Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 47 Extra Part


__ADS_3

Rumah megah bergaya arsitektur klasik dengan ornamen-ornamen kristal, dan ukiran khas di tiap sudut ruangan, berdiri megah di tengah kota. Rumah memiliki 5 gedung dengan fungsi yang berbeda-beda. Depan, sebagai rumah utama. 4 sisanya, sebagai tempat penunjang kebutuhan si pemilik rumah. Pastinya di rumah itu memiliki fasilitas lengkap. Jelas, sudah tergambar kalau rumah itu besar. Ada ruangan fitnes, bar, bioskop, kolam renang, lapangan golf, tennis, pacuan kuda alias polo, dan lain sebagainya.


Untuk mencapai gedung satu ke gedung lainnya harus memakai mobil golf. Karena dari depan gerbang saja menuju ke dalam luar biasa jauhnya. Di pinggiran jalan menuju dalam, di sisi kiri dan kanan disuguhkan pemandangan pohon pinus dan maple.


Di dalam rumah semua barang mahal berkualitas tinggi bertebaran sana-sini. Jangankan perabotan dan hiasan seperti lukisan mozaik berbahan porselen dan batu mineral, peralatan makannya saja terbuat dari perak. Begitu pula gelasnya terbuat dari kristal.



(Gambar hanya ilustrasi)


Wanita bertubuh mungil memiliki yang wajah baby face, keluar dari kamar dan berdiri di depan pilar. Dia menempati kamar tamu di rumah utama. Sudah 3 bulan dia di sana. Sejak terbawa tak sengaja oleh orang yang membencinya sejak musibah itu.


Sebenarnya seminggu setelah kejadian, dia sempat mau dipulangkan. Tapi entah kenapa pria itu mengurungkan niatnya. Padahal jelas-jelas dia nggak ada gunanya di sini. Dibuat mati kagak, disiksa iya. Lucunya, disiksa pun sebenarnya pria itu tidak mendapatkan keuntungan apa-apa darinya. Karena pada kenyataannya kekasih pria itu berubah pikiran.


Dia sudah memohon untuk dibunuh saja Toh dia pun sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Namun pria itu nggak mau melakukan. Memang sudah 1 bulan belakangan ini, sudah tidak menyiksa lagi hanya memaki. Tapi tetap saja apapun ceritanya dia tekanan bathin. Rasa frustasi yang terus dilimpahkan pria itu padanya, walau sekedar lewat mulut tetap saja membuatnya stress berat. Padahal bukan salahnya wanita yang dicintai pria itu jadi memilih pria yang di sana.


Jadi, saat perang usai. Kabar atas keberhasilan tentara merebak seantero negara Andaron. Steve balik lagi ke sana. Memang Nina hidup, namun tidak jadi memilihnya. Saat itu hati Steve remuk berkeping-keping. Pada saat itu juga dia menerima kabar kedua orang tua Clara mati. Lalu dia memberitahu, namun dengan cara menyiksa. Sengaja biar Clara makin menderita. Steve itu sering menjenggut, menyeret, menjedotkan kepala, membenamkan kepala ke bak, dan pelbagai penyiksaan lainnya. Tapi satu bulan belakangan ini tidak.


Clara memandangi kolam renang, lalu beralih ke area lain. Sudah 2 kali dia melakukan percobaan bunuh diri. Tapi gagal! Satu ketahuan, satu lagi dia jatuh namun tubuhnya malah terhempas ke kolam. Kalau saat ini dia melakukan lagi, apakah berhasil?


Hari ini Steve tidak terlihat batang hidungnya. Sepertinya lagi sibuk di luar. Penjagaan di depan pintu kamarnya pun sedikit longgar. Di bawah pun lagi tidak ada orang. Ya! Sebaiknya dia mencoba lagi.


Clara menaikkan kedua kakinya ke atas pilar. Namun sayang, saat tubuhnya bersiap mau terjun, ada seseorang yang merengkuhnya dari belakang. Dia terkejut langsung menolehkan kepalanya. Rupanya Steve.


