
“Barang-barang itu saya taruh di sana Tuan,” ucap anak buahnya yang memandikan Rocky.
Steve menatap jengkel. Sudah barang tentu dia tahu betul rutinitas Nina. Sudah seakrab itu kah Nina dengan si Sialan itu?
Akibat pikiran pria itu terlalu terpaku bagaimana caranya membaik-baikan wanitanya, saat membawa Rocky ke pelabuhan. Dia jadi tak memperhatikan peralatan kebun yang menempel di tubuh Rocky.
“Kau bisa pergi," usirnya.
“Baik, Tuan.”
Setelah anak buahnya undur diri, Steve menghampiri hewannya, mengelus-elus lembut badannya. Rocky menyeringai kesenangan. Terang, sudah lama hewan itu nggak merasakan belaian tuannya yang sangat dirindukannya.
“Malam ini, kamu bersamaku Rocky.”
“Hiiik...”
“Besok, kita ke rumah Nina.”
“Hiiik...”
“Tuan,” panggil seorang anak buah lainnya.
Menoleh. “Ya. Ada apa?”
“Maaf Tuan, orang yang petang tadi ke sini, barusan datang lagi, dan menyerahkan ini untuk Tuan.”
Usai menyerahkan, orang itu undur diri. Steve merobek amplop, mengeluarkan isinya. Beberapa jepretan photo mulai dari depan wajah, samping wajah samping tubuh, serta seluruh tubuh depan dan belakang, kini berada di tangannya. Rupanya jongosnya cukup pintar punya inisiatif sendiri mengambil photo dari pelbagai sisi. Terlampir juga selembar kertas yang bertuliskan...
“Nama pria itu Dean, Tuan.”
Dia merogoh kantong celananya, mengambil selulernya. Di bidiknya photo yang di depan wajah. Selanjutnya dia mengirim gambar itu ke seseorang.
“Kau segera selidiki photo yang barusan saya kirim. Saya ingin malam ini kabarnya.”
"Baik, Tuan," balas seseorang di sana.
**********
“Nina! Nina!” Terus mempercepat langkah. Pas dekat, segera meraih tangan. "Nina!”
Menoleh. “Apa?”
“Tunggu, biar aku jelaskan."
Meronta. "Aku tidak mau!"
“Dengarlah dulu.”
“Aku tidak mau!"
"Tunggulah dulu... Dengarlah dulu penjelasanku.”
“Tidak! Lepaskan aku! Sebaiknya kamu bersiap-siap pergi dari sini! Sebab kamu telah melanggar janji!”
“Aku tidak mau melepaskan. Selama kamu tidak mau dengar dulu penjelasanku.”
"Jadi, kamu ingin menyakiti pergelangan tanganku lagi?"
"Tentu, aku tidak mungkin lagi begitu. Aku hanya ingin kamu dengar dulu. Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku akan menceritakan yang sebenarnya."
Mendelik. "Yang sebenarnya? Apa maksudmu?"
“Makanya dengarlah dulu."
“Ya sudah. Cepat, katakan. Sebaiknya kamu jangan buang-buang waktuku!" Nina jadi penasaran, nggak luput mengancam.
“Baiklah, sebenarnya aku kenal Clara beberapa hari yang lalu. Waktu itu aku mengejarnya di hutan. Lebih jelasnya, saat kamu mencariku hujan-hujanan. Sebelumnya aku habis menangkapnya. Aku perbuat begitu, karena dia sedang mengintip kita saat kita menggembala bebek. Keesokan harinya pun sama, aku mendapatinya lagi di pantai sedang mengikutiku. Sayangnya, saat itu aku nggak berhasil menangkapnya. Singkat cerita, aku sudah tahu segalanya tentangmu. Selain itu juga dia berkata, sudah lama mengikutimu karena merindukanmu. Ingin berteman lagi denganmu. Jadi tadi dia ke sini, hanya ingin memberitahu tentang kedatangan Steve. Dan aku pun jadi tahu bahwa pria yang menemuimu tadi adalah Steve."
Maafkan aku, Clara.
Pria itu jadi melanggar janji untuk tidak menceritakan ke siapa pun. Tapi dia yakin, wanita itu pasti mengerti. Karena dia jujurnya ke wanita yang dirindukan wanita itu.
