
Angin laut bertiup begitu kencang ke darat. Menerpa pohon-pohon hingga membuat badan pohon yang berukuran kecil kepalanya turun 30 derajat. Sedangkan badan pohon yang berukuran besar, ranting dan daunnya jatuh berguguran, dan terbawa angin. Barang dan sampah yang berserakan di tanah pun tidak luput tersapu bersih. Binatang-binatang pada berlarian dan bersembunyi ditempat yang aman. Atap-atap rumah yang dibangun tidak kuat turut juga terbawa angin. Begitu pula barang milik warga yang ringan-ringan tersapu angin. Sedangkan kapal-kapal nelayan hanya bergoyang-goyang saja. Untuk hal itu, selain bobot kapal berat, karena hembusan angin hanya memberi efek air laut bergelombang.
Pulau Elvaros hari ini sepertinya akan datang badai. Langit cerah perlahan berubah menjadi kelabu. Kilat dan guntur pun turut meramaikan suasana. Pulau Elvaros dihuni tidak banyak manusia sekitar 100 kepala keluarga. 20 keluarga rumahnya berbaris di pelabuhan. 2 dari mereka berjualan. Sisanya, tersebar di pelbagai titik yang jarak satu rumah ke rumah lainnya tidak berdekatan. Terhalang pohon, jalan setapak, atau hal lain.
Penduduk sana, selain mencari ikan, mata pencarian mereka dari hasil berkebun dan beternak. Rumah-rumah di sana rata-rata sama seperti rumah wanita itu bergaya hutan. Di sana ada pelabuhan. Selain buat parkir kapal, dan sebagai tempat pengiriman hasil Bumi. Juga, sebagai barang masuk dari luar buat menutupi kebutuhan mereka. Sedangkan pantai membentang mengelilingi pulau tersebut. Yang tentunya pelabuhan sebagai patokan awal dan akhirnya.
(Gambar hanya ilustrasi)
Di sana tidak ada pasar. Hanya ada 2 toko. 1 toko menjual bensin dan onderdil kapal. 1 toko lagi melayani telepon umum. 2 toko itu jadi satu dengan rumah penduduk dan berada di pelabuhan. Hasil Bumi penduduk baik itu sayur, buah, ternak, dan juga ikan, disimpan jadi satu di gudang milik penduduk yang berada di pelabuhan. 1 bulan sekali kapal yang mengangkut hasil Bumi akan datang. Sedangkan seminggu sekali kapal pemasok barang kebutuhan datang. Nanti penduduk akan datang membeli barang-barang yang ada di kapal tersebut. Semua kebutuhan ada, baik sandang, pangan, dan papan. Kapal itu akan parkir selama 1 hari hingga penduduk terpuaskan. Mungkin itu bentuk pasar mereka. Karena pada saat kapal itu datang, semua penduduk berbondong-bondong datang membeli.
(Gambar hanya ilustrasi)
Angin yang begitu menakutkan, membuat wanita itu ragu-ragu membuka pintu belakang. Semua jendela sudah ditutupnya, namun dia lupa jemuran belum diangkatnya. Sebenarnya yang teramat dipikirkannya pakaian pria itu. Kalau pakaiannya hilang nggak apa-apa. Terutama kol*r dan celana seragam pria itu. Ya! Wanita itu baru sempat mencuci usai waktunya banyak menemani. Dia hanya buat baju ganti. Lagi pula, nggak mungkin dia memberi celana dan kol*r yang ada di gudangnya. Itu karena barang-barang penting, nggak boleh diganggu.
Dia menarik nafas demi menguatkan diri sebelum keluar rumah. Rupanya setelahnya dia kembali berkutat pada rasa takutnya. Ah, sudahlah... Akhirnya dibukanya juga pintu. Sosoknya langsung disambut hembusan angin kencang.
Untung, jemurannya menyangkut diantara pagar bunganya. Dia berjalan sambil menyipitkan mata. Terang, angin yang datang bukan hanya sekedar angin, tapi membawa material debu dan lain sebagainya.
Dia kesusahan berjalan karena harus menyeimbangkan tubuhnya dari terpaan angin. Dia telah melihat apa yang mau diambilnya. Ya! Wanita itu lebih mementingkan barang milik pria itu dulu, baru baju-bajunya.
Dia terus berjalan mendekati kol*r, baju, dan celana seragam pria itu. Yang pada menyangkut ditengah-tengah pagar. Sesudahnya, membawa semua itu dalam pelukan, lalu mengambil pakaian-pakaiannya.
Beberapa saat kemudian, dia sudah berada di kamar. Diletakkan jemurannya di wadah khusus. Kecuali milik pria itu. Lalu dia membuka laci bupet untuk mengambil peralatan menjahitnya. Setelahnya, dia duduk di kursi goyang. Dia mau menjahit yang terkena robekan-robekan kecil karena ulahnya kemarin. Sedangkan kol*r pria itu diletakkan di sisi tubuhnya. Dia mengerjakan sambil bersenandung.
“La la la... La la la...”
JEDAR!
Tiba-tiba suara petir membahana. Sontak wanita itu terperanjat menjerit ketakutan.
“Aaa...”
Tidak lama terdengar suara rintik-rintik hujan dan perlahan semakin lebat. Lekas dia bangkit, berjalan ke jendela. Hujan bercampur angin meramaikan suasana baru yang mencekam di luar sana. Bulu kudunya bergidik, lalu dia balik ke tempat semula.
“Kau tahu? Aku hampir membahayakan diriku hanya karena demi semua pakaian kau ini,” ocehnya.
“Oh ya, memar kau itu karena apa?”
