
Nina melangkah gontai diliputi wajah murung. Ternyata dia nggak bisa di rumah. Bayangan Dean selalu ada dimana-mana. Sebenarnya dia balik ke pantai sama saja, kenangan Dean juga ada di situ. Bahkan di situ lah awal mula mereka bertemu, dan ditempat itu juga Dean menyatakan cinta.
Ini sungguh miris! 3 kali dia mengalami hal ini. Pertama ditinggal mati kekasihnya, kedua Steve pergi tidak ada kabar, dan sekarang ini. Ketiga pria itu menghantui hidupnya di sini.
Dia mendudukkan tubuhnya di atas pasir setiba di sana. Dengan kelopak mata sayu dia memandangi laut lepas. Biarlah dia di sini, mengenang sambil melihat pemandangan alam. Meski di sini pun ada kenangan. Dari pada di rumah, meratapi tanpa menjernihkan pikiran.
Lucunya seharusnya dia sudah terbiasa akan hal ini. Kenapa ke Dean beda? Apa karena kedua pria sebelumnya yang hadir di hidupnya, mati? Yah... Tahu, Steve tidak mati, tapi kan ketika itu dia tahunya begitu. Apa mungkin karena itu dia jadi hanya menangis tanpa ada kemelut lain di hatinya? Istilahnya yang terjadi sudah suratan takdir. Tidak seperti Dean, pergi dari hidupnya karena mulut jahatnya. Jujur, dia sangat terpukul sekali akan hal ini.
Kalau sudah begini, bagaimana nanti dia dengan Steve? Apakah nanti hubungan mereka baik-baik saja? Ataukah terjadi prahara? Bukankah kalau Dean terus tertanam dipikirannya, berarti dia sudah membohongi Steve? Itu akan berbuah menjadi ketidaktulusannya ke Steve?
“Em... Em..."
Wanita itu meronta-ronta ada seseorang tiba-tiba membekap mulutnya, dan memeluknya dari belakang. Dia terus berusaha keras keluar. Tapi usahanya sia-sia. Selain karena pria, tapi orang itu dibantu oleh temannya. Kaki dan tangannya di ikat oleh mereka, berikut mulutnya di lakban. Lalu tubuhnya di bawa ke kapal.
Sungguh sial, jika saja wanita itu di rumah. Mungkin tidak terjadi hal ini. Akibat melamun wanita itu pun nggak menyadari ada kapal yang berlayar mendekat.
Harusnya orang-orang itu memarkirkan kapal di pelabuhan. Tapi karena melihat ada kapal mewah di sana, terpaksa jadi mengurungkan niat, dan membelokkan ke sini. Mereka bukan takut... Hanya harus waspada. Karena siapa tahu pemilik kapal itu orang penting. Jelas, mereka harus membuat strategi dulu sebelum menyerang. Tahu sendiri, orang seperti itu pasti memiliki orang terlatih yang selalu menjaga 24 jam disekitarnya.
Ini pun sebenarnya membuat mereka heran. Oang penting siapa yang menyinggahi kapal mewahnya ke pulau ini. Untuk pejabat rasanya tak mungkin. Boro-boro mau menengok, pulau sekitar sini tidak terurus saja tidak perduli. Lagian, masa iya, pejabat punya kapal semewah itu? Tapi ngapain juga orang kaya ke sini? Biar begitu, sebenarnya justru atas ini mereka senang. Kalau mereka ada menangkap kakap, jelas tebusan yang mereka inginkan jadi mudah.
Tentu orang kaya nggak ingin mati konyol. Mau nggak mau pasti bantu bernegosiasi ke pemerintah. Lantas, pemerintah bisa apa? Pasti akan menuruti kemauan orang itu. Bukankah penghasilan pajak dan lain sebagainya terbesar dari orang kaya?
Usai wanita itu dibereskan, mereka lekas menuju pelabuhan. Sebagian nggak ikut menjaga kapal.
Mereka langsung berpencar setiba di sana. Mengamankan posisi area-area penting. Sebagai warga tetangga, tentu mereka tahu daerah situ.
Karena tampang sangar, dan senjata yang mereka bawa. Wajar, warga pelabuhan pada ngeri bercampur bingung. Apa lagi dipastikan bukan warga sini.
Semua sudah pada diposisi. Sudah saatnya mereka membuat kehebohan. Orang yang mengambil posisi area kapal mewah segera melempar granat.
