
Nina berjalan sembari mendumel. Kesal bukan kepalang atas apa yang didengarnya. Bukannya nurut apa yang dibilangnya, malah bilang ‘Clara cantik’ dan menyayangkan tidak berteman dengan teman kecilnya itu lagi. Memang sebegitu menariknya kah Clara, hingga Dean bisa berkata begitu? Baru juga kenalan, sudah genit saja!
“Ish...!" Dihentak-hentakan kakinya gemas ke tanah. "Lihat saja, kalau dia sampai berani melanggar ucapanku, akan aku kremasi dia!"
Sekitar sekian meter dari rumahnya, dia melihat seorang pria yang sudah barang tentu sangat dikenalinya sedang berdiri di depan pagarnya. Dengan posisi menghadap rumahnya. Langkah kakinya seketika sayu. Detak jantungnya pun tiba-tiba bergemuruh keras.
Ini, ini, ini, bukan dia, 'kan?
Pria itu memalingkan badannya akibat dapat merasakan suara langkah kaki. Saat itulah Nina seketika berhenti melangkah, dan sekujur tubuhnya langsung membeku.
“Hallo, Sayang...” sapa pria itu, berjalan menghampiri.
Nina lekas melangkah mundur. Pria itu jadi berhenti atas reaksi penolakan di depannya. Yah... Wajar wanitanya pasti shock, dan sudah pasti juga bercampur marah.
“Ini, aku sayangku, Nina Arnante.”
Yang diajak bicara tetap membisu.
“Aku datang untuk memenuhi janjiku, menikahimu."
Pria itu hati-hati mendekat. Setelah sampai, meraih tangan. Nina lekas mengelak.
Jelas, bagaimana dia tidak marah. Sudah mengambil keuntungan darinya, memberi cinta dan harapan. Juga, sembuh langsung pergi tidak ada kabar. Selama 3 tahun dia mengalami hinaan dari orang-orang sini. Tiba-tiba datang dan dengan mudahnya bilang begitu. Jika dia menerimanya, bukan hanya bodoh, dan gampangan. Tapi juga, dia sudah seperti pengemis cinta saja!
“Jangan marah, Sayangku... Aku akan jelaskan, akan jelaskan. Aku ada alasannya.”
“Aku ada alasannya...?!!!” respon Nina, akhirnya buka suara dengan nada menukik tinggi. Lalu pergi meninggalkan orang yang bicara begitu.
Mengejar, meraih tangan. "Tunggu, Sayang."
Meronta. "Lepas!"
Mengejar lagi. "Tunggu, Sayang... Beri aku kesempatan untuk menjelaskan."
Berhenti melangkah, menoleh. "Kamu kira, alasan kamu itu bisa meluluhkan hatiku?”
“Selain itu, tentu aku mau minta maaf.”
"Kamu kira juga, setelah kamu minta maaf, keadaan akan baik-baik saja? Terus kita menikah?"
“Aku sangat paham, ini pasti tidak mudah bagimu. Tapi biarkan aku...”
Memotong, kembali berjalan. "Tidak! Kuperingati, kita takkan seperti dulu lagi. Kita bukan sepasang kekasih lagi! Jangan mimpi kamu!”
Kekasih kurang ajarnya itu yang rupanya bernama Steve yang bertahun-tahun menghilang, yang membuat wanita itu jadi mengalami masa nggak menyenangkan. Karena berjanji akan menikahinya, tahunya nggak kembali. Segera mengejar lagi, lalu berdiri di depan pintu pagar menghalangi jalan wanitanya.
“Tunggu, Sayang...”
“Awas!”
“Dengarlah dulu. Kasihlah aku kesempatan bicara.”
“Tidak!”
__ADS_1
Steve meraih tangan. Kali ini dibawanya ke bibir, diciumnya. Nina meringis lekas menarik.
"Iiih....! Apa-apaan ini!!"
“Berhentilah, Sayang... Berhentilah, Sayangku... Dengarlah dulu kataku...”
“Aku tidak mau!”
“Dengarlah dulu, kamu bisa marah sehabis ini. Kamu bisa menamparku, memakiku, atau pun memukulku dengan sekeras-kerasnya dan sepuas-puasnya. Tapi kumohon dengarlah dulu kataku.”
“Percuma! Karena pada ujungnya aku tidak akan menerimamu! Jadi, minggir!"
“Dengarlah dulu.”
