Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 32 Tuan Muda Tiba


__ADS_3

Suara ayam berkokok dipelbagai tempat terdengar seantero Elvaros. Semilir udara sejuk diliputi embun-embun pagi makin mendinginkan keadaan. Langit gelap sedikit memudar. Bulan dan bintang mulai bersembunyi di balik peraduannya, tapi Mentari belum keluar dari singgasananya.


Dean telah bangun. Dia sedang membereskan peternakan. Setelah itu, dia akan tidur lagi. Karena Nina nggak suka dia membersihkan pekarangan rumah pagi buta.


Ya! Sejak dia ketemu wanita itu. Dia tidak lagi menjaga Nina.


Angkasa berubah warna dari kelabu menjadi cerah. Awan tidak luput bermunculan menghiasi cakrawala. Burung-burung pun keluar dari sarangnya mencuit merdu turut meramaikan suasana. Pagi telah datang. Matahari telah menampakkan sinarnya di ufuk Timur.


Nina terbangun dari alam mimpinya. Memoletkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sebelum bangkit, rasa pening menyergapnya. Dipegangnya kepalanya, dilanjutkan memijat pelipisnya. Sepertinya semalam dia mabuk berat. Dia menurunkan kedua kakinya, ketika itulah dia baru tersadar. Siapa yang membawanya ke ranjang?


Lekas diperiksanya sekujur tubuhnya. Bajunya komplit! Syukurlah! Terakhir diingatnya dia bernyanyi sambil menari lalu jatuh ke pangkuan Dean. Ya! pasti Dean yang membawanya kemari. Eh, tunggu... Yakin, tidak terjadi apa-apa? Biar bajunya komplit, bisa saja terjadi hal aneh. Karena dia sedang dalam kondisi tidak sadar.


"Apa yang terjadi ya semalam."


Nina mencoba mengingatnya. Namun yang terjadi kepalanya malah makin pening.


"Ah, sudahlah... Nanti saja diingatnya."


Srekkk... Srekkk... Srekkk...


Kepalanya menengok ke sumber suara tersebut. Dia bangun dari ranjang, berjalan ke jendela, membuka hordeng.


“Selamat pagi,” sapa Nina.


Menoleh. “Pagi Nina. Apa kamu baik-baik saja?”


“Sedikit pusing, tapi nanti aku mau buat minuman penghilang pengar. Apa kamu mau? Apa kepalamu ada pusing?”


“Aku sudah tidak apa-apa, pusingku sudah berlalu. Buat kamu saja.”


“Baiklah.”


Selang sesaat, mereka duduk di meja makan sarapan bersama. Di meja ada daging b*bi cincang, dan roti, serta segelas jus cherry.


Rupanya kemarin wanita itu ada menyimpan hasil kebun untuk persediaan. Sedangkan untuk daging bab*, tadi pria itu ada bilang menyimpan di lemari pendingin saat wanita itu bertanya sisa semalam.


“Pusingmu sudah hilang?” tanya Dean.


“Sudah.”


“Syukurlah.”


“Ayo, kita makan."


Mengangguk. "Mm.” Menyendok daging ke mulut. “Ini, nikmat diolah seperti ini.”


“Pasti! Lagian, aku kan pintar masak.”


Tersenyum. “Iya. Masakanmu selalu enak.”


“Aku mengolahnya memakai bawang bombai, kecap, kaldu, dan lain sebagainya.”


Mengangguk-angguk. “Oo... Seperti itu.”


Tersadar. “Astaga! Percuma, aku bicara ini padamu. Kamu mana bisa masak.”


Menyanggah. “Aku bisa. Seorang tentara pasti bisa masak walau ala kadarnya.”


Mendelik. "Oh ya?”


“Iya. Karena saat pelatihan tinggal di kamp, atau pergi bertempur, atau lain sebagainya. Kami mana ada koki. Jadi mau tidak mau kami masak.”


Mengangguk-angguk. "Oh iya, ya.”


“Kalau kamu mau, aku bisa memasakkan untukmu.”


"Boleh.”


“Yah... Tapi kamu jangan berharap masakan enak dariku.”


Tertawa geli. “Hihi.... Tenang, aku takkan begitu. Ya sudah, siang ini kamu masak untuk kita berdua ya.”


“Boleh. Oh ya, ngomong-ngomong, habis ini aku kerjai apa?”


“Kita akan ke kebun. Aku ingin tamam mulberry. Di samping pohon plum kan ada ruang kosong di situ.”


“Iya. Oke.”