BOOOMMM...!!!
Bukan depan kapal mewah itu yang hancur malah pintu tahan dari mesium tertutup otomatis, lalu kapal berlayar pergi. Anak buah Steve yang berdiri di bawah kapal. Menjaga tangga penghubung kapal ke dermaga, pada melongo. Selain terkejut ada ledakan, tapi nelangsa ditinggal kapal. Begitu pula yang meledakkan, bengong.
“Sial! Canggih sekali kapal itu,” gerutu salah satu dari mereka.
“Iya, gak jadi kita dapat mangsa besar," balas rekannya.
“Hei! Siapa kalian!” Seorang anak buah Steve berseru.
Lalu terjadi pergumulan mereka saling baku hantam.
Akibat ledakan semua warga jadi pada histeris. Semua orang pada panik lari ke sana ke sini demi menyelamatkan diri. Yang di rumah, yang tadinya mau keluar mau tahu apa yang terjadi, jadi masuk lagi, dan mengunci pintu rapat-rapat.
Anggota separatis segera bergerak menangkap mereka. Yang melawan ditembak. Kedua orang tua Clara termasuk yang melawan. Sebagai penguasa wilayah tentu nggak terima daerah kekuasaannya diobrak-abrik. Begitu pula istrinya juga begitu. Akhirnya kedua orang tua Clara mati naas.
Warga yang tersisa dikumpulkan jadi satu. Semua diikat dan dilakban seperti sandera mereka yang pertama. Satu orang komplotan itu memakai walkie talkie menghubungi rekannya yang berada di kapal. Meminta kapal segera merapat. Tentu biar mudah mengangkut semua sandera yang ada di situ.
1 jam kemudian, di markas.
Dean dan Ketua Regu lain dipanggil. Mereka datang menghadap Komandan Peleton. Komandan habis dapat laporan terjadi penculikan. Kemudian disuruh bersiap-siap karena mereka mau diturunkan.
“1 jam lagi kita akan berangkat,” tutur Komandan memulai percakapan.
“Berangkat?” Mereka pada bingung, karena belum waktunya.
“Telah terjadi penculikan di pulau Arceine dan Elvaros.”
Pulau Arceine adalah pulau yang nggak jauh dari pulau Elvaros.
“Elvaros?” pekik Dean.
“Iya. Kejadian itu terjadi setelah beberapa jam kamu pergi dari sana.”
Pria itu seketika pucat. Tentu dia mengkhawatirkan sekali wanita yang masih dicintainya.
“Warga banyak yang mati, dan ada yang dijadikan sandera. Sisanya selamat karena tidak ditempat kejadian perkara," lanjut Komandan.
Dean melotot. Mati?!... Oh! Tidak, tidak, jangan katakan salah satu mayat di sana adalah Nina. Sekujur tubuhnya mendadak keringat dingin. Mukanya pun makin pucat pasi. Karena andai saja dia bersikeras tidak pergi, pasti Nina diselamatkannya.
“Mereka menyandera untuk menebus ketua mereka yang berhasil ditangkap oleh Peleton 2. Pemerintah tidak mau menuruti kemauan mereka. Jadi kita diperintahkan untuk bantu Peleton 2 menyelamatkan warga yang disandera. Berhubung anggota Peleton 2 banyak yang mati. Kita akan bertemu dengan Peleton 2 di area yang telah ditentukan.”
Jadi setelah semua sandera di tangan, kelompok separatis itu kembali ke hutan bergabung dengan rekan mereka yang lain di sana. Saat itu Peleton 2 mencium kedatangan mereka, namun kontak senjata tidak berlangsung lama. Karena Peleton 2 bingung ada banyak orang yang diikat-ikat bersama mereka. Dari pada ambil resiko. Karena dilihatnya seperti warga sipil. Komandan Peleton 2 menghubungi markas, saat itulah markas mengecek dan mengetahui pulau Elvaros dan Arceine habis diobrak-abrik mereka. Selain itu juga nggak lama markas dapat panggilan dari pemerintah pusat. Ya, memberitahu tentang penculikan itu. Karena anggota separatis itu ada yang menghubungi pemerintah. Namun pemerintah tidak langsung menyanggupi kemauan mereka. Hanya bilang minta waktu. Biasa, agar kelompok separatis itu tidak menyakiti sandera. Sekaligus mengulur waktu untuk menyelamatkan sandera. Karena itulah Peleton 1 berangkat.
