Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 45 Elvaros Bergejolak


__ADS_3

Dean melangkah gontai menuju pelabuhan dengan berbekal uang receh yang diberikan Nina dulu padanya.


Namun tanpa sepengetahuan orang yang sudah berjalan jauh itu, ada sepasang mata kucing mengamatinya di jendela. Sudah 1 jam dia berada di sana demi menanti yang ditunggunya melintas. Ah, tidak. Sebenarnya dari subuh dia mematung disitu. Memandangi pekarangan rumahnya yang tidak disentuh lagi oleh mantan karyawannya.


Rintik-rintik air mata mulai mengalir di pelipis mata Nina. Saat melihat sosok yang dipandanginya menghilang. Di tekannya dadanya kuat, untuk menahan gejolak yang bergemuruh hebat di hatinya.


Lelakinya seharusnya adalah Dean, Steve sudah masa lalunya. Dia sudah lama mengubur perasaannya setelah Steve pergi tidak ada kabar. Harusnya dia nggak boleh berkilah. Harusnya dia mengakui. Jatuh cinta dengan pria berseragam loreng itu.


Tapi, bagaimana... Dia pun merasa sedih atas perjuangan dan pengorbanan yang Steve lakukan. Meski tidak membenarkan perbuatan Steve padanya, tapi apapun ceritanya dia dan Steve sama-sama mengalami masa menderita. Bukankah itu adil?


Sementara orang yang lagi berjalan itu, nggak lama tiba di pelabuhan. Sosoknya langsung jadi bahan tontonan warga sana. Tentu mereka masih ingat kejadian kemarin. Dean menegur seseorang, bertanya dimana tempat yang menyediakan telepon umum. Karena sudah tahu yang menegur orang baik, orang itu dengan senang hati memberitahu.


Di telepon umum Dean menghubungi markasnya. Setelah itu dia balik ke peternakan. Namun dijalan dia ketemu teman barunya.


“Apa?! Kamu akan pergi?” kaget Clara, usai Dean menceritakan.


“Iya."


“Bagaimana bisa Nina tidak berpihak padamu?” Clara sungguh tak percaya.


Ya! Memang kemarin sahabat kecilnya itu memaki pria di depannya ini. Tapi dia pikir itu hanya kemarahan sesaat. Mungkin karena kesal seharusnya posisi sahabatnya itu yang melabrak Steve.


“Ini bukan masalah itu. Dia bilang tidak mencintaiku.”


Makin terkejut. "Apa?! Itu tidak mungkin, itu bohong. Aku dapat lihat ada cinta di balik matanya. Dia..."


Memotong. “Aku tahu.”


Mendelik. “Kamu tahu? Lantas, kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak memaksanya untuk mengakuinya?"


“Kalau hati dan pikirannya tidak sejalan, untuk apa?"


“Ya ampun... Berarti dengan begitu, kamu menyerah?" Balik badan. "Ah, sebaiknya aku ke sana saja bicara padanya."


Melarang. “Jangan!"


Kembali menghadap lawan bicaranya. "Tapi aku..."


Memotong. "Jangan... Kumohon, biarkan saja. Aku menghargai keputusannya. Ya! Aku menyerah. Mungkin ada hal lain yang memberatkannya harus memilih Steve. Dan aku nggak mau memberatkan lagi pikirannya. Biarlah, aku pergi.”


“Dia memilih Steve?!" pekik Clara.


“Dia tak mengatakannya. Tapi aku yakin itu.”


“Aduh... Kenapa jadi begini. Padahal aku cocok denganmu. Aku senang Nina mendapatkan sosok yang baik pengganti kakakku. Mesti Steve kaya, tapi dia memiliki sifat egois. Coba bayangkan, bagaimana nanti mereka berumah tangga. Aku jamin Nina nggak akan bahagia."


Tersenyum kecil. “Terima kasih atas semua dukunganmu selama ini." Beralih mengangkat hal lain. "Oh ya, kamu tidak apa-apa?"


“Tentang ayahku?” tebak Clara.


"Gara-gara ulahku kemarin, walau aku tak menyebut ayahmu, tapi orang-orang pasti bisa mengaitkannya. Mereka pasti jadi pada membicarakan ayahmu. Dan kamu jadi kena amuk ayahmu. Maafkan aku."


