Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 40 Apa Kamu Tidak Bisa Pergi Denganku?


__ADS_3

Sebaik yang dilihatnya masuk kapal, Dean berjalan gontai menuju pulang dengan muka luar biasa suntuk. Hingga kembali dia melewati Clara begitu saja. Yang dilewati mengernyitkan alis disertai geleng-geleng kepala.


"Sudah tahu bakal menyesakkan, kenapa juga harus mengikuti mereka. Cari masalah pada hati sendiri saja!"


“Clara!” panggil ayahnya.


Tanpa sadar yang lagi menghindari menoleh.


“Kamu ngapain dari tadi di sini?” tanya ayahnya, setibanya.


Diam. "........."


“Tadi pagi pun, Ayah panggil-panggil kamu tidak jawab."


"........"


“Hei, Ayah bicara padamu."


"Clara ada urusan. Ayah sendiri sedang apa di sini?” Clara balik bertanya, sebenarnya maknanya menyindir.


“Ayah lagi ada urusan dengan tetangga sini. Kamu ngapain dari pagi di sini? Ada urusan apa?"


“Oh! Sebaiknya aku pulang saja. Sudah siang, Ibu nanti mencari." Clara merespon lain, bergegas pergi.


Melongo. “Hei! Kamu belum jawab pertanyaan Ayah.”


Clara tetap berjalan. Ayahnya terus memandangi. Anaknya ini nggak pernah bersikap nggak sopan padanya. Ada apa? Apa benar karena masalah maklumat?


Dua kali dilihatnya anaknya. Pertama saat dia sehabis ketemu Baron. Kedua, sehabis dia berkunjung ke rumah tetangganya yang lain. Rupanya anaknya masih di sini. Ada urusan apa sampai harus setengah harian di sini?


Sementara itu di lokasi lain, Dean sehabis masuk pagar, terduduk di bale. Pikirannya semrawut atas kemegahan yang dilihatnya. Nina bukan wanita materialistis, bukan? Nina wanita mandiri, bukan? Biar dia yakin Nina bukan wanita seperti itu, tetap saja jika bicara wanita yang pada hakikatnya makhluk yang kebutuhannya dipenuhi kaum adam. Pasti lihat hal-hal begitu ada getaran.


Memang dalam hal ini dia kalah telak dengan Steve. Kalau bicara masalah pejantan mendekati betina, baru bisa dikatakan dia bertarung dengan Steve secara fair. Tetapi, ini.... Memang latar belakang mempengaruhi.


Dan masih ada hal lain mengganggu pikirannya. Apa yang dilakukan Nina dan Steve di kapal? Steve bisa melakukan apapun. Tinggal menjentikkan jarinya, mengatur anak buahnya untuk menghalau Nina kabur. Maka Nina langsung disergap, dicumbui. Itu tidak mungkin, 'kan? Steve lagi ambil hati Nina, 'kan? Tapi bisa saja, kalau Steve nggak sabaran dengan keputusan Nina.


“Haish... Semua benar-benar bikin pusing!”


Dia nggak boleh kalah. Bukankah dia ini pria pandai menjerat wanita? Tetapi memang seorang pria kalau urusannya menemukan wanita yang dicintainya, apapun ilmu yang dipunyainya nggak akan berjalan. Seperti yang dirasanya saat ini, karena ini urusannya pakai hati. Sedangkan wanita-wanita yang dulu didekatinya pakai nafsu alias otak kotornya.


Sudah begini, sebaiknya dia langsung menyatakan cinta saja. Toh, sudah ada sinyal. Nina semalam aktif dalam romansa mereka. Lagi pula, waktunya semakin menipis di sini. Dan semalam dia pun sudah janji pada diri sendiri, Nina harus cepat jatuh dalam pelukannya.


**********


“Kamu dari mana saja, Clara?” tanya ibunya, lihat anaknya masuk rumah.


“Aku ada urusan.”


“Urusan?”


“Iya.”


“Pagi-pagi kamu sudah ada urusan? Memang apa urusanmu?”


Menjadi kesal. “Kenapa? Apa Ibu pikir, karena aku tak memiliki teman, aku jadi tidak punya urusan? Urusanku bukan di rumah ini saja!”


Terpana. “Kenapa nadamu jadi tinggi? Dan apa maksudmu yang terakhir?"


“Hidupku bukan mengurus Ibu dan Ayah saja!”

__ADS_1


Terkesiap. “Jadi kamu tidak suka membantu orang tua?”


“Bukan begitu... Masa, aku harus bantu Ibu pagi-pagi mengurus rumah? Sedangkan aku ada urusan?”


“Memang apa urusanmu?” Ibunya kembali bertanya.


“Iiih...! Ibu ini mau tahu saja!” Clara kembali kesal.


“Anak ini...! Kalau ada apa-apa denganmu, orang tua kan harus tahu."


“Ibu gak usah urus urusanku. Lebih baik Ibu urus Ayah saja!” Clara ngeloyor pergi.


"Mengurus Ayah? Apa maksudmu? Hei, kamu mau kemana lagi?"