“Siap Dan,” jawab mereka serempak termasuk Dean.
Biar hatinya lagi kacau balau, tapi kalau yang namanya tugas negara memanggil, urusan pribadi harus dikesampingkan. Inilah hal yang menyedihkan jika tentara pergi perang, dan dihadapkan situasi ini. Disatu sisi harus fokus, disisi lain hati lagi berkecamuk.
Seusai rapat, mereka keluar ruangan dan bersiap-siap. Dean berulang kali menyemangati diri, dia harus berpikiran positif. Dia tidak boleh cepat menarik kesimpulan karena tidak ada disitu. Bisa saja Nina tidak mati, bisa saja Nina beruntung nggak ketangkap karena berada ditempat lain
Pria itu mencoret kedua pipinya dengan warna hijau lumut dan hitam pekat. Coretan yang biasa dipakai tentara untuk mengelabui musuh saat bertugas di hutan. Sesaat kemudian, dia dan rekan-rekannya sudah siap.
Beberapa heli sudah parkir di lapangan. Mereka segera masuk dan heli terbang tinggi. Setiba di lokasi, mereka bergabung dengan Peleton 2. Para petinggi masing-masing Peleton, dan para ketua regu langsung melakukan pertemuan.
“Mendengar suara bising heli, pasti mereka tahu ada kedatangan pasukan tambahan dari kita,” ujar Komandan Dean.
“Nggak masalah, karena saat ini mereka pasti gak ingin posisi mereka diketahui. Pasti mereka hanya melihat nggak ingin melakukan gencatan senjata dengan kita,” balas Komandan Peleton 2.
__ADS_1
“Ya, benar juga. Lantas, bagaimana? Apa kita mau berangkat bersama-sama atau berpisah?”
“Kita bersama-sama saja. Karena salah seorang dari mereka ada menghubungi pemerintah, jadi kita tahu titik terakhir mereka berada dimana.”
Tersadar. "Oh iya."
Biasa, dapat melacak lewat jaringan seluler. Kan memang dari pihak separatis ada yang menghubungi pemerintah saat meminta tebusan.
Lalu Komandan Peleton 2 menggelar peta di tanah, dan menunjuk titik di peta. Yang lain pada memperhatikan.
“Mereka berada di posisi ini. Nanti kita berhenti berapa meter dari lokasi. Selain untuk memastikan apa mereka masih ada di sana, juga mendiskusikan bagaimana penyerangan kita.”
“Oke,” ujar Komandan Dean.
“Kalau begitu, ayo kita bersiap.”
Singkat cerita, mereka sudah tiba ditujuan. Saat melakukan penyisiran. Mereka mencium aroma bakaran. Cukup pintar musuh bersembunyi bermodalkan tebing tinggi, namun tidak cukup pintar memikirkan hal lain. Tentu aroma bakaran kemana-mana.
Setelah itu mereka turun dari bukit untuk mengatur strategi dulu Seperti tadi, orang yang berkepentingan saja yang menghadiri rapat. Dan inti dari pertemuan, karena berhubung ini sore, mereka akan menyergap malam. Susunan strateginya mereka mengitari bukit mengepung dari segala arah. Nanti regu yang berada di dekat tenda sandera harus fokus menyelamatkan sandera. Selagi yang lainnya mengalihkan separatis dengan perang.
Beruntungnya Dean dapat posisi di situ. Dia jadi dapat memantau apakah Nina berada diantara para sandera.
Kuk... Kuk... Kuk...
Auw....
Suara tautan burung hantu dan lolongan serigala mengisi gelapnya malam. Diantara pepohonan dan pekatnya malam, pasukan terus bergerak menuju posisi masing-masing. Tak lama Dean tiba di posisinya, dia segera menggunakan teropong lensa malam untuk mengetahui pergerakan musuh di posnya. Tak lama dilihatnya wanita yang tak ingin dimilikinya sedang dikeluarkan oleh salah seorang kelompok itu. Seketika dia terbelalak.
Yah, Tuhan... Ternyata ada Nina.
“Lekas, bawa ke sini!” perintah yang meminta.
Sepertinya posisinya penting. Sebab orang yang membawa Nina, dan yang lain pada sungkan dengan orang itu. Kemungkinan asisten ketua kelompok itu karena memang tidak ketangkap. Nina didudukkan paksa ke depan orang itu. Kemudian orang yang duduk di sebelah orang itu, takut-takut bicara.
