Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 41 Aku Mencintaimu Nina


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu. Oh ya, nanti malam aku mau pergi. Untuk makan malammu, kamu masak sendiri saja. Gunakan saja dapur ini,” balas Nina.


Mau nggak mau, enak nggak enak, apapun ceritanya dia harus menyampaikan hal ini. Biar Dean nggak menunggunya, dan kelaparan lagi.


Ya! Wanita itu akhirnya menuruti kemauan pria itu, juga bicara apa adanya.


Mau pergi? Maksudnya?


Apa Nina mau jalan lagi dengan Steve? Apa mereka mau makan malam bersama? Apa tadi yang dibawa Nina gaun? Menimbang ada simbol mode ternama di shoping bag itu.


Keputusannya berarti sudah tepat menyatakan sekarang. Biar pujaannya sudah berbekal ungkapan hatinya dulu. Biar nanti ada timbul perasaan bimbang kalau Steve melakukan bujuk rayu lagi.


"Hei." Nina menegur, karena Dean tidak merespon.


"Ya, baiklah."


Selesai makan, mereka membawa semua peralatan kotor ke wastafel.


“Biar aku saja yang cuci," ucap Dean.


Merespon lain. "Nanti kita mau jalan jam berapa?"


Dean melempar pandangan ke arah luar kaca. Sinar Matahari tampak sedikit kelabu. Ini sudah terlalu sore. Wanita ini pasti butuh waktu untuk persiapan makan malamnya.


“Setelah ini."


“Ya sudah, kalau begitu kamu cuci ya. Aku siap-siap dulu."


"Oke."


**********


Dibawah lembayung senja, dua pasang manusia sedang duduk di tepian pantai. Udara sejuk, sinar Matahari kekuning-kuningan, dan deru ombak, menerpa tubuh mereka.



(Gambar hanya ilustrasi)


Nina menarik kedua kakinya disertai mendesah.


"Haaa... Kupikir kita mancing. Tahunya, hanya duduk-duduk di sini."


Beberapa menit sudah lewat. Tidak ada tanggapan. Nina melirik, spontan terpana. Ternyata orang di sebelahnya sedang memperhatikannya


"Kenapa kamu melihatinku?"


"Aku suka kalau kamu berpenampilan begini."


"Oo..." Membenarkan topi, sambil cengengesan. "He... Padahal nggak panas ya."


Gaun panjang bertema santai dengan topi lebar di kepala menambah penampilan wanita itu makin memesona. Tadi dia ganti baju. Karena risih aroma tubuh mantan kekasihnya menempel di tubuhnya.

__ADS_1


"Tapi pakaianmu cocok untuk pergi ke pantai. Kamu sangat cantik sekali, Nina.”


“Tanpa dress ini, aku memang cantik.”


Ah, wanita ini...


Dean senyum-senyum.


Mendelik "Kenapa kamu senyum-senyum?"


"Aku senang kalau kamu berbicara sombong."


Menyikut. "Kamu ini..."


"Haha..."


Turut tertawa. "Haha..."


"Karena kamu capek, aku jadi memutuskan kita sebaiknya nggak usah memancing. Lagi pula sudah sangat sore. Juga, kamu kan mau mau pergi. Nanti telat lagi, akibat persiapan pergimu jadi habis gara-gara kita lama di sini. Tahu sendiri, mancing kan tidak sebentar." Dean menjelaskan perihal tadi.


"Aku bukan capek, hanya mau istirahat saja. Santai-santai di rumah. Masalah persiapan, aku bisa mengulur waktu. Jadi bukan itu masalahnya."


Jadi, Steve tidak penting?


Tersenyum. "Oo..."


Tiba-tiba Nina berdiri. Dean mendongakkan kepala.


"Karena nggak ada kerjaan. Yuk, kita main saja." Nina berlari kecil, sembari mengangkat roknya ke atas mata kaki.


Aduh... Wanita ini.


Terang Dean bengong. Orang dia mau bicara asmara. Malah diajak main.


"Ayo, kejar aku..." Nina melambai-lambaikan tangan.


Sebelum menyatakan cinta, tapi ada bagusnya juga biar ada pemanasan dulu. Malah begini mereka jadi terlihat mesra. Jadi nanti ada kolerasinya.


"Tunggu..." Dean bangkit mengejar.


Nina lekas berlari kencang. Sebelum langkah kaki orang yang mengejarnya mendekat, dia mengambil sejumput pasir di tangan, menyemburnya. Sontak Dean memejamkan mata. Namun saat dia membuka mata, orang yang mengerjainya menghilang.


"Wanita ini...”


Dia meradarkan pandangannya. Rupanya orang yang bermain rusuh itu berada di belakangnya, dan sedang menertawakannya.


