bertulang.


"Kamarku dimana ? Aku lelah lahir batin ingin istirahat," Aleya malas berbicara dengan Najib untuk saat ini. Entah lelah darimana yang ia rasakan padahal semalam ia dan Celya cepat tidur.


"Kamar kita, sayang. Jangan berpikir jika kita akan menjalani kehidupan rumah tangga dengan pisah kamar. Atau mau aku hukum lagi, hm ?!" Najib tersenyum misterius menatap Aleya.


"Jangan membuatku kesal, aku benar-benar lelah menghadapi kenyataan hidupku yang semakin berat," Aleya sengaja mengucapkan hal tersebut berharap agar Najib merasa dengan kehadirannya membuat hidup Aleya tak tenang.


Namun Najib tetaplah Najib, alih-alih merasa tersinggung dengan ucapan Aleya, ia hanya tersenyum dan menggendong Aleya memasuki kamarnya. Najib tak memperdulikan protes Aleya.


"Jangan gerak-gerak sayang, gesekan gunung merapimu membakar sesuatu dibawah sana," Najib tersenyum devil dan mendapatkan bibirnya pada bibir tipis Aleya. Bibir yang sejak dulu selalu membuatnya penasaran.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi readers setia ,,,


__ADS_2