Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 38 Gadis Kecil Ini Lagi!


__ADS_3

Berarti benar dugaannya, Dean tidur di peternakan. Untunglah, mereka bukan sepasang kekasih. Jadi Dean nggak begitu merepotkannya.


Steve menunggangi Rocky pelan-pelan, sambil matanya melihat pemandangan. Meski sedang diselimuti pikiran, nggak luput dia bernostalgia. Padahal kemarin sudah dilewatinya, rasanya masih belum cukup. Maklum, tiap sudut di pulau ini banyak mengandung kenangan bersama pujaannya.


PUK!


“AW!!!”


Sebuah batu kecil tiba-tiba menghantam tubuhnya. Dia memegang punggungnya sambil mengerang kesakitan. Siapa yang telah berani kurang ajar padanya! Dengan raut muka emosi dia menoleh ke belakang. Rupanya oknumnya seorang wanita bertubuh kecil nan ringkih. Dia memiringkan kepalanya.


“Rupanya kau, Gadis Kecil!”


“S-aya, s-aya...”


Clara kegugupan lekas melangkah mundur. Berurusan dengan Steve bukanlah hal benar. Kendati dia sudah tahu belang Steve, bukan berarti dia berani. Tahu sendiri orang kaya punya cara tersendiri bahkan bisa ekstrim demi menyelamatkan perbuatannya. Tidak perduli dia anak penguasa sini. Apa lagi ayahnya turut andil dalam perbuatan itu, tentunya itu juga jadi bahan pertimbangannya. Lekas dia balik badan, berlari kencang.


“HEI!" lantang Steve, segera memalingkan Rocky, mengejar.


Gedebug... Gedebug... Gedebug...


Clara kelimpungan, dipastikan dia bakal kalah. Tentunya dia hanya bermodalkan kaki. Oh, Tuhan... Bagaimana ini...?


Tubuh wanita itu semakin dekat, saat tepat di samping Rocky, pria itu segera menciduk wanita mungil itu. Menaikkan ke atas lalu dihadapkan ke depan mukanya.


Clara panik, secepat kilat dia sudah berada di depan Steve. Malangnya dia punya tubuh kecil. Gampang diangkat dan dibolak-balik.


“Berani-beraninya kau kabur setelah mencederai tubuh berharga saya, hah!” Steve menghentikan laju Rocky.


“S-aya, s-aya, nggak sengaja, Tuan." Clara terus kegugupan.


"Hei, Gadis Kecil! Kau pikir saya percaya? Bagaimana bisa kau jalan tidak pakai mata? Apakah tubuh saya yang ditemani sosok kuda sebesar ini, bisa lolos dari pandangan kau?”


“S-umpah. S-aya nggak lihat, Tuan. S-aya t-adi berjalan tidak menengok ke depan.”


“Bagaimana bisa? Apakah mata kau di taruh di belakang?”


“M-aafkan saya, Tuan. Lagi pula, mana mungkin s-aya berani mencelakai, Tuan. Tentu, saya tahu siapa Anda.”


Steve mendekat mengintimidasi lewat mukanya yang garang. Jarak diantara mereka hanya sejengkal. Clara segera memundurkan kepalanya, selain masih diliputi rasa takut, tentu risih wajah tampan Steve terlalu dekat dengannya. Dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria.


“Bagaimana saya bisa mempercayai omongan kau, Gadis Kecil?”


“T-entu, t-entu bisa, Tuan. Bukankah Anda bilang, saya hanyalah gadis kecil.”


Selain memiliki tubuh yang mungil, wajah Clara kekanak-kanakan. Orang-orang sini suka memanggilnya ‘muka bayi’. Jadi kalau orang luar melihatnya, pastinya menganggap sesuai dengan postur tubuh dan wajahnya. Padahal umurnya tidak segitu.


Sejatinya mereka berdua sering ketemu. Tentu wanita itu sering seliweran di pulau itu saat pria itu tinggal di sini. Tapi mungkin pria itu lupa, atau memang tak menganggap wanita itu nggak penting untuk diingat. Ini pun ada terbesit rasa heran di hati wanita itu. Karena selain itu, pria itu pernah sekali main ke rumahnya. Rupanya itu pun nggak membuat pria itu ingat. Padahal waktu itu mereka berbincang lama. Ketika itu pria itu ingin ketemu ayahnya. Karena ayahnya belum pulang dia jadi menemani.


Steve memundurkan tubuhnya, berikut kedua tangannya yang menghadang tubuh tawanannya. Sepertinya Clara berhasil memanfaatkan muka bayinya yang memang sesuai anggapan orang-orang.


“Turunlah...”

__ADS_1


Clara kesulitan. Tubuh kokoh Steve menyempitkan ruang geraknya. Steve menangkup tubuh mungil itu menurunkannya ke bawah.


“Terima kasih, Tuan." Clara menunduk.


Tanpa membalas, Steve memalingkan Rocky kembali memacu hewan peliharaannya itu. Clara mengamati laju orang yang membuatnya semaput setengah mati.


Fiuh!


Sementara itu di peternakan. Dean masih terduduk di kasur. Ancaman Steve rupanya membayanginya. Dia nggak boleh percaya Steve begitu saja, meski bersedia taruhan padanya. Karena orang kaya memiliki tabiat gengsi tinggi. Bisa saja berubah pikiran melaporkan ke kesatuannya. Maka tamat sudah kariernya. Sungguh memalukan jika tentara dikeluarkan dari kesatuan dengan cara tidak terhormat.


Dia ini sebenarnya bukan lari dari tanggung jawab. Bukan tidak mau memberi tahu bahwa masih hidup. Tentu, itu tidak benar. Dia akan memberi tahu pada saatnya nanti, kembali bertugas ke pulau Tartan.


