
Kring... Kring... Kring...
“Ya, Tuan?” sapa Baron, untuk orang diseberang sana.
“Bagaimana? Apa Pak Smith mau menerimanya?” tanya Steve ke inti.
“Maaf Tuan, tidak. Beliau menolak lagi.”
“Bawa Pak Smith ke sini.”
“Baik, Tuan.”
Usai sambungan terputus. Baron keluar dari rumah mencari orang yang diminta majikannya. Pada saat di pelabuhan dia melihat orang yang dicarinya lagi di lumbung. Segera dihampirinya.
“Pak Smith,” tegurnya.
Kalau sudah begini, pasti ada hal yang mau dibicarakan mereka. Ayah Clara merespon lain.
“Ya! Tunggu saja saya di parkiran forklift.”
Baron yang tentunya paham, segera berjalan ke sana.
Forklift adalah alat angkut untuk bongkar muat barang.
“Pak Smith ada urusan?” tanya salah satu orang lumbung.
“Iya.”
“Wah, kami ganggu ya?” ujar yang lain.
“Ya sudah, kalau begitu nanti saja kita bicarakan lagi Pak Smith,” tambah yang lainnya.
“Nggak, begini saja. Kalian pakai saja opsi-opsi yang saya omongkan tadi. Kalau satu tidak berhasil, pakai yang kedua. Begitu pula sebaliknya jika kedua tidak bisa, pakai ketiga. Saya yakin, dari kelima opsi yang saya sampaikan itu, pasti salah satu ada yang berhasil,” tutur ayah Clara.
“Ya, baiklah Pak Smith," jawab mereka.
Maklum, tiap ada masalah. Orang terpandang di pulau itu selalu dicari oleh warga untuk dimintai dicarikan solusi.
Ayah Clara bergegas pergi. Setiba di depan orang yang menunggunya, dia menegur bernada kecil. Maklum, takut terdengar orang lain.
“Ada apa?”
“Tuan Steve mau ketemu Anda." Baron turut menurunkan nada.
“Masalah uang itu?” tebak ayah Clara.
Mengangguk. “Iya.”
“Sudah saya katakan...”
Memotong. "Pasalnya, Tuan Steve tetap mau ketemu Anda, Pak Smith."
Mendesah. “Ya sudahlah.”
Mereka berjalan ke sana. Memasuki yacht, mereka langsung dipersilahkan menuju ke ruang kerja. Steve sudah memberi tahu anak buahnya nanti ada tamu untuknya. Tidak lama mereka tiba.
“Pak Smith,” sapa Steve, sambil keluar dari meja kerjanya, mempersilahkan mereka duduk di sofa.
“Tuan Steve,” balas ayah Clara, menempatkan pantatnya di depan orang yang punya kapal. Diikuti oleh Baron.
__ADS_1
“Apakah benar-benar saya sudah tidak ada peluang untuk memberi Pak Smith hadiah?” Steve menyilangkan kedua kakinya.
“Sudah saya katakan, saya tidak mau menerimanya, Tuan Steve.”
“Saya hanya memberi sebagai hadiah. Yah... Memang saya nggak memberi berupa barang.”
Meski caranya halus tapi desakan pria itu lewat berkali-kali berusaha memberi uang bisa dibilang menekan. Kenapa? Karena bila terjadi masalah, ada bukti penguasa wilayah pulau itu terlibat. Dia pun sudah menyiapkan rekaman pembicaraan mereka. Ruangan kerjanya sudah disadap. Dari sejak mereka bekerja sama, jongosnya pun selalu siap dengan rekaman di Hp-nya tiap menyerahkan uang ke orang itu, ya seperti tadi. Sayangnya, kembali gagal!
Biasa, kalau suatu hari wanitanya tahu dia bisa mengulik untuk dimaafkan. Karena mantan calon mertua wanitanya pun turut terlibat. Jadi biar kesalahan sepenuhnya bukan miliknya. Selain itu, dia akan membuat alibi bahwa ide maklumat itu datang dari orang tua itu. Alasannya, karena memandang Brian anaknya. Juga, bagaimana kehidupan di pulau ini. Jadi ingin melihat mantan calon menantunya itu hidup bahagia, dan sejahtera. Lewat dirinya selaku orang kaya.
“Maaf Tuan Steve, saya tetap dengan pendirian saya.”
“Mm... Begitu ya?” Melipat kedua tangannya di depan dada. “Ah! Setahu saya, Pak Smith punya anak perempuan. Apa Pak Smith tidak ingin memberi barang-barang bagus untuk anak perempuan, Pak Smith? Yah... Tentunya uang itu bisa digunakan saat kapal pemasok barang datang.”
Tentu pria itu tahu di sini seminggu sekali ada pasar berupa kapal.
Ayah Clara mendelik, tapi saat mau bicara dipotong oleh lawan bicaranya.
“Di sini sangat sulit berkembang. Pastinya, setiap anak perempuan di sini menginginkan barang-barang indah selayaknya yang dimiliki wanita-wanita di kota. Namun karena barang-barang itu mahal, sedangkan pemasukan keuangan keluarga pas-pasan. Tentunya, mereka pada tahu diri tidak meminta ke orang tua mereka.”
