
Nina membanting daun pintu keras, menyandarkan tubuhnya ke belakang. Sungguh Dean membuatnya pusing kepala! Harus bagaimana lagi dia mengusir? Harus pakai cara apa lagi? Cara ekstrem telah dilakukannya, hasilnya? Tak mempan!
Dimana-mana kalau tinggal di rumah orang, diusir dengan si pemilik. Pastinya, orang itu tahu diri angkat kaki. Tapi ini, benar-benar muka tembok! Sebenarnya apa yang diinginkan, Dean? Kalau orang yang perbuat baik nggak mau dibalas, kenapa memaksa? Pria aneh!
“Ugh! Benar-benar mimpi buruk aku ketemu dengannya. Kenapa lah aku jadi malaikat penolongnya!"
Sementara itu Dean kembali ke peternakan sambil bersiul-siul riang. Bagaimana nggak happy? Rambutnya terbebas dari cat. Dikibas-kibasnya terus rambutnya yang basah.
Nggak lama dia tiba di peternakan. Lekas menemui teman barunya. Dari kejauhan kuda itu mengamatinya. Dean tahu apa yang diperhatikan.
"Maafkan aku, aku tetap tidak bisa membersihkan kandangmu. Nina hanya memberiku thinner sedikit."
"Hiiik..."
Membelai. "Maaf ya... Wanita itu tadi lagi baik. Memang dia kumat-kumatan."
"Hiiik..."
"Eh iya, ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa nggak akur sama, Nina? Pastilah hubungan kalian dulu sangat baik. Apa yang terjadi?" Mendelik. "Oh! Apa gara-gara sifat galaknya itu ya, yang membuatmu jadi nggak betah, lalu marah?"
Kuda itu buang muka.
Mendelik. "Hei, janganlah mengacuhkan aku. Ya, ya, kalau kamu nggak mau cerita nggak apa-apa. Atau begini saja, nanti kalau kamu sudah siap, baru bicaralah padaku."
Pria itu menganggap kuda itu seperti manusia saja! Tapi memang semenjak kemarin kuda itu bersikap seperti mengerti omongannya saja. Tapi dalam hal ini, mana mungkin kuda itu cerita. Ada-ada saja Dean ini.
Kemudian Dean terdiam. Dia lagi berpikir, bagaimana caranya dapat panci? Teringat nya, telur-telur di kandang ayam sudah mau menetas ingin sekali direbusnya. Ah, sudahlah... Nanti saja dipikirkannya.
Sambil menunggu cat di kandang kering, untuk mengisi waktu luang, sebaiknya dia membersihkan peternakan. Lekas diambilnya sapu dan pengki. Dimulainya menyapu dari depan.
Sejak dia ada di sini, sepertinya Nina jadi nggak ada waktu membereskan. Oh, tunggu! Ada gunanya juga dia begini. Mungkin saja Nina jadi luluh lihat tempat ini bersih.
Ketika lelaki itu sibuk dengan aktifitasnya, wanita itu datang. Mata mereka bersirobok, si Judes langsung buang muka.
Nina berjalan ke tempat pertama yang mau ditujunya. Di kandang ayam, diambilnya pakan. Diguyurnya ke wadah-wadah dimana tempat makan ayam itu berada. Dean mendekat, membersihkan sekitaran. Biasa, cari-cari perhatian. Namun, dicuekin.
Kemudian Nina memperhatikan ayam-ayam seusai memberi makan. Dean spontan menghentikan pekerjaannya turut mengamati. Nina risih, lekas menoleh.
“Hei, ngapain kau ikut-ikutan?”
"Memang aku nggak boleh lihat ya?"
Mengancam. “Hei, dengar ya. Ayam-ayamku sedikit lagi bertelur. Kalau kau berani lancang mengambil satu saja telurnya, kukulitin kau!”
Cengengesan. “Bagaimana caranya kau mengulitiku?"
“Kau pikir, aku tidak bisa? Akan kukebiri kau saat tidur.”
__ADS_1
Tertawa. "Haha..." Geleng-geleng. “Kau ini sangat lucu. Baiklah, baiklah, akan kutunggu. Pastinya, aku akan telentang dengan sangat pasrah... sekali, kau mengebiriku.”
Mendelik. “Maksud kau, kau akan mengambil telur ayamku?”
“Mm... Ambil nggak ya...,” goda Dean.
Mendengus. “Ugh!”
Nina beralih ke kandang bebek. Dean kembali mengikuti. Nina jadi kembali risih, segera menegur.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Siapa yang mengikuti... Nggak lihat ini?" Dean menunjukkan peralatan kebersihannya di tangan.
Ngapain pula pria ini nyapu.
Malas merespon, karena nggak mau orang yang lagi cari perhatian itu mendapatkan peluang darinya, Nina lekas memberi makan bebek. Setelahnya, dia beralih ke kandang domba.
Kali ini Dean diam ditempat. Biar begitu dia curi-curi pandang. Untung, kandang bebek tidak tinggi. Jadi matanya bisa leluasa.
