
“Ugh!” umpat Nina, keluar dari pintu sembari melihat ke arah ayunan.
Wanita itu membawa keranjang berukuran besar mau pergi ke peternakan. Hari ini dia mau mengambil telur dari hasil ternak ayamnya. Sepanjang jalan mukanya merengut.
“Seenaknya saja dia mengatur-atur hidupku. Memang dia siapa?”
Sesekali dia menengok ke belakang. Maklum, takut Dean mengikutinya. Meski subuh, dan siang tadi baik, tetap saja dia tidak mau orang itu tidur di peternakannya.
Sebelum tiba, terdengarnya suara gaduh. Ah, pasti berasal dari suara kuda sialan itu. Lekas dia berjalan cepat. Setiba di sana, langsung memasukkan kunci, dan menguncinya kembali. Kemudian dia meneriaki Rocky setiba di depan kandang.
“Hei, Rocky! Kamu berisik sekali!”
Kuda itu berusaha menaiki pintu. Sontak Nina terbelalak. Untunglah, dia selalu aman dalam perlindungan batas pilar.
"Hei! Kamu bisa diam, nggak?!"
Sebenarnya hewan itu begitu karena mencemaskan teman barunya semalam nggak pulang.
"Tiap hari kamu selalu saja membuat stress hewan-hewan yang lain."
"HIIIKKK...!!!!!"
Terbeliak. "Astaga... Malah bersuara makin keras. Dengar, nggak?!"
"HIIIKKK...!!!!!"
"Hak hik, hak hik. Dasar kuda gila!"
Malas meladeni lagi, Nina berjalan ke kandang sebelah. Lebih baik dia fokus ke tujuannya saja. Ditengah keberisikan hingar bingar kuda, yang tentunya sudah terbiasanya, Nina mengambil telur-telur ayamnya. Lumayan hasil ternaknya, ditambah esok akan makin banyak. Karena ayam bertelur tidak sekali.
Setelah menumpahkan pakan ayam, dia beralih memberi makan bebek dan domba. Sejatinya dia harus menggembala dua jenis hewan itu. Sejak Dean di sini, dia jadi tidak ada waktu. Hari ini terpaksa harus dilewatkannya lagi. Karena situasi lagi tidak memungkinkan.
Melintasi pagar berbunga, Nina buka pintu pagar samping, dan berjalan ke rumah. Sekilas matanya kembali curi-curi pandang lihat ayunan.
“Kemana si Pincang?”
Nggak lama, wanita itu sudah berada di gudang sedang menyusun hasil ternaknya ke box-box telor. Selesai kerjaannya, dia berjalan ke ruang tamu untuk melanjutkan sulamannya. Sesekali, matanya melihat luar.
“Kemana dia?”
Oh, Tuhan!
Lekas Nina berdiri, gara-gara teringat ancaman tersebut.
"Astaga... Kenapa aku bisa teledor. Bisa-bisanya santai."
Cepat-cepat dia berjalan ke dapur untuk mengambil sapu. Satu-satunya tempat yang bisa dilewati si Brengsek itu adalah jendela kamarnya. Tentu saat Matahari terbit, jendela kamar dibukanya.
Mata kucingnya berubah seperti elang saat memasuki kamar. Takut-takut dia membuka lemari, berlanjut ke kolong ranjang. Untunglah, semua aman. Segera ditutupnya jendela, lalu balik ke ruang tamu. Diletakkannya sapu di samping tempat duduknya buat jaga-jaga. Kalau di gudang nggak mungkin ada, sebelumnya dia habis dari situ.
__ADS_1
“Dasar pria kurang ajar!”
“Bisa-bisanya mengancamku.”
“Sudah ditolong, malah minta daging!”
“Ada ya orang seperti itu.”
“Sudah tinggal seenaknya di sini. Ckckck...”
“Kurang baik apa aku. Setengah mati aku menarik tubuhnya dari pantai sampai sini. Kujaga dia sampai sadar, kuberi ramuan, kusembuhin dia, kusulamin baju untuknya, kuberi makan. Dan masih banyak lagi..."
“Sekarang, berani-beraninya dia mengancamku!”
“Dasar! Pria tidak tahu terima kasih!”
Dean mengamati mulut manyun si Judes. Nina memang kalau sedang mengeluarkan tanduknya semakin menggemaskan.
Pria itu lagi berdiri di depan jendela. Wanita itu duduk membelakangi teras. Tadi pria itu habis jalan-jalan disekitaran demi melancarkan kakinya. Sepulangnya, dia melihat wanita itu duduk di situ.
Pelan-pelan Dean pergi dari situ. Biarlah Nina asik mendumel sendiri. Biar begitu, hatinya ada terenyuh saat dengar Nina menarik tubuhnya dari pantai.
