
Langit mendung kelabu. Hembusan angin sejuk menerpa kisi-kisi jendela. Nina terjaga mengerjapkan kelopak matanya. Dia memeluk tubuhnya sendiri sambil memutar matanya malas ke jendela. Udara dingin membangunkan tidurnya. Sebenarnya dia enggan bangun. Badannya masih lelah setelah beberapa hari tidur di sofa dan mengurus Dean. Ditambah lagi, tadi sebelum tidur dia membereskan kamar.
Sungguh, kamarnya bau sekali. Ya, wajar beberapa hari Dean tidak mandi. Di kamarnya bukan hanya bau tubuh, namun juga ramuan. Memang dia sudah terbiasa dengan aroma ramuan. Namun kalau bercampur dengan aroma tubuh, sungguh bikin pusing sekali! Dia telah menahannya sejak Dean berada di sini. Aroma itu bukan hanya berada di kamarnya, namun menyebar ke seluruh rumahnya. Terang, pintu kamarnya selalu di buka.
Tadi dia mengganti sperai, sarung bantal, selimut, dan mencucinya. Tak luput bantal di jemurnya. Kamarnya sudah di semprot aroma bunga untuk menggantikan aroma yang ada. Sekarang terpaksa dia harus bangun, demi menutup jendela, dan mengangkat semua itu di belakang. Karena sepertinya mau turun hujan.
Dia bangkit dari ranjang melangkah malas-malasan. Setelah semua jendela ditutupnya, sebelum keluar, sekilas matanya melirik ke arah jam dinding. Pukul menunjukkan jam 5 sore. Ah, tidurnya sebenarnya lumayan, tapi rasa ngilu di sekujur tubuhnya itulah yang membuatnya rasanya ingin terus berbaring. Usai Dean keluar dari kamarnya, rasa ngilu itu baru terasa. Tidur di sofa benar-benar menyiksa! Mungkin kemarin tak dirasa-rasanya.
Angin bertiup kencang menerpa tubuhnya saat sudah berada di luar. Dia terus berjalan. Untung, jemurannya seperti kemarin tidak terbawa angin. Sebenarnya pagar rumahnya ini banyak menolong jemurannya jika ada masalah cuaca.
Setelah memasukan jemuran ke rumah, dia balik lagi untuk mengambil bantal. Sebelum balik ke rumah, wanita itu rupanya penasaran apa yang dilakukan pria itu. Dia mendekati pagar yang di dekat peternakan. Menajamkan pendengarannya untuk mengetahui situasi di dalam sana. Tapi suara angin mengganggu indera pendengarannya membuatnya terpaksa pergi.
Peternakan memang berada di belakang rumah. Dan pagar rumah, sebagai pembatas diantara dua bangunan itu.
Beberapa saat kemudian, Nina sedang sibuk di dapur. Membuat roti dan membakar beberapa ham untuk makan malamnya. Di luar hujan sedang berlangsung. Kadang dia menoleh memperhatikan pintu belakang. Sehabis keributan mereka, Dean tidak tampak batang hidungnya. Tapi, baguslah!
Aroma panggangan menyelimuti seisi rumah. Akhirnya roti itu sudah matang. Roti berbentuk seperti burger yang tengahnya bisa di isi daging, sayuran, atau varian lain sesuai selera. Dia membuat lumayan banyak sekaligus untuk stok.
Diletakkannya panggangan terakhir di meja makan, berikut daging ham-nya yang juga telah matang. Di tariknya kursi, disusul nya duduk. Dipotongnya tengah roti, dipoles nya butter, ditaruhnya potongan ham, dan ditutupnya kembali roti. Kemudian matanya mengamati jendela sembari melahapnya.
"Padahal bukan musim penghujan, kenapa hujan terus ya."
Diamatinya terus air yang berguguran dari langit membasahi Bumi.
"Dean tidak datang, apa karena hujan? Apa dia tidak lapar? Ini sudah jam makan malam. Atau, jangan-jangan dia mogok makan?" Menggeleng. "Ish, perduli setan! Ngapain juga aku pikirin. Malah bagus, aku jadi tidak perlu repot membuatnya kelaparan."
Nina mengunyah makanannya dengan hati damai, tentu ini yang diinginkannya. Tadi siang dia makan diganggu. Tapi saat ingin membuat roti yang kedua...
