Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 28 Tuan Muda Akan Datang


__ADS_3

Semilir angin sejuk berhembus ke darat menerpa pepohonan dan barang-barang yang ringan. Untungnya, tidak begitu kencang hanya memberi dampak goyangan kecil alias nggak terbawa arus angin. Cakrawala sore ini cerah. Burung-burung mencuit merdu terbang beriringan bersama kelompoknya di angkasa.


Kegiatan di pelabuhan seperti biasa, kapal-kapal yang tadi pagi sehabis menangkap di laut menepi di dermaga. Semua Abk sibuk menurunkan hasil tangkapan mereka. Bukan ikan saja, ada pula berupa lobster. Sedangkan kapal yang ingin menangkap malam, para awaknya pada bersiap-siap.



(Gambar hanya ilustrasi)


Tidak semua penduduk yang menggeluti bidang menangkap ikan pergi tiap hari. Ada pula yang berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Karena mereka itu bukan hanya menangkap untuk menutupi kebutuhan harian dan stok. Tentu saja, sebagai mata pencarian.


Wanita itu terus berpikir, buat apa tetangganya mengintai? Kalau dia ada alasannya, dan alasannya masuk akal. Sedangkan tetangganya? Jika dibilang mau perbuat mes*m, nggak mungkin! Sebab dari dulu tetangganya pasti telah melakukannya. Lantas, apa?


Jadi aslinya Nina diikuti 2 orang. Yang satu wanita itu, yang satu lagi jongos tuan muda itu yang merupakan juga warga sini. Waktu Nina belanja di kapal, yang mengikuti adalah jongos tuan muda itu. Sedangkan waktu Nina dan Dean menggembala bebek, dan juga sewaktu Dean mengejar, termasuk saat tadi Dean menggembala domba sendiri, ya wanita itu.


Wanita itu telah menginjakkan kakinya di pelabuhan. Seusai memuaskan diri mengintip aktifitas dua orang yang berbeda jenis kelamin itu di pantai. Yang sedang dicari-cari tahunya mereka sepasang kekasih atau bukan. Suasana pelabuhan masih ramai, dia terus berjalan menuju rumahnya. Sepanjang jalan dia bertegur sapa dengan tetangganya.


Rumah bercat abu-abu bergaya bangunan mirip rumah Nina. Yang berada ditengah deretan rumah-rumah di sana adalah rumahnya. Dia anak orang terpandang. Paling disegani oleh penduduk sini. Leluhurnya adalah orang pertama yang mendiami pulau ini. Maka dari itu sehingga apapun yang dikatakan oleh ayahnya alias keturunan mbah buyutnya merupakan de facto. Alias suatu kebenaran atau mutlak harus dipercayai tidak bisa diganggu gugat. Hal itu terus bergenerasi. Pokoknya generasi yang paling tua secara otomatis memegang hak tersebut. Ayah wanita itu yang paling tua di generasinya.


Setiba di depan rumah, wanita itu membuka pintu, lekas masuk ke dalam. Dilihatnya ibunya sedang menjahit. Dihempaskannya pantatnya di sofa. Ibunya menoleh.


Ibunya seorang tukang jahit. Menerima orderan baik itu yang ingin buat baju baru, atau pun yang ingin menjahit baju yang robek.


“Habis dari mana kamu?”


“Biasa, jalan-jalan.”


“Bukan bantu Ibu.”


“Biasanya Ibu tidak butuh bantuan.”


“Ya, kalau lagi tidak banyak. Ini... Lagi banyak orderan."


"Memang Ibu lagi buat apa?"


"Buat pakaian baru.”


“Oo... Ibu nggak bilang.”


Wanita itu beranjak, lekas membantu. Ibunya memberi beberapa helai kain agar dipotong-potong anaknya.


“Semua polanya sudah ada. Kamu tinggal ikutin saja.”


“Oke.”


Wanita itu mengerjai sambil melirik-lirik. Ada yang ingin dibicarakannya, dan hal itu sering diungkitnya. Karena itulah dia jadi takut-takut bicara.


“Ibu...”


Menyahut. “Mm?”


Wanita itu menghela nafas sebentar demi menguatkan nada bicaranya berikutnya.


“Di sini kan aku tidak punya banyak teman sebaya. Bagaimana kita lupakan saja masa lalu?”

__ADS_1


Menoleh. “Apa maksudmu?”


“Aku kesepian, Ibu.”


“Jangan bilang kamu ingin mengungkit hal itu lagi. Kamu tahu kan ayahmu sangat membenci wanita itu.”


“Tapi kan dia tidak salah. Lagian, aku...”


“Apanya yang tidak salah? Berhentilah bicara omong kosong. Ingat! Dia itu wanita terkutuk! Gara-gara dia kita sekeluarga bernasib sial. Sudahlah... Kamu jangan membicarakan hal itu lagi. Jika sampai terdengar ayahmu, Ibu nggak menanggung apa yang bakal diperbuat ayahmu padamu." Ibunya memotong, sekaligus memperingati.


