Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 10 Aku Tidak Mau Pergi!


__ADS_3

Lembayung senja menampakan sinarnya berwarna merah kejinggaan menembus kisi-kisi jendela. Dari bias itu suasana di dalam kamar menjadi orange kekuningan. Waktu saat ini adalah saatnya Matahari terbenam. Dean menolehkan kepalanya ke jendela. Dari siang dia sudah ditinggal. Sehabis makan siang, Nina bilang akan pergi, sore baru kembali. Namun ini melebihi waktu, sudah mau memasuki jelang malam. Dia mendesah, andai saat ini dia bisa bangun pasti akan mencari.


Kemana kau, Nina? Apa kau baik-baik saja? Pulanglah Nina, jangan buat aku cemas.


Sementara itu, di pinggiran hutan. Yang dikhawatirkan Dean sedang mendorong gerobaknya menuju rumah. Gerobak kayu beroda empat berbentuk sederhana. Yang memiliki gagang 2 di sisi kiri dan kanan tepatnya di ujung gerobak. Berfungsi buat mendorong, atau menarik gerobak. Wanita itu sehabis mencari bibit untuk tanaman-tanaman dan bunga-bunganya yang pada mati. Tentu dia tidak gampang mencari, badai semalam merusakkan setengah pulau Elvaros.


Tumbuhan masih kecil-kecil, anak dari induk pohon, dicongkel nya di tanah, dan diangkatnya sama akar-akarnya. Lumayan perburuannya. Kini bibit-bibit itu telah banyak berjajar di gerobak.


Matahari sudah tenggelam, tapi masih sedikit meninggalkan senjanya. Diantara minimnya cahaya, Nina terus mendorong gerobaknya. Dia harus bergegas sampai rumah. Nanti cahaya makin minim, bisa repot urusannya nanti karena dia tak bawa lentera. Dia pikir sore selesai, ternyata prediksinya salah.


**********


Matahari sudah sepenuhnya tenggelam kini tersisa hanya kegelapan ruangan. Bukan hanya kamar itu, satu rumah gelap gulita. Tentu wanita itu pergi tak menyalakan lampu. Gelap begini bagi Dean tidak masalah, di hutan lebih parah. Yang dipikirannya hanya Nina, Nina, dan Nina. Rasanya dia ingin memaki-maki kakinya saja.


Tak lama terdengar suara berisik di belakang, lekas Dean menajamkan pendengarannya. Karena belum tentu itu Nina, bisa saja maling. Patut bersyukur dia, karena yang berikutnya terdengar suara khas wanita tersebut.


“La la la... La la la...”


Kemudian...


Klak! Terdengar suara pintu di buka.


Tap! Tap! Tap! Suara kaki masuk rumah.


Klik! Klik! Klik! Suara lampu dinyalakan.


Sosok wanita itu terlihat dari ranjang sedang hilir mudik menyalakan saklar. Sejak pria itu menempati kamar, pintu kamar memang selalu terbuka. 


Teras, ruang tamu, dapur, gudang, belakang rumah, dan samping rumah, sudah dinyalakannya. Kini tinggal kamar depan yang belum. Nina bergegas masuk ke dalam.


Klik!


Mata mereka bersirobok. Saklar berada di samping pintu. Nina menyalakan dengan tangan meraba-raba, dan tubuh menghadap ke dalam.


“Oh! Gelap ya. Maaf, kupikir aku tidak sampai malam.”


Yang diajaknya bicara tersenyum. Mungkin dipikir wanita itu buat membalas ucapannya. Padahal Dean tersenyum karena senang sosok yang dicemaskan nya telah pulang.


“Aku bersihkan diri dulu. Nanti baru aku siapkan makan malam, dan ramuan terakhir untuk kau.”


Mengangguk. "Oke."


Nina berjalan ke lemari. Setibanya, dia menoleh.


“Hei! Kau tak perlu terus mengamatiku. Aku ini mau ambil pakaian. Apa kau mesum?”


Ya, ampun... Tentu saja, Nina bukan hanya ambil pakaian luar, namun dalam juga. Sungguh dia tak terpikir kesitu. Lekas Dean memalingkan kepalanya. Pria itu memang tidak mengalihkan pandangannya sejak melihat wanita itu.


Setelah mengambil kebutuhannya, Nina berjalan keluar. Namun setiba di pintu, dia berpaling.


"Hei!"

__ADS_1


"Ya?"


“Apa kau tidak ingin buang hajat?”


Saat sadar dalam koma, dia nggak merasakan tubuhnya mengeluarkan tanda-tanda kotoran. Saat ini dia ingin sekali. Tapi, bagaimana caranya?


Nina tahu apa yang dipikirkan orang di depannya. Dia kembali masuk, membuka laci bupet, mengambil pispot. Lalu dibawanya ke kasur diletakkannya di samping tubuh Dean.


“Kau bisa menggunakannya, 'kan? Juga, melakukannya sendiri?”


“Nanti usai aku memakainya. Biar aku saja yang buang."


“Ya, tentu saja. Masa, aku? Besok kau sudah bangun. Kalau sudah selesai, letakkan saja di bawah kasur. Besok, baru kau buang." Pamit. "Aku pergi mandi dulu.”


"Iya."


**********


“Tidak bau." Nina mengendus-endus.


Saat ini wanita itu sudah dihadapan lelaki itu. Biasa, memberi makan dan ramuan.


“Aku hanya buang air kecil.”


Nina mengangguk-angguk. Bukan karena perkataan di depannya. Baru teringat nya, kantong itu bisa ditutup. Jadi, mau itu kotoran kecil atau besar aromanya tidak menyebar.