Ayah Clara jadi terkesiap. Memang mayoritas gadis di sini tidak terawat. Itu pun terjadi dengan anaknya. Jangankan baju bagus, bersolek pun tidak. Memang hal itu tidak berlaku ke wanita yang dibencinya. Diakuinya, Nina satu-satunya gadis di pulau ini yang beda. Mungkin karena punya penghasilan sendiri. Ah, tidak, tidak! Malah dari zaman anaknya masih hidup, Nina dari kecil suka dandan. Teringatnya, dulu Nina suka mencuri make up ibunya, dan berdandan di kamar Clara. Nanti ibunya datang marah-marah mencari anaknya, dan Brian membelanya.
Ah, teringat hal itu pastinya anaknya juga menginginkan. Ingin tampil cantik seperti wanita-wanita lain. Sungguh miris, di kamar anaknya hanya ada bedak tabur bayi dan cologne. Dia pun sudah lama sekali tidak membelikan baju untuk anaknya.
Melihat di depannya diam, Steve meraih amplop, meletakkan di depan muka. Sudah begini, dia yakin orang tua itu sudah berubah pikiran.
“Kalau ini masih kurang, tentu dengan senang hati saya akan memberikannya lagi.”
Ayah Clara menghela nafas panjang, tapi tak urung juga diambilnya. Lalu dia dan Baron keluar ruangan. Seturun dari kapal, kedua orang itu berpisah.
Dari kejauhan rupanya pemandangan itu disaksikan lagi oleh anaknya. Setelah bayangan ayahnya menghilang, Clara berjalan di pinggiran tanggul pelabuhan. Duduk lemas di sana. Badannya dihadapkannya ke laut.
Rupanya wanita itu sehabis ketemu ayahnya tadi tidak pulang.
Nina dengan ketidakadilan nya? Jawab aku, Kakak... Aku dilema atas semua ini. Kakak pasti tahu, yang diperbuat Ayah itu tidak benar. Tapi Kakak pun pasti tahu, jika ini sampai kubuka, Ayah pasti akan dapat hal yang tak menyenangkan dari Tuan Steve. Karena pasti Ayah akan melindungiku. Kasih tahu aku Kakak... Aku harus pilih yang mana?
Wanita itu kemudian beralih memandangi yacht pria kaya itu.
Kenapa Steve begitu jahat? Demi Nina tidak dimiliki orang lain, Steve telah merenggut ruang gerak Nina. Ayahnya pun sama, sejatinya apa yang dipikirkan ayahnya sampai punya alasan tersendiri?
Dulu saat kakaknya telah tiada hubungan ayahnya dengan Nina masih baik-baik saja. Ayahnya malah menganggap Nina sebagai anaknya. Karena tahu Nina sebatang kara. Dulu, saat Nina dekat dengan Steve, ayahnya tidak ambil pusing malah mendukung agar Nina bangkit melupakan anaknya. Jadi, kenapa ayahnya begini? Dan sejak kapan ayahnya berkonfrontasi dengan, Steve?
Sementara itu di lokasi lain, Steve di atas kapal. Keluar membawa segelas Vodka, berdiri di samping pilar. Saat matanya menjelajah, dia melihat wanita kecil itu sedang melamun ke arah kapalnya.
Kepalanya dimiringkannya sedikit, dia mencoba merab*-rab* apa yang ada didalam pikirannya. Ah! Dia baru sadar. Ya! Dulu mereka pernah bertemu saat dia ke rumah orang tua itu. Ya, ya, ya, wanita kecil itu adalah anak Pak Smith. Astaga... Kenapa dia bisa lupa wajah si Mungil itu. Padahal dia tahu Pak Smith punya anak perempuan.
Clara membelokkan mata. Baru sadar rupanya pemilik yacht tersebut sedang mengamatinya. Lekas dia bangkit, pergi dari sana. Steve mengamati laju jalan wanita mungil itu yang berjalan terburu-buru.
Sementara itu di lokasi lain. Nina memiringkan badannya berulang-ulang ke kanan dan ke kiri. Dia susah sekali tidur akibat dari tadi terus memikirkan omongan Steve. Tadi seharusnya dia membuat makan malam mereka cepat. Yang ada malah membiarkan Steve terus ingin bersamanya.
Entahlah... Mungkin dia sudah terhipnotis atas pengakuan itu. Terus terang memang ada getaran-getaran lain di hatinya, dan itu sangat menyayat. Semenjak Steve mengungkap kehidupannya setelah jauh darinya. Tentu dia sebagai manusia punya rasa empati. Gak terbayang betapa berat hidup yang dilalui Steve.
Apakah dengan ini, dia sudah menolerir kesalahan Steve? Dia tahu banget bagaimana peliknya hidup sebatang kara. Apa lagi Steve melakukan itu semata-mata demi masa depan mereka berdua.
