Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 44 Diusir


__ADS_3

Dor! Dor! Dor!


Selongsong peluru terus berdatangan. Kawanan separatis itu terus berlari ditengah belantara hutan. Pasukan terus mengejar. Untungnya, sebelum gerombolan itu berhasil kabur, kepala kelompok itu telah tertangkap duluan.


Ketika itu Peleton 2 berhasil menemukan titik persembunyian mereka yang berada di dalam goa. Meski pertempuran berlangsung sengit, namun hujaman peluru tentara berhasil menumbangkan target utama mereka.


Saat itu anak buah kepala kelompok itu ingin menolong. Karena luka ditubuhnya cukup parah, kepala kelompok itu jadi melarang. Biar begitu, dia memberi pesan menyuruh mereka melanjutkan perjuangan.


Seperti anak yang kehilangan bapaknya mereka kebingungan tidak tentu arah. Biar disuruh melanjutkan pada dasarnya mereka ini selalu bergantung kepada ketuanya. Walau begitu, mereka terus berusaha untuk tetap tenang berlari ditengah gelapnya hutan.


Karena nggak mau misi mereka nggak berhasil. Sambil berlari salah satu anak buah kepala kelompok itu berbisik ke asisten ketua mereka, memberi ide.


Ya! Ide yang sangat brilian. Orang itu mengangguk setuju.


Sepertinya nanti akan terjadi penculikan. Mereka tidak ada pilihan. Mau nggak mau mengorbankan penduduk demi menebus ketua mereka.


“Sepertinya kita kehilangan jejak mereka Dan,” ujar salah satu anggota peleton, yang berada di sebelah Komandan dengan nafas ngos-ngosan.


“Sial!” gerutu Komandan Peleton 2 jadi berhenti melangkah. Diikuti yang lain.


**********


Nina menguap dibarengi menaikkan tangannya. Menepuk-nepuk hembusan nafas di mulutnya kemudian. Dia turun dari kasur berjalan ke jendela. Di tariknya hordeng. Seketika dia terkejut atas pemandangan di depan matanya.


Ngapain pagi-pagi Clara ke sini? Apa mereka ada janji? Ish...! Jadi Dean melanggar janji?


Melihat Nina, Clara lekas mengelap seluruh air matanya. Sedangkan Dean mau nggak mau menyapa, termasuk berusaha bersikap tenang.


“Selamat pagi, Nina."


“Mm." Nina membalas dingin, lalu pergi ke jendela lain.


Seberlalu pujaannya, Dean kembali melihat Clara.


“Ada apa kamu ke sini? Kamu kenapa?”


“Nanti saja kita bicara. Nanti aku akan menemuimu lagi."


Clara balik badan, namun baru beberapa saja melangkah Dean menahan.


"Tunggu!”


Menoleh. “Ya?”


Dari pada dia ribut dengan Nina. Lebih baik dibentrokannya saja dua orang sahabat yang pada nggak akur ini.


“Apa kamu nggak ingin bicara dengan Nina?”


Mendelik. “Apa kamu bisa mendekatkan kami?”


“Tentu saja, nggak masalah." Dean membuka pintu pagar, mempersilahkan masuk. 


Selagi Clara masuk, Nina yang sedang membuka hordeng ruang tamu otomatis wajahnya jadi makin cemberut.


Kenapa Dean menyuruh masuk? Mau apa mereka berdua ini? Ish!


Clara duduk di bale, menunggu Dean memanggil yang punya rumah keluar.


Pria itu menghampiri wanita yang lagi nggak sedap dipandang itu di dapur.


“Kamu ingat kan apa yang aku katakan kemarin?” Dean bicara hati-hati.


Menoleh. “Yang kemarin? Yang mana? Suka sekali sekarang kamu ngomong begitu.”


“Yang kubilang, Clara ingin akrab lagi denganmu.”


Nina langsung memalingkan wajahnya ke kaca melihat teman lamanya di luar. Yang lagi tersenyum canggung ke arahnya. Jadi, ini? Bukan, itu? Ya, memang saat itu Dean ada berkata begitu.


“Apa kamu bersedia?” Dean mengalihkan pandangan Nina.


Yang ditanya begitu mengangguk. Lalu mereka berjalan keluar. Clara berdiri sebelum mereka tiba. Saat orang yang dirindukannya tepat di depannya, dengan mata berkaca-kaca dia langsung memeluk.


“Nina..."


Nina membeku, namun tak urung juga dia membalas pelukan sahabatnya. Maka tanpa basa basi mereka sudah baikan. Dean tersenyum lega atas momen ini.