“Kau sudah makan?” tanya Dean.


"Oke."


"Besok kau sudah bangun." Menunjuk. "Itu, tongkat kayu untuk kau.“


“Ya, aku sudah lihat. Terima kasih. Kau pasti yang membuatnya, 'kan?"


“Apa yang tidak aku bisa." Kembali menyombongkan diri menaikkan dagunya. "Semua pekerjaan laki-laki bisa kulakukan."


Tersenyum. “Kau memang wanita hebat.”


“Tentu! Oh ya juga. Lusa, aku akan beri kau uang receh. Ya, aku tahu kau nggak punya uang sepeserpun.”


Bingung. “Maksudnya?”


“Di pelabuhan ada telepon umum diantara rumah-rumah di sana. Kau bisa gunakan untuk menelpon orang markas biar mereka menjemput kau. Tapi jangan lupa..."


Terkesiap, memotong. "Maksud kau, lusa aku pergi dari sini?”


Tetap bicara. “Kau harus memberi tahu lokasi ke mereka agar...”


Memotong lagi. “Kau memintaku lusa pergi dari sini?”


Tersadar. “Ya, tentu saja. Mau apa lagi... Kau tidak mungkin tinggal di sini. Untuk pengobatan selanjutnya, biar orang markas kau yang lanjutkan."

__ADS_1


Dean menelan saliva-nya yang serasa getir. Ini membuatnya tak selera makan. Tentu dia gak mau pergi. Lagi pula, masih ada waktu untuknya kembali ke hutan. Jadwalnya kembali operasi masih 3 minggu lebih lagi, dipotong dari apa yang terjadi padanya saat ini. Gak ada salahnya dia di sini dulu, bukan?


“Kalau aku tidak mau pergi bagaimana, Nina?”


Mendelik. “Apa?”


“Kalau aku tidak mau pergi bagaimana?” Dean mengulang hati-hati. Jelas, keputusan bukan ditangannya, sepenuhnya ke si pemilik rumah ini.


“Kenapa kau tidak mau pergi?” Nina balik bertanya.


“Bukankah jika menyelamatkan orang tidak boleh tanggung-tanggung?”


“Orang markas kau bisa meneruskan. Pekerjaan mereka ringan. Aku yang lebih susah. Mereka hanya memberi kau terapi jalan saja. Jadi tanpa aku, kau bisa bergantung pada mereka."


“Tapi, aku...”


Mendadak jadi kesal, lekas memotong. “Tidak! Kau harus pergi dari sini!” Menaruh mangkok kasar ke nakas, lalu berdiri berjalan pergi. "Kau makan sendiri!"


Menahan. "Nina."


Yang dipanggil tidak peduli terus berjalan. Sungguh, hatinya nggak karuan. Pria itu harus pergi!


Setiba di dapur, dinyalakannya keran diguyurnya air ke wajahnya berkali-kali. Oh, Tuhan... Dia nggak mau masa lalu terulang lagi, jatuh cinta dengan pria asing. Memang tak bisa dijadikan patokan dia bakal jatuh cinta dengan Dean. Tapi siapa yang bisa jamin hati? Lagi pula, bukankah dia wanita terkutuk? Tak boleh dekat-dekat dengan pria? Yang kedua sudah jadi pelajaran baginya, seharusnya jangan sampai terjadi yang ketiga.


Sedangkan sepeninggal Nina, Dean melanjutkan makannya. Ya! Dia harus makan biar ada energi. Sebenarnya ada bagusnya dia lemah biar nggak sembuh jadi tinggal di sini. Tapi rasanya itu terlalu egois! Apa lagi sialnya, takutnya seperti tadi dia tak bisa mencari Nina. Cangkir ramuan terakhir tak luput ditenggaknya. Karena itu hal penting demi kelangsungan tubuhnya agar besok bisa bangkit.


Malamnya, angin sepoi-sepoi menerpa bilah-bilah kayu yang tipis di samping rumah hingga mengeluarkan bunyi.


Kreek... Kreek...


Dean dari ranjang mengamati kaki yang tertidur di sofa panjang. Dia hanya bisa mengamati dari betis hingga ke bawah, sisanya terhalang tembok.


Banyak sekali yang ingin diketahuinya. Bagaimana bisa dia di bawa ke sini? Apakah Nina sudah punya kekasih? Dan lain-lain sebagainya. Jadi, mana mungkin lusa dia disuruh pulang?


Paginya, mereka kembali berdebat saat Nina mengantar sarapan. Dean sudah ada tenaga bangun dari ranjang. Hanya duduk, tidak berdiri. Selimut digenggamnya kembali ke kiri dan kanan pinggang.


“Aku tidak mau pergi!”


Dean memutuskan terpaksa harus menjadi kepala batu. Kalau nggak begitu, dia mengikuti kemauan wanita itu.


“Hei, aku ini yang punya rumah. Kau pikir rumahku ini buat penampungan orang?”


“Ya, anggap saja begitu. Karena aku tidak mau melebarkan kakiku dari sini!” Dean terus bersikap masa bodo.


“Enak saja. Apa kau bilang? Kau...”


“Pokoknya aku tidak mau diusir!”


“Sungguh, kau pria tak tahu malu! Bi...”


“Terserah, kau mau bilang apa... Pokoknya aku tidak mau diusir! Titik!” potong Dean lagi.

__ADS_1


“Kau, kau, kau...” Bibir Nina bergetar, matanya pun memerah hingga tak bisa menyelesaikan ucapannya.


__ADS_2