
Wajah Najib sungguh sangat tak enak di pandang saat bergabung untuk menikmati kidapan yang telah disiapkan oleh bi Sumi. Aleya dan Keiko hanya bisa saling bertukar pandang dengan penuh tanda tanya gerangan apa yang membuat wajah tampan Najib ternodai saat ini.
Kudapan bi Sumi lebih menarik perhatian Aleya daripada wajah Najib. Dengan sigap Aleya dan Keiko mulai menikmatinya. Kue pastel yang tampak menggugah selera makan apalagi saat ini memang Aleya sedikit lapar. Ingat ya, sedikit lapar.
"Lho, kak Najib kok gak makan ? Ini enak pake banget," Keiko tetaplah Keiko yang tak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Makan aja Yang, jangan banyak tanya." Andika tak ingin memancing kemarahan singa tidur. Andika sudah paham dengan sikap atasannya itu dan iapun tahu penyebab perubahan wajah bosnya.
"Kak, jangan cuek gitu dong, tanya kek suaminya kenapa kayak gitu," Bukannya berhenti, Keiko malah menyuruh Aleya menangani suaminya.
"Turuti kata-kata suamimu, Kei. Aku bukan ahli permak wajah, kalau yang punya wajah aja gak masalah kenapa kita harus pusing ?!" Aleya menyudahi makannya. Selera makannya tiba-tiba hilang mendengar pertanyaan Keiko padahal ia baru makan dua biji.
Sebenarnya Aleya pun merasa terganggu dengan wajah masam tuan rumah. Mereka baru saja tiba namun tuan rumah sudah memperlihatkan wajah tak sedapnya. Entah apa penyebabnya.
"Maaf, kamarku dimana ya, kepalaku agak pusing." Kepala Aleya memang agak sedikit pening mungkin akibat beberapa hari belakangan ini saat malam tiba dimana orang-orang sudah berlayar ke pulau mimpi namun ia justru tak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ikuti aku." Najib kembali ke mode on dingin bin datar. Jika seperti ini maka siapapun tak mau menegurnya.
Andika meringis melihat perubahan Najib hanya karena persoalan sepele. Bagaimana jika suatu saat ia dan Aleya berbicara berdua dan terlihat oleh pria pencemburu itu ? Andika bergidik ngeri.
"Mas kenapa ?" Rupanya Keiko melihat saat suaminya bergidik ngeri. Sontak saja pria itu memutar otak untuk mencari alasan yang bisa diterima oleh Keiko.
"Mas ngeri-ngeri sedap melihat betapa labilnya Najib saat bertemu dengan Aleya." Bukannya Andika ingin menyembunyikan penyebab kekesalan Najib hanya saja ia tak ingin istrinya ikut-ikutan berpikir. Cukup memikirkan dirinya agar bisa segera memiliki anak.
__ADS_1
Ceklek
Najib membuka lebar pintu sebuah kamar dan berjalan terlebih dahulu. Aleyapun mengikutinya dari belakang. Aleya mengedarkan pandangannya pada kamar yang di dominasi oleh warna putih bahkan tempat tidurnya pun berwarna putih menandakan pemilik kamar tipe pembersih.
"Kenapa kamu menelepon Andika dan bukannya meneleponku ?!" Nada suara Najib masih terdengar dingin membuat Aleya menghentikan kegiatannya dan mengerutkan dahi bingung.
"Maksudnya ?!" Aleya benar-benar tak mengerti arah pembicaraan pria yang kini duduk dengan angkuhnya di sofa.
"Tadi saat kami di ruang kerja !" Najib menatap tajam Aleya yang kini sedang mendelik tajam padanya.
"Astaga, jadi gara-gara itu sampai wajah kamu masam dan gak enak dipandang ? Memang apa salahnya jika aku menelepon Andika ?" Aleya mendekati Najib dan menatapnya sinis. Tak ada yang salah menurutnya, hidup di jaman teknologi kenapa tidak dimanfaatkan ?