“Wanita Kecil... Apa yang mau kau lakukan, mm?” tanya Steve tenang.


“Lepaskan! Lepaskan!” ronta Clara.


Lelaki itu membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam, dihempaskan ke ranjang. Dia menaikkan kedua tangan ke atas, dan memposisikan badannya diantara kedua kaki Clara kemudian.


“Tanpa persetujuanku, kau tidak boleh mati."


"Apa kau ingin menyiksaku lagi?"


Balik bertanya. "Kenapa? Kau merindukan siksaanku?"


“Kenapa kau tidak membuatku mati saja? Bukankah lebih baik membunuhku untuk membayar kekesalan kau? Kenapa kau biarkan aku hidup? Memang aku boneka kau? Yang seenaknya kau permainkan? Kalau kau frustasi atas pilihan Nina, kenapa dilimpahkan ke aku? Toh, kalau aku..."


Membentak. “Sudah! Jangan banyak bicara!”


Melotot. "Kau..."


Memotong. "Kukatakan diam!"


Mau apa pria ini? Kenapa mendadak jadi menatapnya begini?


Karena risih Clara melempar pandangan ke samping.


Sehabis berkata kasar, rupanya cara pandang pria itu berubah. Ada binar-binar merah jambu yang tersembunyi dari sorot matanya.


Wanita itu sudah tak bicara formal lagi. Buat apa juga? Pria itu selalu buat tak nyaman dengannya.


Steve terus menelusuri wajah yang lagi buang muka itu. Dia lagi berpikir, apakah benar dia sudah jatuh hati dengan wanita ini? Entah kenapa kebersamaan mereka yang nggak menyenangkan ini malah membuahkan perasaan lain di hatinya. Apa mungkin dia lama-lama merasa iba atas apa yang dialami wanita ini? Wanita ini pun nggak banyak melawan tiap kali dia menyiksa lebih kebanyakan pasrah. Karena hal itu pun, bagaimana dia tak luluh?


Steve membangunkan tubuhnya, lalu turun dari ranjang. Dengan nada dikit canggung dia membicarakan maksud dan tujuannya ke sini. 


Untuk menjadi pasangannya dia harus membuat wanita kecil ini tampil sebagai wanita kelas atas. Bersolek saja tidak si mungil ini, kumel lagi.


“Mulai besok hingga 2 pekan ke depan, ada orang yang akan mengajarimu cara berbicara yang baik, table manner, mengajarimu berbahasa asing, bersolek, memakai pakaian wanita berkelas, dan juga berdansa.”


Memicingkan mata. “Untuk apa?”


Sebelum membalas, Steve berjalan ke pilar, mengunci pintu sana rapat-rapat. Lalu dia melempar pandangan ke arah CCTV atas ruangan.


“Kau jangan coba-coba bunuh diri lagi. Aku akan mengawasi kau!” ujarnya sambil lalu


Clara memandangi aneh punggung pria kejam itu. Mau apa sejatinya pria ini?


Singkat cerita, selama 2 pekan Clara dapat pelajaran seperti yang Steve katakan. Selama itu dia dibuat sibuk hanya bisa istirahat diwaktu malam. Bayangkan saja, dari pagi sampai sore pelajaran nggak berhenti-henti datang padanya.


Yah... wajar 2 pekan itu terlalu singkat. Untuk menguasai semua itu harusnya membutuhkan waktu lama.


Ditengah jalan Clara sempat mogok, karena sebenarnya untuk apa dia melakukan semua ini? Namun seorang kepala rumah tangga di rumah itu menasehatinya, untuk jangan berhenti. Malah menambahkan omongan.


Nona... Kalau Tuan sudah melakukan ini kepada Nona berarti Tuan sekarang telah menganggap Nona wanita spesial.


Memang itu yang dipikirkannya, tentu saja dia nggak bodoh. Pakaian yang dikenakannya langsung dari designer ternama yang langsung mengukur tubuhnya dan mengeluarkan koleksi untuk dipakainya dan dipelajarinya. Stylish ternama yang mencat rambutnya, dan mengajarinya berdandan, belum lagi perhiasan mahal yang diberikan Steve melalui anak buahnya, tentu saja guru-guru yang lainnya. Yang sudah barang tentu mata pelajaran yang diberikan padanya untuk kelas jet set. Wanita mana nggak berpikir ke situ? Tapi, masa?