Lantas, bagaimana dengan Dean? Apakah ini yang membuatnya jadi pusing tujuh keliling, dan ini juga salah satu alasan kenapa kemarin dia takut tidak berlaku adil ke Dean? Tapi, kenapa? Kenapa selalu ada nama Dean saat dia memikirkan Steve? Dia ini sebenarnya kenapa?
**********
Kukuruyuk... Kukuruyuk...
__ADS_1
Bunyi suara kokokan ayam pertanda langit gelap telah berlalu bersiap berganti pagi. Clara dengan wajah masih mengantuk keluar dari kamar. Sosoknya langsung berhadapan dengan kedua orang tuanya di meja makan.
“Dari mana saja kamu seharian kemarin?” tanya ibunya, dengan nada tinggi.
“Aku ada urusan."
“Urusan! Urusan! Urusan! Urusan apa?!”
“Clara, kemarin apa maksud perkataanmu ke Ibumu? Ibu lebih baik mengurus Ayah?” tanya juga ayahnya, kemarin istrinya ada cerita.
Clara mendengus, pagi-pagi sudah dibuat tak nyaman.
“Ayah tanya saja pada diri Ayah sendiri, apa kesalahan Ayah?”
Mengernyitkan alis. “Apa maksudmu?”
“Kenapa Ayah bekerja sama dengan Tuan Steve dan Pak Baron membuat maklumat itu?”
Ayahnya melotot. Istinya pun nggak kalah terkejutnya, dia langsung menatap suaminya. Pantas, tadi malam suaminya pulang bawa duit banyak ternyata karena ini. Karena nggak mungkin suaminya punya duit sebanyak itu. Penghasilan dari mana?
“Alasan tersendiri apa yang membuat Ayah membenci, Nina?” Clara mendesak lagi.
Ya! Dia sudah nggak tahan lagi dengan pikiran kusutnya. Lebih baik ditumpahkannya saja. Sehabis ini juga dia mau menemui Dean. Lagi pula dia yakin, kakaknya pun setuju akan keputusannya ini. Dia tahu, dengan ini ada resiko yang harus ditanggungnya. Tapi dia nggak bisa diam saja atas semua ini. Karena itulah dia menemui Dean, selain memberitahu, namun juga untuk bertukar pikiran mencari solusi agar dia dan ayahnya tidak diapa-apain Steve.
Ekspresi ayahnya berubah menatap tajam. Rupanya ini urusan anaknya. Sepertinya anaknya mendengar pembicaraannya dengan Baron. Karena dua kali dilihatnya anaknya di jalan itu.
“Ya! Ayah membenci Nina! Jika saat itu kakakmu mendengar omongan Ayah. Dia tidak akan berangkat pergi berlayar!”
Jadi kala itu, kakaknya awalnya tidak ikut. Tapi karena dengar Nina ingin makan lobster jadi ikut. Sontak istrinya terkejut atas pengakuan itu. Dia tidak menyangka suaminya selama ini memiliki perasaan dendam.
“Itu takdir Ayah, takdir! Kalau pun Kak Brian tidak mati pada saat itu. Tapi jika Tuhan berkehendak dia akan mati pada hari lain.”
“Diam!” Brak! Ayahnya menggebrak meja.
Clara terkejut hingga memundurkan tubuhnya. Istrinya pun nggak kalah terkejutnya. Lalu dengan linangan air mata, Clara memaki ayahnya sambil lalu.
“Ayah jahat!”
Ibunya melongo, lekas bangkit dari kursi.
“Biarkan saja," tahan suaminya.
“Tapi, Yah...”
Menoleh. “Kenapa? Apa kamu juga tidak setuju dengan perbuatanku?”
Istrinya membuang nafas kasar lalu duduk kembali. Dia diambang serba salah. Disatu sisi dia mengerti perasaan anaknya. Disisi lain, dia paham kenapa suaminya perbuat begitu. Meski tidak membenarkan perbuatan suaminya, tapi kalau sudah bicara kehilangan anak, akal sehat suka tidak terpakai.
Clara berlari ke arah rumah Nina. Air matanya terus bercucuran. Biarlah dia menjadi anak durhaka, tapi dia sudah tak bisa menolerir perbuatan ayahnya.
Srekkk... Srekkk... Srekkk...
Dean sedang menyapu halaman. Biar begitu fokusnya tidak ke bawah, lebih banyak mengamati jendela kamar pujaannya.
Semalam apa yang terjadi? Apa makan malam mereka lancar?
“Dean!” seru Clara.
Yang dipanggil menoleh, dan terkejut melihat wanita yang dilarang Nina dekat dengannya, berada di depan pagar bersama linangan air mata. Lekas dia menghampiri, sebelum diajaknya menyingkir, terlebih dahulu dia menanyakan keadaan teman barunya itu.
__ADS_1
“Kamu kenapa?”
Belum sempat yang ditanya menjawab, terdengar suara hordeng di buka dari arah kamar depan. Membuat mata mereka jadi teralihkan. Nina terpana lihat Dean dan Clara di depan matanya.