Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 29 Akibat Pemabuk Membuahkan Pelukan


__ADS_3

Dean meletakkan gerobak di depan peternakan. Kemudian dia masuk ke dalam, berjalan ke kandang, membuka pintu, mengeluarkan Rocky yang telah siap membantu. Setelah gerobak diikat ke tubuh hewan itu, dia naik ke pelana, menemui Nina yang telah menunggunya di samping rumah. Sebelum tiba, orang yang lagi dihampirinya memepetkan tubuhnya ke pagar.


“Tidak apa-apa." Dean menenangkan, setibanya.


“Kau yakin?”


“Tentu saja." Mengulurkan tangan. "Ayo?"


"Tidak. Kau jalan saja duluan. Aku mengikuti di belakang."


"Tidak apa-apa. Percayalah padaku."


"Tidak mau. Sudah, cepat sana jalan. Biar beres urusan kita."


"Masa, yang punya kuda jalan?" Memain-mainkan tangan. "Ayo, naiklah."


"Aku bilang, tidak mau. Lagi pula pembicaraan kita kemarin, Rocky hanya membantu kita membawa gerobak."


"Tapi kan tadi sudah kubilang..."


Memotong. "Tapi tadi aku belum yakin."


"Tapi bukannya kau..."


Memotong lagi. "Aku diam. Bukan berarti aku setuju."


Pasrah. "Ya sudahlah..."


Hari ini adalah hari memetik semua panen. Baik itu di kebun, samping rumah, dan depan rumah. Buat yang di rumah akan dikerjai terakhir.


Sebelum pergi, tadi pria itu ada mengajak wanita itu bicara untuk naik kuda bersamanya. Yah... Namanya keributan dua makhluk hidup yang beda jenis itu tidak sebentar. Makanya jangan heran wanita itu tetap meragukan. Biar pria itu terus berusaha menyakini.


Dean memacu Rocky pelan, Nina mengekori. Sepanjang jalan, Dean menengok ke belakang demi mengkhawatirkan pujaannya.


“Kau tidak apa-apa?”


“Ya.”


"Kalau kau capek, aku bisa menyuruh Rocky berhenti. Kita bisa istirahat sebentar."


"Apa kau lupa? Aku ini orang sini. Aku sudah biasa jalan kaki ke hutan. Bahkan mengelilingi pulau ini."


"Ya, baiklah, baiklah."


Tiba di lokasi, Dean mengikat hewan itu ke pohon, menurunkan barang-barang. Kemudian bersama-sama mereka lekas mengerjakan. Di dalam kebun, mereka berpencar. Tiap orang memetik satu-persatu pohon. Pertama-tama pas wadah Nina penuh, dia memanggil Dean karena takut meletakkannya ke gerobak. Yang kedua dan ketiga juga sama. Selanjutnya dia nggak melakukan lagi, karena akhirnya dia merasa Rocky nggak apa-apa. Buktinya, dari Rocky ketemu dengannya tidak melakukan pemberontakan, bukan?


Mereka terus bolak balik mengisi buah hingga selesai. Buah ditimbun dibagi dua. Sesuai masing-masing buah yakni plum dan cherry. Lumayan lama mereka mengerjai. Maklum, namanya kebun tak bisa dilakukan cepat.


Karena sudah beres, mereka berjalan pulang. Ditengah jalan, lagi-lagi Dean menoleh ke belakang.


“Kemarilah..."


Memajukan satu tangan ke depan. "Tidak!"


"Kau kan lihat sendiri dari tadi Rocky tenang. Ayo, kemarilah..."


Nina sebenarnya tahu, Dean sedang berusaha mendamaikan mereka. Terus terang, dia pun merasa bersalah telah melampiaskan rasa jengkelnya ke kuda itu. Jelas, Rocky nggak tahu apa-apa. Namun, entahlah... Tiap dia lihat kuda itu, kayak melihat tuan itu. Itu yang membuatnya jengkel setengah mati. Dia merasa tuan itu nggak mati, melainkan kabur. Karena dulu sebelum tuan itu pergi, mereka pernah berjanji akan menikah. Tentulah, siapa lah dia ini? Dia hanya gadis desa, sedangkan tuan itu orang berada.


Namun sebenarnya bukan itu yang teramat dipikirkan wanita itu. Dia baru sadar, kalau dia naik kuda. Berarti dia sendiri yang telah memberi ruang ke pria itu untuk semakin dekat padanya.


“Berhenti Rocky,” titah Dean, turun dari pelana.


Nina melotot segera memundurkan kakinya. Saat melihat orang yang bicara begitu menghampirinya.


Oh, Tuhan... Mau apa dia?


“Kau mau apa?” cemas Nina.


“Sudah kubilang, tidak apa-apa," ujar Dean, setibanya.


"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak mau!"


Dean menarik paksa. Nina meronta mempertahankan tubuhnya melawan balik.