Sebuah pelajaran telah dilewati. Dan saat ini anak buah Steve memberi sebuah kotak besar. Yang berisi berupa gaun dan segala ***** bengek atribut mahal.


Dengan memakai dress panjang dengan belahan selutut dan punggung terbuka. Rambut terurai panjang, dan make up yang memesona. High heels, perhiasan bertahta berlian dari kalung, gelang, anting-anting dan cincin. Terakhir aroma parfum mahal disemprot ke badan, Clara keluar dari kamar.


Tak lama dia sudah berada di dalam mobil, seorang supir mengantarnya ke tempat tujuan. Steve meminta bertemu di luar, entah apa yang mau dilakukan Steve memintanya berpenampilan begini. Jujur, tapi hatinya deg-degan.


Di gedung pencakar langit, dia tiba. Seorang bodyguard menemaninya naik ke puncak atas. Lift terbuka, dia keluar. Sementara bodyguard itu tetap di dalam lift untuk beranjak kembali turun.


Musik syahdu yang dimainkan langsung oleh seorang pianis terkenal mengalun merdu mengisi seluruh ruangan. Di ruangan itu nggak ada orang sama sekali. Sepertinya khusus disewa Steve untuk makan malam mereka berdua.


Clara mengindai sekitaran. Dilihatnya Steve duduk di samping kaca menghadap pemandangan luar dengan penampilan tidak seperti biasanya. Setelan jas dan dasi kupu-kupu. Dia melangkah.


Steve yang menyadari ada sosok mendekatinya dari pantulan kaca, langsung menolehkan kepalanya, lekas berdiri. Seketika pria itu terpana. Wanita yang selama ini diketahuinya kumel tidak terawat, kini di depannya tampil memesona.


Clara agak dikit canggung dapat tatapan dari Steve. Biar begitu nggak mengurungkan niatnya untuk bertanya. Terang, karena dia sudah sangat penasaran sekali, ingin mengetahui apa maksud tujuan Steve melakukan semua ini. Namun sebelum mulutnya berucap, sudah disambar duluan oleh di depannya.


“Pasti kamu bingung. Tadinya aku ingin kita duduk dulu. Tapi, ya! Sebaiknya aku langsung bicara saja. Aku ingin kamu jadi kekasihku.”


Clara melotot. Selain Steve bicara santai padanya aku-kamu, tentu saja atas ungkapan itu.


Steve keluar dari meja berjalan menghampiri. Meraih tangan pujaannya sekarang, menggenggamnya hangat.


“Maafkan aku, atas semua perbuatanku padamu. Aku akan menebusnya mulai hari ini. Aku jamin nggak akan mengulanginya lagi. Aku sendiri, kamu sendiri. Kita sama-sama manusia kesepian. Mari kita menghadapi Dunia ini bersama-sama. Aku jatuh cinta padamu, Clara.”


Clara makin terpana. Steve langsung menarik tubuh pujaannya, dan menyambar bibir. Saking terkejutnya, Clara sempat memundurkan kepalanya ke belakang, tapi nggak lama dia membalas ciuman Steve penuh gelora. Maka tanpa bicara, Clara menerima Steve.


**********


Nina melambai-lambaikan tangan di bibir dermaga saat melihat kekasihnya di pilar kapal. Kapal merapat, Dean turun. Nina langsung berlari kecil, melompat. Dean langsung menangkap tubuh pujaannya dan memutar-mutar.


Tiap libur kerja, lelaki itu datang ke sana dengan menyewa boat kecil.


“Kamu merindukanku?”


“Tentu saja. Kenapa kamu selalu menanyakan hal itu padaku?”


Cup!


Setelah memberi kecupan, Dean menurunkan tubuh pujaannya.


"Aku takut selama aku tidak di sini, lama-lama kamu tak tahan tergoda dengan pria lain.”