"Eh, tunggu dulu... Jangan-jangan Dean memanggang ayam, atau bebekku di sana? Tapi bagaimana caranya dia dapat api? Oh ya, dia kan pria hutan tentu bisa buat api dari batu atau kayu. Tapi juga bagaimana caranya dia menguliti ayam atau bebekku? Kan dia tidak punya pisau?" Menghela nafas. "Haaa... Dari pada resah sendiri, sebaiknya aku mencari tahu."
Lekas Nina berdiri berjalan ke gudang untuk mengambil petromak, jas hujan, dan payung.
Hujan bercampur angin menerpa tubuhnya di luar. Dia membuka pintu pagar samping rumah. Lalu diantara remang malam, dia ke sana.
Pintu pagar rumah selain di depan memang berada di samping. Jadi kalau dari rumah mau dekat ke peternakan harus keluar dari situ. Sebagai tambahan informasi, pintu pagar samping rumah, dan pintu masuk peternakan searah.
(Gambar hanya ilustrasi)
Saat langkah kakinya sedikit lagi tiba, matanya terbelalak lihat peternakannya gelap gulita. Ah, dia lupa menyalakan lampu. Tapi, kenapa Dean tidak menyalakan? Dasar, pria nggak tahu diri! Sudah seenaknya tinggal di sini. Malas sekali mencari saklar.
JEDAR!
(Gambar hanya ilustrasi)
Nina buru-buru mempercepat langkahnya, petir datang sangat menyeramkan. Setibanya, lekas dia menaruh payungnya di bawah pintu. Menarik kupluk jas hujannya ke belakang kemudian. Lalu berjalan ke samping pintu untuk menyalakan semua tombol lampu.
Klik! Klik! Klik!
__ADS_1
Matanya menyapu ruangan. Dia nggak dapat melihat orang yang disebalnya sebab terhalang kandang ayam yang tingginya menutupi setengah kandang kuda. Dia hanya dapat melihat kepala kuda yang kebetulan lagi tidak melihatnya. Biar begitu, sebagai makhluk hidup, jelas dia dapat merasakan ada pergerakan atau tidak di sana.
Sepertinya Dean tidur. Karena tidak terdengarnya suara. Astaga... Apa urusannya? Mau tidur kek, atau pingsan sekali pun bukan urusannya!
Segera dia memeriksa 2 jenis hewan yang ditakutkannya disantap Dean.
Awas saja, kalau sampai ada yang hilang aku kulitin dia!
Dia menghitung ayam-ayamnya di dalam kandang, hanya 1 yang hilang. Ya! Siang tadi terlepas sewaktu dia rebutan dengan Dean. Lalu berpindah ke kandang bebek. Ah, semuanya komplit. Syukurlah!
Inilah Nina, lain di mulut lain di hati. Saat dia bergegas mau pergi, malah balik badan.
Lantas, Dean makan apa? Yah, Tuhan... Dia baik-baik saja, 'kan? Ini, tidak bisa! Justru, bakal menyusahkanku kalau terjadi apa-apa padanya. Dia kan belum pulih benar.
Kuda itu menyeringai ketika lihat sosoknya. Nina tidak gentar, karena selama ini dia aman selalu berada di luar kandang. Walau kadang kuda itu membuat hatinya menciut jika mengamuk. Matanya terpana melihat yang dicemaskan nya lagi meringkuk menggigil di atas jerami. Entah, karena kedinginan atau karena sakitnya.
“Hei!” teriaknya.
Yang diteriakinnya tidak bergeming.
“Hei, hei, hei,” teriaknya lagi.
Masih tidak bergeming.
“Hei, dengarlah! Apa kau tidak apa-apa?”
“Hei, sadarlah. Aku tidak mungkin masuk ke dalam.”
“Tolonglah tengoklah kemari, aku di sini." Nina berujar bertubi-tubi.
Ya, Tuhan... Sepertinya aku telah menyiksanya!
“HEI! DEAN!” pekiknya keras, biar kali ini terdengar.
Lelaki itu memutar kedua bola matanya ke bawah. Kasur bersebrangan dengan pintu masuk kandang.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Nina.
“Aku, aku, aku..." Dean tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.
“Apa ada masalah di badan kau?”
Dean tidak menjawab.
“Baiklah, tunggu. Aku nanti balik lagi." Nina bergegas pergi.
Beberapa langkah orang itu pergi, Dean lekas bangkit untuk mengintip. Usai memastikan orang yang di intipnya keluar dari peternakan, dia tersenyum-senyum geli.