“Kamu tahu sendiri, ayahku orang terpandang di sini. Paling mereka hanya berani bicara di belakang saja. Dan tenang saja, masalah orang tuaku, kamu nggak usah khawatir aku bisa menghadapinya."


Ya! Wanita itu sadar diri nggak bisa menyalahkan pria di depannya ini. Wajar, jika nggak bisa mengontrol emosi. Jika dia diposisi yang sama juga begitu. Namanya orang yang dicintai disakiti.


“Aku juga mau minta maaf untuk hal lain. Sejujurnya bukan hanya kemarin, tapi juga janjiku yang pertama telah kuingkari. Aku bicara ke Nina. "


Tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti, kenapa kamu mengingkari semuanya. Saat itu, pasti sama seperti kemarin, kamu juga nggak tahan dengar Nina disakiti. Kuharap juga suatu hari nanti kita ketemu, kamu nggak lupa denganku.”


Menepuk pundak. “Tentu. Senang berteman denganmu.”


Balas tersenyum. “Aku juga.”


Mereka pun berpisah, Dean melanjutkan langkahnya. Beberapa menit kemudian, dia telah tiba di depan rumah wanita yang tidak berhasil dimilikinya. Dibukanya pintu pagar, lalu dia berdiri di jendela kamar depan. Berbicara seolah wanita satu itu berada di dalam.


“Nina, aku akan pergi 2 jam lagi. Kali ini aku takkan membantahnya. Aku sadar, aku telah memaksa kehendakku. Ya! Kuakui. Baiklah, aku akan jujur. Selain aku ingin membalas budi, tapi aku ada niat terselubung di sini. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Sekarang aku doakan semoga kamu bahagia bersama Steve. Kamu berhak bahagia, Nina. Setelah bertahun-tahun kamu banyak mengalami masa-masa sulit. Dari kepergian Brian, rumah orang tuamu terbakar, dan kepergian orang tuamu, serta maklumat itu. Tentu saja, juga kesendirianmu. Terima kasih atas semua kebaikan yang telah kamu berikan kepadaku. Tentu, aku takkan pernah melupakannya seumur hidupku. Dan juga maafkan aku, atas tindakan lancangku kemarin. Terus terang, itu kulakukan semata-mata karena aku sangat menyayangimu. Tidak terima jika kamu terluka."


Yang didalam memejamkan matanya, dan menutup mulutnya agar tidak terdengar isak tangisnya. Ya! Wanita itu masih berada di rumah.

__ADS_1


*********


Dean berdiri di bibir dermaga memandangi kapal yang menjemputnya sedikit lagi tiba. Objek kapal itu jadi bahan tontonan warga pelabuhan. Maklum, sama seperti kapal Steve, seumur hidup mereka belum pernah lihat kapal militer.


Kapal berwarna hijau tua warna ciri khas Angkatan Darat yang dilengkapi senjata, rudal, dan helipad. Serta berbendera kebangsaan negara Andaron, nggak lama menepi di dermaga.


Tanpa basa-basi Dean masuk, dan kapal kembali berlayar. Di atas yacht, Steve memandangi tersenyum puas. Akhirnya musuhnya terpukul mundur. Dia tidak menyangka Nina memilihnya. Sekarang ada 2 hal yang harus diselesaikannya. Pertama, minta maaf ke Nina. Kedua, tentang wanita kecil itu.


Sementara itu Nina di bibir pantai, menangis tersedu-sedu. 1 jam sebelum Dean berangkat dia sudah berada di situ. Dia tahu, sangat tahu sekali hari ini, hari terakhirnya melihat sosok Dean. Seharusnya tadi dia keluar menemui, namun yang terjadi malah langkah kakinya membawanya ke sini.


Sungguh, dia nggak kuat menatap pemilik mata hazel itu. Apa lagi mendengar secara langsung kata perpisahan dari mulut menawan itu. Dipastikan itu makin mengiris hatinya.


Gemuruh ombak terus melandai-landai ke tepian mengenai kedua telapak kaki wanita itu. Hari ini suasana pantai seperti tidak biasanya. Seperti sedang menemani seseorang yang lagi bersedih.