__ADS_1


“Aku tidak mau! Aku tidak mau...!"


Penolakan wanita itu tentu saja sia-sia, terang tenaga pria lebih kuat. Dean memaksa naik. Karena terus didorong, terpaksa Nina mengikuti.


"Lihatlah... Nggak apa-apa, 'kan?" Dean berkata usai menyusul naik.


Aduh... Pria ini...


Nina memejamkan matanya, ketika kedua tangan orang di belakangnya mengalung di tubuhnya. Kemudian sepanjang jalan, dia berusaha untuk tetap tenang.


“Kita sudah sampai,” ujar Dean.


Nina grogi saat pinggangnya dipegang orang yang sudah turun itu untuk membantunya turun. Setelah Dean melepas tali gerobak, dia memasukkan ke dalam pagar, lalu kembali keluar.


“Aku bawa Rocky dulu ke peternakan nanti aku balik lagi."


Nina mengucek-ucek rambutnya, selepas orang yang membuatnya semaput pergi.


Ya, ampun... Pria ini... Main maksa-maksa saja!


Nggak lama pria itu kembali, mereka bahu membahu mengisi buah ke kotak kayu, atau bisa dibilang palet. Usai itu, mereka mengerjai tanaman, dan sayur di rumah. Dimasukkan juga sama ke palet. Selanjutnya semua palet disusun ke gerobak, termasuk box telur, dan semua sulaman wanita itu. Terakhir, ditutup terpal. Terpal yang telah dilubangi supaya hasil panen berupa tumbuhan hidup tetap segar.


“Tinggal Ayam dan bebek. Nanti pagi baru kita kerjai,” ujar Nina.


“Nanti mau di taruh di mana? Sudah penuh begini."


“Digantung-gantung saja di samping gerobak.”


“Oo... Begitu. Oh ya, sebaiknya besok kita bawa Rocky lagi saja. Biar kita nggak capek menarik gerobak ke sana."


"Aku tidak mau. Kalau kau ingin membawa Rocky, kita tidak jalan sama-sama. Kita ketemu di pelabuhan."


"Kenapa? Barusan kan kamu naik. Tidak apa-apa, 'kan?"


"Ya, aku tahu. Tapi aku nggak mau. Kau jangan memaksa!"


Ya! Sepertinya dia terlalu terburu-buru. Memang Rocky tidak ada masalah. Pasalnya, belum tentu Nina secepat itu mau berbaikan.


"Ya, baiklah." Dean pasrah.


Mendesah. "Haaa..." Berdecak-decak, disertai geleng-geleng kepala. "Ckckck... Aku baru sadar."


Heran. "Apa?”


Tiba-tiba di sebelahnya mengeluarkan statement nggak jelas. Saat ini mereka sedang menuju pelabuhan. Jadi tadi sebelum berangkat, mereka ada buat kesepakatan. Gerobak di tarik oleh Rocky. Namun tidak ada satu pun yang naik kuda. Makanya jangan heran mereka jalan bersama.


Biasa, pria itu yang sama keras kepalanya dengan wanita itu. Meski kemarin sadar terlalu terburu-buru membaikan. Tahunya, malah menjilat ludahnya sendiri dengan membuat negosiasi ke wanita itu. Mungkin sudah diuber waktu atas keberadaannya di sini. Karena urusan pribadinya saja belum selesai.


“Berarti selama ini kau menarik gerobak bukan hanya mengambil hasil kebun, tapi juga membawa semua hasil Bumi ke pelabuhan," ujar Dean.


“Iya, memang kenapa?"


"Kau benar-benar hebat sekali, Nina."


"Aku juga sering bawa gerobak untuk mencari bibit ke hutan."


"Oh ya?"


"Iya."


Mendesah lagi. "Sangat berat hidup yang kau jalani, Nina.”


“Kau nggak perlu mengasihaniku. Aku ini wanita perkasa. Sudah kukatakan, aku bisa mengerjakan semua pekerjaan pria. Itu artinya, baik yang kasar sekalipun.”


“Ya, aku tahu. Pasalnya, kau menarik pasti tidak memakai tali. Karena pasti itu akan menyakitkan.”


Tentu saja tidak mungkin wanita itu menarik gerobak dengan membebankan tubuhnya lewat mengalungkan tali di leher atau di pinggangnya.


“Ya, kau benar. Aku menarik memakai kedua tanganku. Tapi tanganku nggak kapalan sama sekali. Karena aku ini ratu herbal, tentu tahu cara merawat tubuh. Kau merasakannya, bukan? Saat aku membalur ramuan di tubuh, tiap aku mengobati kau?"


Tersadar. "Oh iya."


Ya, benar. Tangan wanita ini lembut sekali. Oh! Tunggu. Sudah begini, pasti tidak ada satupun cela di tubuh Nina. Hmm... Seperti apa ya keelokan bentuk tubuh wanita satu ini pasti sangat indah sekali. Astaga.... Dean segera menggelengkan kepalanya. Pikiran apa ini!