Menyikut kecil. "Kamu ini..." Memeluk erat. "Aku ini hanya milikmu seorang."


Tentu Dean segera melebarkan kedua tangannya membalas pelukan kekasihnya, ditambah bonus ciuman ringan ke kening. Nggak mau kalah, Nina menengadahkan kepalanya, menyambar bibir prianya.


Cup!


“Ayo, kita pulang,” ajaknya.

__ADS_1


Mereka berjalan ke Roxy. Roxy adalah kuda betina yang dibeli Dean dari salah seorang warga sini untuk pengganti Rocky. Mereka sangat merindukan Rocky. Sebagai pengganti kuda itu mereka sepakat beli kuda. Andai Rocky ada, pasti sudah dipasangkan. Ya, selain itu juga sebagai alat transportasi mereka. Tahu sendiri, kehidupan di Elvaros bagaimana.


Nina naik, Dean menyusul di belakang. Sepanjang jalan, sebelum keluar dari pelabuhan, mereka bertegur sapa dengan warga.


“Apa saja kegiatanmu, Sayang? Mm?” Dean memeluk mesra.


“Yah... Kamu tahu sendiri, begitu-begitu saja.”


Lelaki itu menyibak rambut di depannya, lanjut mencium-ciumi tengkuk. Nina menggeliat.


“Bisakah kamu berhenti, aku lagi menunggangi Roxy."


“Aku tidak mau.”


“Nanti Roxy bingung, nanti dia salah arah.”


“Itu tugasmu. Aku tidak perduli.”


Istilahnya sudah kewajiban Nina yang mengendarai. Jadi harus tetap fokus biar pun ada gangguan.


Sebelum naik, wanita itu berinisiatif membawa.


Nina memiringkan kepalanya.


“Iii... Geli..."


"Ampun dulu."


"Ya, ya, aku ampun."


"Bukan begitu. Ampun, Sayang..."


"Ampun, Sayang..."


"Nggak, nggak. Harus mesra."


"Aaa... Kamu ini banyak maunya," keluh Nina.


"Haha..." Mereka jadi tertawa.


Singkat cerita, malamnya. Usai makan, mereka duduk-duduk santai di bale. Nina merebahkan kepalanya manja ke atas paha Dean. Sedangkan menyambut dengan mengelus-elus lembut wajah kekasihnya.


“Bagaimana? Apa sudah laku?” tanya Nina.


Mereka berencana tinggal serumah. Dean bulan depan tugas di pulau Tartan. Dia sudah mendapatkan ijin pindah tugas. Dari kemarin sudah mengiklankan rumahnya dijual setelah tahu dapat ijin. Hasil penjualannya nanti akan dibelikannya boat untuknya berangkat kerja dari sini. Sisanya, untuk tabungan mereka berdua.


Jika manusia tahu bahagia itu simpel. Pasti akan memahami pasangan ini. Nina tidak memilih Steve, karena kebahagian dia tidak di materi tapi di Dean. Dean meninggalkan kehidupan di kota, karena kebahagiannya ada di pulau tidak terurus ini. Lagi pula mereka bukan orang pemalas, melainkan pekerja dan mandiri. Namum kelebihan mereka selalu bersyukur. Itulah sebenarnya kebahagian sejati.


“Sudah.”


Mendelik senang. "Benarkah?”


“Iya, Sayang...”


“Baguslah!”


“Minggu depan kamu ke sana ya.”


“Untuk?”


“Biar kamu tahu dimana tempat tinggalku dulu. Yah... Sekalian kamu bantu aku mengepak-ngepak barang.”


“Kamu kan tentara, kenapa butuh tenagaku?” cibir Nina.


Menangkup bibir. Meremas gemas. "Kamu ini...”


Dean menurunkan kepala, mencium bibir di bawahnya cepat.


"Ah!" kaget Nina.


Belum cukup, Dean menaikkan tubuh wanitanya, dan membawanya ke dalam.


“Mau kemana?” tanya Nina.


“Tentu saja mencumbuimu.”


“Kamu ini nggak sabaran. Baru saja kita makan.”


