Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 24 Hook Keras


__ADS_3

Disebuah kamar nan mewah yang perabotannya semua serba lux. Seorang pria tampan berambut pirang, berpostur tubuh tinggi dan tegap, bermata cokelat, memakai kemeja putih dengan dasi ungu pekat, serta setelan jas serba gelap. Duduk dengan gaya elegan di samping nakas. Dia sedang terlibat percakapan dengan seseorang lewat sambungan telepon.



(Gambar hanya ilustrasi)


“Kau serius?” Pria itu memasang mimik tak percaya.


“Ya, tentu saja, Tuan. Saya melihat dengan kedua bola mata saya sendiri." Lawan bicaranya kembali menyakini.


Orang itu adalah informan pria itu. Yang selama ini dibayarnya untuk mengawasi seseorang. Informan yang merupakan warga asli pulau tersebut.


“Maafkan saya, Tuan. Jujur, seminggu belakangan ini saya tak mengawasinya. Saya teledor. Saya pikir, dia melakukan aktifitas seperti biasanya. Saya nggak menyangka, rupanya dia lagi bersama seseorang di rumah,” sambung orang itu, sekaligus meminta maaf.


“Pantas, seminggu ini kau tidak memberi kabar kepada saya."


"Maafkan saya, Tuan."


"........." Tidak ada tanggapan.


"Jadi bagaimana, Tuan? Apa Anda akan ke sini?" Orang itu jadi bicara hati-hati.


"Besok kau menghubungi saya lagi.”


“Baiklah, Tuan."


Tut! Sambungan terputus.


Pria itu memijat pelipis kepalanya. Isu yang selama ini dibuatnya lewat informannya sebagai kepanjangan tangannya. Supaya tambatan hatinya tidak dijerat oleh pria disekitaran sana, rupanya percuma. Pujaannya malah mendapatkan pria asing.


Mungkin sudah saatnya dia ke sana. Sebenarnya dia masih butuh waktu lagi. Dulu, dia meninggalkan daerah itu karena ada hal yang harus diurusnya. Hal pribadi yang menyangkut kelangsungannya bersama orang itu. Memang dia pergi terlalu lama. Habis, bagaimana.... Urusannya tidak semudah itu dibereskan. Karena dia butuh waktu untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Jika tidak ingin kehidupan pribadi mereka nanti diganggu oleh orang-orang terdekatnya.


**********


“Hei, kenapa kau belum jawab?” tegur Nina, memalingkan kepalanya kembali ke Dean.


Orang yang diajaknya bicara masih fokus untuk apa yang dilihatnya. Dia penasaran, apa ini ilusi? Atau, benar ada orang yang sedang mengawasi mereka? Namun ditujukan ke siapa? Apa benar ke mereka? Atau, jangan-jangan ke dirinya? Atau, ke Nina? Jika ke mereka, ada urusan apa? Ke dirinya, kenapa? Apa orang itu nggak suka dia dekat dengan, Nina? Atau, atas kehadirannya di pulau ini? Ke Nina, apa itu musuh Nina? Atau pemuja diam-diam, Nina? Tapi juga, apa orang itu sudah lama begini? Atau baru-baru ini?


Dean mendesah, semua masih misteri. Dia masih nggak mengerti situasi pulau ini. Nina cemberut karena di sebelahnya tetap tidak memberi respon.


“Hei, dari tadi kau belum jawab?”


Tak ingin orang yang disukainya was-was, usai menengok, Dean berdalih.


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin lihat pemandangan di sana saja."


“Apa yang kau lihat? Semua pemandangan di sini sama saja!” Lekas buang muka, menengok kembali ke depan. Namun seketika melotot. "Hei, lihat! Bebek-bebekku jadi berhamburan kemana-mana.”


Menoleh. “Astaga..."


Akibat nggak ada yang mengarahkan, sebagian bebek jadi bebas keluar dari kawanan. Nina segera berlari mengejar, tidak luput Dean. Nina mengambil arah kiri, otomatis Dean kanan. Mereka berdua berusaha menggiring bebek kembali.

__ADS_1


“Kau tidak berguna!” umpat Nina, usai mereka berhasil mengembalikan bebek yang pada nakal untuk masuk kembali ke dalam kawanan.


“Maafkan aku, lain kali aku akan lebih hati-hati.”


Mendengus. "Ugh!”


Nina berjalan cepat-cepat. Buru-buru Dean mengimbangi. Melihat yang disebalnya di sampingnya, Nina berjalan lebih cepat lagi. Dean tidak mau kalah segera mengikuti. Tapi sebelum Dean sampai, Nina memajukan langkahnya. Akhirnya mereka jadi kejar-kejaran langkah.


“Kau nggak usah mengikutiku! Sebaiknya kau pulang saja sana!” kesal Nina, berhenti melangkah.


“Ya ampun, Nina... Orang itu biasa sesekali teledor.” Dean turut berhenti.


“Hari pertama kau kerja secara sah saja sudah mengecewakan!”


“Ya, aku tahu, karena itu aku minta maaf. Lagi pula, maklumlah aku pegawai baru.”


Mendengus. "Ugh!”


Kali ini Nina melangkah pelan. Dean tersenyum lalu mengikuti. Untunglah, amarah wanita ini cepat reda. Bisa runyam urusannya. Tahu sendiri, butuh usaha ekstra membaik-baikan wanita satu ini. Baru saja kemarin mereka damai, tapi hampir saja dibuatnya mereka ribut lagi. Salahnya, harusnya juga fokus ke hewan peliharaan Nina.


