Masih Dia Pemenangnya

Masih Dia Pemenangnya
Episode 42


__ADS_3

Setelah membereskan masalah yang terjadi, Papa Lutthew kembali terbang ke Roma tanpa mengunjungi sang putra lebih dulu.


Setibanya di Mansion, pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan oleh sang istri dan juga kakak iparnya


"Anna baik-baik saja, kau menemuinya?"


"Apa putraku terluka?"


"Lutthew apa Bandara itu hancur akibat tingkat kewarasan putramu sudah menghilang?"


"Kenapa kau diam ayo jawab" seperti itulah kira-kira pertanyaan yang terlontar hingga membuat kepala Papa Lutthew mau pecah


"Ya Tuhan aku baru pulang, bolak-balik Roma-Milan tidakkah kau menyuguhkan kopi untukku dulu?" cela Papa Lutthew sedikit kesal


"Ya ya ceritakan dulu yang terjadi" kekeuh Mama Daiana


"Putramu sungguh gila, entah bagaimana menjelaskannya padamu aku sendiri tidak mengerti" jawab Papa Lutthew kemudian merebahkan tubuhnya di sofa


Sementara di apartment Louis, lima menit sudah berlalu namun pria itu masih enggan melepaskan pelukannya


"Kau begitu merindukanku ya?" lirih Anna


"Hmm, pikiranku sudah di penuhi oleh hal negatif tentangmu saat gempa susulan itu terjadi. Membayangkannya saja membuatku gila" jawab Louis


"Aku hampir saja mati Lou, hal itu pertama kalinya bagiku dan aku sangat takut"


"Anna.." lirihnya pelan, raut wajah Louis tampak takut dan matanya berkaca-kaca


"Umm.." jawab Anna


"Jangan pergi lagi, aku mohon"


"Kau sangat menggemaskan utututu" ujar Anna sembari mencubit gemas pipi Louis


Pria itu akhir-akhir ini terlihat cengeng, padahal Louis tidak pernah menangis sebelumnya. Selama bertahun-tahun ia hanya menunjukkan muka datarnya pada semua orang dan pertahanan itu runtuh saat Anna masuk kedalam hidupnya


"Sudah yaa, aku harus mandi" kemudian ia berlalu membiarkan Louis di sofa sendirian


Tak berselang lama Anna sudah keluar dengan perasaan segar, ia kembali duduk di samping Louis yang tampak serius memperhatikan layar laptopnya


"Siapa tentara itu?"


"Dia adalah pasukan yang di kirim negara ini untuk bertugas disana dan ikut bergabung dengan tim penyelamat lainnya" jawab Anna

__ADS_1


"Kau mengenalnya?"


"Salah satu pasukannya mendapat luka tembak, dan itu pasien yang aku operasi sebelum gempa Turki terjadi, aku mengenalnya sejak saat itu" tambah Anna


"Sepertinya dia menyukaimu" ujar Louis, saat ia bertanya tentang itu sejak tadi mukanya hanya datar. Sangat berbeda dari sebelumnya


"Lou, dia dan aku hanya menjalankan tugas"


"Apa dia pasukan khusus?" tanya Louis tanpa merespon ucapan Anna


"Dia Kaptennya"


"Kau menyukainya?"


"Tidak"


"Sungguh?"


"Iyaa"


"Bukankah dia tampan?"


"Tapi dia tidak sekaya dirimu" kesal Anna, perdebatan kecil terjadi lagi


"Anna, apa kau belum mencintaiku?" suasana tiba-tiba kembali berubah, sifat Louis yang kadang hangat, dingin, membuat Anna bingung


"Aku tidak tahu, tapi seandainya jika kau memiliki wanita lain aku tidak siap" jawab Anna


"Itu artinya kau mencintaiku" kata Louis menyimpulkan


"Beri aku waktu untuk menyadari perasaanku sebenarnya Lou, yang jelas aku tidak ingin kau jauh ataupun meninggalkanku" jawab Anna lagi


Louis mengangguk setuju, sebelumnya mereka sudah membahas hal ini "Aku akan menunggu, apapun jawabanmu nanti" Anna juga mengangguk mendengar jawaban Louis


"Bagaimana dengan kerusakan yang terjadi di Bandara tadi? juga Ketua RS?" tanya Anna, ia ingat dengan jelas betapa gilanya Louis tadi


"Aku akan mengurusnya besok" jawab Louis sesantai mungkin seolah hal yang terjadi adalah hal kecil


Keesokan paginya, seperti biasa Louis dan Anna bangun pagi di ranjang yang sama. Louis memaksa bangun karena Anna rewel menyuruhnya segera ke kantor


"Sepuluh menit lagi yaa" rayu Louis sembari meletakkan kepalanya di pundak Anna


__ADS_1


...{ Ilustrasi }...


"Ayoo bangunnn kau harus ke kantorrrrr" kesal Anna karena Louis terus seperti itu enggan bangun


"Aku merindukanmu" bukannya bangun ia malah semakin merapatkan tubuhnya pada Anna dan memeluknya


"Louu ayolah bangun"


"Melihatmu seperti ini aku seperti melihat masa depanku bersamamu, kau seperti istri yang sedang membangunkan suaminya" ujar Louis sembari mengendurkan pelukannya


"Memangnya kenapa? kita sudah seperti layaknya suami istri, satu atap, tidur satu ranjang, makan bersama, dll." ujar Anna


"Ayolah jangan memancingku pagi-pagi" kesal Louis kemudian ia beranjak dari ranjang karena saat Anna mengatakan hal itu tiba-tiba fikiran kotor terlintas di otaknya


"Bukankah yang ku ucapkan benar?" selidik Anna


"Wahh.. kau berhasil membuatku benar-benar bangun" ujar Louis kemudian bergegas ke kamar mandi


Anna melihat itu lantas berfikir "Bukankah benar yang ku katakan tadi?" bingungnya sendiri kemudian segera membereskan tempat tidur


40 menit berlalu Louis masih juga belum keluar dari kamar mandi, ia bingung kenapa Louis selama itu "Louuu apa kau menjalani ritual mandii kenapa lama sekaliii?" pekik Anna


Louis mengeram kesal, ia tak menjawab apapun. Ia bingung hanya dengan mendengar kata-kata Anna seperti tadi membuat tubuhnya ON.


"Louis Nicolas Vanderhyde!" pekik Anna lagi karena merasa tak mendapat jawaban


"Louuu apa kau baik-baik saja? jawab aku" pekiknya sembari menggedur-gedur pintu kamar mandi, Anna takut jika terjadi sesuatu di dalam sana


"Anna aku sedang mandi" jawab Louis, mana mungkin ia mengatakan bahwa ia sedang mencoba membuang calon anaknya


"Kenapa lama sekali cepatlah kau harus bekerja" jawab Anna kemudian suara geduran pintu tak terdengar lagi


"Ahhh sial!" lenguh Louis, kemudian ia mandi.


Ia keluar kamar dengan lesu, menatap sekeliling tetapi tidak menemukan Anna


"Anna!" serunya hingga suaranya menggema


"Aku disini, kenapa kau terlihat seperti kelelahan? apa yang kau lakukan di kamar mandi selama itu?" ujar Anna spontan


Sedetik kemudian ia menyadari ucapannya barusan dan menutup mulut "Lou, ma-"


"Kau sudah mengerti kan?" potong Louis sedangkan Anna hanya memalingkan wajahnya karena malu

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2