“A-pa yang kita lakukan ini t-idak benar, bukankah visi kita memerdekan pulau kita. T-anpa melukai warga p-ulau kita dan disekitaran p-ulau kita. P-asti, ketua kalau t-ahu hal ini akan marah."
Dari awal dia tidak setuju atas tindakan beringas rekan-rekannya. Ide menculik untuk meminta tebusan bagus, namun jangan melukai. Apa lagi sampai membunuh. Karena tujuan mereka selain ingin merdeka memajukan pulau, tapi juga ingin membantu pulau sekitaran mereka yang sama tidak terurusnya oleh pemerintah Andaron.
Orang itu kesal langsung menampar keras rekannya itu.
PLAK!
“Kamu ini dari tadi banyak bicara! Kalau kamu bicara lagi, aku akan mengikatmu di pohon! Dan meninggalkanmu di sini! Biar kamu mati dimakan binatang buas! Ingat! Aku kini yang memimpin, sebaiknya kamu ikut aturanku! Juga, ingat! Kalau kamu berani melaporkan hal ini saat ketua nanti kembali, aku gak akan segan-segan memusnahkanmu!”
Orang itu ketakutan sambil memegang pipinya kesakitan. Lalu orang yang sok berkuasa itu fokus ke wanita cantik di depannya, membuka lakban.
Nina meringis kesakitan, namun sehabis itu meludahi.
Orang itu mengelap air liur yang menempel di wajahnya.
“Rupanya kau cukup berani ya, Nona Cantik."
“Kau memang pantas diludahi! Kenapa kau melukai kami?”
Membelai lembut wajah. "Itu bukan urusanmu, Sayang. Tapi disini yang harus kau ketahui, aku senang ada wanita cantik diantara tawanan kami, dan juga senang wanita galak. Wah, aku jadi nggak sabar ingin melihat bagaimana keliaranmu.”
Nina melotot. Apa maksudnya? Perasaannya langsung nggak enak. Orang itu menolehkan kepalanya ke rekannya yang baru datang. Dengan nada nggak sabaran dia menanyakan tempat yang dimintanya apa sudah siap. Mendengar itu Nina langsung angkat suara.
“Apa yang mau kau lakukan?”
"Ya, sudah siap," balas yang disuruh.
Tanpa merespon yang dirisaukan wanita itu, asisten ketua itu menarik paksa tubuh yang didambakannya untuk ikut dengannya.
Nina terus meronta-ronta berusaha keras untuk lepas. Baiklah, bila dia berhasil kabur dan lari ke hutan pun pasti mati. Tapi dari pada di hidup dihantui yang terjadi hari ini. Lebih baik dia memilih yang pertama. Dia harus cepat mencari cara.
Sementara itu di sana. Seketika raut wajah Dean panik. Asli! Dia ingin sekali terjun menolong, tapi masalahnya belum ada instruksi.
Sekali lagi beruntungnya Dean, saat Nina menggigit tangan yang dilanjutkan menendang buah sakti orang itu. Orang itu langsung jatuh tersungkur ke bawah. Biar begitu berteriak lantang memberi tahu anak buahnya.
"Kejar wanita itu!!!"
Nina terus berlari hingga masuk ke dalam kegelapan. Sontak Dean lekas bangkit, mengejar tambatan hatinya. Saat itu kebetulan terdengar suara letusan dari pos komandan. Yang artinya perang telah dimulai. Terang saja, bukan hanya Dean, tentara yang lain juga menyaksikan hal itu. Maka dari perang dimulai karena sandera dalam bahaya.
Yang lain pada perang, Dean lebih mengutamakan wanita yang masih bersemayam dihatinya. Karena memang juga tugasnya menyelamatkan sandera.
Letusan senjata yang terjadi membuat gerombolan itu terperangah. Mau nggak mau fokusnya jadi ke perang. Membiarkan wanita itu lari.
Nina dengan nafas terengah-engah terkejut ada bunyi letusan, namun karena nggak tahu itu siapa, dia tetap berlari. Namun nggak lama tubuhnya bertubrukan dengan seseorang. Dengan tubuh gemetaran dia mencoba melihat.
Oh Tuhan... Apa aku ketangkap?
“Ini aku."