Mereka memasuki hutan, melewati jalan nggak begitu datar, diantara pepohonan rindang, mereka terus menggiring bebek-bebek hingga memasuki ke suatu perkebunan. Lelaki itu memperhatikan tempat yang sepertinya dikenalnya. Wanita itu berhenti, lelaki itu pun turut berhenti.


“Kita berhenti dulu di sini. Biar bebek-bebekku mencari makan di sini. Kau mengawasi bebek. Aku mau lihat kebunku."


Mendelik. “Ini, kebun kau?”


“Iya.”


“Oh! Baiklah."


Nina mengitari pohon-pohon. Dean melirik-lirik tipis sambil mengawasi bebek-bebek.


"Untung, badai tempo hari tidak merusak kebunku. Sangat beruntungnya aku, padahal aku belum sempat mengecek keadaan sini," gumam Nina.


Mendelik. "Badai tempo hari? Kapan?"


"Sewaktu kau koma, ada terjadi badai."


"Oo..."


“3 hari lagi harus di petik. 4 hari lagi kapal pengangkut sumber daya alam akan datang."


Mendelik lagi. “Maksudnya?”


“Di sini, tidak ada pasar. Seminggu sekali kapal pemasok kebutuhan akan tiba, dan itu adalah kapal kemarin. Karena itulah aku bisa belanja dan beli celana untuk kau. 1 bulan sekali kapal pengangkut hasil Bumi akan datang. Itulah yang aku bicarakan tadi. Dari situlah kami akan menjual hasil panen dan lain sebagainya untuk dapat uang."


"Oo... Begitu"


“Sulaman wol-ku sudah jadi. Telor-telor ayamku sudah kupersiapkan. Ayam-ayamku yang berumur tua nanti akan aku jual termasuk bebek-bebekku. Buah-buahku, dan hasil tanaman berkhasiatku, serta lain sebagainya, tinggal dipetik pada saat 1 hari sebelum hari H. Sayangnya, untuk telur bebek, bulan ini aku tidak dapat uang karena bertelur melewati batas kapal itu datang.”


“Dengan uang yang kau dapatkan itu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan kau selama sebulan?” Mendengar itu, Dean jadi gak enak takut membebani.

__ADS_1


“Uang yang kudapat melebihi kebutuhanku. Karena aku tinggal seorang diri. Malah sering aku tabung. Kau tenang saja. Lagi pula, kalau aku kesusahan, banyak sumber alam yang bisa aku makan di sini. Aku bisa mencari ikan, memetik sayur, tentu saja memakan hewan-hewan peliharaanku, dan masih banyak lagi.”


“Mm... Benar juga," angguk Dean.


“Nanti, 3 hari lagi kita ke sini membawa gerobak. Biar bisa mengangkut semuanya.”


“Baiklah." Dapat ide. "Ah, iya! Kenapa gerobak itu tidak ditarik oleh Rocky saja?”


Mendelik. "Rocky?”


“Nanti aku rayu Rocky. Tapi nanti sore aku ajak jalan-jalan dulu.”


“Yah... Terserah kau saja.”


Selang sesaat, mereka telah kembali. Bebek-bebek itu belum dimasukan ke kandang dibiarkan berkeliaran di depan peternakan. Nina masuk ke dalam mengambil pakan bebek. Kemudian kembali, dan menabur ke bawah.


“Kwek... Kwek... Kwek...” Bebek-bebek saling berebutan.


Selagi Nina memberi makan, Dean berjalan ke pintu, membuka baju, dan menggantungnya di gagang pintu. Dia gerah. Maklum baju yang di pakainya berbahan wol. Sedangkan Mentari sudah panas menyengat.


“Ayo, jangan berebutan. Tenang, semua kebagian.”


“Hei, jangan dorong-dorongan.”


“Aku tahu kalian masih lapar, meski sudah makan di luar.”


“Ya, ya, makanan tadi di luar tidak enak.”


“Tenang, tenang, aku pasti bagi rata.”


“Aku sayang kalian semua...”


Lelaki itu senyum-senyum mendengar ocehan itu. Lekas dia berdiri di sebelah wanita itu.


“Pakai timbangan baru dibilang adil merata."


Nina menoleh. Seketika bola matanya membesar. Memang dia pernah lihat. Tapi saat ini beda. Saat itu Dean dalam masa pengobatan. Saat ini, kalau Dean begini. Jelas, tidak sopan! Dasar pria murahan! Seenaknya saja mengotori mata orang dengan dada sexy-nya. Ah, tidak, tidak. Dia malah pernah membelainya. Masih teringatnya jari-jarinya menyentuh daging bergelombang itu. Seketika bulu kudunya merinding.


Bug!


Wanita itu melayangkan hook keras ke perut six pack itu. Karena pria itu telah membuatnya stress.


Seketika Dean menundukkan badan, memegang perutnya, dan melotot ke Nina.


“Kenapa?” herannya.


“Kau...” Mengatur nafasnya sebentar. “Dasar pria tak bermoral!”


Lekas Nina memberi kantong pakan kasar ke orang yang membuat jantungnya berdetak nggak karuan. Selanjutnya berlari kencang.


Dean memandangi dengan raut wajah masih bingung. Apa lagi salahnya? Kenapa tiba-tiba marah?

__ADS_1


__ADS_2