“Aku tidak mau!”
“Kumohon... Ayolah, Sayangku..."
“Apa?” Nina akhirnya menyerah.
Ya! Percuma dia menghindar. Steve pasti akan terus mengejarnya. Lebih baik dia membiarkan Steve bicara dulu supaya selesai urusan diantara mereka. Namun belum sempat Steve bicara, kedua orang itu menoleh saat dengar suara Rocky. Kuda itu langsung menaikkan kedua kaki depannya saat sudah dekat dengan tuannya.
“Hiiikkk...!!!”
Sontak Dean jadi berpegangan kuat demi tidak jatuh. Usai Rocky menuruni kakinya, dia turun. Rocky berjalan meninggalkan teman sekandangnya demi menghampiri majikan aslinya. Selagi Rocky berjalan, Nina dan Dean saling pandang-pandangan.
Tak lama Dean melangkah melintasi mereka. Dada Nina mendadak berdebar kencang. Atmosfer apa ini? Kenapa dia seperti seorang istri yang ketangkap basah oleh suaminya karena berselingkuh? Perasaan apa ini? Aneh sekali...
“Kamu merawat Rocky dengan baik." Steve mengalihkan ketertegunan Nina.
Menoleh, merespon. "Aku tidak merawatnya.”
Mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
“Pria itu yang merawatnya." Nina sengaja melempar api.
Padahal dia yang banyak merawat tentu karena Dean baru tinggal di sini. Meski dia hanya memberi makan saja. Raut muka Steve makin tak sedap.
“Siapa dia?”
“Dia? Kamu mau tahu? Dia..."
Nina sengaja tadi bicara begitu. Karena rencananya ingin memakai Dean buat dijadikan tameng menyelamatkan dirinya. Biar Steve mengurungkan niatnya untuk balikan padanya. Tapi jadi urung, karena rasanya akan jadi menambah masalah baru jika sampai terdengar Dean.
“Apa yang mau kamu jelaskan? Katakan sekarang, aku kasih waktu 5 menit." Nina kembali ke topik awal.
Ancaman Nina, tentu membuat Steve nggak bisa menekan, dia lagi tidak diatas angin. Sungguh dia penasaran setengah mati. Orang suruhannya nggak mengetahui hubungan Nina dengan pria itu.
“Kamu tahu, aku ini anak siapa. Aku sudah menceritakan segalanya mengenai keluargaku padamu. Itulah alasanku kenapa aku pergi lama meninggalkanmu. Ya! Karena keluargaku. Ya! Aku sadar, aku salah, membuat keputusan tanpa memberitahumu. Tapi semata-mata itu kulakukan agar kamu tidak dijadikan target oleh keluargaku selama aku sedang berusaha mendaki kesuksesanku. Aku butuh waktu buat bisa berdiri dikedua kaki sendiri supaya mereka nggak mengganggu hubungan kita nanti. Maafkan aku Sayang, aku terpaksa menghilang darimu demi kebaikan kita. Tetapi sebenarnya lebih tepatnya, aku menyembunyikanmu. Aku pun tersiksa jauh darimu. Tiap hari aku tersiksa harus menahan berjuta-juta rinduku padamu. Tapi bagaimana... Aku nggak ada pilihan. Karena kalau aku menjalin kontak denganmu, mereka akan melacakmu, menangkapmu, dan akhirnya kita tidak bisa menikah.”
Orang tua Steve masuk ke dalam 5 besar orang terkaya di negara Andaron. Selaku anak orang berada, tentu kehidupannya sudah diatur termasuk urusan hal pernikahan. Wanita yang bersanding dengannya haruslah sederajat. Jika tidak, wanita itu akan diburu karena dianggap menghancurkan reputasi keluarga. Terkecuali, jika dia punya taring alias bisa sukses sendiri tanpa bantuan keluarga.
“Apa kamu menganggap aku ini wanita bodoh?”
__ADS_1
Mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
“Kenapa tidak kamu ceritakan saja rencanamu padaku? Toh, aku sudah tahu tentang keluargamu. Apa kamu pikir, karena aku ini gadis desa, berarti aku ini gadis bodoh yang gak mungkin mengerti situasi yang akan kamu hadapi kalau menikah denganku? Dan juga setelah kamu berhasil, karena aku ini gadis desa yang terkenal dengan predikat ‘polos’-nya, dan predikat tak mengenal kata 'mewah'. Jadi nanti saat kamu sukses dan kembali, aku bakal mudah memaafkanmu?”