15 menit kemudian, dia kembali melakukan aktifitas yang tadi tertundanya. Saat dia sedang menyapu area perapian, dia melihat Nina lagi duduk termenung di meja makan.


Srekkk... Srekkk... Srekkk...


Dia terus menyapu sambil curi-curi mata. Entah apa yang dipikirkan wanita satu itu hingga tidak menyadari keberisikan yang dilakukannya.


Beberapa saat kemudian, pria itu sudah selesai lalu duduk di bale. Wanita itu pun sudah nggak termenung. Saat ini lagi menyiapkan sarapan untuk orang yang di luar. Dibawanya keluar dan diletakkannya di bale.


“Itu, sarapanmu.”


"Kamu?"


"Aku sudah sarapan."


Bersama Steve?


“Sehabis ini tidak ada pekerjaan untukmu.”


“Begitu ya?”


“Iya.” Nina berjalan pergi.


Menggapai tangan. "Nina."


Menoleh. “Apa?”


“Masalah semalam...”


Memotong. "Aku tidak mau membicarakannya."


Dean melepaskan pegangannya. Ya! Semalam bukan hanya ada rasa emosi, sebagai perempuan pastilah Nina ada rasa malu.


**********


“Clara...,” panggil ayahnya.


Clara terkejut ada suara yang sangat dikenalinya di belakang tubuhnya. Lekas dia buru-buru jalan cepat nggak mengindahi. Dari tadi dia sedang mutar-mutar jalan, malas pulang ke rumah. Tentu dia belum siap melihat ayahnya setelah tahu semuanya.


“Clara...,” panggil ayahnya lagi.

__ADS_1


Clara tetap terus berjalan. Ayahnya berhenti melangkah menatap pola tingkah anaknya yang seperti pura-pura nggak mendengar. Ada apa dengan anaknya ini? Apa masih marah hal kemarin? Tentang maklumat yang belum dicabutnya?


Pagi telah berlalu, siang telah datang. Nina duduk di ruang tamu dengan hati was-was. Dia masih nggak menyangka atas keputusannya tadi menyetujui permintaan Steve. Itulah yang dari tadi dilamunkannya. Apa lagi ini sudah jelang siang, sungguh dia cemas sekali. Benarkah dia siap memberi kesempatan ke Steve? Benarkah hatinya nanti akan bisa menentukan yang terbaik untuknya?


Dia mengucek-ucek rambutnya. Dia ini sebenarnya kenapa? Ada apa? Bukan, bukan, bukan itu sejatinya yang dipikirkannya. Mengapa ada bayangan Dean ditengah kecemasannya? Ini sebenarnya ada apa? Apakah dia takut nanti tidak berlaku adil ke Dean? Tapi kenapa? Kenapa juga dia punya perasaan itu?


10 menit berlalu, dia bangun dari duduknya, seusai dengar suara pintu pagarnya di buka. Steve masuk ke dalam, Nina membuka pintu.


“Kamu sudah siap, Sayang?”


“Mm,” jawab Nina datar.


Steve mengulurkan tangan, Nina ragu-ragu menerima, tapi nggak urung juga digapainya. Mereka berjalan keluar. Steve membantu Nina menaiki Rocky, nggak lama dia menyusul.


Saat mereka berjalan, Dean yang lagi membuka pintu pagar samping rumah, berniat mau ke kamar mandi, terpana lihat pujaannya pergi dengan saingannya.


"Mau kemana mereka?"


Nina diatas kuda sedikit canggung. Steve berada di belakang tubuhnya. Ditambah lagi aroma tubuh Steve mengingatkannya dulu mereka bersama.


Steve memajukan kepalanya, meletakkan mesra di salah satu sisi kepala Nina, berikut salah satu tangannya melingkar erat ke pinggang.


“Ini adalah salah satu momen yang kurindukan. Berkuda berdua denganmu, dan memelukmu.”


Meronta. "Lepas!”


“Tenanglah, Sayang... Kamu butuh dekapan dariku, nanti kamu jatuh.”


“Aku bisa berpegangan dengan tali.”


“Itu tidak bisa menjamin, Sayang... Kalau aku memacu Rocky kencang, bagaimana? Mm?”


Nina cemberut, Steve mengancam. Dia memejamkan matanya untuk menahan gejolak dibathinnya.


“Hei!” teriak Steve, menghentikan laju Rocky.


Sontak Nina membuka mata, jelas terkejut mendadak orang di belakangnya berubah lantang. Rupanya ada sesosok yang menghalangi jalan mereka.


Wanita bertubuh kecil itu menoleh, dengan raut wajah panik segera meminggirkan tubuhnya.


“Gadis Kecil ini lagi! Apa kau jalan tidak pernah pakai mata?!"


Wanita itu memang kerjaannya mengukur jalan. Sehabis tadi dipanggil ayahnya, dia lanjut begitu. Tadi saat pria itu mau ke rumah pujaannya, kebetulan dia sedang beristirahat di atas batu. Makanya jadi tidak ketemu.


“M-aafkan saya Tuan,” gugup Clara.


Geram. “Kau ini...!"


Ada yang lebih penting, yakni wanita yang dipeluknya, Steve akhirnya kembali memacu Rocky. Seberlalu mereka, kali ini Clara yang terkejut lihat teman barunya ada di belakang mereka. Rupanya Dean mengikuti. Teringat perbuatan ayahnya, lekas dia berjalan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Kasih rating bintang 5, like & komen. Kalau suka novel ini, tinggalkan jejakmu Gengs...


__ADS_2