__ADS_1


“Oh ya, mengenai semalam. Mm... mm..."


Sejujurnya dia rada malu menanyakan hal ini, tapi di satu sisi penasaran sekali. Karena sudah coba diingatnya, tetap nggak ingat-ingat. Takutnya, jika Dean tak melakukannya, malah dia yang melakukan hal tak wajar.


“Apa aku... Apa aku... Mm... Mm...”


Dean mendelik, dia tahu apa yang mau Nina tanyakan. Haruskah dia jujur? Tapi kalau dia berbohong, takutnya nanti ketahuan. Ah, sebaiknya dia memberi tanggapan yang aman.


“Semalam kita berciuman,” potong Dean.


Membelokkan mata. "Apa?"


“Maafkan aku, aku pun lepas kontrol."


Aku pun lepas kontrol? Apa maksudnya? Apakah itu artinya aku pun lepas kontrol? Ya, Tuhan... Sudah begini, berarti ini akibat wine!


Pintarnya pria itu memberi respon begitu, membuat wanita itu jadi berpikir begitu.


Selepas makan, mereka bersiap-siap. Peralatan bercocok tanam, kantong kresek berisi bibit di taruh mereka di tubuh Rocky. Dean meraih pijakan kuda kemudian, mempersilahkan Nina naik. Namun yang diajaknya menolak.


“Kenapa?”


“Kamu duluan saja.”


“Ya, kenapa?" heran Dean. Tentu dalam hal ini seharusnya mereka sudah nggak ada masalah.


“Aku ada hal yang mau kukerjai. Nanti aku menyusul.”


"Ya udah, aku tunggu."


"Nggak, nggak. Kamu duluan saja. Biar kamu menguruk tanah, jadi pas aku sampai kita tinggal tanam."


“Oo... Ya sudah. Sampai ketemu di sana ya." Dean naik ke pelana.


Wanita itu sebenarnya enggan bareng. Tentu, setelah dengar hal semalam membuatnya nggak mau naik kuda bersama.


Setelah hewannya mulai menjauh, Nina baru menyusul. Apa benar mereka hanya sekedar ciuman? Memang bajunya komplit. Tapi bisa saja kan Dean pegang-pegang area sensitifnya? Yah... Memang itu juga bisa dilakukannya. Namanya orang mabuk mana sadar. Yah... Memang juga, kalau ternyata hanya Dean yang melakukannya, dia pun nggak bisa menyalahkan. Ini sebenarnya semua salahnya kenapa juga dia mengajak minum wine. Ish!


"Tapi, ya Tuhan... Kita berdua berciuman? Bibir kita saling bersentuhan? Astaga..."


********



(Gambar hanya ilustrasi)


Jembatan penghubung kapal ke dermaga dituruni oleh seorang Abk kapal. Orang yang menanti itu segera menunggu tuannya di ujung jembatan. Pintu kapal terbuka, seorang pria tampan berambut blonde dengan berperawakan tinggi tegap, memakai pakaian santai namun berkelas, keluar dari sarangnya.


Sontak saja, semua orang di pelabuhan matanya pada terbelalak. Bagaimana bisa orang itu masih hidup? Ternyata pemilik kapal itu, pemuda kaya itu? Jadi, setelah sekian lama tidak mati?


“Selamat datang Tuan." Jongos itu menyapa majikannya.


“Ya.”


Sementara itu ditempat lain, ditengah jalan Dean bertemu dengan wanita itu. Pria itu jadi berhenti, turun dari pelana.


“Bagaimana? Kamu sudah jadian?” tanya wanita itu.


Menggeleng. "Belum."


"Tapi kamu tetap mengejarnya, 'kan?"


"Tentu."


“Oh ya, namaku Clara. Siapa namamu?” Wanita itu mengulurkan tangan.


“Aku Dean." Dean menjabat tangan.


“Ya! Sebaiknya kita tidak usah formal." Wanita itu senang, karena secara spontan mereka jadi bicara ‘aku-kamu’.


“Iya.”


Kemudian mereka berdua lanjut bincang-bincang. Namun akibat Dean ditengah jalan berhenti, jarak Nina jadi dekat. Dari kejauhan dia menyaksikan pemandangan tersebut.


"Ih, bukan cepat dikerjai. Malah kenalan sama wanita. Dasar pria genit!"


Lekas dia berjalan cepat melintasi dua orang itu. Sontak yang dilintasi tertegun. Clara panik, lekas pergi. Sedangkan Dean segera naik ke tubuh Rocky, mengejar.