Wajah Nina berubah warna warni, semua rasa bercampur aduk didalamnya. Kenapa? Dia berharap jangan sampai Dean tahu masa lalunya. Tahunya, sudah tahu sebelum dia dapat mencegahnya. Memang kini sudah tidak ada artinya. Steve ada di sini. Lambat laun pun Dean bakal tahu.
“Apa kamu sudah selesai bicaranya?”
Wajah Nina tampak nggak sedap. Terang, dia tetap ingin pergi. Apa lagi setelah Dean tahu segalanya. Dia nggak ingin dikasihani.
__ADS_1
Dean mendesah kecil, melepaskan tangan.
*********
Mentari perlahan-lahan tenggelam, langit cerah berubah jadi gelap. Malam telah datang. Rembulan dan bintang telah bermunculan. Aktifitas di pelabuhan masih menggeliat. Beberapa orang sibuk menurunkan hasil tangkapan mereka sehabis berlayar tadi sore.
Di lumbung milik bersama. Para warga yang ingin menyimpan hasil Bumi-nya terlihat ramai. Tak selalu mereka menyimpan saat langit cerah. Tergantung dari hasil Bumi mereka siapnya kapan, atau mereka mau menyimpannya kapan. Hanya wanita satu itu yang nggak pernah bergabung. Maklum, sejak dikucilkan otomatis tidak diijinkan.
Lampu-lampu disepanjang jalan di dermaga terus menyinari langkah kaki Clara. Kata orang, jalan di dermaga di bawah sorot lampu, ditemani orang terkasih akan terkesan romantis. Seumur hidup dia belum pernah pacaran. Di sini wanita seumurannya nggak banyak. Karena itulah dia merasa kesepian. Sebenarnya bukan hanya Nina yang merasakan hal itu, dia juga. Tidak punya teman, tidak punya pacar, komplit sudah!
Untuk wanita seumurnya tentulah sangat menyedihkan. Umur yang seyogyanya telah siap dipersunting. Malah masih mending Nina pernah pacaran. Memang untuk hal lain, dia tidak bisa dibandingkan. Tentu, kedua orang tuanya masih utuh.
Andai kakaknya masih hidup, pasti dia sudah jadi adik ipar Nina. Walau mereka seumuran. Ah, dia merindukan momen-momen itu. Dimana kepergian kakaknya, dia dan Nina saling menguatkan.
Clara tiba di lumbung. Menyerahkan hasil Bumi yang mau disetornya berupa biji kenari. Usai didata oleh warga yang dipercaya bertugas mengurus lumbung, biji kenari bawaannya dimasukkan oleh petugas lain ke tempat nomor simpanan keluarganya.
Jadi setiap kepala keluarga punya nomor masing-masing. Fungsinya, biar tidak tercampur dengan yang lain.
Kemudian dia berjalan pulang sambil merenggang-renggang kan tangannya. Lumayan berat 10 kilo. Ibunya tadi menyuruhnya membawa memakai trolley, tapi dia nggak mau. Merasa kuat, dia menentengnya memakai plastik. Rupanya, capek!
Saat dia melintasi kapal mewah Steve, kedua matanya terbelalak. Lekas dia bersembunyi di tumpukan box kayu milik orang. Sedang apa ayahnya keluar dari dalam kapal itu?
Sementara itu Steve usai melakukan pertemuan, dia mendapat panggilan dari orang yang disuruhnya menyelidiki Dean.
“Iya, bagaimana?” tanyanya.
“Saya ingin memberi kabar tentang tugas yang Tuan berikan."
“Iya, bicara."
“Nama Dean Wilsh, Tuan. Dia anak tunggal. Kedua orang tuanya telah tiada mati karena kecelakaan. Dia tinggal di Ibu Kota disebuah apartemen di pinggiran kota. Dia seorang tentara dari kesatuan Angkatan Darat berpangkat Sersan. Dia ditugaskan di pulau Tartan. Sekitar 2 pekan lebih, dia ditembak. Ditembak oleh seorang anggota pemberontak pulau itu di ujung jurang, dan tubuhnya jatuh ke laut. Selain karena kejadiannya naas, dan operasi militer di pulau Tartan merupakan misi mati. Jadi kesatuannya tak mencarinya, dan dinyatakan mati. Dan memang hingga kini nggak ada kabar darinya."
“Oke. Kamu bisa matikan sambungan.”
“Baik, Tuan.”
Tut!