Selang sesaat, Nina berjalan pulang. Demi mengenang kehadiran Dean, setiba di rumah, dia menuju peternakan. Dia menatap sayu kandang Rocky, rupanya semua baju yang dibuatnya di bawa Dean. Di situ pun ada surat yang bertuliskan...


“Maaf, semua pakaian pemberianmu aku bawa. Ijinkan semua itu menjadi kenanganku.”


Nina kembali menangis sesunggukan. Karena tidak ada satupun barang yang dimilikinya untuk mengenang Dean. Rupanya, sehabis itu tangisnya kembali pecah. Usai keluar dari peternakan, terduduk lemas di bale memandangi sekitaran. Mengenang jejak Dean juga semua di situ.


Dean pernah bilang, mungkin pertemuan mereka baginya tiada arti. Ternyata itu tidak benar. Meski kehadiran Dean singkat, tapi nyatanya dapat memberi arti yang sangat mendalam. Mereka sering bertengkar. Nanti baikan, nanti berantem lagi. Bersenda gurau, tertawa riang, dan banyak hal. Dean telah mengisi relung kesendiriannya yang sesak menjadi berwarna. Mungkin ini akan jadi penyesalan seumur hidupnya.


Bunyi pintu pagar membuat wanita itu jadi menghapus seluruh air matanya. Dia menengok ke arah depan rumahnya. Rupanya pria yang ingin menikahinya datang menemuinya.


Steve jalan mendekat mengembangkan senyuman manis tapi terselip ironi. Kenapa? Karena orang yang ditemuinya kelopak matanya sembab.


Apa Nina sehabis menangisi, Dean?


“Aku datang untuk meminta maaf."


“Lupakan saja hal itu.”


“Aku perlu menjelaskan. Aku...”


Memotong. "Bisakah kamu tidak menemui aku dulu? Saat ini aku ingin sendiri."


Meski Nina membelanya, ternyata itu nggak memiliki arti. Dia nggak menang dari Dean, melainkan kalah telak. Dia hanya dapat raga Nina, bukan hatinya. Semua itu terlukis jelas saat ini.


Diam. "........"


Setelah menghela nafas, Steve melangkah. Nggak apa-apa, Nina pasti akan kembali mencintainya lewat berjalannya waktu kebersamaan mereka nantinya.


Sementara itu Dean di sana, setiba di markas, langsung membuat laporan. Laporan fiktif tentunya nggak mungkin kenyataan. Dia memberi alasan jika dia terdampar di pulau itu, dan ditolong oleh salah satu warga di sana. Tetapi selama ditolong dia koma, tidak sadarkan diri. Lalu terbangun hilang ingatan. Dia baru kembali ingatannya pada saat kemarin. Makanya pagi ini dia menghubungi markas.


**********


“Lapor Tuan, target sudah ditangkap." Salah satu anak buah Steve menghadap.


Steve mengangguk, lalu mengikuti anak buahnya ke tempat penyekapan. Sehabis dari rumah wanitanya, dia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap anak penguasa wilayah sini.


Di ruangan nan redup, lampu penerangan tidak memadai. Clara disekap dengan kedua tangan dan kaki diikat, juga mulut di lakban. Ruangan itu berada di bagian bawah kapal. Di sisi kiri dan kanan Clara, ada dua orang bertubuh tegap menjaganya.


Pintu terbuka, Steve masuk. Clara langsung meringsutkan tubuhnya ketakutan. Steve berjalan mendekat, menurunkan tubuhnya pas di depan tawanannya yang tergolek di bawah. Dia mengisyaratkan mata ke dua bodyguard untuk menduduki sekaligus membuka lakban di depannya.


“Aaa...,” rintih Clara.


Steve mencakup dagu dan meremasnya kuat. Clara kembali meringis kesakitan. Setelah puas menyakiti, Steve melonggarkan cengkramannya.


“Sejak kapan kau mengetahuinya?”


"........."


“Siapa yang memberi tahu? Pasti orang tua kau, 'kan?"


"........."


Menggoyang dagu. "Hei, jawab!"


“Anda jangan coba-coba menyakiti ayah saya. Jika Nina sampai mengetahuinya, saya jamin hubungan Anda akan berakhir!" ancam Clara, akhirnya buka suara, juga berani melawan.