Berapa jauh jarak pantai dari sini? Ah, tidak, tidak, bukan hanya masalah jaraknya, tapi juga pengorbanannya. Tubuh lemah gemulai Nina, susah payah menarik tubuh kekarnya. Lihatlah... Mana mungkin dia pergi dari sini. Dia benar-benar berhutang budi.
Sebelum tiba di peternakan, Dean mendengar suara berisik kuda. Melewati samping peternakan, dia tiba tepat di belakang kandang kuda.
“Hei, kamu kenapa?”
“Hei, dengar! Ini aku.”
Kuda itu terdiam, baru sadar ada suara manusia yang ditunggunya. Namun hanya sesaat, karena gaduh lagi. Kali ini dengan memukul-mukul tembok seolah ingin keluar menemui sosok yang ditunggunya.
“Hei, tenanglah... Apa kamu begini karena mencemaskan aku? Tenanglah... Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir.”
“Hikhik-hikhik...”
“Kumohon, tenanglah... Nanti aku menemuimu."
Bug! Bug! Bug! Kuda itu terus memukuli dinding.
“Kumohon, tenanglah.."
Keadaan hening sepertinya kuda itu berhenti panik.
“Aku lagi ada urusan, nanti aku pulang. Baik-baik lah, kamu di sana ya.”
"Hikhik-hikhik...” Rupanya, kuda itu bising lagi.
Nggak bisa ini, dia harus minta kunci. Segera dia balik badan menemui pemilik kuda itu. Dilihatnya dari kejauhan yang mau ditemuinya sedang menyanyi riang dengan menggoyang-goyangkan kepalanya. Sepertinya mood Nina sudah berubah. Mungkin merasa tenang ancamannya tidak dilakukan.
__ADS_1
“Nina!” seru Dean berdiri di jendela.
Menoleh. “Apa? Kenapa kau memanggilku berteriak?”
“Kau pasti tahu, kuda itu ribut sekali. Sebaiknya berikanlah kunci itu.”
"Aku sudah biasa dengan keributan si Sialan itu."
“Bahaya, Nina... Nanti kau terluka. Sebaiknya biar aku membujuk kuda itu untuk diam.”
“Hei, aku ini pemiliknya. Aku lebih tahu kenapa kuda itu begitu dari pada kau! Kau nggak usah sok repot mencemaskan aku."
“Aku tidak tahu dulu kuda itu seperti apa. Tapi kurasa sekarang lebih bahaya jika kau tidak mengijinkanku bertemu. Karena kuda itu sudah akrab sekali denganku. Aku yakin kuda itu begitu, karena mengkhawatirkan aku."
Nina terdiam. Apa kuda itu begitu karena, Dean? Jadi bukan, karenanya? Masa, iya? Jadi sudah sedekat itukah hubungan mereka? Memang kuda itu ribut tidak seperti biasanya. Tadi ingin sekali keluar dari kandang. Biasanya hanya ribut di dalam kandang saja.
“Aku tidak mau! Lebih baik aku menghadapi keliaran kuda itu. Dari pada aku menghadapi predator liar seperti kau!”
Membelokkan mata. "Aku? Predator liar?"
"Ya, kau!"
“Astaga, Nina... Aku tidak mungkin perbuat senon*h. Jangan kau ambil hati. Tadi aku berucap begitu, hanya sekedar mau menakut-nakuti kau saja. Agar kau tidak sembrono. Karena kau tinggal seorang diri di sini."
“Siapa yang bisa jamin? Memang aku kenal kau? Hei, ingat! Diantara kita ini hanyalah orang asing!”
“Percayalah... Aku tidak mungkin begitu.”
Mendengus. “Humph! Percaya? Dari awal saja kau terus membohongiku. Bilang akan pergi, akan pergi. Buktinya, kau tetap bertahan di sini dengan pendirian kau!”
“Karena aku ingin balas budi.”
“Sudah kubilang, aku tidak butuh!”
“Aku harus seperti itu, Nina.”
“Kenapa kau memaksa sekali. Sudah kubilang berulang kali, aku tidak butuh!”
Oh! Ini tidak benar, mereka ini sama-sama keras kepala. Yang ada, tidak akan berhenti saling bertengkar, satu pun tidak ada yang mau mengalah. Persetan lah! Sebaiknya dipakainya saja alasan itu agar dapat kunci itu.
“Jadi, kau ingin aku seperti itu?”
Mengernyitkan alis. "Apa maksud kau?”
“Baiklah, kalau begitu. Tapi kuberi tahu kau ya, berhati-hatilah. Karena predator liar ini akan menerkam kau jika kau keluar dari rumah.”
Melotot. “Apa?!”
“Kau mengurungku di luar, maka aku akan mengurung kau di dalam. Jika kau ingin berdamai denganku, berikanlah kunci itu.”
__ADS_1
Sontak Nina makin melotot, namun ditambah lagi dengan raut wajah bergetar-getar. Direm*s-rem*snya sulamannya kemudian sebagai bentuk pelampiasan rasa jengkelnya.