Selang sesaat, dua sahabat yang sudah akur itu bersenda gurau, tertawa-tawa renyah, bernostalgia menceritakan hal-hal dulu. Baik Nina dan Clara itu sendiri sudah langsung melupakan apa yang terjadi. Satu pun tidak ada yang mengungkit masalah maklumat. Bahkan tidak ada yang membahas bila mereka akrab begini nanti akan jadi masalah. Terutama ke Clara sebab Clara anak pembuat maklumat.


Dean hanya jadi pendengar baik. Dia pun tidak ada cemburu ketika mereka saat ini membicarakan kakak Clara. Tentu hal itu bukan layak untuk dicemburui.


“Haha... Aku ingat itu,” tawa Clara.


“Iya, 'kan? Waktu itu Kak Brian menyuruh kita jangan ke sana. Tahunya sehabis kita pulang, malah dia yang ke sana.”


“Dan pulang-pulang badan kakakku penuh lumpur.”


“Dan kita menertawakannya.”

__ADS_1


“Haha...” Tawa mereka berdua.


“Sudah tahu jalur bunga itu becek dan terjal, malah dia yang ingkar janji,” oceh Nina.


“Namanya kakakku sok ingin beri kejutan padamu.”


“Iya, haha... Tapi jadi buat masalah sendiri.”


“Ya, begitulah... Oh ya, ngomong-ngomong kamu pintar juga buat pagar ini.”


Dean mendelik, akhirnya dia tahu Nina pembuat pagar ini. Rupanya dibuat setelah mereka berjauhan.


“Aku bersusah payah mengerjainya.”


“Kenapa banyak sekali bunga mataharinya? Apakah kamu melakukan itu untuk mengenang kakakku?”


Memang diantara bunga yang bermekaran di pagar, bunga Matahari lebih dominan.


“Ternyata kamu masih ingat.”


“Tentu aku ingat. Waktu itu kan belinya denganku.”


“Ya, karena bunga Matahari, bunga pertama yang diberikan kakakmu padaku. Demi menyenangkan aku, dia sampai membobol celengannya, 'kan? Aku sangat tersentuh dan selalu terkenang akan hal itu.” Menggenggam hangat tangan sahabatnya. “Clara, sosok Kak Brian sampai kapan pun takkan tergantikan. Kamu pun tahu, kakakmu adalah cinta pertamaku. Biar pun ada pria lain di hidupku, namun Kak Brian selalu ada di hatiku."


Clara tersenyum tipis. Entah kenapa Nina harus bicara ini padanya? Apa karena nggak ingin dia terluka melihat Nina dengan pria lain? Padahal sewaktu bersama Steve, dia nggak ada masalah. Apa juga untuk menjelaskan padanya bahwa Nina nggak pernah melupakan kakaknya? Ya! Memang terbukti dengan bunga Matahari yang banyak merekah di pagar ini.


“Nina, kuharap kamu bahagia dengan pria lain. Aku yakin, Kak Brian pun menginginkan hal itu.”


Kedua mata mereka kembali berkaca-kaca. Kemudian kembali berpelukan. Dean? Kembali tersenyum atas interaksi manis diantara mereka. Ya! Cinta pertama memang sulit dilupakan. Apa lagi Nina melewati masa kecil bersama Brian, dan mengalami kenangan indah, bahkan juga mengenaskan.


Selanjutnya Nina menawarkan sarapan, Clara mengangguk. Saat Nina berdiri, berjalan masuk rumah. Clara berbicara dengan nada kecil ke Dean.


“Sehabis ini, temui aku ditempat pertama kita bertemu ya.”


Mengernyitkan alis. Turut menurunkan nada. “Ada apa?”


“Penting.”


Penting? Maksudnya? Memang dia bisa ada hubungannya dengan tangis Clara? Ya sudahlah, nanti ditemuinya saja. Dean mengangguk.


Setelah makan, Clara pamit. Beberapa menit setelahnya, dengan alasan mau cari kayu bakar, Dean menyusul ke sana. Setiba di sana, dia langsung bertanya dengan nada nggak sabaran.


“Ada apa?”


“Kumohon setelah selesai aku bicara, kamu jangan emosi. Hadapilah dengan kepala dingin."


"Janji dulu."


Biar cepat, mengangguk. “Iya.”


“Aku mengetahui sesuatu dibalik rahasia permasalahan, Nina.”


Makin mengerutkan kening. “Maksudnya?”