Steve menimang-nimang selulernya. Berarti orang itu terdampar di sini, diselamatkan oleh Nina. Sialan! Sungguh beruntungnya nasib orang itu.
Pria itu dapat melacak hanya bermodalkan photo wajah. Dia memiliki teknologi canggih yang bisa men-scan. Nanti data targetnya terbuka melalui link yang sudah tersambung ke bagian kependudukan negara Andaron. Bisa dibilang dia mengambil jalur hitam. Orang suruhannya tadi adalah asisten pribadinya. Seharusnya saat disuruh, tinggal menanti beberapa menit saja dia bisa langsung tahu. Namun tadi dia ingin bercengkrama dulu dengan hewan peliharaannya, dan mengerjakan hal lain. Sebenarnya juga dapat saja dia menghubungi bagian kependudukan, tentu pengaruhnya selaku orang kaya. Tapi dia enggan, lebih suka memakai caranya sendiri.
Sebenarnya juga, harusnya dari kemarin pria itu melakukan itu. Entah, kenapa baru sekarang.
Jleb!
Mendadak gelap gulita. Steve tertegun segera merab*-rab* dinding mencari interkom.
Di tiap ruangan kapal ada hal itu. Dia lagi duduk di ruang kerja. Kebetulan tombol interkom di ruangan itu tepat berada di belakang bangkunya.
“Ada apa?”
“Mati lampu, Tuan. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami sedang menyambungkan ke central listrik kita,” terang anak buahnya di sana.
“Cepat, nyalakan!” perintahnya kesal.
“Siap, Tuan.”
Untuk menghemat daya, kapal itu mengambil energi listrik dari pulau itu. Tak lama lampu menyala, dan hanya kapal pria itu yang terang benderang.
Sementara itu Dean di peternakan bergegas keluar, dia panik takut terjadi apa-apa dengan Nina. Dia merab*-rab* jalan lewat kakinya. Tapi baru beberapa saja melangkah, dia urung. Dipikir-pikir ngapain juga dia ke sana. Bukankah lebih baik dia di sini. Biasanya Nina suka khawatir padanya. Lagi pula, Nina lagi marah padanya. Bukankah lebih baik dia mengambil hati lewat momen ini.
Nina di sana sedang sibuk menyalakan lampu petromak. Pulau ini sering sekali mati lampu. Pasokan listrik di pulau ini parah sekali. Sudah jalanan hancur, pasar hanya seminggu sekali, kapal pengangkut hasil Bumi hanya sebulan sekali, benar-benar pulau tidak terurus!
Sebenarnya mati lampu kali ini gara-gara mantan wanita itu. Dasar Steve, sudah kaya, egois. Seenaknya saja ambil energi listrik dari pulau itu. Nggak mikir orang jadi kesusahan. Menyebalkannya lagi, dia pun nggak mikirin wanitanya.
Lekas Nina meletakan lampu di meja makan. Lalu matanya teralihkan oleh tudung saji yang isinya belum disentuh mereka.
Dean dari siang belum makan. Dia pun sama. Di sana pun, pasti Dean kegelapan.
Dihangatkannya lauk yang dibuat karyawannya, kecuali salad. Dimasukkan semua ke kotak makan, nggak luput dia menyiapkan minuman di botol. Diambilnya petromak lain di gudang, lalu dinyalakannya. Segera dia berangkat ke peternakan dengan bekal di tangan.
Sinar bulan dan bintang turut membantu langkahnya. Di luar tampak remang, dia terus berjalan. Dibukanya pintu peternakan, lekas dia masuk ke dalam. Agar bisa melihat, dinaikannya petromak ke udara setiba ditujuan. Atas sinar itu, Dean yang lagi rebahan jadi menoleh.
“Kamu ke sini?”
Nina menjulurkan bekal dengan buang muka. Maklum, dia gengsi tadi sehabis ngamuk-ngamuk.
__ADS_1
“Ini, untukmu.”
Berdiri, berjalan menghampiri. “Kamu mencemaskanku?”
“Tentu saja, kamu karyawanku. Kalau terjadi apa-apa denganmu, bagaimana?”
Dean tersenyum kecil, itu saja alasan wanita satu ini.
Nina memain-mainkan bawaannya di udara.
“Ini, cepat. Ambillah.”
Mengambil. "Lantas, aku makan bagaimana?”