“Jangan berkata begitu, Sayang... Tidak... Aku tidak menganggapmu begitu.”
“Lantas, kamu menganggapku ini apa?”
“Aku hanya nggak ingin membebanimu dengan pikiran.”
“Hah! Pikiran? Tahukah kamu, apa yang kulewati selama ini setelah kamu pergi?”
“Ya, aku tahu. Kamu pasti sangat menderita bertahun-tahun menanti kabar dariku.”
Steve bicara sesuai pemahaman umum. Padahal dia tahu betul karena dia lah dalangnya yang membuat Nina jadi dibenci warga sini.
“Kamu pikir hanya itu saja...???!” geram Nina, diakhiri menukik.
“Maksudmu?” Steve tetap bersandiwara.
Huh! Andai Steve tahu, dia merasakan lebih dari itu! Dikucilin oleh warga sini gara-gara keputusan sepihak dari Steve. Setidaknya bila Steve memberi tahunya, dia bisa membela diri atas tudingan mereka yang melabelkannya ‘wanita terkutuk’. Tapi, ini... Ah, sudahlah! Malas juga dia menjelaskan.
“Sebaiknya kamu pergi, waktumu sudah habis. Tinggalkan aku sekarang," usir Nina.
“Tunggu Sayang, aku masih belum selesai."
“Sebaiknya kamu pergi!” keras Nina.
Steve mendesah. Baiklah, dia harus tahu diri, dia lagi tidak dalam posisi bisa memaksa. Nina juga butuh waktu berpikir untuk mencerna apa yang dijelaskannya.
“Baiklah, aku pergi. Tapi, boleh aku ijin membawa Rocky dulu bersamaku?”
Nina buang muka. Tentu buat apa dia menjawab. Rocky bukan miliknya. Steve naik ke atas pelana.
“Nanti pagi aku ke sini.”
"Tidak usah! Kamu jangan datang lagi, dan bawa saja Rocky bersamamu.”
Steve tersenyum getir, Nina bicara tanpa mau melihatnya. Ya, sudahlah... Biarlah Nina meredakan dulu emosinya. Lekas dia menarik tali mengarahkan Rocky ke pelabuhan. Nina baru menoleh usai kekasih kurang ajarnya pergi.
Sekarang dia dihadapkan dua situasi sulit. Meski dia marah, tapi mendengar penjelasan itu, dia pun dapat memahami. Steve pasti juga mengalami masa sulit bukan hanya dirinya. Steve telah berjuang keras bekerja pagi, siang, dan malam, demi nanti hidup bersamanya. Sedangkan disatu sisi, dia dilema usai kedatangan Steve ini, ke depan apa yang akan terjadi?
Sementara itu di peternakan. Dean berbaring lemas di atas ranjang. Dia resah atas situasi yang terjadi saat ini. Siapa pria itu? Apa Clara tidak memberi tahu secara konkrit tentang, Nina? Apa Nina diam-diam memiliki kekasih tanpa sepengetahuan orang sini? Orang itu pasti bukan warga sini. Tercermin dari penampilannya seperti orang kota. Sebenarnya tadi dia ingin menghampiri, tapi melihat mereka seperti saling kenal jadi urung.
1 jam kemudian, Dean keluar dari peternakan. Dia janji siang ini masak untuk makan siang mereka. Sebelum membuka pagar, dia menjulurkan dulu badannya ke arah depan rumah. Untuk melihat apakah pujaannya masih bersama pria itu. Dilihatnya tidak ada, lalu dia bergegas masuk.
Sesampainya di dalam rumah, lekas dia membuka lemari pendingin. Mengambil bahan-bahan yang mau diolahnya. Daging b*bi semalam, bawang bombai, paprika, dan lain-lain sebagainya dikeluarkannya. Diambilnya peralatan masak, lalu dia sibuk di dapur.
Sepanjang masak, pria itu curi-curi mata memperhatikan kamar depan. Karena tidak merasakan ada aura manusia di sana.
Salad sayur dengan dressing minyak kanola, dan daging bab* bumbu merah, sudah siap, diletakkannya di meja makan. Sebelum pulang, karena penasaran, dia berjalan ke kamar depan. Setibanya, dia tidak melihat wujud yang dicarinya.
“Kemana wanita ini? Apakah pergi dengan pria itu?”
__ADS_1