Wanita itu terdiam. Ayahnya sangat membenci sekali wanita yang dibicarakan mereka. Wanita yang merupakan teman kecilnya. Dulu hubungannya dengan wanita itu baik-baik saja. Tapi karena warga sini mempercayai hal takhayul, dan ditambah lagi ayahnya membuat maklumat larangan untuk tidak boleh dekat dengan wanita itu. Jadi pada menyalahkan teman kecilnya itu atas kepergian kakaknya.


“Kamu jangan banyak alasan! Kamu main saja dengan yang lain. Teman bukan hanya dia. Lagian, sudah lama kamu tidak berteman dengannya. Harusnya kamu sudah terbiasa." Ibunya menyambung bicaranya.


Menurut. “Iya, Ibu.”


Ya, percuma! Mau seribu kali diangkatnya topik itu nggak bakal merubah keadaan. Kecuali, ada secercah harapan yang dapat meyakini ayahnya. Bahwa teman kecilnya itu nggak ada sangkut pautnya atas apa yang terjadi pada kakaknya.


**********


“Untung cuaca cerah. Beruntungnya aku atas momen ini,” tutur Dean.


Mereka sudah selesai memancing. Sekarang lagi berleha-leha duduk di atas pasir. Hasil tangkapan dan segala atribut mancing diletakkan di belakang tubuh mereka.


Menoleh. “Beruntung apaan? Momen apaan? Ada-ada saja! Suasana sore di pantai sama saja.”


Turut menoleh. “Jelas beda, karena saat ini aku lagi bersama kau.”


Kenapa dia merasa Dean sedang menggodanya? Nina mengernyitkan alis.


“Aku nggak ada maksud. Hanya senang saja, dalam suasana seperti ini aku lagi duduk bersama penyelamat hidupku." Mendesah. "Haa... Aku jadi membayangkan ketika kau menarik tubuhku dari sini. Pasti sangat berat sekali ya.”


Oo... Bukan.


"Jangan ditanya, entah berapa berat badan kau!” umpat Nina.


Tersenyum. "Aku sangat berterima kasih sekali akan hal itu.”


“Sudah kukatakan, kau harus banyak berterima kasih padaku.”


"Ya, tentu saja. Karena itu aku takkan berhenti mengatakannya." Kembali melempar pandangan ke laut. “Di pulau ini aku terdampar. Di pantai ini aku bertemu harapan." Kembali melihat di sebelahnya. "Dan pemberi harapan itu adalah kau.”


Mendelik. "Aku pemberi harapan? Apa maksud kau?"


“Aku tahu, kau tidak ingin tahu segala tentangku. Tapi aku ingin kau tahu betapa bersyukurnya aku ditemukan oleh kau. Sebelum aku tertembak, saat itu terjadi pertempuran. Aku bersama dua orang anak buahku berlari ditengah kegelapan hutan demi menangkap kepala kelompok itu. Sialnya, disaat aku berhasil menangkap. Ada suara di belakangku, lalu orang itu dengan memakai senjata laras panjang menggiringku ke ujung jurang, dan menembakku. Aku terperosok ke bawah, tubuhku terbentur tebing berkali-kali, lalu jatuh ke laut, dan terdampar di sini.”


Dean mendesah. Nina dapat merasakan hembusan nafas yang berat di sebelahnya. Seperti sedang mengumpulkan kekuatan. Ya! Memang itu kejadian yang mengenaskan.


“Saat aku tertembak, saat itu dipikiranku, mati! Begitu pula, saat tubuhku terjun ke laut. Harapanku semakin nihil bisa hidup. Aku nggak menyangka terdampar di sini. Biar begitu atas kondisiku, aku tetap berpikir pasti mati! Namun didalam kegelapan alam sadarku, aku seperti merasakan ada seberkas cahaya. Aku berdoa, Tuhan... Jika Engkau kasih aku kesempatan kembali hidup. Aku akan memperbaiki semua hal yang telah kuperbuat dimasa lalu.”


Dean menghela nafas. Sebenarnya cerita begini rada memalukan. Karena di cerita berikutnya Nina jadi tahu dulunya dia seperti apa. Habis, bagaimana... Karena dari situlah cerita berkembang hingga dia ke titik ini.


“Dulu, aku ini adalah sosok orang yang nggak pernah menghargai hidup. Meski aku seorang tentara, bangga atas apa yang kucapai, tapi aku nggak pernah menghargai hidup. Aku sering berfoya-foya, mendekati wanita, dan bersenang-senang. Dalam arti, aku tidak pernah memikirkan masa depan, mengelola keuanganku dengan baik dan benar. Entah kenapa aku begitu. Apa karena aku merasa kesepian jadi melampiaskan rasa kesepianku dengan cara begitu.”