“Aku selalu nggak sabaran denganmu. Kamu tahu itu."


“Ish...,” cibir Nina manja.


Diteramang lampu malam. Mereka bercumbu. Bukan sekali, dua kali, Dean melihat ini. Tentu sejak mereka berpacaran, bagaimana keelokan tubuh kekasihnya Tetapi lelaki itu tetap saja tidak pernah puas. Habis, bagaimana... Tubuh wanitanya terlalu menggiurkan. Makanya dia selalu nggak sabaran. Tiap mereka bertemu saja malah dia berharap, kalau bisa hanya 1 menit sampai rumah Nina. Biar dia segera melempar tubuh pujaannya ke ranjang, dan mencumbui tiada henti. Kalau bisa mereka jangan keluar-keluar kamar. Sedangkan Nina walau kadang protes, tentu dia pun nggak bisa mengelak. Kejantanan lelakinya, keperkasaan si sakti milik prianya, permainan di ranjang yang luar biasa selalu membuatnya nagih. Sama seperti Dean, saat mereka menuju puncak, wanita itu nggak mau berhenti, minta nambah lagi. Kalau bisa mereka terus bercinta di kamar.


"Aaah..." Erangan kenikmatan lolos dari bibir mereka masing-masing.


Ronde pertama sudah selesai. Mereka lanjut lagi. Kalau bukan karena ada kegiatan manusia yang mengharuskan mereka berhenti, mungkin sampai Dean pulang baru berhenti. Seperti tadi, kalau bukan karena lapar, sesampai di rumah, pasti mereka langsung bercinta.


Satu Minggu kemudian.


“Hei!...” Lambai Nina diantara kerumunan orang yang turun dari kapal. “Sayangku Dean...,” panggilnya lagi. Biar Dean mengetahui posisinya karena dari tadi celingukan.


Menoleh. “Hei!...”


Usai keluar dari kerumunan, Nina langsung berlari ke arah prianya. Dean menangkap tubuh kekasihnya, dan menaiknnya ke atas.


“Akhirnya aku sampai,” gembira Nina.


Cup!


Mereka berciuman. Dean menurunkan tubuh wanitanya. Meraih tas Nina buat dibawanya. Nina melingkarkan satu tangannya ke pinggang Dean. Mereka berjalan.


Selang sesaat, mereka sudah tiba di apartemen tempat tinggal Dean. Sebagian barang-barang telah dikepak-kepak. Untuk barang yang besar-besar nggak dibawa karena pria itu menjual sekalian furniture. Yang dibawa itu barang-barang pribadi saja Seperti baju, buku, koleksi kaset, dan lain sebagainya.


“Jadi ini rumahmu." Mata Nina menyapu ruangan.


Mengangguk. "Mm.”


“Sebagian sudah kamu rapihkan.”


“Iya, biar kamu tidak capek.”


Wanita itu memungut barang di luar kardus di dekatnya yang belum tertutup. Lelaki itu melotot, dia tadi sehabis membongkar, karena terbutu-buru harus menjemput Nina jadi nggak terselesaikan. Dia lupa kotak cincin yang dipersiapkan untuk melamar masuk ke dalam. Dia nanti tinggal bersama Nina, kenapa tak sekalian saja mengajak menikah? Dean langsung merampas barang di tangan Nina.


“Jangan!”


Kaget. “Kenapa?”


“Kamu baru sampai, kenapa langsung beres-beres?"


“Ah, tidak apa-apa. Aku tidak capek.”


Nina mencoba merampas. Dean mempertahankan, sambil mendorong kardus itu menjauh.


“Tidak, tidak. Kamu baru sampai, nanti saja dikerjai.”


Selanjutnya, 3 hari kemudian.

__ADS_1


Dean melangkah masuk lift sehabis pulang kerja. Hari ini adalah hari terakhirnya dinas di markas sini. Karena besok dia dan Nina berangkat ke Elvaros memulai hidup baru berdua. Barang-barangnya sudah selesai dikerjai, besok akan dibawa mereka. Untungnya, kemarin kotak cincin itu berhasil diselamatkannya saat Nina mandi, kardus itu dibongkarnya.


