
Krek... Krek... Krek... Suara kursi goyang, bergoyang.
Wanita yang memiliki paras jelita sedang duduk di sana menyulam pakaian. Ini sudah sulaman ketiganya dari 2 hari orang yang tidur di ranjangnya belum siuman. Dia mempersiapkan untuk dipakai pria itu ketika sadar.
Sebenarnya dia punya pakaian pria di gudang. Pakaian milik ayahnya yang sudah meninggal, dan juga ada pakaian orang lain. Namun kedua hal itu nggak mau diberinya. Makanya dia membuat sulaman. Sulaman dari bahan wol hasil dari menguliti milik dombanya sendiri. Wanita itu anak tunggal, kedua orang tuanya telah tiada. Sedangkan sanak saudaranya entah kemana.
Dean sudah di beri ramuan, baik itu di dada dan di kaki. Peluru yang bersarang di dua area itu juga, sebelum di kasih obat sudah dikeluarkan. Wanita itu memetik tanaman-tanaman miliknya sendiri di rumah, sisanya mencari disekitaran. Buat pertolongan pertama, dia memakai bahan yang ada di tangan. Berikutnya, baru mencari disekitaran. Hasil petikannya semua ditumbuk jadi satu lalu di balur. Nanti sudah waktunya diganti. Dia juga ada mengobati luka akibat ulahnya kemarin yang tergores semak belukar. Nggak luput yang terbentur lereng tebing. Meski dia tak tahu itu luka karena apa, diobatinya saja. Memang yang paling utama ialah tembakan di dada, itu yang fatal! Untungnya, luka itu tak bersarang di jantung.
Sesekali wanita itu melihat ke ranjang, apakah pria itu bergerak? Kemudian lanjut menyulam lagi. Sejak pria itu tidur di ranjangnya, dia tidur di sofa panjang di ruang tamu. Pintu kamarnya selalu dibiarkannya terbuka supaya dia bisa mendengar kalau ada bunyi dari dalam kamarnya. Tadi malam, mungkin karena sangat lelah, sehabis mengganti ramuan, dia tertidur pulas di samping tubuh asing itu.
Sebenarnya jauh dari sepengetahuannya, orang yang dirawatnya sudah sadar beberapa jam setelah dia memberikan pengobatan pertamanya. Namun Dean nggak bisa membuka mata. Menggerakkan tubuh pun tidak bisa. Hanya bisa mendengar saja.
Jadi dia tahu ketika wanita itu menyentuh tubuhnya mengobati luka-lukanya. Kadang pun dia mendengar wanita itu bersenandung. Yang satu dapat diterkanya, pasti bersenandung sedang duduk di kursi goyang. Dari hasil suara kursi tersebut. Yang lainnya, tak tahu dimana. Pastinya, jarak wanita itu dekat disekitarnya. Selain itu, kadang juga dia mendengar wanita itu mengumpat-umpat dirinya.
Semalam tentu dia juga tahu wanita itu tidur di sampingnya. Lewat hawa panas yang menguar menyentuh seluruh permukaan kulitnya, serta dengkuran-dengkuran kecil yang didengarnya sangat menggemaskan.
Aroma tubuh wanita itu harum sekali. Harum bunga. Pastinya, dia nggak tahu harum bunga apa. Namun gara-gara itu, di atas ketidaksadarannya gairah kejantanannya muncul, brengsek sekali! Membuatnya harus memaki-maki dirinya berulang-ulang. Sangat tak tahu diri, dan tidak pantas!
Ingin sekali dia membuka mata. Melihat seperti apa wajah penyelamat hidupnya. Andai tadi malam dia sadar. Sudah pasti juga pikiran kotornya semalam ditepisnya. Pasti dia akan segera menolehkan kepala memandangi wajah di sampingnya. Selanjutnya, akan mencuri ciuman di kening. Ya! Dia sangat berterima kasih sekali atas apa yang diperbuat wanita itu padanya.
“La la la... La la la...” Wanita itu bersenandung.
Krek... Krek... Krek... Kursi goyang, bergoyang.
“Kau ini benar-benar sangat menyusahkan! Sampai kapan kau akan terus tertidur?”
“Kau ini kan tentara. Masa, tidak bisa melawan pikiran dan sakit yang kau derita?”
Ya! Wanita itu pasti tahu dia tentara. Jelas, dia ditemukan dengan seragam melekat di tubuh.
“Tentara macam apa kau? Masa, tidak punya kemauan untuk bangkit?”
“Aku sudah mengobati semua luka di tubuh kau. Sampai yang paling fatal sekalipun! Pasti obatku itu sangatlah manjur! Seharusnya hari ini kau sadar."
"Argh, kau sangat menyusahkan!”
Drap! Suara kaki berdiri.
Slash... Slash... Slash... Suara kain digerai.
Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki.
Orang yang mengomel itu mendekat menggerai-gerai kain di atas dadanya. Ini sudah ketiga kalinya dia merasakan hal ini. Entah apa... Pastinya, dia hanya mendengar... 'Cocok', dan 'Mm... Pas!”
“Ha...,” desah wanita itu.