Dilihatnya Nina mencukur bulu domba sangat cepat satu-persatu. Tak perduli tiap binatang yang dipegangnya meronta-ronta. Ya, tentulah Nina sangat berpengalaman.
Wanita itu butuh bulu-bulu domba itu. Stoknya sudah mau habis. Dia harus mengejar targetnya. Kapal pengangkut hasil Bumi dikit lagi akan tiba. Dia akan menjual semua hasil sulamannya. Dari situlah dia dapat uang dari hasil karyanya untuk hal ternak domba.
**********
Kapal pengangkut hasil Bumi seminggu lagi akan datang. Dia harus menyiapkan kerjaannya. Termasuk telur, bebek, serta ayam betina yang gak bisa bertelur lagi karena sudah berumur. Juga, hasil ladangnya di samping dan di depan rumah. Bunga-bunga, rempah-rempah dan tanaman berkhasiatnya.
Sebenarnya dia ada satu ladang di hutan. Dia mencuri lahan di sana. Penduduk sini biasa melakukan itu. Lagian kan, bagus buat menambah penghijauan. Di sana, dia ada menanam pohon ceri dan plum. Biar tetap segar, sehari sebelum kapal datang, baru nanti akan dipanennya termasuk hasil ladangnya di rumah.
Namun sejatinya, 2 hari lagi kapal pemasok barang kebutuhan akan datang terlebih dahulu. Ah, memikirkan hal itu dia jadi teringat celana Dean. Sudah beberapa hari nggak ganti-ganti. Apa lagi terkena cat olehnya. Astaga... Memikirkan apa ini? Mau celana Dean busuk, bau apek kek, apa pedulinya?
“Argh... Bikin jengkel saja! Kenapa juga aku terus memikirkan orang itu! Mau dia bau badan, kelaparan kek, bukan urusanku!”
Tiba-tiba wanita itu berhenti melakukan aktifitasnya.
“Eh, tunggu. Makan apa dia? Sangat aneh, dia tidak teriak-teriak makan. Ini sudah lewat dari jam makan siang. Jangan-jangan dia membakar salah satu bebek atau ayamku?"
Cemas akan hal itu, dia segera menaruh kerjaannya. Beranjak dari sofa, berjalan ke sana.
Di luar, dia tergesa-gesa menuju peternakan.
"Lihat saja, jika dia menyenggol salah satu peliharaanku. Aku tidak hanya mengulitinya, namun juga memutilasi!"
Dilihatnya orang yang didumelnya lagi masuk kandang bersama kuda sialannya. Pria itu sempat menoleh ke arahnya, namun dilanjutkan buang muka.
Yang dicuekin mendengus jengkel. Sudah tinggal di sini nggak tahu diri. Masa, yang punya rumah diacuhkan?
__ADS_1
Malas meladeni, Nina segera ke kandang ayam memeriksa secara seksama. Lalu beralih ke kandang bebek diperhatikannya juga satu-persatu. Cukup tenang dia, semua aman.
Lantas, Dean makan apa?
Sebenarnya pria itu telah terbiasa kelaparan. Tentu dia sudah terlatih menderita karena dia seorang tentara. Baru kelaparan beberapa jam saja baginya nggak masalah. Ketika dia dilempar ke hutan lebih parah. Kadang stok persediaan makan habis dan tak dapat buruan. Dia bisa tidak makan berjam-jam bahkan sampai berhari-hari. Jadi, kalau dia teriak lapar ke Nina, itu sebenarnya karena hanya ingin dimanja saja. Dasar, Dean!
Nina berjalan menghampiri, berdiri di depan kandang kuda. Dean menoleh.
“Ada apa?”
“Hei, Pincang! Kau makan apa?”
Tersenyum. “Ah, senangnya kau terus memperhatikanku.”
“Siapa yang peduli pada kau? Aku bertanya karena aku nggak mau kau mencari makan yang aneh-aneh dengan berburu di peternakan ini!”
Mengernyitkan alis. "Maksud kau?”
“Kau makan tikus, ya?” duga Nina.
Sontak tertawa. "Haha..." Geleng-geleng kepala. "Kalau aku makan tikus. Aromanya pasti sudah menyebar sampai rumah kau.”
“Lantas, kau makan apa?”
“Lihatlah... Kau masih peduli.”
“Hei, aku bertanya.”
“Apa urusan kau?”
“Tentu urusanku. Aku tidak mau peternakanku diobrak-abrik oleh kau!”
“Kau ini sangat lucu, Nina. Lihatlah... Apa peternakan kau ada kubuat berantakan?”
Nina memandangi sekitaran. Tidak ada sama sekali, yang ada malah rapih.
“Semua bersih dan pada tempatnya."
Tentu Nina tahu Dean sehabis membersihkan. Malu atas tudingannya, dia segera kabur.
“Bagus! Kau tahu diri!”
“Hei, hei, kau mau kemana? Bagaimana masalah makanku? Tadi kau menanyakannya, bukan?” teriak Dean.
Yang ditanya tak peduli terus berlari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like, dan komen. Tinggalkan jejakmu...