Tempat tinggal pria itu berada di lantai 9. Saat dia keluar dari lift berjalan menuju rumah, lelaki itu terpana lihat di depan pintu ada Salsa dan Deborah lagi berbincang-bincang dengan Nina. Dia lupa wanita-wanita pengisi nafsu ranjangnya dulu tahu tempat tinggalnya. Padahal sewaktu dia sepulang dari perang, wanita-wanita itu tak pernah datang. Mungkin itu yang membuatnya jadi lupa. Matilah dia sekarang ini...


Nina menoleh akibat merasakan kehadiran Dean, Salsa dan Deborah pun turut menoleh karena wanita di depan mereka mengalihkan pandangan. Nina dengan muka cemberut melototin, lalu tak lama masuk ke dalam.


“Nina!” panggil Dean lekas mengejar.


Salsa dan Deborah bergegas mendekati, membuat pria itu jadi tertahan akibat terhalang mereka.


“Hallo, Tentara Tampanku. Sudah lama kita tidak bertemu,” tegur Salsa.


“Rupanya kamu sudah pulang, Sayang. Kami merindukanmu,” tambah Deborah.


Dean menepis tangan mereka, lalu berkata tegas sambil lalu.


“Sebaiknya kalian jangan menemuiku lagi. Aku sekarang pria sudah mau menikah!”


Mereka melongo. Mereka nggak masalah dimadu, buktinya mereka berdua sudah dimadu. Karena itu ketika melihat ada wanita lain lagi di rumah tentara tampan mereka, mereka pikir wanita itu sama seperti mereka. Makanya mereka santai saja bicara dengan wanita itu menyebutkan siapa mereka.


Tok! Tok! Tok!


“Nina... Nina..." Dean menggedor-gedor pintu kamar.


Tak ada sahutan.


“Nina... Nina...”


Segala upaya telah dilakukan Dean agar Nina mau membuka, dari membujuk makan, mengajak jalan, dan lain sebagainya, namun tak berhasil.


Malam semakin larut. Bulan dan bintang benderang di atas sana. Pria itu tidur di sofa panjang dengan badan menghadap pintu kamar.


Wanita ini kalau sudah marah memang susah! Harus butuh ekstra kesabaran merayu. Tapi sangat wajar, wanita mana yang tahan dengar, pacar dulu prianya berbicara sangat gamblang bagaimana hubungan mereka dulu. Apa lagi ini dua orang. Kelihatan banget dia bajingannya.


Paginya, lelaki itu terbangun lihat wanitanya keluar dari kamar membawa tas. Secepat kilat dirampasnya. Tapi tak semudah itu Nina sekuat tenaga bersikeras menahannya.


“Ada untungnya juga aku di sini. Aku jadi tahu aslinya kamu. Aku nggak menyangka ternyata kamu pria brengsek!"


“Tunggu dulu, Sayang... Biar aku jelaskan padamu.”


“Aku tidak mau, sekarang lepaskan tasku.”


“Tidak, tidak,” tolak Dean


“LEPASKAN!” Nina berteriak lantang.


Dean terbelalak. Susah juga dia bersikeras saat ini Nina lagi diubun-ubun. Terpaksa dia melepaskan. Sebelum Nina melangkah pergi, dia berkata lagi...


“Mulai saat ini kita putus!”


Ini bukan terbelalak lagi, kedua mata Dean rasanya mau lompat dari sarangnya. Namun pria itu tak mengejar. Biarlah Nina tenang, beberapa jam lagi dia akan menyusul ke Elvaros.


**********


Turun dari kapal, Dean bersama 2 orang pemuda Elvaros menuju tempat Nina. Barang-barangnya diangkut pakai forklit, dia berada di salah satunya. Seusai tiba, barang-barangnya diturunkan, kemudian dua pemuda itu pergi. Dean meninggalkan barang-barangnya langsung masuk menemui Nina ke dalam, tapi yang dicari tidak ada. Dia lekas keluar mencari disekitaran.


