
“Setiap pagi kau membersihkan peternakan, memberi makan hewan, dan membereskan seluruh halaman rumahku. Itu tugas kau,” tutur Nina.
Usai perang anggur diantara mereka, masih dalam keadaan wajah penuh diselimuti warna ungu, wanita itu mengangkat hal mengenai apa saja yang harus dilakukan pria itu selama tinggal di sini.
“Jadi, halaman samping kamar kau tidak apa-apa aku bersih, 'kan?”
“Ya! Tidak apa-apa.”
“Lantas, hanya itu saja?”
“Maksud kau?”
“Siang hari aku tidak ada kerjaan, begitu? Aku tidak mau hanya menangani itu saja.”
“Selebihnya, nanti kau tinggal tunggu perintah dariku.”
“Oh! Baiklah. Tiap siang aku akan menunggu perintah selanjutnya dari Nona Besar Nina."
Nina meringis. Tentu saja menjadi juragan Dean adalah pilihan pahit baginya. Lalu dia bicara lain.
“Kau nanti aku gaji.”
Kaget. “Apa?”
“Aku tidak mau memakai tenaga orang cuma-cuma.”
“Aku di sini untuk membalas budi. Untuk apa kau memberi aku gaji?”
“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak suka memeras tenaga orang. Yah... Gaji yang kuberikan tidak besar. Tapi cukup untuk kebutuhan kau selama di sini.”
“Kau tidak memerasku. Bagaimana bisa kau bicara begitu? Kau tahu sendiri, aku bersikeras di sini karena apa, bukan?" Dean kembali mengingatkan.
“Aku tahu, aku tahu. Tapi memang kau nggak butuh uang untuk beli kebutuhan? Setidaknya kau harus pegang uang.”
“Aku tidak ada kebutuhan di sini. Semua kebutuhanku sudah kau cukupi. Dari tempat tinggal, makan, pakaian, dan peralatan mandi."
“Kemarin bukannya uang receh yang kuberikan terpakai kau buat beli bensin?”
“Uang receh itu masih ada. Saat aku ke pelabuhan, aku tidak dapat bensin. Jika pun nanti kurang, saat aku menghubungi orang markasku. Aku akan minta ke kau pada saatnya nanti.”
“Ya sudah, kalau begitu. Oh ya, terkait hal itu. Kau tinggal berapa hari lagi di sini?”
Dean terdiam. Tentu itu jadi mengingatkannya bahwa waktunya makin berkurang untuk mendapatkan hati Nina.
“Hei, kenapa kau diam? Seingatku, waktu itu kau bilang, hanya 3 minggu saja kau tinggal di sini. Jadi, hitungannya kalau dipotong beberapa hari belakangan ini. Kira-kira, apa tinggal 2 Minggu lebih lagi?”
Mendesah. “Ya, benar."
Menaikkan alis. “Kenapa kau mendesah?”
“Karena nggak terasa waktu berjalan, dan aku sudah mau kembali bertugas."
Tetap mengernyitkan alis. "Kenapa kau mengeluh, itu kan tanggung jawab dari pekerjaan kau."
Astaga... Dia malah kurang tepat kasih alibi. Segera Dean memperbaiki. Biar begitu nada bicara berikutnya jadi tersirat apa adanya.
"Mungkin bagi kau pertemuan kita ini tiada arti. Tapi bagiku sepeninggalku dari sini, pasti aku akan selalu mengingat kau dan kuda itu. Itu maksud ucapanku tadi."
Memang hal lumrah jika seseorang jadi terkenang dengan orang yang perbuat baik. Di sisi lain pun orang itu ada ikatan bathin dengan peliharaan orang baik itu. Pastinya, ada perasaan sedih. Tak bisa menapik, sebagai manusia dia ada rasa simpati. Karena itu mendadak keadaan jadi hening. Karena Nina pun bingung mau balas apa. Namun gak lama, dia buka suara memecahkan keheningan.
"Ya sudah, kau sebaiknya membersihkan diri. Selanjutnya urusan wine ini biar aku yang urus. Kau bisa pergi.”