__ADS_1


Demi menjadi tameng ayahnya, dia bersedia melakukan apapun. Jadi dipikir-pikir, buat apa dia takut?


"Rupanya memang benar ayah kau. Ya! Siapa lagi..." Mendengus. “Humph!" Menggeleng. "Gadis Kecil... Tapi rupanya kau punya nyali ya."


“Bukan ayah saya! Asal Anda tahu, Tuhan lah yang menunjukkan perbuatan Anda kepada saya!”


Sontak tertawa renyah. “Haha... Perbuatan saya? Apa kau sedang membuat standar ganda? Bagaimana dengan perbuatan ayah kau, Gadis Kecil?”


Diam. "........"


“Dengar! Sebenarnya saya tidak peduli kau tahu dari mana. Karena saya akan menghabisi kau dan ayah kau! Kau pikir, saya tidak bisa mencari alibi ke Nina untuk kematian kalian berdua? Hah?!”


Membelokkan mata. Spontan mencaci. "Dasar, Anda pria pengecut! Sudah saya duga, Dean lebih jantan dari pada Anda! Terbukti, contoh kemarin, dia langsung berhadapan dengan Anda. Lekas pasang badan melindungi Nina. Tidak seperti Anda malah suka mengamankan posisi! Padahal sudah menyakiti Nina, dan masalah itu datang dari Anda!"


Steve melotot. Tentu dia nggak terima atas omongan itu. Tangannya segera melayang ke pipi orang yang menyakiti hatinya itu.


Plak!


"Ah!" rintih Clara.


"Rupanya kau memang benar-benar punya nyali! Kau senang menguji kesabaran saya ya!"


Plak!


"Ah!"


"Kau tahu apa tentang permasalahan sebenarnya saya dan Nina! Kau tidak tahu apa-apa!"


Plak!


"Ah!"


"Kau jangan sok tahu segalanya!"


Namun saat Steve ingin menyakiti lagi. Saat itulah tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dahsyat...


BOOOMMM...!!!


Kapal langsung bergetar. Semua yang ada di ruangan itu serentak pada berpegangan ke sesuatu yang bisa menyeimbangkan tubuh mereka. Kecuali Clara langsung jatuh ke bawah, tentu karena tidak bisa berpegangan. Terdengar bunyi sirene disertai lampu merah menyala-nyala. Semua mata langsung mendongak ke atas.


“Ada apa?” tanya Steve panik.


Datang seseorang tergopoh-gopoh memasuki ruangan.


“Tuan, terjadi pergolakan di pulau ini. Entah gerombolan itu siapa. Pastinya, penjahat. Karena memiliki senjata, dan jumlah mereka tidak sedikit.”


Terkesiap, lekas bangkit. “Apa?!"


Steve lari keluar. Pas melintasi pintu, orang itu berkata lagi.


“Kapal kita sudah berlayar, Tuan.”


Steve melotot, tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap berlari.


"Tuan, Tuan...,” panggil semua anak buahnya.


Sementara Clara mendengar itu, menjerit-jerit nggak karuan. Tentu dia mencemaskan kedua orang tuanya. Dia terus berusaha bangkit, tetapi usahanya sia-sia. Selain dipaksa tidur lagi oleh kedua bodyguard itu, kedua kaki dan tangannya yang terikat pun menyulitkan ruang geraknya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah meratapi nasib kedua orang tuanya.


Ya, Tuhan... Apa yang terjadi? Bagaimana nasib kedua orang tuaku?


Steve berteriak-teriak histeris di pilar kapal. Melihat laju kapalnya yang makin menjauh dari pulau Elvaros.


Kapalnya tersistem dari marabahaya. Jika ada sesuatu yang menggangu keamanan, pintu kapal akan otomatis tertutup sendiri, berlayar pergi dari lokasi.


“NINA!!!!!"


Dia sudah dapat kabar baik atas hubungan mereka. Tahu-tahunya terjadi begini. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Siapa mereka? Apa Nina baik-baik saja? Oh, tidak, tidak, tidak, Ninaku...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tinggal 1 episode terakhir. Like-nya dong Gengs...


__ADS_2