Di pantai, pria itu melihat kekasihnya lagi berdiri memandangi laut sambil menangis. Dia mendesah kecil, lalu berjalan menghampiri.


“Sayang...”


Seketika menoleh. “Mau apa kamu ke sini?”


“Aku mau menjelaskan...”


Nina mengelap air matanya lalu bergegas pergi. Dean segera meraih tangan. Nina berpaling.


“Apa?!”


“Ya! Aku pria bajiingan!” Dean berteriak lantang.


Nina melotot. Kenapa jadi Dean yang marah?”


“Tapi itu dulu, itu dulu, Nina... Sebelum aku mengenalmu. Kan sudah aku ceritakan, aku berubah karenamu. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu dan ingin memilikimu. Kamu tahu sendiri, aku telah menjual rumahku, dan mengajukan pindah tugas di sini. Kenapa karena omongan dua wanita itu kamu jadi meragukanku? Hah?! Kenapa?" kesal Dean.


Nina terdiam. Memang itu bisa dijadikannya patokan atas kesungguhan Dean. Semua orang punya masa lalu, kenapa juga dia harus mempermasalahkan? Lagian, bukankah hal wajar pria suka bergonta-ganti pasangan sebelum menemukan yang tepat?


Dean mengeluarkan kotak kecil di kantong celana, bersimpuh di hadapan kekasihnya dengan membuka kotak itu. Nina memundurkan tubuhnya satu langkah saking terkejutnya.



(Gambar hanya ilustrasi)


“Berhentilah kita ribut, Sayang. Saat ini yang kita pikirkan seharusnya adalah masa depan kita. Jangan pernah kamu meragukanku, sudah pasti aku sangat, sangat mencintaimu. Kamu tahu itu, bagaimana aku menjadi pria yang nggak tahu malu demi mendapatkan hatimu. Dan bagaimana kamu sangat berartinya dihidupku. Nina Arnante, jadilah Ibu dari anak-anakku. Mohon terimalah kekasihmu ini." Dean melembut.


Nina melunak berjalan kembali ke posisi semula. Namun memberikan tangan kanannya dengan nada memerintah. Maklum, gengsi wanita ini selangit.


“Cepat pasang!” ujarnya.


Dean tersenyum, lekas mengeluarkan cincin dan memasangnya di jari manis kekasihnya.


“Sekarang cepat gendong aku pulang!” perintah Nina lagi.


Dean menundukkan tubuhnya jongkok ke bawah. Nina naik. Lalu sepanjang jalan wanita itu terus mengoceh. Biar dia mencoba memahami masa lalu Dean. Tetap saja dia was-was. Siapa yang bisa jamin sehabis mereka menikah, Dean nggak kumat lagi?


“Nanti sehabis menikah. Setiap kamu pulang kerja, kamu nggak boleh mampir-mampir. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus langsung pulang.”


“Iya...,” jawab Dean lembut.


Namun hatinya tergelitik, dia baru tahu kalau kekasihnya lagi cemburu kayak begini. Ternyata sangat menggemaskan.


“Kalau kamu mau keluar rumah, kamu harus lapor dulu padaku.”:


“Iyaaa...”


“Kalau aku melarang, kamu jangan coba-coba kabur di belakangku.”


“Iyaaa...”


“Terus kalau kamu di sini, nggak usah ngobrol-ngobrol dengan wanita-wanita sini.”


“Iyaaa....”


“Tapi juga dengan wanita-wanita lain di luar sana.”


“Iyaaa...”


"Pokoknya, aku nggak suka, nggak suka, nggak suka."


"Iyaaa..."




(Sebelumnya, Author sudah beri tahu siapa mereka ya. Namun Author perlu ingatkan lagi. Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan novel ini. Author hanya memberi gambaran terakhir visual MC dan FMC. Tidak lebih)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=END\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Berakhir sudah janji Author. Beri rating bintang 5, like & Komen untuk terakhir kali ya Gengs... Yuk, kita masuk ke novel berikutnya, 'Cinderella Ken' Klik profil Author ya...


__ADS_2