Dean yang juga turut terbawa suasana, tersadar. Segera kembali fokus.
“Apa tidak apa-apa? Semua jadi kotor begini, dan ini gara-gara ulahku."
__ADS_1
Bukan hanya mereka saja yang cemong, disekitaran mereka juga sama. Cairan anggur melekat dimana-mana.
"Dengarlah, kataku. Kan sudah kubilang, kau tidak boleh membantah."
"Ya, baiklah." Dean berjalan.
Di luar, dia melangkah gontai. Tentu hatinya jadi gundah gulana atas ucapan Nina tadi. Bisakah beberapa hari sebelum dia berangkat, mereka sudah jadian? Karena dia maunya mereka berbagi perasaan dulu.
**********
Subuh dini hari, Dean terbangun. Ketika menurunkan kakinya dari ranjang. Dia merasakan kakinya baikan. Dicobanya bangun tanpa bantuan tongkat. Ajaib! Dia nggak merasakan sakit sama sekali. Kakinya kuat menahan beban tubuhnya.
“Rocky! Kakiku sudah sembuh!” serunya riang.
Kuda itu memutar kepalanya malas menengok ke arah orang yang bicara itu. Mungkin akibat masih mengantuk jadi kurang merespon baik.
“Lihatlah... Rocky."
Dean jalan bolak-balik di tempat. Sontak kuda itu bangun, menaikkan kedua kakinya bersorak sorai turut merasa gembira.
“Hiiik...”
Dean menghampiri. Kuda itu menurunkan kakinya.
“Aku tidak menyangka secepat ini aku sudah bisa jalan. Subuh-subuh, Rocky. Ini benar-benar mukjizat!"
"Hiiik..."
"Ya, aku tahu, kamu pasti turut senang. Tenang, nanti aku akan mengajakmu keluar. Kamu pasti sudah lama sekali tidak jalan-jalan ya. Akibat kalian tidak akur."
“Hiiik...”
“Biar begitu, aku harus ijin dulu sama nonamu. Ya sudah, aku kerja dulu. Aku dapat tugas dari nonamu.”
“Hiiik..."
Setelah semua beres, dia lanjut memberi makan hewan. Dia lupa bertanya berapa takaran pakan yang harus diberikan ke ayam, bebek, dan domba. Nina juga sepertinya lupa hal itu. Diberinya sekira-kiranya saja ke tiap-tiap wadah di dalam kandang. Tak luput dia pun memberi makan Rocky.
Lalu dia keluar peternakan. Suasana kelabu menyambut sosoknya sepanjang menuju rumah pujaannya. Kepalanya mendongak ke atas. Mentari masih bersembunyi di balik awan. Selang sesaat, dia sudah tiba. Segera dikerjai tugas berikutnya.
Mentari keluar dari singgasananya. Nina terbangun karena sinar Mentari masuk menembus tirai jendela. Dia memoletkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Masih mengantuk, dia memutar bola matanya malas ke arah jendela. Karena sayup-sayup didengarnya suara orang menyapu di luar rumah. Lekas dia bangkit, menarik hordeng. Sosoknya langsung disambut oleh Dean yang berdiri nggak jauh darinya, dan menyapanya.
“Selamat pagi, Nona Nina.”
“Kau! Bikin kaget saja!” hardik Nina.
“Maaf."
“Kau, kenapa menyapu halaman rumahku?”
“Tentu, ini kan tugas yang kau berikan padaku.”
Tugas? Maksudnya? Oh iya, astaga... Dia lupa! Mungkin akibat biasa tinggal sendiri. Jadi lupa apa yang dikatakannya semalam.
“Oh!” jawabnya singkat.
Saat Nina memutar badannya, secepat kilat dia balik lagi. Karena ada hal yang baru disadarinya.
“Kau sudah bisa jalan?” pekiknya.
Dean yang sedang kembali menyapu, menoleh. “Suprisse... Kau baru sadar ya."
“Wah, selamat..." Nina menutup mulutnya turut senang.
Tersenyum hangat. "Terima kasih, Nina. Ini semua berkat kau."