Bingung. "Bagaimana apanya?"
“Apa kamu akan pergi?"
Oh iya, Dean tidak ada penerangan. Tapi, kalau dia kasih petromak, lantas dia pulang bagaimana? Disaat Nina lagi berpikir, Dean membuka pintu kandang.
“Kamu temani aku dulu saja."
Ya! Nggak ada pilihan.
Kemudian mereka duduk di atas ranjang. Dean membuka bekal dan menggelarnya diantara mereka.
“Itu, masakanmu sudah aku hangatkan. Kecuali salad," info Nina.
Mendelik. "Oh! Ini, masakanku. Kupikir bukan. Terus kamu tidak memakannya?”
“Aku, aku...” Nina jadi tidak enak.
“Ya, aku mengerti tadi kita ribut. Harusnya pun ini makan siang kita berdua."
Karena nggak mau dianggap nggak menghargai. Terpaksa dia menerimanya. Padahal rencananya sepulang dari sini dia mau masak terus makan. Lagi pula dia yang menyuruh masak. Hanya saja dia gak biasa makanan hangatan. Memang untuk salad bisa. Cuman tadi dia pikir tanggung hanya makan yang segar. Ya, sekalian saja semua untuk Dean.
"Ya, baiklah aku makan. Aku sebenarnya juga belum makan." Sedetik kemudian berubah pikiran. "Ah, kamu saja yang makan."
Wanita itu tidak menyiapkan peralatan makan untuk dua orang. Wajar, tidak ada niat makan di situ. Karena itulah mendadak jadi urung. Pria itu pun melihat peralatan makan yang tersedia.
"Ya sudah, kalau begitu kita ganti-gantian pakai."
Karena nggak punya alasan lain untuk menolak, karena nggak mau dianggap nggak menghargai lagi, Nina pun jadi pasrah.
"Ya sudah."
Sepanjang makan, ternyata terjadi salah tingkah di diri Nina. Kenapa? Baru disadarinya, mereka begini membuat saling mencicipi ludah satu sama yang lainnya. Sudah mana, dia pun sudah lama tidak makan sepiring berdua dengan seorang pria. Ditambah lagi, suasana remang-remang begini.
"Gimana masakanku, enak tidak?"
"........... " Tidak ada tanggapan.
"Nina," tegur Dean.
Merespon lain, lekas berdiri. “Aku sudah kenyang, sebaiknya aku pulang. Kamu pakai saja petromak ini."
Turut berdiri. "Kamu mau kemana?”
"Sudah kukatakan, aku mau pulang."
Jalan mendekat. "Di luar gelap."
Nina memundurkan tubuhnya.
Sebenarnya Dean dari tadi sudah merasakan kegugupan Nina. Makanya dia maju.
Wanita kalau sudah begini lagi lengah, bisa disusupi, bukan?
“K-amu, k-amu, kenapa mendekat." Nina tergagap-gagap.
“Apa tidak boleh, mm?"
Tangan Dean membelai lembut wajah si Cantik Jelita. Yang dibelai seketika membeku. Bahkan bukan hanya itu saja, debaran di dadanya pun berdetak-detak nggak karuan. Malah anehnya, kali ini sulit dikendalikannya. Dean dapat merasakan ada getaran-getaran yang menggelenyar di tubuh Nina. Dia makin memberanikan diri menarik pinggang pujaannya untuk menempel lekat ke dirinya.
Nina terdesak maju. Herannya lagi, dia nggak memberontak. Entah, seperti ada yang salah di dirinya. Yang pasti, dia seperti menginginkan apa yang diinginkan Dean.
Perlahan Dean memajukan bibirnya bersama hasrat yang menguar disekujur tubuhnya. Sebelum menjatuhkan ciuman, dia menghembuskan dulu nafas api asmaranya. Secara spontan pemilik bibir merah delima itu membuka sedikit. Setelah diberi ruang, lekas Dean meluncurkan ciuman yang diterima baik oleh lawan mainnya. Perlahan ciuman mereka semakin membara. Dean memperat pelukannya. Sedangkan Nina kedua tangannya langsung mengalung ke leher di depannya.
__ADS_1
Ciuman mereka terus berlangsung, hingga serasa Dunia milik mereka berdua. Karena bibir mereka terus melekat tanpa jeda. Terus menjelajah dan mensesapi kemanisan masing-masing.