“Selama ini Steve bekerja sama dengan tetangga kami bernama Baron. Jadi selain aku, selama ini Nina diawasi orang lain. Beberapa kali aku melihatnya. Sepertinya kamu nggak tahu. Dulu kupikir Baron hanya sekedar diam-diam mengagumi, Nina. Sekarang aku baru tahu...”


Meminta jangan berhenti. “Teruskan..."


“Dia dibayar oleh Steve buat mengetahui apa saja kegiatan Nina selama ditinggal darinya. Karena dia harus tahu, bila Nina didekati pria lain. Jadi selama ini Steve merencanakan hal jahat. Tujuannya supaya Nina nggak didekati pria lain. Dengan membuat Nina menjadi wanita terkutuk, pembawa sial. Dan ayahku terlibat hal itu. Seperti kamu tahu, ayahku pembuat maklumat itu.”


Dean terbelalak.


“Karena ayahku orang disegani, dan ditambah lagi kakakku mati naas, maka semua jadi bersinergi. Tentu warga sini jadi pada percaya setelah maklumat itu dikumandangkan. Tapi ayahku punya alasan tersendiri, dan dia nggak menerima uang sepeserpun dari Steve. Ya! Ayahku hanya masih berduka atas kepergian Kak Brian. Dia melimpahkan rasa frustasinya itu lewat menyalahkan, Nina.”


Tentu wanita itu tidak tahu orang tuanya sudah menerima duit dari pria kaya itu.


“Jujur, aku takut sekali ayahku diapa-apain Steve. Bila hal ini terbongkar, tentu Steve tidak tinggal diam. Pasti akan mencari tahu siapa yang melakukannya. Karena saat ini aku bicara padamu berarti aku yang membongkar. Nanti jika ayahku sampai tahu pasti akan pasang badan demi melindungiku. Terpaksa jadi mengakuinya. Aku membicarakan hal ini, selain aku ingin memberitahu, aku pun ingin mengajakmu diskusi. Bagaimana caranya Nina mengetahui hal ini, tanpa tahu dari kita, dan termasuk ayahku tidak terbawa-bawa atas masalah ini. Lalu Steve menerima hukuman dari Nina. Jadi aku dan ayahku aman atas masalah ini. Makanya tadi aku meminta kamu jangan emosi."


Yang diajaknya bicara membisu. Karena otaknya lagi naik ke ubun-ubun.


“Apa kamu mendengarku?” tegur Clara.


Dean melengos pergi. Clara melotot segera mengejar.


“Hei, kamu mau kemana?”


Dean terus berjalan.


“Jangan bilang kamu mau menemui Steve. Kamu kan tadi sudah janji untuk tidak emosi." Clara mencekal tangan.


Melepaskan cekalan. "Kamu nggak usah khawatir, kamu dan ayahmu takkan diapa-apain Steve. Nanti Nina yang akan melindungi kalian berdua.”


Logis! Biar ayah Clara buat salah, pasti Nina akan memaklumi, membela. Karena sangat mengerti kesetressan yang dirasakan mantan calon mertuanya itu. Karena Brian anak laki-laki satu-satunya yang kelak akan jadi penerus ayahnya. Menjadi orang terpandang di pulau ini. Wajar sebagai orang tua menjadi sangat frustasi. Sedangkan untuk Clara, tentu sebagai sahabat kecil. Lagi pula, mereka adalah keluarga cinta pertama Nina.


Selanjutnya, Dean di pelabuhan langsung menyatroni kapal Steve. Sayang dia ditahan oleh penjaga kapal. Tentu nggak sembarang orang bisa masuk bila tak ada titah dari si pemilik kapal.


Dean berteriak-teriak. Semua orang jadi pada menonton. Saat itu kebetulan Rocky yang sehabis dari luar karena diajak anak buah Steve jalan-jalan. Langsung menaikkan kedua kaki depannya kesenangan saat melihat teman sekandangnya. Hingga orang yang menunggangi Rocky jadi berpegangan kuat.

__ADS_1


“HIIIKKK!!!”


Dean menoleh. Orang yang di atas tubuh Rocky mau nggak mau turun karena hewan itu terus meronta. Dean menghampiri teman suka dukanya selama di sini.


“Apa kamu merindukan aku?”


“Hiiik...”


“Aku juga.”


“Lepaskan dia!”


Seseorang memaki keras membuat orang yang diteriakin itu menolehkan kepalanya. Rupanya kebisingan yang dibuat olehnya membuat yang punya kapal jadi keluar. Tentu Steve tidak sendiri, bersama anak buah yang lainnya.


“Cepat, bawa Rocky masuk kapal!” titah Steve, kedua orang anak buah di sebelahnya.