Rupanya pria itu nggak kenapa-kenapa. Dia mempersiapkan sandiwara itu demi wanita itu mencemaskannya. Saat hujan melanda, dia sudah memikirkan masak-masak. Sengaja tidak menyalakan lampu, dan tidak datang ke sana. Dengan begitu, dia yakin wanita itu pasti ke sini.
Bukankah Nina pasti berpikir salah satu hewan peliharaannya bakal disantapnya? Atau Nina berpikir semua lampu di sini belum dinyalakan?
__ADS_1
“Tolong, nanti bekerja samalah sedikit." Dean memohon ke kuda itu.
Dia takut saking mencemaskannya malah Nina masuk kandang. Karena pasti Nina bukan hanya memberinya makan, sudah barang tentu memeriksa tubuhnya, dan memberinya obat.
“Jika wanita itu masuk sini. Kumohon, mengertilah... Aku janji, hanya sekali ini saja," pinta Dean sekali lagi.
"Hiiik..."
Aduh... Gimana, ini... Entah kuda ini mengerti atau nggak. Ini, sebenarnya layaknya berjudi. Oh ya! Biar dia saja nanti yang menghampirinya.
Selang sesaat, terdengar langkah kaki masuk peternakan. Dean segera meringkuk dengan gaya menggigilnya. Nina tiba di depan kandang. Dean menoleh ke bawah badannya.
“Hei, aku datang membawa makanan dan obat-obatan. Aku tidak mungkin masuk ke dalam, bagaimana ini?”
Bagus. Itu yang kumau. Ya! Kamu cukup di situ saja, Cantik.
"A-ku yang a-kan menghampiri." Dean membalas terbata-bata.
Dia berangsur-angsur turun dari kasur. Tanpa tongkat, dia terseok-seok menghampiri. Nina meringis melihat orang itu bersusah payah mendekatinya.
Pria ini bukan pakai tongkat.
Tubuh Dean menempel ke pilar, setibanya. Mata Nina terbelalak saat lihat wajah di depannya tidak cerah.
Sejatinya pria itu pucat karena hawa dingin. Wanita itu mana tahu...
Nina meletakan bawaannya ke bawah, lalu bersimpuh, mengusap wajah itu diantara pilar. Membuat yang diusapnya membeku.
“Kau pucat sekali."
Ingin rasanya Dean menggapai tangan tersebut. Oh, Tuhan... Sebenarnya rasa yang ada dihatinya tak tertahankan lagi sejak pertama kali melihat wanita ini.
Ya! Pria itu telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia menyukai bukan hanya sebagai penyelamat hidupnya, tapi juga rasa seorang pria terhadap wanita.
Nina membuka tutup botol. Mencakup dagu di depannya untuk membantu meminum. Pertama-tama dia harus memberi minum dulu, baru yang lain.
Yang dibantunya, menenggak dengan mata tidak berkedip.
Oh... Nina, apakah kau sudah punya pacar? Ah, tapi kurasa tidak. Karena kalau ada, pasti pria itu sudah memakiku atas kehadiranku di sini. Tapi bagaimana wanita secantik kau tidak punya? Dan bagaimana kau bisa tinggal seorang diri? Apakah tidak ada pria yang mengganggu kau? Kau sangat cantik sekali, Nina. Ah, ini membuatku tidak tenang. Kau harus kumiliki dulu, sebelum aku pergi. Biar tidak ada pria yang berani mendekati ketika aku tidak di sini. Karena kau telah tergelar wanitaku.
“Aku tadi membuat roti, dan sudah kubuat isinya berupa ham. Sekarang, makanlah."
Nina beralih mau menyuapi. Dia membelah roti menjadi beberapa potongan kecil agar gampang di makan oleh orang yang dicemaskan nya.
Dean rasanya ingin memasukkan tangan lentik itu ke dalam mulutnya. Mengulum-ulumnya lembut menghabisi sisa butter yang menempel di tangan tersebut.
“Te, te-rima kasih, kau kembali memperhatikanku."
Tentu, pria itu harus tetap berakting. Terus memainkan perannya sebagai orang sakit.
Nina mendengus kecil. Sebenarnya ini ironi, tapi mau bagaimana lagi...
__ADS_1
“Tapi ini, tidak mengubahku untuk tetap mengusir kau!”
Dean tahu, ini hanya berlangsung sekejap. Meluluhkan hati si Bunga ini butuh proses. Setidaknya ada tahapan baik. Selebihnya dia harus berusaha lebih keras lagi.