“Kamu ya..."


"Haha..."


Mereka terus berlari bertelanjang kaki. Diantara senja, semilir angin, gemuruh ombak, serta cuitan gerombolan burung gereja yang bersiap mau pulang. Dalam suasana seperti ini, sebenarnya mereka bagaikan sepasang sejoli yang sedang memadu kasih di pinggir pantai.

__ADS_1


Nina terus berusaha tidak ingin tertangkap. Tentu saja usahanya sia-sia. Mustahil dia bisa lolos. Dia tejerambab saat Dean memeluknya dari belakang. Biar begitu dia meronta sekuat tenaga. Namun akibat rontaan-nya, mereka jadi jatuh ke bawah dan berguling-guling di atas pasir.


Dean segera memposisikan tubuhnya di atas. Menaikkan kedua tangan, dan menahan kedua kaki orang yang nggak bisa diam itu dengan kedua kakinya. Memerangkap agar berhenti.


“Kamu ngerjain aku ya?” Dean berkata, dengan deru nafas tak beraturan.


“Hihi...” Tertawa geli, diliputi turut ngos-ngosan. “Habisnya, nggak ada kerjaan.”


“Habisnya, nggak ada kerjaan...? Tapi ingin membuat mataku kelilipan?"


“Hihi... Aku yakin, kamu pasti punya reflek yang baik untuk menghindar."


“Kalau benar kena bagaimana?"


"Mana mungkin, kamu kan tentara. Kamu saja pasti dapat mengejarku. Ini, buktinya."


"Semua orang kalau matanya dilempar sesuatu, pasti reflek menutup mata. Bukan karena tentara. Dan juga..." Dean berhenti bicara, tiba-tiba dadanya dilanda gemuruh keras.


Lalu dia memandangi wajah si Cantik Jelita yang ternyata lebih menarik di matanya dari pada sekedar melanjutkan perkataannya. Mereka jadi pandang-pandangan.


Nina terkesiap, baru sadar posisi mereka yang rawan. Apa lagi wajah di depannya terlalu dekat dengannya. Diakuinya, Dean memiliki wajah tampan. Dengan sepasang mata hazel, berambut pirang, hidung mancung, alis tebal, dan bibir merah menawan. Ah! Bibir yang menarik itu... Jadi teringatnya, bagaimana ciuman mereka yang panas semalam.


“A-ku sudah tertangkap. B-isakah kamu melepasku?” Nina terbata-bata.


Turut tersadar. “Ah! Iya.”


Dean bangun, memposisikan tubuhnya duduk di sebelah Nina. Nina bangkit, mendudukkan tubuhnya. Setelahnya terjadi keheningan membentang diantara mereka. Masing-masing pada memandang laut. Namun tak lama Dean buka suara...


“Kamu ingat ucapanku waktu itu?”


Menoleh. "Ucapanmu? Yang mana? Yang kapan?"


“Yang waktu itu aku mengajakmu kemari.”


"Oo..." Mengangguk. "Iya, kenapa?"


Dean menghela nafas sebentar sebelum mengutarakan niatnya. Nina menunggu.


Sang Mentari perlahan-lahan mulai tenggelam di ujung cakrawala. Wajah mereka tetap tampak berkilauan karena senja masih meninggalkan cahayanya. Angin juga nggak luput terus bermain nakal mengibas-ngibas rambut mereka.


“Itu artinya, kamu bagaikan matahariku, Nina. Semua curahan hatiku pada saat itu intinya bermuara ke situ. Saat aku tertembak dan terdampar di sini yang kurasakan adalah hidupku sudah berakhir. Tapi Tuhan berkata lain, saat aku membuka mata, aku seperti merasakan ada cahaya yang siap membantuku keluar dari kegelapan keputusasaan aku. Cahaya itu adalah kamu. Selain kamu penyelamatku, kamu juga penyembuh hidupku. Aku jadi lebih menghargai hidup karena kamu. Dan rasanya aku tak bisa hidup tanpamu, Nina.”


Yang dikatakan begitu melotot, secara spontan dia memutar kepalanya ke arah laut. Ini, nggak benar. Kalau sudah begini, pasti Dean...


Pria itu mengembalikan wajah yang diajak bicaranya untuk kembali melihatnya. Entah, kenapa wanita itu tak kuasa melawan.


Dean menatap dalam manik indah di depannya. Kemudian sayup-sayup dia berkata...


“Aku mencintaimu, Nina.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Gengs 5 episode lagi novel ini akan berakhir. Beri dukungan like-mu Gengs... Untuk menambah semangat Author-mu ini. Thanks 😊


__ADS_2