
"Louis, tolong hubungi Lucas tanyakan kapan dia akan pulang" perintah Papa Lutthew
"Aku tidak memiliki nomornya" jawab Louis cuek
"Nomor kakakmu sendiri kau tidak punya?" tanya Papa Lutthew
Louis menggeleng santai kemudian beralih merebahkan kepalanya di paha Anna tanpa rasa canggung di depan orang tuanya
"Lou, kau punya kakak?" tanya Anna
"Ya, dia menetap di Belanda" jawab Louis sembari memejamkan matanya
"Ya Tuhan anak ini, kau tidak malu seperti itu di depan orang tuamu?" bantah Mama Daiana atas tingkah Louis
"Hmm kalian juga pernah muda kan, untuk apa aku malu aku Anna sudah melihat semuanya" ujar Louis tanpa sadar
Sontak mereka terkejut dengan penuturan Louis "Melihat semuanya?" ulang Mama Dashi dan Mama Daiana kompak
Huft.. Louis lelah dengan pemikiran kedua Mamanya itu "Ma, ayolah jangan berfikiran seperti itu terus" bantah Louis
"Kapan kita pulang?" alih Anna supaya perdebatan tidak memanjang antara Mama dan anak itu
"Nanti sore" jawab Louis
"Kenapa Anna? kau tidak betah disini? tanya Mama Daiana
Anna merasa tak enak hati, niatnya ingin menghentikan perdebatan yang akan terjadi malah jadi seperti ini
"Bukan begitu Tante.."
"Om baru saja datang dan kalian akan pulang?" tambah Papa Gatthew
"Papa, kami berdua memiliki pekerjaan dan juga kesibukan lain" jawab Louis
"Setidaknya tunggulah besok" ujar Mama Daiana
"Tidak" jawab Louis, sejujunya ia jengah berada disini apalagi di tambah dengan kedatangan kedua sepupunya
"Louis kau juga jarang pulang kesini jadi setidaknya tinggal lah lebih lama" bujuk Mama Dashi
"Tidak" jawabnya tetap tak bisa di tawar
Sore harinya Louis dan Anna sudah berada di perjalanan pulang menuju Kota Milan, sekuat apapun keluarga memaksa Louis untuk tinggal, jika pria itu berkata tidak maka tetap tidak.
"Lou, aku merasa tak enak dengan keluargamu" ujar Anna
"Anna, mereka sudah biasa melihatku seperti itu. Jangan khawatir"
__ADS_1
"Hmm.. coba lihat, disana ada jualan pasta" tunjuk Anna pada pedagang kaki lima
"Kau yakin ikin beli di tempat seperti itu?" tanya Louis heran
"Kenapa tidak?"
"Lebih baik di resto Anna" bantah Louis
"Lou, bantulah mereka. Jika mereka memiliki tempat seperti restoran mereka juga tidak akan berjualan di pinggiran. Kau tahu? terkadang orang seperti mereka lebih membutuhkan" jelas Anna
Louis diam mendengarkan penjelasan Anna dengan teliti, tak di sangka Dokter cantik di depannya ini sungguh memiliki hati yang baik
"Aku tak pernah menemukan wanita sepertimu"
"Memangnya wanita seperti apa yang sering kau temui" tanya Anna
"Mereka cenderung gengsi makan di pinggiran seperti itu" jawab Louis
"Wajar, mungkin mereka tidak terbiasa. Aku tak menyalakan apapun karena prinsip setiap orang tentunya berbeda. Sekarang kau mau berhenti atau tidak, aku ingin membeli pasta itu" tutur Anna
"Baiklah baiklah.." kalah Louis yang akhirnya menuruti kemauan Anna
Setelah turun dari mobil, Anna begitu semangat memesan dua porsi pasta, untuknya dan juga untuk Louis.
Anna tampak menikmati makanannya sedangkan Louis hanya menatap Anna "Kau sangat menggemaskan" ujar Louis kemudian tersenyum lebar
"ak ku sangka, wanita seimut dan secantik dirimu memiliki luka amat dalam, kau berhasil menutupi itu dari semua orang Anna termasuk aku" batin Louis saat menatap wajah teduh Anna
"Lou ayo makanlah, ini sungguh enak" ujar Anna memecahkan lamunan Louis
Pria itu mengangguk setuju dan ikut makan, benar kata Anna, sangat enak. Cukup lama keduanya di tempat itu sembari menyicip makanan lain, ralat lebih tepatnya jajan.