__ADS_1
“Aku turut senang pengobatan yang aku lakukan berhasil. Nggak salah, kalau aku menyematkan diriku sendiri Ratu Herbal." Nina bergaya sombong, memeluk kedua tangannya di depan dada.
Ah, seperti sudah lama saja dia nggak lihat Nina begini. Dean tersenyum kecil.
"Ya! Kau memang sangat ahli. Seharusnya Dunia mengetahuinya."
“Iya, seharusnya! Cuman sayangnya, aku melakukan pengobatan tanpa terapi jalan."
"Karena kan kemarin keadaan diantara kita tidak memungkinkan. Jadi nggak mungkin kan kau melakukannya. Lagian, biar aku terapi jalan sendiri, tapi mana bisa sembuh juga jika kau tidak memberiku obat. Obat lebih penting, 'kan?"
"Ya, memang."
Selanjutnya, mereka berdua duduk di meja makan. Sarapan bersama.
“Habis ini aku ingin menggembala bebek. Kau bisa ikut denganku."
“Tentu saja. Tapi terus terang, aku tidak tahu caranya.”
“Nanti aku ajari.”
“Oke.”
“Besok, kita menggembala lagi. Karena domba juga harus di bawa keluar dari peternakan.”
“Oke. Oh ya, apa nanti aku boleh membawa kuda itu jalan-jalan?”
“Boleh saja. Ya! Sebaiknya kau ajak Rocky jalan. Karena aku sudah lama sekali gak bawa dia keluar.”
“Jadi nama kuda itu, Rocky?” Dean berlagak nggak tahu.
“Iya, namanya Rocky.”
Mengangguk-angguk. “Oo...”
**********
“Kwek... Kwek... Kwek...”
Bebek-bebek bergerombol tertib. Dean sudah pintar mengarahkan agar tidak keluar dari kawanan. Lewat tongkat kayu berukuran panjang yang ujungnya di kasih rombe. Dia terus menghalau bebek-bebek yang mencoba nggak patuh. Nina berjalan di sebelahnya.
“Besok dengan domba, kau melakukan dengan cara seperti ini juga.”
Merespon lain. "Nina, apa kau tidak punya celana?”
Dean risih lihat angin memain-mainkan dress mini pujaannya. Paha putih nan mulus Nina terpampang kemana-mana. Sudah pendek, kena angin lagi, bagaimana dia nggak senewen? Dia nggak menyangka Nina ganti pakaian. Tadi sehabis makan dia jalan duluan ke peternakan. Tahunya, pas Nina menyusul begitu penampilannya.
Ya! Saat ini wanita itu memakai rok yang panjangnya sejengkal di atas dengkul. Wanita itu sendiri pun dari tadi sibuk menyelamatkan pahanya dari terpaan angin yang nakal menggerayangi kedua kaki jenjangnya.
Orang lagi bicara apa, responnya apa.
“Untuk apa kau mau tahu?” Nina mengerutkan dahi.
“Apa selama ini kau begini? Bukankah lebih baik, jika kau ingin menggembala memakai celana, agar pergerakan kau lincah?”
“Aku tidak punya celana. Karena aku wanita memesona. Semua pakaian bawahku berupa rok. Selama kau tinggal di sini, apa kau pernah lihat aku pakai celana?"
Yang tadinya Dean ingin menggurui jadi terjeda. Karena perkataan Nina ditengah menggelitik hatinya. Memang wanita ini kepercayaan dirinya selangit. Tetapi memang kalau cantik sah-sah saja.
“Kenapa kau senyum-senyum?” heran Nina lagi.
Geleng-geleng. "Tidak apa-apa." Kembali ke topik. "Ya, aku memang tidak pernah lihat. Tapi..."
Sepertinya perkataan Dean terjeda lagi. Secepat kilat matanya beralih nggak jauh dari samping tubuh Nina, dan lekas berhenti berjalan. Dia seperti melihat ada sekelebatan orang berlari diantara pepohonan.
“Kenapa kau berhenti?”
__ADS_1
Nina jadi turut berhenti, menengok ke arah apa yang Dean lihat.