
Sepanjang jalan penerbangan Louis terus membayangkan wajah cantik Anna, di mana wanita itu selalu memperlihatkan senyum manisnya, kesehariannya bersama Anna bahkan hal-hal yang pernah mereka lalui bersama berputar kembali di otaknya
Bagaimana tidak terkejut, pagi sekali saat ia bersiap untuk rapat tiba-tiba ia menerima berita mengejutkan. Harusnya Louis pulang besok namun ia tak bisa diam saja
Setelah perjalanan panjang, helikopternya mendarat dengan sempurna di atap rumah sakit Grande Ospedale Metropolitano Niguarda, Milan.
Louis buru-buru menuju lantai 30 dimana ruangan Brian Arbeto berada, saat tiba di depan pintu Louis langsung menendang pintu itu dengan kakinya
Braakkk..
Ia masuk dan mendekat pada Brian Arbeto yang berusaha bersikap tenang, ia sudah tahu maksud kedatangan Louis karena Papanya baru saja menghubunginya
"Kau duduk tenang disini sementara para dokter disana sedang mempertaruhkan nyawanya" ujar Louis
"Panik tak ada gunanya, kau tenanglah aku baru saja kembali dari rapat di gedung biru"
Louis mengepalkan tangannya "Aku akan menutup rumah sakitmu jika terjadi sesuatu pada Anna, aku yakin kau sudah tahu siapa dia dari Papa" ujar Louis berbicara dengan rahang yang mengeras
Brian Arbeto sedikit takut, pasalnya ini kali pertama ia melihat Louis semarah ini "Kami akan berusaha Louis" jawabnya
Louis pergi meninggalkan ruangan Brian Arbeto dengan menutup pintu secara kencang, yang di fikirannya sekarang adalah Anna
Tak lama Theo datang menjemput Louis kemudian mereka menuju ke apartment untuk pulang.
"Theo atur tiket pesawat aku harus ke Turki" ucap Louis tiba-tiba, sejak tadi ia tak bisa berfikir jernih sama sekali
"Akses ke Turki sedang di tutup Tuan, bandara manapun tidak menerima penerbangan menuju Turki" jawab Theo, Louis semakin frustasi di buatnya, ia tak bisa diam saja seperti ini
Sementara di tanah Gaziantep, gempa yang berlangsung kurang lebih 15 menit itu akhirnya reda.
__ADS_1
Syukurnya Anna dan dokter lain berhasil selamat, Anna hanya mendapat luka di bahunya akibat terkena reruntuhan.
Proses evakuasi kembali di lakukan, dengan bala bantuan dari timsar yang mulai menipis karena banyak dari mereka yang tertimbun oleh bangunan
Dr. Rico segera menghampiri Anna dan mengobati lukanya "Dr. Rico dimana Dr. Sheza? dia tadi bersamaku" tanya Anna khawatir
"Dr. Sheza pingsan akibat kepalanya terbentur, dia sedang di tangani" jawab Dr. Rico
"Aku ingin melihatnya" kekeuh Anna
"Dokter Anna saya mohon jangan keras kepala!! setidaknya di situasi seperti ini jangan bersikap semaumu!!" kesal Dr. Rico
Anna diam tak menjawab, tak lama Kap. Anggara datang dengan membawa kotak kapas dan menyerahkannya pada Dr. Rico yang tengah mengobati luka Anna "Kau baik-baik saja?" tanyanya
"Awhhhss.." rintih Anna pelan saat lukanya terkena kapas yang sudah di oleskan obat oleh Dr. Rico
Satu hari penuh lagi-lagi tugas mereka di sana tak henti-hentinya, meskipun lelah namun mereka semua tidak bisa lepas tangan begitu saja
Begitupun dengan dokter dan perawat lainnya, mereka berlari berbondong-bondong, memapah korban, mengambil stok obat, juga alat-alat yang di butuhkan.
Sekarang Anna beralih pada anak kecil berusia 6 tahun, anak perempuan cantik itu terus menatapnya sejak tadi
"Doktor sen çok güzelsin" ujar anak itu
( Dokter, kau sangat cantik )
Anna hanya membalas dengan tersenyum karena ia tidak bisa berbahasa Turki
"Can you speak english?" tanya Ibu dari anak itu
__ADS_1
( Bisakah kau berbicara basa Inggris? )
"Yes, I can" jawab Anna
( Ya, aku bisa )
"She said that you are very beautiful" ucap Ibu dari anak itu
( Dia mengatakan bahwa kau sangat cantik )
"Thanks, you're so sweet" jawab Anna sembari mencubit gemas pipi anak kecil itu
( Terima kasih, kau manis sekali )
"Anne, büyüyünce senin gibi doktor olmak istiyorum"
( Mama, saat besar nanti, aku ingin menjadi dokter sepertinya )
"She wants to be a doctor like you" jelas Ibunya lagi
( Dia ingin menjadi dokter sepertimu )
Anna tersenyum, ia senang dapat berinteraksi dengan mereka semua. Kenangan di selip kesulitan, di balik itu semua ia bersyukur dapat membantu meringankan rasa sakit mereka
Anna memasukkan nama ibu dan anak itu ke daftar yang akan di kirim ke rumah sakit di Istanbul dan Bursa, karena rumah sakit itu sudah siap sepenuhnya untuk membantu para korban Gaziantep.
Menjelang sore, Anna termenung di dalam tendanya yang kembali mereka bangun. Ia berfikir Louis pasti tengah khawatir dengannya, ia merindukan Louis.
"Aku baik-baik saja Lou, ku harap kau jangan membuat kekacauan disana. Aku akan kembali dengan selamat seperti janjiku" lirihnya pelan, air matanya menetes. Anna menangis dalam diam, sungguh ia butuh pelukan saat ini
__ADS_1
Tbc...