
Ikan-ikan itu jadi bahan sasaran kekesalan Nina. Dia sudah kembali ke wastafel mengerjakan apa tadi yang ditundanya. Pisau tajam terdengar mengilukan saat dia mensisik ikan secara kasar.
“Dasar pria gila!”
“Pria tak tahu diri!"
"Sudah ditolong malah minta daging!”
“Enak saja mau tinggal di sini! Mentang-mentang kuda sialan itu tidak nurut denganku, seenaknya saja buat keputusan!”
“Argh...!”
Kali ini isi perut ikan jadi bahan pelampiasannya. Segera dilepasnya pisau, lalu dia menghadap ke arah peternakannya berada.
“Dasar pria kurang ajar! Aku ini nanti bakal kesusahan jika dia di sini!” Memejamkan matanya sesaat. “Oh, Tuhan... Aku tidak mau masa lalu terulang lagi. Tahu begini, waktu itu aku gak menolongnya. Harusnya kulempar saja dia balik ke laut, biar dia mati dimakan ikan! Sungguh aku menyesal!”
Klontang... Klontang... Klontang...
Perabot pecah belah sekarang jadi bahan sasaran berikutnya. Setelah dapat apa yang dimaunya di rak, dibawanya semua keluar rumah. Diletakkannya barang-barang itu di salah satu bangku di tungku perapian. Lalu dia balik lagi untuk mengambil ikan yang tadi dikerjainya. Ditaruhnya wadah ikan itu di tanah.
Kemudian dia menumpuk kayu-kayu bakar di atas perapian. Dirasa cukup, disulutnya api. Selagi menanti kayu menjadi bara, dia menusuk semua ikan di tusukan besi. Setelah semua siap, dia memanggang ikan secara bergantian.
Sesekali, dia menengok ke belakang. Tempat yang didudukinya memunggungi peternakan.
“Rasakan! Biar dia mencium aromanya. Ini sudah jam makan siang. Biar saja, kukerjai dia. Tak akan kuberi dia."
Tentu aroma bakaran masuk ke dalam sana. Dean mencium aroma tersebut. Apa Nina lagi bakar ikan? Tentu dia masih ingat apa tadi yang dikerjai wanita itu di dapur.
Di tempat perapian, Nina masih asik mengoceh sendiri. Namun saat dia lagi tak menoleh ke belakang, orang yang diocehnya lagi di belakangnya.
“Mm... Wangi sekali... "
Seketika memalingkan kepala. “Mau apa kau kemari?”
“Aroma ikan lah yang membawaku kemari.”
“Tidak ada yang mengundang kau di sini!"
“Ikan-ikan itu yang mengundangku.”
“Ikan-ikan ini milikku. Pergi sana!”
“Bagaimana mungkin, jika aroma bakaran menusuk hidungku.”
“Lantas, apa urusanku?”
“Aku lapar Nina. Masa kau...”
Memotong. "Aku nggak perduli! Kalau kau lapar, kau makan saja jerami-jerami kuda sialanku itu!”
“Kau tega sekali, Nina... Kalau nanti aku mati kelaparan, bagaimana...? Aku nanti bisa menghantui kau, Nina." Dean, diakhir mencoba menakuti.
“Aku lebih senang ketemu sosok hantu kau. Dari pada aku melihat wujud kau sebagai manusia.”
Menghadapi wanita satu ini memang harus memiliki kesabaran ekstra. Dean duduk di samping si Judes, terang yang didekati memberi reaksi tidak suka.
“Buat apa kau duduk di sini?”
“Sudah kukatakan aku lapar." Dean memasang wajah memelas.
__ADS_1
Owh, owh, tidak semudah itu Biar wanita itu tipikal orang yang tidak tegaan. Istilahnya besar di mulut saja. Pasalnya, sifat keras kepalanya nggak kalah besar presentase-nya. Jadi, kalau ditimbang kedua sifatnya itu sama rata.
Nina bergegas bangun. Membawa wadah hasil bakarannya berpindah ke bangku lain.
“Apakah dengan menelantarkan orang kesusahan, itu membuat kau bahagia, Nina?” Dean memasang muka sayu lagi.
Sungguh... Gak juga. Tentu dia ada rasa kasihan. Tapi dia nggak boleh lemah. Kalau tidak, Dean bakal tetap dengan pendiriannya. Sedangkan dia nggak mau Dean tinggal di sini. Dia harus keras, nggak boleh ada belas kasih, sifat keras kepalanya harus lebih didominankannya. Ini semua demi kebaikannya.
“Iya! Masalah buat kau?!” Nina membelokkan kedua mata birunya yang seperti kucing.
“Baiklah, baiklah, bila itu membuat kau bahagia.”
“Cih!” cibir Nina, melihat Dean yang terus mencoba mengambil hatinya.
Nina memakan hasil panggangannya dengan lahap. Ternyata mengasyikan juga menyiksa begini. Biar kemampusan Dean melihatnya makan. Senangnya pancingannya berhasil, tapi memang umpannya pasti bakal datang. Mau makan dari mana Dean jika bukan darinya.
Dimakannya hingga tak tersisa. Ada pun, tinggal tulang dan kepala ikan saja.
Dean menelan air liurnya. Sungguh kejamnya wanita satu ini. Perutnya sudah keroncongan begini. Ah, dia tahu caranya, lekas dia berdiri.