Karena gelap, ditambah lagi coretan di wajah, wanita itu jadi nggak mampu mengenali orang di depannya. Tapi suara yang familiar di telinga, entah mengapa membuatnya tetap bertahan. Tidak berusaha mengambil langkah seribu untuk menghindari.
Dean meraih tangan, menggenggam hangat.
__ADS_1
“Ini aku, Nina Arnante."
Perlahan-lahan air mata Nina bergulir. Ternyata keputusannya tepat! Suara orang itu, dan namanya dipanggil, siapa lagi kalau bukan orang yang dicintainya. Dean lekas merengkuh, Nina lekas menangis sesunggukan.
“Tenanglah... Sudah, tidak apa-apa. Sekarang kamu aman.” Dean menepuk-nepuk pelan punggung.
"Huhuhu... Huhuhu..." Nina tetap menangis kejer.
Peperangan berlangsung sengit. Peluru pasukan yang berdatangan dari berbagai arah nggak menggentarkan kelompok itu. Padahal sudah dikepung tentara, tapi jiwa perang kelompok itulah yang tidak menyurutkan setitik pun. Lagi pula, sebelumnya mereka sudah berdiskusi. Jika keberadaan mereka tercium segera membagi anggota menjadi 3. Tim pertama mengurus sandera, kedua barang-barang, terakhir perang.
Nina telah diamankan dibawa Dean ke anak buahnya bagian yang mengurus P3K. Lalu dia langsung memimpin timnya bergabung dengan yang lain.
Perlawanan antara kedua belah pihak terus berlangsung ditengah hutan belantara yang mencengkam.
Dean bersama pasukannya terus bergerak mendekati tenda target. Sandera banyak menjerit-jerit saat ditarik paksa keluar tenda oleh mereka secara kasar dan asal-asalan. Ada yang di jenggut, di seret pakai tangan, di lempar keluar serampangan, serta lain sebagainya.
Untungnya penembak jitu jarak jauh membantu regu Dean cepat mendekat. Sniper memang disuruh para Komandan untuk memfokuskan musuh yang menjaga sandera.
Banyak yang bergelimpangan. Sisanya, terjadi pergumulan. Perampasan sandera antar tim Dean dengan orang-orang itu. Rupanya meski teman mereka banyak yang mati, mereka tetap bersikeras mempertahankan tawanan.
Tapi apapun ceritanya, mau bersusah payah pun jatuhnya sia-sia. Karena posisi kelompok itu ditengah bukit dan dikepung. Jadi tentara dengan cepat memenangkan pertempuran.
Tentara mengikat anggota kelompok itu yang masih hidup satu persatu. Yang mati, dimasukkan ke kantong jenazah. Begitu pula untuk tentara yang mati. Para sandera sudah dikumpulkan jadi satu, dan diberi pengobatan, serta minum, juga cemilan seadanya dari tentara.
Nina berada diantara mereka. Dia duduk di atas batu dengan tubuh diselimuti kain dari Dean. Tadi Dean tiba-tiba datang menyelimutinya dari belakang. Kedua matanya memperhatikan orang yang masih memperhatikannya itu. Yang lagi sibuk dengan pasukannya.
Setelah urusan beres, sesaat kemudian mereka semua berangkat menuju titik penjemputan. Tadi para Komandan Peleton sudah berdiskusi, dan menentukan titik mana minta dijemput.
Sepanjang jalan Nina kesusahan melangkah, begitu pula sandera yang lainnya. Maklum daerah situ berbeda dengan hutan tempat tinggal mereka, selain itu mereka masih pada lemas.
Dean datang menemui Nina muncul dari belakang.
“Bisa?”
Menoleh. “Bisa.”
Jongkok. “Ayo, naiklah.”
Terpana. “Ah, tidak usah."
“Tidak apa-apa, lihatlah... Yang lain juga dibantu kami.”
Nina mengamati sekitar. Benar, sandera yang lain lagi pada dibantu oleh tentara.
“Ayo naik, Nina... Jangan buat tentara tampanmu menunggu,” tegur salah seorang warga Elvaros menggoda.
Tentu warga Elvaros hapal wajah Dean. Pipi Nina langsung menjambu. Dia jadi rada malu-malu mendekatkan tubuhnya ke punggung di depannya.
Setelah Nina menempel, Dean langsung menaikkan ke atas.
“Kalau kamu kedinginan peluk saja aku.”