"Memang tidak salah tapi kamu sudah ganti nomor dan tetap menyimpan nomor Andika, itu terdengar aneh apalagi sekarang Andika sudah menikah dengan adikmu," Najib tak terima dengan cara Aleya menatapnya.
"Aku minta maaf untuk semua perlakuan burukku di masa lalu," Dengan gerakan cepat Najib berdiri dan memeluk erat Aleya sehingga wanita itu tak bisa menghindar.
Kini keduanya bisa merasakan irama jantung masing-masing. Ritme jantung yang dulu mereka miliki saat hubungan mereka mesra-mesranya ternyata masih sama. Najib tersenyum saat menyadari hal itu berbeda halnya dengan Aleya yang masih berusaha menyangkalnya.
"Sayang, ternyata cinta kita masih sama," Najib kini membingkai wajah cantik Aleya dengan rasa bahagia yang membuncah. Ini adalah kontak fisik terlama mereka setelah malam tersial yang memisahkan mereka sekian lama.
"Oh ya ? Aku kok ngerasa biasa aja seperti saat aku memeluk Keiko," Aleya melarikan tatapan matanya. Ia tak ingin Najib melihat kebenaran dari matanya.
Antara kesal dan ingin membuktikan ucapannya, Najib menyambar bibir ranum Aleya dan mencecapnya hingga keduanya kehabisan oksigen. Aleya tak bisa lagi menghindar, ia terlena dan tak sadar turut menikmati bahkan suara yang tak diharapkan turut menyertai aktifitas mereka.
__ADS_1
"Buang egomu sayang, gak baik buat kesehatan. Gak ada juga untungnya kamu terus-terusan memusuhiku sedangkan kita adalah pasangan yang sah." Dengan entengnya Najib menggendong tubuh Aleya dan meletakkannya di tempat tidur.
"Istirahatlah, mudah-mudahan setelah bangun otakmu sudah bisa diajak kerjasama. Kita sama-sama dewasa dan pernikahan inipun bukan main-main yang akan berakhir." Najib menci**m kening Aleya sebelum beranjak.
Najib buru-buru meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia butuh guyuran air dingin di kepalanya agar sesuatu yang sedang bergolak ingin disalurkan kembali tenang ditempatnya. Waktunya belum tepat.
Masih dengan jantung bergemuruh, Aleya berusaha memejamkan matanya meskipun tak membuahkan hasil. Jika kemarin-kemarin ia tak bisa tidur karena khawatir Najib akan melakukan sesuatu padanya namun kini ia tak bisa menembus dunia mimpi karena kelakuan pnya yang terkesan murahan. Bisa-bisanya ia terlena pada permainan bibir Najib.
'Kamu gak tahu malu Aleya,' Batinnya tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.
Tak ingin ketahuan, Aleya tetap menutup mata hingga terdengar pintu kamar mandi terbuka menandakan pria itu sudah selesai dengan aktivitasnya. Aroma maskulin menguar memenuhi indera penciuman Aleya. Aroma yang menenangkan dan lagi-lagi membuat Aleya terlena.
Perlahan Najib membaringkan tubuhnya di samping Aleya, ia pun lelah menempuh perjalanan jauh. Otak dan tubuhnya butuh istirahat yang cukup untuk menghadapi istri keras kepalanya.
Banyak rencana yang Najib siapkan untuk membuktikan ucapannya pada Aleya. Meskipun sebenarnya hal itu tak dibutuhkan lagi karena mereka sudah sah sebagai suami istri namun Najib tetap akan membalas perbuatan kedua manusia bejat itu.
Najib kini sudah tiba di pulau mimpi sementara Aleya perlahan membuka matanya lalu turun dari tempat tidur. Mungkin dengan mandi dan berendam ia akan segar walau tidak tidur.
🌹🌹🌹🌹
Selamat pagi menjelang siang readers,,,,
Selamat membaca semoga terhibur
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca karyaku 🤗🤗