__ADS_1
Untuk memar di tubuh Dean. Yang terkena hantaman lereng tebing. Yang tentunya wanita itu tidak tahu.
“Apa kau sebelum tertembak, berkelahi dulu?”
“Apa orang itu memukul kau dengan benda keras? Atau batu?”
“Kau ini tentara yang bertugas di pulau Tartan, 'kan?”
Ya! Wanita itu pasti tahu, berita itu sudah tersebar luas seantero negara Andaron.
“Kenapa kau bisa tertembak?”
“Kenapa kau bisa terdampar?”
“Apa kau jatuh dari tebing, dan... Eh, tunggu, tunggu...”
Baru disadarinya dari hasil ucapannya sendiri. Harusnya kronologinya begitu. Tertembak, jatuh dari tebing, terbawa arus ombak, terus terdampar di sini. Ya! Berarti itu memar karena lereng tebing.
Dia menggelengkan kepalanya. Ya, ampun... Kenapa juga dia harus memikirkan hal nggak penting ini. Bukan urusannya pria asing yang tidur di ranjangnya ini, mau jatuh dari tebing kek, atau dari langit sekalipun. Dia hanya sebatas menolong. Sehabis pria itu sembuh harus pergi dari sini.
“Hei!" Wanita itu berteriak lantang, menatap tajam untuk orang yang masih terus berbaring di ranjangnya.
“Kasurku terlalu empuk untuk kau tiduri ya?”
“Badanku patah-patah gara-gara kau! Kau pikir aku enak tidur di sofa? Hah?!”
“Obat semalam yang aku beri itu harusnya sangatlah ampuh!”
“Dasar kau pemalas!”
“Kau ini benar-benar, sangat-sangat, sangaaaatttt... Menyusahkan!”
“Ayam, bebek, dombaku juga butuh perhatianku. Bukan kau saja!”
“Gara-gara kau, aku hanya memberi makan, tidak membersihkan kandang mereka.”
“Belum lagi, tanamanku. Ya! Tanamanku. Bisa-bisa mati gara-gara kau! Aku tidak ada waktu untuk memetik daun-daun yang layu.”
“Terlebih lagi kecintaanku, ya bungaku! Tidak terurus juga olehku!”
“Hari ini datang badai. Pekarangan aku memang jadi rusak. Namun diawal gara-gara kau! Kalau kau tidak bangun-bangun juga, bagaimana besok aku membersihkan? Dan menanam yang ba...”
__ADS_1
Seketika wanita itu berhenti mengumpat. Dia melihat jari-jari tangan di depannya bergerak-gerak. Segera dia bangkit, menaruh jahitannya, dan menghampiri.
“Akhirnya kau menggerakkan tubuh..."
Ekspresi riang kini terpancar di raut wajahnya. Dipegangnya tangan itu kemudian.
“Hei, aku di sini.”
“Aku wanita yang dilihat kau di pantai.”
“Kau tidak sendiri. Ada aku di sini.”
Selanjutnya orang itu memberi respon lain menggetar-getarkan tubuh. Ah, dia lupa beberapa saat lagi akan terjadi gemelugut hebat. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Ah, tidak, tidak. Dia nggak mau. Oh, ayolah... Ini darurat! Sebenarnya dia enggan. Tapi, ya sudahlah...
Beberapa menit kemudian, dia telah berbaring di ranjang. Tangannya naik ke atas dada mengusap-usap lembut. Untuk menyalurkan energi hangat dari tubuhnya. Tentu saja tidak pada bagian terluka.
Hmm... Dada pria ini bidang, meski sakit, dan beberapa hari tidak makan, tidak mengurangi keseksiannya. Sudah lama dia tak menyentuh tubuh pria. Ah, sudah terlalu lama sekali.
Udara sangat dingin. Dia jadi makin merapatkan tubuhnya ke tubuh di sampingnya
“Bukan kau saja yang kedinginan. Aku juga."
Seolah-olah apa yang dilakukannya merupakan hal yang impas. Istilahnya mereka sama-sama saling membutuhkan.
Dean tidak tahu apa yang dilakukan wanita itu. Semalam setelah diberi obat baru, dia langsung kembali ke alam tidak sadarnya.
Usai suhu badan pria itu kembali normal. Wanita itu turun dari ranjang.
“Sekarang tunggu, mudah-mudahan tidak lambat.”
*********
Badai telah berlalu. Malam nan gelap pun telah berlalu. Kini datanglah terang melalui kemunculan Mentari di ufuk timur. Ayam berkokok menyambut pagi. Kicauan burung turut meramaikan suasana. Pria itu akhirnya siuman perlahan-lahan membuka mata, namun penglihatannya langsung disambut oleh sinar Matahari yang masuk lewat kaca jendela. Dia menyipitkan mata, memalingkan kepalanya.
Kelopak matanya mendelik, ada sosok yang tidak dapat dilihatnya jelas sedang berdiri di jendela disinari sinar.
“Kau sudah bangun?” Wanita itu berjalan mendekat.
Seketika Dean terpana. Saat dia dapat melihat jelas sosok yang menyapanya sudah berdiri di samping ranjang.
Luar biasa cantik sekali... Wajah bak seperti berlian. Dahi dan rahang yang sempit. Alis tidak begitu tebal, tapi terukir indah. Rambut berwarna cokelat dan panjang. Sepasang mata biru seperti kucing. Tulang pipi keranuman, nggak luput juga dihiasi bibir merah delima melengkapi kesempurnaan kecantikannya. Apa dia ketemu bidadari? Jadi, ini wanita penyelamat hidupnya?
__ADS_1