Mereka segera bergerak, merampas. Dean nggak bisa perbuat apa-apa, jelas dia nggak punya hak atas hewan itu. Rocky meronta saat dipaksa masuk ke dalam.


“Ada apa Anda mencari saya?” Steve bertanya dingin.


Tanpa ba-bi-bu, Dean langsung mendekat, meninju orang yang sok elegan itu. Steve jatuh tersungkur ke bawah. Sontak semua orang pada terkejut atas pemandangan itu.


Seorang anak buah Steve segera menolong tuannya, sisanya otomatis maju untuk menghajar orang yang memukul tuan mereka. Terjadi perkelahian sengit yang tidak seimbang karena Dean sendiri, dan mereka keroyokan. Hal itu jadi semakin menghebohkan warga pelabuhan. Steve berteriak lantang untuk menghentikan aksi anak buahnya.


“Kalian berhenti!”


Mereka seketika berhenti. Begitu pula Dean, menoleh ke arah orang yang berkata tinggi itu.


“Ada gerangan apa yang membuat Tuan Dean marah?” Steve bertanya dengan nada meremehkan.


Mungkin saja si Sialan ini emosi karena dia dan Nina semalam sehabis makan malam berdua. Terang, makin merepotkan musuhnya ini untuk mendapatkan hati wanitanya.


Sebelum membalas, Dean membuang dulu darah yang mengalir di mulutnya.


“Anda sangat pintar sekali bersandiwara. Anda masih saja berlagak pura-pura tidak tahu. Anda pikir saya tidak tahu, hah?! Demi Nina tidak diganggu pria lain. Anda sengaja pergi tidak memberi kabar agar Nina di sini dianggap wanita terkutuk!”


Seketika Steve melotot tak percaya. Tahu dari mana Dean? Begitu pula warga pelabuhan semua pada langsung terkesima dan berbisik-bisik.


“Anda pria keparat!”


Namun saat Dean mau menghujam pukulan lagi. Dari kejauhan Nina berteriak lantang.


“DEAN!!!”


Yang diteriakin itu menoleh. Sontak Steve pun turut menoleh dan raut wajahnya langsung panik. Nina berjalan mendekat.


“Apa yang kamu lakukan?” omelnya, setibanya.


“Pria ini pantas dihakimi. Kamu harus tahu, dialah dalangnya yang selama ini membuatmu merana. Dia sengaja biar dianggap mati oleh warga sini, supaya kamu dianggap wanita terkutuk! Gunanya agar kamu tidak didekati pria lain."


Terbelalak. “Apa?!”


“Itu tidak benar Nina. Aku, aku...," gugup Steve.


“Dia pria sangat egois. Dia tidak memikirkan penderitaan apa yang akan kamu alami akibat dari perbuatannya. Dia...”


Memotong. “Apa urusanmu?!” 


Yang diinterupsi terkesima. Kenapa Nina jadi marah padanya?


Steve pun nggak kalah terkejutnya atas reaksi wanitanya.


“Ini masalahku! Kamu tidak berhak ikut campur urusanku!” umpat Nina sambil lalu.


“Nina!” Dean mengejar.


Raut wajah Steve drastis menjadi tersenyum puas. Rupanya wanitanya berpihak padanya. Berarti nanti dia nggak perlu bersusah payah membuat pembelaan diri.


Saat Nina dan Dean berlalu, mata Steve dan Clara bersirobok. Clara kegugupan, lekas pergi. Steve menyipitkan mata. Tadi dia melihat wanitanya datang dengan wanita kecil itu. Apa wanita ringkih itu ada hubungannya atas semua ini?


Jadi, sehabis Dean pergi. Demi tidak terjadi keributan, walau pada kenyataannya waktunya nggak mungkin ke uber. Clara ke rumah Nina mengajak kemari.


“Nina... Nina..."


Dean terus mengejar. Mereka berdua sudah keluar dari pelabuhan. Akibat nggak tahan terus dicuekin, Dean meraih tangan.


“Nina!”


Menoleh. “Apa?”


“Ya, aku tahu, aku nggak berhak. Tapi aku pernah mengatakan padamu, aku akan melindungimu."


Menghempaskan tangan. "Lepas!" Memberi tatapan membara. "Melindungiku? Memang kamu siapa? Oh ya, aku akan memberi jawaban atas pengakuanmu kemarin. Dengar baik-baik ya, aku tidak mencintaimu. Dan sebaiknya kamu pergi dari hidupku!”


Seketika terperangah. "Apa?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Detik-detik mau berakhir Gengs, tolong kasih rating bintang 5, like & komen. Tinggalkan jejakmu...


__ADS_2