Wanita mungil itu menutup pintu pagar, berjalan dengan wajah nggak sedap. Baru beberapa langkah saja dia berjalan, dilihatnya gerombolan orang di depannya menghalangi jalannya. Dia lekas turut bergabung menyempil diantara mereka. Rupanya pada memperhatikan Nina dan Steve yang sedang menunggangi Rocky berjalan meninggalkan pelabuhan.


Disaat orang-orang sedang pada heboh menonton, sementara itu Steve dan Nina di atas tubuh Rocky terlibat pertengkaran kecil.


“Aku nggak sabaran melihatmu nanti malam, Sayang." Steve memeluk mesra, tak luput menjatuhkan kepalanya ke salah satu bahu Nina.


“Apa kamu sengaja mempertontonkan hal ini ke mereka?” 


“Jangan bilang begitu, Sayang... Dari tadi pun aku memelukmu.”


“Kalau aku menyikutmu, bagaimana?”


“Aku akan memelukmu lagi."


“Apa kamu tidak tahu malu?”


"Malu? Kenapa aku harus malu?"


"Untuk apa aku memikirkan mereka? Nggak penting!"


“Kamu ini...!” Nina menyikut kecil.


“Ah!” Steve memundurkan sedikit tubuhnya.


“Benar-benar tak tahu malu!"


“Untuk mendapatkan hatimu lagi, untuk apa aku memikirkan hal-hal lain." Steve kembali memeluk, juga menjatuhkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di tujuan. Steve turun, mengulurkan tangan. Nina menggapai, menyusul turun. Steve mengambil kotak hadiahnya, dan menyerahkannya.


“Kamu bisa membawanya?”


“Bisa.”


“Sampai ketemu nanti malam, Sayang...”


“Mm.”


Seberlalu mantannya, Nina membuka pintu pagar, lalu berjalan masuk. Saat tiba di teras, dia melihat Dean diantara kaca jendela sedang duduk di bale. Perasaannya langsung nggak enak.


Apa dia menungguku?


Lelaki itu dapat merasakan kehadiran orang yang ditunggunya. Dia memutar badannya. Mereka pandang-pandangan.


Lalu Dean bangkit menghampiri. Nina mendadak panik, lekas memindahkan tentengannya ke belakang tubuhnya. Dean sempat melihat apa yang disembunyikan darinya.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang."


Kegugupan. "I-ya."


“Aku belum makan."


“Oh! A-ku, a-ku siapkan."


Nina segera buka pintu masuk rumah. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang.


Fiuh!


Kenapa dia sampai grogi begini? Seharusnya kan nggak ada masalah. Mau dia pergi dengan Steve kek, bahkan dengan pria lain. Apa jangan-jangan...?


Wanita itu kembali lari dari perasaannya. Nggak mau memikirkan apa yang sebenarnya sudah diketahuinya di dalam hatinya.


Lekas Nina masuk kamar. Menaruh hadiah Steve, pergi ke dapur. Gara-gara hal semalam, Dean jadi tidak diberinya makan. Ini sudah lewat jam makan siang, dia pun belum makan. Lalu disaat dia sedang mengolah bahan, Dean datang bergabung.


“Apa kamu capek?”


Melirik. "Maksudmu?”


“Bukankah kamu habis dari luar. Kalau kamu capek, ya sudah kita kerjai bersama.”


Layaknya diingatin lagi, Nina jadi kembali grogi.


“T-idak. A-ku tidak capek. Biar aku saja yang masak. K-amu duduk saja di situ."


Dean mengambil peralatan di kitchen set, menurunkannya ke bawah.


“Hei, kamu mau apa?” protes Nina.


“Sudah... Biar aku bantu.”


Pria ini kalau sudah pendiriannya susah. Padahal dia menyuruh duduk agar mereka nggak dekat dulu. Karena dia butuh waktu untuk mengendalikan rasa kikuknya. Terpaksa Nina membiarkan.


Mereka memasak bersama. Nina memotong-motong sayur, Dean inisiatif mengurus daging.


“Sehabis makan, apa kamu ada waktu?” tanya Dean.


“Maksudmu?”


“Bagaimana nanti sore kita pergi mancing? Yah... Karena tidak ada Rocky, kita jalan kaki saja.”


“Aku tidak bisa. Aku mau istirahat.”


Dean menatap kelu.


Mengernyitkan alis. "Kenapa kamu menatapku begitu?”


Jelas, orang dia mau menyatakan cinta. Wanita yang diajaknya malah gak bisa. Yah... Tapi mau gimana lagi, orang mau istirahat.


“Tidak apa-apa." Dean menggeleng, kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Wanita itu sesungguhnya menolak, selain grogi masalah tadi. Tentu masalah keintiman semalam. Malah itu yang lebih fatal!


Nggak lama masakan selesai, mereka duduk di meja makan. Sepanjang makan, terjadi keheningan. Mereka bergelut pada pikiran masing-masing. Namun sepertinya Dean sudah nggak tahan lagi. Ini, nggak bisa dibiarkan. Karena terus mengganggu pikirannya.


“Apa kamu benar-benar, tidak bisa pergi?"

__ADS_1


Ada apa dengan pria ini? Kenapa ingin sekali mengajaknya pergi?


__ADS_2