__ADS_1


Tiba di pelabuhan kehadiran mereka disambut oleh tatapan sinis semua orang. Hampir 80% penduduk Elvaros pada ke sana. Suasana sangat ramai sekali.



(Gambar hanya ilustrasi)


Gerobak di parkir di bawah kapal. Dean memperhatikan tatapan mereka. Walau dia sudah tahu warga sini tidak ramah, tapi dia tak terpikir itu juga ditujukan ke Nina. Jelas sangat aneh baginya karena Nina warga sini. Seperti orang asing saja! Oo... Pantas. Sewaktu dia mencari bensin. Mengarahkan tangan ke rumah Nina, dan menyebut kata 'wanita cantik'. Orang yang ditanyanya, pada melengos pergi. Oo... Ternyata ini. Mereka pada kenapa ya ke Nina?


“Kenapa mereka pada memandang kita, begitu?


Merespon lain. "Kau tunggu sini, aku mau bicara dengan makelar kapal."


Mengangguk. "Oke."


Selagi menunggu, Dean memperhatikan lagi. Nggak lama yang ditunggunya kembali, bersama orang yang ditemuinya. Nina meminta Dean untuk menyuruh Rocky membawa gerobak masuk kapal. Melewati pintu kapal, gerobak berhenti ditempat yang diminta orang itu. Nina menyuruh Dean lagi menurunkan semua barang. Lalu dia dan orang itu melakukan perhitungan. Setelah dapat uang, dia mengajak Dean pergi.


"Ayo, kita pulang."


Pada saat di pintu, ada seorang pemabuk menghalangi jalan wanita itu. Orang itu adalah Abk kapal yang tergila-gila dengan si Kembang Elvaros. Saat ini dia lagi mabuk.


“Hei, Cantik. Kamu mau kemana, hee...?” Orang itu berdiri tidak stabil mencoba meraih wajah Nina.


Dean lekas menepak keras, memajukan tubuhnya sambil menarik pujaannya ke belakang tubuhnya. Tentu hal itu jadi pemandangan orang-orang di sana.


“Hei, Bung! Apa yang Anda lakukan!”


“Anda ini siapa, hee...?” Mata orang itu merem melek, biar begitu memasang sikap menantang.


“Anda jangan kurang ajar, Bung!”


“Kurang ajar? Anda ini siapa, hee...?” Orang itu mencengkram baju depan Dean.


Menepak lagi. “Saya peringati sekali lagi, jaga sikap Anda!”


“Sudah, sudah. Biarkan saja,” lerai Nina.


Namun saat Nina keluar dari tubuh di depannya untuk mengajak lanjut berjalan, tangannya malah di tarik oleh orang itu. Sontak Dean melayangkan pukulan keras ke kepala. Orang itu langsung jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Nina protes.


“Hei! Apa yang kau lakukan?!”


Makelar kapal yang tadi mengurus jualan Nina, menoleh ke sumber suara tersebut. Segera menghampiri.


“Maaf, maaf, Nona. Maafkan teman saya. Pasti mengganggu Nona ya.”


Membalas. “Tidak apa-apa." Lanjut melotot ke Dean. “Ayo, kita pergi."


Selepas mereka pergi dari sana, wanita itu mengoceh sepanjang jalan. Saat ini dia berjalan di depan, tidak mau bareng mereka.


“Kenapa kau marah?” seru Dean, dengan mimik heran.


"Aku tidak suka sikap kau! Kenapa kau memukulnya?”


“Tentu saja, aku melakukan itu untuk melindungi kau.”


“Untuk apa? Aku sudah biasa menghadapi orang seperti itu. Kau jangan sok jadi pahlawanku.”


Mengerutkan kening. “Sok pahlawan?”


“Iya! Aku tidak suka kau sok melindungiku!"


Jelas-jelas hal wajar bila pria ingin melindungi wanita. Dean geram. Segera dia berjalan cepat, mengangkat tubuh yang mendumel itu dari belakang, di panggulnya ke bahu. Sontak Nina terkejut meronta-ronta.


"Apa-apaan ini! Hei, turunkan aku!"


"Diam!" bentak Dean.


Balik membentak. "Kenapa sekarang kau seenaknya mengangkatku?!"


"Ya! Sekarang ini caraku untuk membungkam keras kepala kau!"


Setelah Nina dinaikan di gerobak, lekas Dean memepetkan tubuhnya ke orang yang terus berusaha mau kabur itu ke kepala gerobak.


“Kau...!" geram Nina.

__ADS_1


“Dengar! Aku nggak perduli bagaimana kau selama ini mampu melawan orang seperti itu. Tapi selama ada aku di sini, kau adalah tanggung jawabku!” kecam Dean, tepat di depan muka Nina.


__ADS_2