Masih Dia Pemenangnya

Masih Dia Pemenangnya
Episode 18


__ADS_3

" Sebenernya lo kenapa sih Caa, akhir-akhir ini beda dari biasanya " lirih Kiki sembari memasangkan selimut di tubuh Caca


" Arez, lu pulang aja terus lu mandi abis itu kesini lagi beliin makanan " perintah Kiki pada adiknya


" Oke " jawab Arez sembari menganggukkan kepalanya


Sepeninggal Arez, Kiki ke belakang untuk membersihkan diri kemudian ia kembali duduk mendekati Caca


Hari sudah semakin sore dan hampir menjelang malam namun belum ada tanda-tanda Arez akan datang


" Eunghh.. " lenguh Caca menggeligat dari tidurnya


" Caa.. " panggil Kiki pelan


" Kiki? lo kenapa bisa disini? " tanyanya kemudian beranjak duduk


Kiki mendekat berusaha untuk membantu Caca namun gadis itu malah berteriak


" Jangannnn!! tolong jangannn hikss.. "


Kiki yang mendengar itu merasa kaget, entah kenapa Caca seperti itu namun sekuat tenaga ia berusaha mendekat " Caca heii, ini gue. Ini gue Kiki " ujarnya


" Hikss.. hikss.. Kiki? " tangisnya pecah seketika, ia merentangkan kedua tangannya


Kiki yang mengerti hal itu langsung memeluk tubuh rapuh itu " Stttt.. ada gue, jangan takut okey? " lirihnya

__ADS_1


" Hikss.. dia jahatt hiksss, g-gue tak-ut.. hikss.. " ujarnya terbata-bata


" Caaa.. tenang okey, semua akan baik-baik aja " jawabnya


Sementara pelukan Caca semakin mengerat pada Kiki, ia menangis sejadi-jadinya pada pundak pria itu sekarang



...{ Ilustrasi }...


Tak lama Arez muncul dari daun pintu, ia datang dengan membawa tentengan papper bag berisikan makanan


Melihat keduanya sedang berpelukan, Arez langsung mengkode bermaksud untuk bertanya pada Abangnya, Rizky yang peka pun langsung membalas kode dari adiknya itu


" Iya nih kak, kakak suka ayam krispi kan nah ini udah Arez bawain " tambah Arez


Caca lekas mengendurkan pelukannya, ia mulai memakan ayam yang di bawa Arez tadi, setelah sedikit lebih tenang Caca kemudian mulai menceritakan semuanya tentang ia dan Demian kepada dua kakak beradik itu


" Kenapa selama ini lo tutupin? klo kita semua tau pasti kita bakal lindungin lo Caa " ujar Rizky jengkel


" Bang, jangan dulu bahas hal itu beri jeda juga ruang buat kak Caca " tutur Arez


Rizky pun diam, ucapan adiknya memang benar. Harusnya saat seperti ini ia memberi semangat untuk Caca bukan malah memperkeruh suasana


" Gue gamau kalian semua repot gegara gue Kii, udah itu aja " lirih Caca pelan

__ADS_1


Next >>>


Masa sekolah SMA pun berakhir, kini ia telah lulus di usia 17 tahun. Caca berpamitan pada semua teman-temannya karena ia mendapatkan beasiswa Perguruan Tinggi Negeri di berbagai Negara dan Caca memilih melanjutkan study nya ke Negara Germany dengan mengambil jurusan spesialis jantung & pembuluh darah


Selama pendidikan, sepeserpun ia tak mengeluarkan biaya, hidup mandiri di Negara asing. Ia meninggalkan rumah, sahabat, serta orang tuanya yang entah bagaimana keadaan mereka.


Caca kemudian berhasil lulus dan mendapat gelarnya sebagar Dr. Bae Annastasya Laura Dawson, Sp. JP, hanya butuh waktu tiga tahun untuk wanita itu, hebat bukan?


Selama itu pula ia lost contact dari semua teman-temannya juga keluarga, tidak ada sesiapapun yang bisa ia ajak bicara untuk sekedar bertanya, "bagaimana harimu?"


Kini ia akan memasuki usia 21 tahun, begitu banyak pelajaran hidup yang ia dapatkan. Semua terasa sangat berbeda, di Negara Jerman ia berterimakasih, ada banyak pelajaran yang ia dapat meskipun hidupnya berubah 180°.


"Kota Berlin, terimakasih untuk semua ini. Kau adalah cinta yang sesungguhnya" ungkap Caca


Gadis itu mengucapkan kata terakhirnya di Negara Jerman, ia telah berada di Bandar Udara Otto Lilienthal Berlin Tegel untuk melakukan penerbangan ke Negara Italia untuk menjemput mimpinya disana


Setetes air matanya jatuh, lagi-lagi ia harus meninggalkan teman-teman dan juga orang baik lainnya di Negara itu, ternyata people come and go benar adanya


Ia beranjak duduk di kursi penumpang, tak lama pesawat pun take off, ia benar-benar meninggalkan Negara yang menjadikannya manusia berguna itu


Sepanjang penerbangan, Caca terus mengingat masa ia saat menjadi mahasiswa, teman yang ramah seperti saudara perlahan membuat rasa sakitnya semasa SMA lenyap begitu saja.


"Terimakasih Tuhan, thanks to Germany and manusia baik di Negara itu" lirihnya pelan


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2