Setelah puas Louis dan Anna memutuskan untuk pulang, baru setengah jam perjalanan Anna sudah tertidur pulas
Melihat wajah letih gadis itu, Louis menurunkan sandaran supaya Anna tertidur lelap "Selamat tidur, meine liebe ( Bahasa Jerman yang artinya Cintaku )" ujar Louis pelan sembari mencium kening Anna pelan
Tak berselang lama mereka tiba di Bandara, terpaksa Louis harus membangunkan Anna karena mereka harus masuk pesawat
"Anna.. heii.." serunya sembari mengelus pipi mulus Anna
Tak ada pergerakan dari Anna sama sekali, ia bahkan tak terusik sedikitpun "Anna.. ayo bangun kita harus masuk pesawat" ujar Louis sekali lagi
"Anna.. heii, kau bisa melanjutkan tidur nanti" seru Louis lagi
"Umm.. Lou" seru Anna dengan suara khas bangun tidurnya
"Maaf membangunkanmu, kita sudah tiba di Bandara ayo bangun"
__ADS_1
Anna menganggukkan kepalanya kemudian tak lupa Louis memakaikannya masker supaya tidak terdentifikasi publik
Setelahnya Louis menghubungi asisten kediaman Kakek Matthew untuk mengambil mobilnya, setelah itu ia masuk Bandara tak lupa sembari menggandeng tangan Anna dan satu tangannya menyeret koper besar berisi pakaiannya dan Anna
Tak di sangka disana ternyata banyak wartawan, bahkan tak sedikit kamera menyoroti mereka sembari menangkap gambar
"Lou.."
"Tidak apa-apa, tenanglah" ucap Louis, ia mengerti kegelisahan Anna
Setelah 5 menit menunggu, pesawat akhirnya take off. Louis memilih kursi VVIP dimana ruangan itu bersifat pribadi, tidak bisa sembarang orang untuk masuk
"Lepas saja maskermu, tidak ada yang akan melihatnya selain aku" ujar Louis
Anna mengangguk, harusnya ia tak khawatir karena Louis memesan kelas VVIP setiap melakukan penerbangan.
"Lou, a-aku kedinginan" ucap Anna gemetar, mukanya tiba-tiba pucat dan tubuhnya menggigil
"Apa yang terjadi, Anna?" ucap pria itu sangat khawatir
Buru-buru ia melepaskan jaket tebalnya memyelimuti Anna, memang saat di Italia sedang musim gugur yakni cuaca sedang peralihan menuju musim dingin
"Lou..." seru Anna
"Iyaa, aku disini hmm" jawabnya pelan
Pramugari disana membantu Louis untuk menghangatkan tubuh Anna, walaupun Anna masih menggigil namun setidaknya sudah tidak sepucat seperti awal
Tak lama pesawat landing, Louis sudah menghubungi asistennya untuk menjemput mereka, ia bahkan tak fokus pada kopernya dan menggendong Anna menuju mobil sedangkan barangnya di angkut oleh asisten, memang itu tugas asiaten bukan?
"Theo lebih cepat!" sentak Louis
"Baik Tuan, apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Theo
"Pulang ke apart, cepatlah!!"
Theo menancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata sementara Anna terus mengeluh kedinginan
"Hubungi Dokter Marry suruh ke apartku sekarang!" perintah Louis, kemudian langsung di laksanakan oleh Asisten Theo
Sesampainya di apartment, Dokter Marry sudah menunggu di depan pintu. Kemudian langsung memeriksa Anna
"Louis, wanitamu terkena hipotermia" ujar Dokter Marry
"Hipotermia? apa itu, apa berbahaya?" tolong lakukan sesuatu Marry kau seorang Dokter!" marah Louis dengan suara baritonnya
"Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama akibatnya tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan tubuh memproduksi panas" jelas Dokter Marry
__ADS_1
Tbc..