“Kalau begitu, aku akan masuk ke dalam rumah. Menangkap tikus-tikus di rumah kau!”
Terkejut. Spontan berdiri. "Apa?”
Berjalan. "Kau dengar tadi."
“Hei, berhenti!”
Menoleh. “Apa?”
“Apa kau gila! Ya, ya, ya, aku tahu. Kau tentara beda tipis dengan orang hutan. Kau pasti sering makan aneh-aneh di hutan. Tapi, apa kau gila? Kau mau menangkap tikus di rumahku? Kau tahu itu ketika dibakar baunya seperti apa?”
Nina menarik nafas panjang demi menahan emosinya. Dia ingin membuat pria itu kelaparan. Malah sepertinya dia makan buah simalakama. Biar begitu dia nggak mau mengalah total. Diletakkannya wadah hasil bakarannya di atas bangku.
“Makan saja ini, tulang-tulang dan kepala-kepala ikanku itu untuk kau!”
Dean melongo, lanjut mengamati orang yang tidak berprikemanusiaan itu berjalan pergi. Dia mendesah kecil, lalu kembali duduk dan menarik wadah tersebut.
Di dalam, Nina mengintip dari balik hordeng.
"Dasar pria gila. Kayak begitu saja mau di makan. Tapi syukurlah, setidaknya rumahku tidak diacak-acak nya."
Yang dilihatnya tak lama pergi. Dia kembali keluar rumah, berjalan ke perapian.
“Sudah makan bukan diberesin. Dia pikir, dia raja di sini?”
Selagi wanita itu sibuk merapihkan, pria itu kembali datang dengan membawa sesuatu di depan kamar mandi.
Petok! Petok! Petok!
Nina menoleh, seketika terkejut bukan kepalang.
Posisi kamar mandi memang sejajar dengan tungku perapian.
“Hei, apa yang mau kau lakukan?”
“Tentu, untuk mengisi perutku yang masih kurang.”
Nina senewen, bergegas menghampiri. Lekas direbutnya hewan peliharaannya. Akhirnya terjadi tarik menarik diantara mereka.
__ADS_1
“Apa kau gila? Kau ingin membunuh ayamku?”
“Aku masih lapar.”
“Kalau kau lapar, kau telepon saja orang markas kau. Suruh mereka menjemput kau di sini. Kau pegang uang recehku, 'kan? Ya sudah, pergi sana! Sudah kukatakan telepon umum ada di pelabuhan. Tunggu apa lagi...?”
“Kan sudah kukatakan, aku tidak mau pergi!”
“Kalau begitu, kau akan mati kelaparan di sini! Aku tidak akan memberi kau makan. Kau lancang sekali ingin membunuh ayamku. Kau pikir, ayamku bisa seenaknya kau makan? Hah?!”
“Habis bagaimana, kau tidak mengijinkanku mencari tikus di rumah kau.”
“Tadi kan, aku sudah berbaik hati memberi kau kepala dan tulang ikan.”
“Perbuatan kau apa manusiawi, Nina?"
“Bodo amat! Masih syukur aku mau mengasih. Sini, ayamku!”
"Tidak!"
"Sini!"
"Tidak!"
"Kembalikan!"
Apapun ceritanya Dean bakal kalah, kendati dia seorang pria. Karena saat ini keadaannya tak memungkinkan. Sudah hebat dari tadi dia bisa bertahan.
Pria itu terpelanting ke tanah. Nina terkejut, segera menolong hingga ayam yang berhasil dirampasnya terlepas, dan kabur entah kemana.
“Kau tidak apa-apa?” cemasnya.
Serasa ada peluang, pria itu jadi memanfaatkan situasi. Padahal rasa sakitnya tak seberapa. Dia terjatuh di bagian pantat.
“Aduh... Sakit, Nina..."
“Ayo, ayo, aku bantu."
Perempuan itu membangunkan tubuh orang kesakitan itu, dan membawanya ke bangku perapian. Sesampainya, dibantunya juga duduk. Lalu dia jongkok memeriksa kaki di depannya. Takutnya gara-gara itu, luka di kaki Dean yang mau membaik jadi masalah.
Yang dicemaskan nya senyum-senyum sendiri mengamati dari atas. Dean tahu, wanita keras kepala itu bisa dihancurkan hatinya jika melihat hal-hal begini.
Rupanya saat lelaki itu sedang terlena berhasil mengelabui wanita itu, dia tidak sadar orang di depannya sedang memperhatikannya dengan memasang raut muka murka. Lekas Nina berdiri.
“Dasar pria kurang ajar!”
Sontak Dean terkesima menengadahkan kepalanya.
“Rupanya kau tidak apa-apa. Mati saja kau!” Nina berjalan pergi.
“Nina... Nina... Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongi. Aku janji, hanya ingin membalas kebaikan kau, dengan mambantu kau bekerja di sini. Nina, kau hanya cukup memberiku makan saja."
Terseok-seok Dean mengejar. Lagi-lagi, terkendala kakinya pintu rumah sudah keburu di kunci oleh Nina. Karena tak ada tanda-tanda pintu di buka setelah digedor berkali-kali, dia balik badan balik ke peternakan.
Teman barunya gembira melihat kehadirannya. Sedangkan Dean berjalan lunglai masuk kandang.
“Hanya kamu yang gampang aku lunakkan. Majikanmu sulit sekali," adunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like, dan komen. Tinggalkan jejakmu...