Pipi Nina kembali semu, kembali malu-malu mengalungkan tangannya. Dijalan, rasanya Nina ingin merebahkan kepalanya ke samping leher pria yang disesalinya pergi dari hidupnya. Atas segala peristiwa ini, dia jadi sadar keputusannya salah. Bukan salahnya, Steve berkorban dan menderita demi hidup bersamanya. Steve mengambil keputusan itu tanpa kompromi padanya. Kenapa dia harus bertanggung jawab akan hal itu? Seharusnya dia nggak boleh mengorbankan perasaannya, lelakinya adalah Dean. Lihatlah... Betapa bahagianya dia bertemu Dean.
Mungkin pertemuannya dengan Dean adalah takdir. Seperti kata Dean dia adalah mataharinya. Sesungguhnya itu juga terjadi pada dirinya. Dean adalah mataharinya pengganti sosok Brian yang selalu terkenang di hatinya bersama bunga-bunga cantik mataharinya. Dia pikir hidupnya akan berakhir setelah Brian tiada, ditambah lagi kedua orang tuanya tiada. Dia pikir setelah ketemu Steve semua akan baik-baik saja. Tahunya, dia malah menjalani nasib makin terpuruk. Hidup seperti mayat, setelah Steve pergi tidak ada kabar, dan warga Elvaros mengutuknya, lalu menjauhinya. Dan kehadiran Dean memberinya warna mengobati sudut-sudut sembilu yang selama ini ditutupnya rapat-rapat. Karena dia selalu membungkusnya tegar tampil di depan orang demi tidak ada yang boleh meremehkannya. Bersama Dean dia seperti mendapatkan secercah harapan bahwa hari esok masih ada. Sedangkan Steve? Yang terjadi pun adalah takdir. Bukankah Steve jadi mandiri, dan menjadi pria sukses dengan kehidupan mewahnya sekarang?
“Apa yang kamu lamun, 'kan? Mm?" Dean membuyarkan lamunan wanita di belakangnya. Karena sedari tadi diam saja.
“Kalau kamu lelah, bersandarlah di pundakku,” lanjutnya.
Nina melotot. Dean seperti tahu saja apa yang diinginkannya. Perlahan dia menjatuhkan kepalanya. Dean tersenyum kecil atas sikap malu-malu Nina sedari tadi.
Mereka tiba ditujuan. Karena terkendala gelap malam, para Komandan peleton memutuskan untuk minta dijemput pagi saja, dan memberitahu markas. Kemudian mereka pada mendirikan tenda.
Dari malam hingga mau menjelang subuh, pria itu tidak bersama wanita itu. Dia sibuk dengan urusannya.
Matahari sedikit lagi mau terbit. Nina jadi makin resah. Sehabis ini pasti mereka tak bertemu. Setiba di markas, mereka pasti langsung berpisah. Apa mungkin Dean menjaga jarak, karena dia telah memutuskan hubungan diantara mereka?
Ya, Tuhan... Bagaimana ini... Aku nggak mau kehilangan pria loreng itu lagi. Aku menyesal, telah menjauhkan pria tulus itu dari hidupku. Aku ingin dia kembali.
Saat Matahari memunculkan sinarnya, dan semua pasukan sudah selesai membereskan tenda. Lekas Nina menemui Dean, mengajaknya bicara di bawah pohon besar.
“Ada apa?” tanya Dean.
“Aku ingin menarik omonganku.”
Bingung. "Omonganmu? Yang mana? Maksudnya?”
“Aku mencintaimu."
Dean terkesima, namun per-sekian detik berubah tersenyum kecil atas ucapan tanpa basa basi Nina. Dia langsung melangkah. Merapatkan tubuhnya lebih dekat. Perlahan mendekatkan wajah. Bersikap blak-blakan juga. Nina tahu apa yang mau dilakukan di depannya. Dia segera memejamkan matanya. Sebelum Dean menjatuhkan bibirnya, dia berkata.
“Aku tahu, Sayang...”
Hah? Tahu?
Belum sempat Nina bertanya, Dean langsung ******* bibir yang kini sudah jadi kekasihnya.
__ADS_1
Diterbitnya Matahari mereka bertemu, dan di bawah sinar ini pula mereka bersatu. Mereka banyak mengalami hal pahit dikehidupan lalu. Kini saatnya mereka menyongsong hidup baru.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=END\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=