
Kapten Anggara tengah mengelilingi area perawatan juga mengecek keadaan sekitar tenda para dokter dan perawat beristirahat.
Dari kejauhan ia melihat seseorang yang tengah duduk sembari merebahkan tubuh berbantal tangan di atas meja, ia mendekat kemudian menegur
"Kau tidak tidur?" tanyanya
Anna menoleh ke sumber suara dan menatap Kap. Anggara sebentar "Aku tidak bisa tidur" jawab Anna singkat
"Ingin ku temani?" tawarnya
"Bagaimana kondisi pasien yang ku operasi itu?" alih Anna
Kap. Anggara tersenyum kemudian duduk di samping Anna, wanita cantik ini selalu mengalihkan pembicaraan
"Dia ada disini, berkat kau dia sembuh dan bisa bergabung dengan pasukan dan terbang kemari" jawab Kap. Anggara
"Syukurlah.." jawab Anna lagi'
"Kau sudah bekerja keras hari ini, tidurlah wajahmu terlihat sangat lelah" ujarnya
"Hmm.. ini hal baru bagiku, jadi sedikit sulit. Namun melihat mereka yang membutuhkanku, aku tak bisa menolaknya bukan? terlebih ini adalah tugasku untuk menyelamatkan mereka" jelas Anna
Sekali lagi, Kap. Anggara dibuat kagum oleh Dokter cantik ini. Anna menatap langit yang begitu bersinar oleh cahaya bintang.
"Kau bersinar seperti bintang itu Dokter" lirih Kap. Anggara sembari menatap Anna
Anna menoleh dan tersenyum "Sekarang aku tengah redup Kapten, mana mungkin aku bersinar di tengah kekacauan tanah Gaziantep" jawabnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang, aku dan dokter lainnya sedikit bingung saat melihat minimnya bantuan. Tapi setelah kau dan pasukanmu datang, rasanya kami memiliki harapan dan menemukan titik terang dari keredupan yang terjadi" tambah Anna
Entah mengapa, Kapten Anggara merasa senang dengan yang Anna ucapkan, sekali lagi dia jatuh cinta pada wanita di depannya ini
"Terima kasih juga, berkatmu aku masih hidup hingga malam ini. Jika saja reruntuhan tadi mengenaiku, maka pasukanku juga akan redup" ujarnya diiringi sedikit candaan
Anna tertawa pelan "Kau konyol juga ternyata" ujarnya
"Dokter Anna! air panasnya sudah siap" seru Dr. Rico
Ia ingin minum secangkir teh panas bersama dokter lainnya, sembari menunggu Anna duduk di luar tenda hingga di hampiri Kapten Anggara sekarang ini
"Maaf aku harus se-"
"Lagi-lagi kau meminta maaf, apa kau ingat setiap kali aku mengajakmu berbicara kau selalu menolak dengan mengucapkan kata maaf?"
Setelah kepergian Anna, Kapten Anggara duduk termenung hingga ia tertidur di tempat yang sama.
Pagi hari datang begitu cepat, hari-hari berlalu dan mereka lalui dengan kegiatan yang sama. Meskipun tubuh terasa remuk redam namun mereka harus tetap menjalankan kewajibannya
Tiba-tiba guncangan kecil mulai terasa, tanah kembali bergetar dan dari arah kiri satu-satunya bangunan yang tersisa akhirnya ambruk
Para tentara keluar dari tenda mereka dengan tergesa-gesa, berusaha menyelamatkan warga di bawah tenda korban untuk mencari tempat aman
"Telah terjadi gempa susulan, semuanya berhati-hati!!" perintah Kapten Anggara melalu handy talky nya
Ia berlari berusaha menuju tenda para dokter dan perawat, sudah banyak dari mereka yang berlarian keluar mencari tempat aman
__ADS_1
Kap. Anggara bersama pasukannya terus berusaha sebaik mungkin untuk memapah korban yang terkena luka-luka, namun ia tampak sedikit panik karena sejak tadi tidak melihat keberadaan Anna
"Dokter sebaiknya kita keluar tenda!" ucap Dr. Sheza yang selalu bersama Anna
Anna duduk diam sembari memejamkan mata, ini kali pertama dia ada di situasi seperti ini dan ia sedikit takut "Dr. Sheza ku mohon kau diam, jangan panik dan tenanglah" ujar Anna
Braakkk... brakkkk...
Bangunan runtuh, juga bunyi-bunyi lainnya yang membuat situasi semakin tercekam, Anna dan Sheza keluar bersamaan, keduanya begitu terkejut melihat sekitar yang kembali kacau, pekikan dan lolongan minta tolong yang hanya mereka dengar
Sementara di Italia, pihak rumah sakit tempat Anna bekerja sedang panik melihat laporan yang mereka terima. Tak lama tv rumah sakit mulai menayangkan kejadian gempa susulan di tanah Suriah, Turkey.
Begitupun dengan Louis, matanya memerah dan tangannya menggepal erat. Buru-buru ia mengambil hp nya dan menghubungi Anna namun tak ada jawaban sama sekali
"Anna berjanjilah kau akan baik-baik saja" ujarnya terus menelfon, pikirannya tidak tenang bahkan tanpa sadar air mata Louis meluruh
Tak lama dering hp nya berbunyi, buru-buru Louis mengangkat dengan raut muka yang sulit di artikan "Anna, hallo sayang?" ucapnya, air matanya kembali meluruh
"Louis ini Papa, kau dengar berita hari ini?" ucap Papanya yang berusaha bersikap tenang
"Siapa pemilik rumah sakit tempat Anna bekerja itu? katakan padaku!"
"Brian Arbeto penerusnya sekarang, kau mengenalinya" jawab Papanya, kemudian sambungan telepon di putus oleh Louis secara sepihak
Louis buru-buru menghubungi Theo untuk mengatakan bahwa ia akan terbang hari ini juga. Ia akan langsung mendarat di atap rumah sakit Grande Ospedale Metropolitano Niguarda, Milan tempat Anna bekerja
Ia akan menuntut pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu pada Anna, cintanya.
__ADS_1
Tbc..