__ADS_1


Pria itu kembali terdiam sejenak sebelum melanjutkan lagi ceritanya.


Matahari perlahan-lahan menyingsing di ujung cakrawala. Lembayung senja telah datang. Suasana terang mulai memudar. Seperti turut merasakan suasana yang bergejolak di hati orang yang bercerita itu.


“Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku telah tiada. Semua warisan orang tuaku telah kujual. Karena aku nggak mau mengenang hal menyakitkan tentang mereka. Kedua orang tuaku mati mengenaskan. Mereka mengalami kecelakaan. Aku tinggal di Ibu kota. Tepatnya, disebuah apartemen di sudut kota.”


Entah bagaimana wanita itu mau terus mendengarkan. Apa dia lupa kalau telah melanggar janjinya sendiri? Tidak ingin tahu kehidupan pribadi, pria itu? Atau karena suasana yang mendukung, membuatnya jadi larut tiap kata yang diucapkan oleh pria itu?


“Jadi, disaat aku membuka mata, aku melihat sesosok tersungkur di sisi tubuhku. Ditemani bias sinar Matahari pagi di belakangnya. Dalam hati aku berpikir, apa aku bertemu malaikat? Tapi pada momen itulah aku bersyukur. Oh! Rupanya hari esok masih ada. Tuhan, ternyata telah mengabulkan doaku.”


Dean menatap lekat wajah si Jelita. Yang diterpa kilauan sinar orange. Nggak luput angin memain-mainkan rambut indahnya.


“Lewat kau, aku jadi menghargai hidup. Kau mengisi kesendirian dengan hal positif. Seperti tidak menyalahkan atas kesendirian yang kau alami. Aku tidak tahu, kedua orang tua kau, dan sanak-saudara kau di mana. Tapi yang kulihat di mataku, dan kau sendiri pun menginformasikan hal itu, kau seorang diri. Atas itu, aku jadi merasa malu. Terima kasih, Nina. Selain kau menyelamatkanku, namun juga menyadarkanku.”


Nina melotot, tersadar telah mendengar terlalu jauh. Saat dia ingin berdiri, Dean menahannya. Entah bagaimana, mata hazel yang menahannya itu seperti menyihirnya membuatnya diam tak berdaya.


Sunset terus menyinari dua insan yang saling berpandangan. Burung-burung pun tidak luput mencuit-cuit merdu di angkasa. Semilir angin laut berhembus lembut menerpa tubuh mereka. Begitu pula deru ombak gak mau ketinggalan melandai ke darat menyentuh telapak kaki mereka. Momen yang sejujurnya terbalut keromantisan.



(Gambar hanya ilustrasi)


Beberapa saat kemudian, mereka berjalan pulang. Sepanjang jalan, terjadi keheningan. Kenapa? Karena dihati masing-masing lagi diselimuti perasaan campur aduk.


Sesampainya di rumah, Dean langsung inisiatif menyiapkan perapian. Begitu pula Nina masuk ke rumah untuk menyiangi ikan. Tapi ditengah kesibukannya, dia berhenti sejenak demi mengamati orang yang lagi sibuk di luar.


Kedua orang tuanya pun mati mengenaskan terbakar hidup-hidup di rumah mereka yang dulu. Dulu mereka tinggal di deretan rumah di pelabuhan sebelum api membabi buta menghangusratakan. Di sini tadinya tempat peristirahatan untuk tamu yang akhirnya dijadikannya tempat tinggalnya. Dia juga anak tunggal. Lewat paparan Dean tadi, dia dapat mengerti. Mungkin karena itulah dia jadi terbawa suasana, dan tidak pergi saat Dean menahannya.


**********


Pria tampan berambut pirang, keluar dari room private dan berhenti di lorong. Dia lagi dapat dering panggilan di Hp-nya dari seseorang yang dari tadi ditunggu-tunggunya.


Pria itu lagi meng-entartaint koleganya usai mendapat tender yang dapat menguntungkan perusahaannya. Disebuah room khusus di sebuah café ternama. Yang hanya orang-orang kaum jet set yang mampu menyewa tempat itu.



(Gambar hanya ilustrasi)


“Ya?” angkatnya.


“Maaf Tuan, saya telepon Anda malam-malam. Karena tadi saya sehabis melihatnya bersama pria itu lagi.”


Geram. “Sedang apa mereka?”


“Sedang bermain di pantai, Tuan.”


Pria itu menggemeretakan giginya.


“Jadi, bagaimana Tuan?” Bicara orang itu lagi.


“Ya! Saya akan datang.”


“Baiklah Tuan, saya tunggu.”

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa kasih rating bintang 5, like dan komen. Tinggalkan jejakmu ya Guys...


__ADS_2