__ADS_1


“Hei, kenapa kamu jalan begitu saja tidak menegurku?”


Nina diam saja.


Dean terus menegur, namun tetap tidak digubris. Barulah, Nina buka suara setiba mereka di perkebunan.


“Bagaimana kamu bisa mengenalnya?”


“Aku tadi lihat dia jatuh lalu membantunya. Akhirnya kami jadi berkenalan,” alibi Dean.


"Oh!"


Rupanya dia salah mengira. Biar begitu dia nggak mau Dean dekat.


“Selanjutnya kalau kamu ketemu dia lagi, kamu nggak usah bertegur sapa dengannya," lanjut Nina.


Pura-pura bingung. "Kenapa?"


“Pokoknya aku tidak suka. Bahkan bukan hanya dia, semua warga sini."


“Ya, ya, baiklah, baiklah."


Kemudian mereka bersama-sama menurunkan barang-barang di tubuh Rocky.


"Jadi tertunda urusan kita gara-gara wanita itu. Kamu jadi tidak menguruk tanah," oceh Nina.


"Yah... Habis bagaimana..."


"Ya sudah, ayo kita kerjai."


Mereka lekas bercocok tanam. Namun ditengah mengerjai, Dean iseng godain.


“Jadi, aku hanya milikmu seorang?”


Mengerutkan kening. “Maksudmu?”


“Kan katamu, aku tidak boleh dekat-dekat dengan orang-orang sini.”


“Bukan seperti itu...”


Ini, bagaimana dia bilangnya ya. Dia ini takut Clara dan penduduk sini menceritakan tentang masa lalunya. Mata Nina ke kiri dan ke kanan sibuk berpikir.


“Padahal menurutku, Clara cantik. Sayang saja, kalau aku tidak lanjut berteman dengannya.”


Tertegun. “Clara?”


"Tadi kan aku sempat kenalan." Dean mengingatkan.


Yang tadinya Nina lagi pusing mencari alibi. Agar Dean tidak salah mengira takutnya menganggap dia cemburu. Entah mengapa mendengar kata ‘Clara cantik’ malah membuatnya jadi keki. Segera dibantingnya cangkul ke tanah.


Dasar, wanita itu. Padahal sama saja sikapnya bisa diartikan cemburu.


“Jadi, kamu ingin berteman dengannya?” Nina tolak pinggang.


Menjawab tenang. "Nggak... Aku hanya menyayangkan saja.”


“Jangan bohong kamu. Kamu sebenarnya ingin berteman dengannya, 'kan? Lihat saja, kalau sampai aku melihatmu dekat dengannya. Kali ini aku nggak akan segan-segan mengusirmu!” kecam Nina, berjalan pergi.


"Hei, kamu mau kemana?” Dean mengejar, meraih tangan.


Menepis. “Lepas!" Bicara sambil lari terbirit-birit. "Kamu lanjutkan saja sendiri pekerjaan itu. Aku mau pulang!”


Melongo. “Astaga... Wanita ini, sampai segitunya marah." Tersenyum geli. "Tapi bagus juga."


Setelah jauh Nina menghentikan larinya. Biar begitu, sepanjang jalan dia terus mendumel. Tapi sebelum tiba di depan rumahnya dia tercengang. Tentu dia mengenali sosok itu meski hanya melihat belakang tubuh.


Kekasih masa lalu wanita itu sedang berdiri di depan pagar dengan posisi menghadap rumah.


Dapat merasakan kehadiran orang yang sangat dirindukannya, pria itu memalingkan badan.


Sementara itu Dean, setelah urusannya selesai, mengajak Rocky pulang. Namun sebelum tiba di tujuan, langkah kaki hewan yang ditungganginya gontai seperti tak ada tenaga. Kenapa? Karena dari kejauhan kuda itu melihat majikan yang dirindukannya. Hanya tinggal beberapa meter lagi, Rocky menaikkan kedua kaki depannya kesenangan.


"Hiiik..."


Pemilik asli kuda itu menengok ke arah sumber suara tersebut. Sedangkan Dean jadi reflek memegang kuat tubuh Rocky agar dia tidak jatuh. Kemudian menengok ke arah yang membuat kuda itu begitu.


Siapa pria itu? Tapi penampilannya boleh juga, bonafit.

__ADS_1


Karena Rocky terus gaduh, Dean jadi turun. Anehnya, Rocky langsung meninggalkannya begitu saja. Dia jadi melongo.


__ADS_2