__ADS_1
“Masih ada lagi yang harus aku kerjai. Sebenarnya aku malas. Namun menimbang nanti kau sadar tidak mungkin bisa melakukan. Ya, sudah. Tunggu sini. Aku akan kembali 2 jam.”
Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki pergi.
Dean mendelik. Memang apa yang mau dilakukannya? Oh, Tuhan... 2 jam itu sangat lama. Tidak bisakah wanita itu di sini saja? Kalau itu merepotkan, biarlah nanti saat bangun dia saja yang mengerjakan. Yang penting wanita itu ada di sini bersamanya.
**********
Pulau yang didiami wanita itu bernama pulau Elvaros. Pulau yang berada disekitaran pulau Tartan tempat tugas Dean. Merupakan pulau kecil. Meski kecil, pulau itu memiliki hutan yang tentunya luasnya disesuaikan dengan kapasitas pulau tersebut.
(Gambar hanya ilustrasi)
Wanita itu berjalan di tengah hutan membawa kapak dan tali. Dia ingin menebang pohon yang ukurannya tidak besar, tapi kekuatan pohon itu harus sangat kuat. Dia ingin membuat tongkat kaki. Pastilah, pria itu nanti sadar tak mampu berjalan. Karena itu tak mampu membuat tongkat.
Dia berhenti melihat-lihat pohon-pohon disekitaran. Rasanya pohon yang berada di sisi kanan tidak jauh dari tempatnya berdiri sangat cocok. Dihampirinya, diletakkan tali di tanah, segera dia ambil posisi. Diayunkannya kedua tangannya ke badan pohon pada bagian yang tak jauh dari akarnya.
PAK! PAK! PAK!
Untuk menguatkan menebang, tentu dia harus memegang kapak menggunakan kedua tangan.
PAK! PAK! PAK!
Terus diayunkannya hingga pohon itu berubah dari kekokohannya menjadi miring. Setelah miring, didorongnya pakai kaki agar tumbang. Wanita itu sudah terbiasa dengan kegiatan yang biasa dilakukan pria. Maklumlah, tinggal seorang diri. Kalau bukan dia, siapa lagi? Lagi pula, sedari kecil dia tinggal di pulau ini. Jadi sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar.
PAK! PAK! PAK!
Sebelum pulang, dia mencari tanaman dulu. Dia gemas sekali orang itu tidak sadar-sadar. Sepertinya dia harus mengerahkan segala kemampuannya. Dipetik-petiknya daun-daun liar yang tumbuh di hutan. Setelahnya, dia pergi.
Setiba di belakang rumah, dihempaskan panggulan di punggungnya. Hingga kayu-kayu itu terjatuh ke tanah mengeluarkan bunyi.
BRAK!
Dean mendengar suara itu. Dia kembali menajamkan pendengarannya. Wanita itu sudah pulang? Bukankah bilang 2 jam? Ini, rasanya tidak sampai.
Klak! Terdengar suara pintu di buka.
Tap! Tap! Tap! Suara kaki masuk rumah.
Klak! Suara pintu lagi.
Kresek... Kresek... Suara berisik didalam suatu ruangan
Klak! Suara pintu ditutup kembali.
__ADS_1
Tap! Tap! Tap! Suara kaki menjauh.
Beberapa menit kemudian...
PAK! PAK! PAK!
Suara apa itu?
PAK! PAK! PAK!
Dean terus menajamkan pendengarannya. Apakah itu suara membelah kayu? Tunggu dulu, apa wanita itu sehabis menebang pohon demi membuat tongkat untuknya? Ya, Tuhan...
TAK! TAK! TAK!
Suara apa itu?
TAK! TAK! TAK!
Apa itu suara orang memaku? Oh... Tuhan apa yang dikerjai wanita itu.
“La la la... La la la...”
Wanita itu bersenandung bersama dengan kesibukannya. Dean hanya mendengar, dan terus menebak-nebak diantara lantunan merdu yang turut mengisi kupingnya.
Selanjutnya...
Tap! Tap! Tap! Suara kaki masuk rumah.
Sressh... Sressh... Sressh... Suara gemericik air.
Prang... Prang... Prang... Suara barang pecah belah.
Bug! Bug! Bug! Suara mengulek.
Ya! Dean tahu, itu suara ulekan dari obat yang dirasakannya di balur ke tubuhnya. Dia pun menebak wanita itu pasti ahli pengobatan herbal. Kalau tidak, tak mungkin mampu merawatnya yang terluka parah seorang diri, bukan?
Tap! Tap! Tap! Suara kaki mendekat.
Prang! Suara pecah belah yang sepertinya di taruh di atas nakas.
“Kali ini kau harus sadar! Mau berapa lama lagi kau tidur di kasurku? Hah?!"
Slash... Suara selimut yang di tarik di kakinya hingga ke atas dengkul.
Usai memberi ramuan baru di dada, wanita itu beralih ke kaki.
__ADS_1
“Kalau kau tidak sadar juga, kuharap kau mati saja! Biar kau tidak terus merepotkanku!"
Dean tahu, wanita itu lain di mulut lain di hati. Kalau tidak, tidak mungkin terus mau merawatnya begitu telaten, bukan?